- Home>
- Review Film >
- Visualisasi Menakjubkan dalam Immortals
19 Februari 2012
300 adalah film perang yang epic dengan nuansa visual yang memberi sensasi berbeda bagi penontonnya. Namun, Immortal memang film yang berbeda dari pendahulunya, meskipun diproduseri orang yang sama. Yang membuat film ini memancing perhatian adalah karena disutradarai Tarsem Singh, sutradara asal India yang pernah membikin film dengan visual epic: The Cell dan The Fall (film internasional terbaik versi Samandayu tahun 2007).
Film Immortals memang punya review yang kurang baik dari kritikus. Cerita yang lemah menjadi persoalan mendasar para movie freak dan kritikus. Meski bagian cerita memang lemah, namun visualisasi khas Tarsem benar-benar menakjubkan. Kita akan kembali diajak melihat sinematografi yang 'simetris' dan rapi. Begitu pula dengan kostum-kostum memesona yang sudah menjadi ciri khas Tarsem.
Plot
Film dibuka dengan visualisasi yang indah ketika orang-orang sejenis zombie berada di kubus dengan keadaan terkunci. Kemudian seseorang datang dan memanah kubus tersebut sehingga terjadi ledakan besar. Belakangan visualisasi itu hanyalah bayangan masa depan dari seorang peramal bernama Phaedra (Freida Pinto, pernah main di Slumdog Millionaire). Kisah masa lalu mengenai dewa versus titan pun mengemuka.
Dulu kala, ada peperangan di surga. Yaitu dewa melawan titan. Dewa adalah makhluk abadi namun bisa terbunuh oleh makhluk bernama titan -yang bentuknya mirip zombie tutung/terbakar dalam film Silent Hill. Nah, para titan itu berhasil dikalahkan dengan busur yang diciptakan Dewa Ares. Titan pun dibelenggu di sebuah gua.
Raja Hyperion, pada 1228 SM di Yunani, bertekad menguasai Yunani dengan mendapatkan busur tersebut. Busur itu dipercaya bisa membebaskan para titan. Maklum, itu raja udah ill feel sama dewa lantaran si dewa (bujana?) endak nolongin anak istrinya dari jangkitan penyakit. Atas motif itu, Hyperseks eh Hyperion pun berusaha ngambil itu busur cinta.
Nah, yang mengetahui letak busur itu adalah Phaedra. Di sudut lain ada seorang pemuda bernama Theseus yang tanpa disadarinya sudah berkawan dengan dewa Zeus yang menyamar menjadi lelaki tua. Suatu ketika raja Hyperion datang ke desa dan membunuh ibu Theseus. Hal inilah membuat Theseus mendendam dan kemudian berniat mematahkan kekuasaan Hyperion.
Visualisasi Menakjubkan dalam Immortals
Immortals punya tata teknis yang mumpuni. Art direction didukung oleh visual effect hasil dari green screen. Dalam pergantian scene, kita juga akan mendapati beberapa pergantian scene yang berkesinambungan. Mengenai adegan perang, jangan ditanya. Mata kita akan dimanjakan dengan tiga pertempuran sekaligus di menit-menit menuju ending. Ada peperangan antar pasukan, pertarungan Theseus dengan Raja Hyperion, dan Dewa versus Titan. Tiga scene itu terlihat nyata dan sadis, ketika kepala ditebas seenak udel lengkap dengan tombak yang seenaknya masuk ke perut lawan. Khusus untuk scene dewa versus titan, kita akan mendapati visual yang indah berupa slow motion di beberapa titik.
Meski cerita dianggap konyol oleh sebagian orang, namun dibalik kostum yang artistik, saya juga setuju kalau kostum para dewa ini agak tolol. Sang dewi Athena berpakaian cantik layaknya sedang memakai national costumes di Miss Universe. Sementara Zeus dan tiga dewa lain mengenakan pakaian yang maskulin, namun tidak dengan riasan kepala mereka yang mirip model majalah gay dewasa. Ditambah dengan wajag para dewa yang 'tidak berdaya' (baca: manis). Berbeda dengan visualisasi para dewa di film-film mitologi Yunani yang keras dan over masukulin. Tapi hal ini dimaksudkan karena Immortals adalah film Tarsem yang haruslah punya artistik yang 'aneh' dan lembut. Alhasil, kita akan menemukan feminitas sekaligus maskulinitas di film perang yang indah. Yang jelas, buat yang menyukai keindahan ragawi lelaki seperti Henry Cavill (yang akan main sebagai Superman dalam Man of Steel tahun ini), film ini sangat enak untuk dinikmati.
*
Immortals (Keabadian). Sutradara: Tarsem Singh Penulis: Vlas Parlapanides, Charley Parlapanides, Pemain: Henry Cavill, Stephen Dorff, Luke Evans, Isabel Lucas, Freida Pinto, Micket Rourke Musik: Trevor Morris Sinematografi: Brendan Galvin Editing: Wyatt Jones Produksi: Relativity Media, Virgin Produced, Rogue, Universal Studios Durasi: 110 Menit Rilis 11 November 2011 Negara: AS Bahasa: Inggris, Yunani
Penyutradaraan: 8 Akting: 7 Sinematografi: 9,5 Artistik: 8 Editing: 8 Cerita: 6,5
Score: 9/10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

8 Komentar
nonton dengan kualitas dipidi yg kurang cerah bikin gereget ajah...
setuju sie dengan artikel di atas...immortals memanjakan kita dengan visual baik adegan perang,,,para pemainnya (kecuali mickey rourke)....keindahan ragawi...selain itu ceritanya memang lemah...
nonton lagi ah...dewa ares nya keren meski thu helm,,kek helm bandit motor gede...hahaha
Visualnya sih keren...tapi ceritanya itu lho...sucks abis >_<
Sayang banget, minimal dia bikin kayak Troy atau Clash of The Titans mantab tuh...
hmmm jd pngen lihat
Nonton gak ya....
udah lama banget gak nonton nih...
apalagi abis putus gini, gak ada lagi yang diajak nonton bareng dong! :(
Aku baru dengar tentang ini, mau aku coba browsing :D
foto yg terkahir bikin gak nahan... :-E
300 still the best!!
-hyding
wan,Review film DILEMA dong,film indonesia yg baru di release,,penasaran gimana tanggapan kau,,
-hyding
Posting Komentar