• 9 Februari 2012


    INI adalah postingan pertama yang saya buat di tempat baru. Sekarang tidak ada lagi pembalut bekas pake di kamar mandi. Palingan cuma sisa puntung rokok karena penghuni kos ini cowok semua. Artikel ini berjudul Kotak Surat bagian Ketiga. Berbagai curhatan baik yang dituangkan secara langsung maupun melalui email, saya tuangkan di sini. Dengan tema, pengalaman ditolak penerbit. Cekidot!






    Mana Naskah Gue?

    Fahri, 23, Bekasi

    Gue adalah fresh graduate lulusan Sastra di PTN yang numplek di sekitaran Sumedang. Gue pun pulang ke Bekasi buat nyari gawean. Kebetulan ada production house yang lagi buka lowongan. Ada yang buat model,  pemasaran, dan script writer. Sebenarnya gue mau ikutan yang model. Maklum itu PH agen model gitu, deh. Yang katanya pernah bikin  film apa gitu. Tapi apa daya gue enggak tinggi meski kata orang muka gue cakep banget. Hehe. Well, gue akhirnya ngelamar di bagian penulis skrip naskah. Gue pun ke sana sambil bawa novel dan kumpulan cerpen gue hasil print-an. Gue pun diwawancara kira-kira 8 menitan sama orang itu. Gue ngerasa akan kerja di situ. Seminggu, dua minggu, gue enggak dapat kabar. Padahal gue takut naskah gue disalahgunain. Ya, standar gue, sih, pengennya itu PH ngasi  tau kalau gue diterima apa kagak. Jangan digantung-gantung gini. Soalnya katanya kalo enggak keterima dia bakal ngehubungin gue. Ah, malesin!

    Kata Saman:

    Kebanyakan perusahaan enggak akan membuang waktu untuk memberikan surat atau kabar penolakan lewat telepon karena mungkin kerjaan mereka sudah banyak. Itulah risiko melamar pekerjaan. Jadi enggak usah dimasukin hati. Meski ngenes juga berminggu-minggu nunggu tanpa kabar yang jelas. Ada baiknya perusahaan mengatakan hal yang jelas, misalnya, jika pelamar tidak dipanggil dalam sebulan ke depan, maka itu artinya pelamar tersebut ditolak. Atau alangkah mulia jika perusahaan-perusahaan bikin apresiasi besar atau wujud penghormatan terhadap HAM dengan memberikan surat penolakan atatu mungkin kabar melalui telepon. Lebay dan enggak mungkin, sih. Tapi kita hidup di negeri yang punya basa-basi kelewat wah! Ketika orang-orangnya ngerasa riskan dan enggak enak hati untuk mengatakan bahwa kita ditolak. Kalaupun mereka mempertimbangkan kita, itu pun dikendala rasa galau mereka, yang akhirnya bikin kita tidak diberi kepastian.

    Tapi ya, sudahlah. Alangkah baiknya kalau kamu ke PH itu lagi untuk mengambil naskah yang kamu inginkan. Biasanya mereka akan memperlakukan tamu dengan baik. Indonesia, gitu, lho. Kalau mereka kelupaan, kamu akan disuruh tunggu besok.


    Penulis Buku Antologi yang Dihargai Setahun Kemudian


    Miko, 18, Solo

    Ngeri juga pas baca salah satu artikel Saman yang judulnya Penulis yang Tidak Dihargai. Dan ternyata itu saya alami. Sama persis dengan salah satu kisah Saman di tulisan itu. Jadi gini, karya saya kepilih dan masuk seleksi untuk buku antologi yang akan diterbitkan penerbit terkenal. Bangga, dong. Sayangnya, saya enggak dapat honor. Karena saya waktu itu cuma ikut lomba. Dan yang menang ada lima orang dan mereka dapat duit, sisa karya terpilih bakal masuk ke dalam buku. Tapi enggak dikasih honor, melainkan tiga buah buku eksplempar.

    Saya nerima-nerima aja, wong seneng juga karya saya dimuat jadi buku. Tujuannya pun mulia. Jadi hasil penjualan buku katanya mau disumbangin ke anak-anak enggak mampu. Tapi hari-hari berlalu, saya enggak dapat buku itu. Lima bulan kemudian, saya bela-belain dateng ke penerbit bersangkutan. Kesimpulannya mereka/penerbit menyerahkan pada lembaga yang membuat kerjasama dengan mereka. Jadi intinya mah mereka enggak tahu menahu soal pengiriman hadiah. Saya malah dikasih nomor hape orang di lembaga yang bersangkutan. Haha. Saya cuma ngakak sendiri. Jauh-jauh datang cuma dikasih nomer hape. Bukankah sebaiknya mereka hubungin dulu itu orang? Baru kasih tau ke saya.

    Tapi saya malah puas karena udah tahu tipikal penerbitan kayak gitu. Nggak nyangka aja. Ternyata begitu ya cara mereka memperlakukan penulis amatiran kayak saya. Saya mungkin bisa maklum, tapi mereka bisa kagak memandang di kacamata saya? Udah capek-capek nulis tapi enggak dapat apresiasi? Padahal cuma buku tiga biji begitu.

    Setahun kemudian, saya kerja di luar kota. Kemudian tepat di Hari Ibu, seseorang mengirimkan buku yang ke alamat rumah saya. So sweet banget ceritanya. Akhirnya ibu saya tahu kalau saya penulis buku beneran. Saya enggak mau tahu siapa pengirimnya. Karena saya di luar kota dan belum kembali ke rumah karena antar provinsi. Tapi geli saja. Apalagi buku itu dikirim cuma satu. Ya, hanya satu. Tapi sudahlah. Saya sudah cukup puas, kok.

    Kata Saman:

    :D Seru sekali menyimak kisahnya, Kawan! Maksud hati kepengen ngasih surprise, tapi malah dikasih satu buku. Mungkin saja buku itu dikirim bukan atas nama penerbit. Tapi orang lain, yang kasihan dengan dirimu. Tapi lebih baik terlambat daripada sama sekali. Sebab kenyataannya banyak  keluhan dari rakyat sipil kepada pihak perusahaan sebagai produsen, namun tidak mendapat tanggapan. Kecuali kalau konsumen udah koar-koar di surat pembaca surat kabar. Bisa kebakaran jenggot mereka. Gimanapun yang terlihat-terlihat biasanya akan diusahakan sedemikian rupa. Tapi usaha kamu menertawakan, sangat Saman sekali. Yang penting, jangan jadikan pengalaman kurang enak itu bikin putus asa, teruslah berjuang dan menulis. Sebab menjadi diri sendiri adalah sebagian dari kesuksesan hidup. Enggak masalah seberapa banyak yang enggak menghargaimu, yang penting kamu menghargai dirimu sendiri. Dengan tidak mudah menyerah menerima segala ketidakpastian yang menimpamu. Semangaaaaat!!



    Rapat atau Liburan, Sih?

    Hilman, 27, Jakarta

    Hai, Sam. Gue adalah staf di sebuah perusahaan di bidang advertising. Sialnya gue masih pekerja kontrak, alias belum jadi staf. Biasanya kita rapat evaluasi seminggu sekali di kantor. Tapi kemudian berembus kabar kalau bulan depan, rapat akan diselenggarakan di Surabaya. Yang bikin mata gue melotot kaku, akomodasi dibayar sendiri-sendiri bagi yang pekerja kontrak. Awalnya gue kaget kayak orang kesamber petir, tapi kemudian gue bernapas lega lantaran hal itu enggak diwajibkan.

    Yang bikin gue ngakak, ternyata itu semua cuma akal-akalan pekerja yang lain cuma agar bisa liburan. Mereka memang rapat di sebuah ruangan hotel, pake presentasi segala, lengkap dengan makalah hasil rapat yang akan diserahkan ke kantor. Gue enggak bilang ini ilegal, tapi cukup konyol karena buat liburan rame-rame aja perlu pake alibi rapat ke luar kota segala. Gue menduga ini agar para staf bisa ke luar kota gratis dibiayain kantor. Apalagi ternyata, beberapa orang di sana bawa keluarga segala. Gue makin ngakak, deh. Katanya juga itu semua sunah. Kalau mau ikut, silakan. Kalau enggak, ya, enggak apa-apa. Otomatis gue lebih memilih enggak ikut. Toh enggak ngefek ke kinerja juga nantinya.

    Cuma yang gue sayangin, kenapa staf dibayarin sementara yang buruh kayak gue enggak. Ya, wajarlah kalau dimana-mana perusahaan pake jasa outsourching. Mereka berharap tugas-tugas mereka sempurna dengan adanya buruh, sementara smooth deskriminasi akan terus berlangsung.

    Kata Saman:

    Memprihatinkan juga kalau itu memang terjadi. Menurut saya itu sama saja dengan akal-akalan dari sekelompok pekerja yang jenuh pada pekerjaannya, kemudian berinisiatif melakukan travelling dengan biaya yang dijamin kantor. Tapi sebenarnya itu hal yang wajar, kok. Apalagi kalau rapat yang mereka maksudkan memang mendapatkan hasil signifikan untuk kinerja mereka ke depan. Meskipun, sebenarnya perusahaan sudah memberikan mereka kesempatan dan waktu luang dengan acara rekreasi gratis yang diberikan secara berkala.

    Mengenai pekerja outsourching, paling tidak Anda bekerja di tempat yang nyaman. Teruslah mencari pekerjaan yang Anda anggap layak. Kecuali Anda mendapatkan kemungkinan kalau Anda akan naik jabatan di perusahaan yang Anda jalani sekarang. Yang jelas, bersyukurlah dengan apa yang kita punya dan tidak kita punya.


    Digantung Penerbit

    Rini, 26, Jakarta

    Saya bekerja sebagai freelancer di sebuah penerbit ternama di Jakarta. Saya pun mencoba-coba mengirimkan novel yang satu bulan kemudian menerima surat penolakan. Sebenarnya kirim mengirim itu projek coba-coba. Diterima syukur, tidak diterima tidak apa-apa. Yang lebih asyik, saya didaulat akan dijadikan penulis untuk genre remaja oleh penulis kenamaan yang juga menjabat sebagai manajer. Yeah, itu pun lewat obrolan ringan yang hanya memakan waktu kurang dari lima menit. Padahal saya membayangkan akan dipanggil ke mejanya. Kemudian, saya pun menunggu sampai sebulan. Maklum, saya bukan tipe orang yang grasak-grusuk. Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk mengiriminya SMS yang berisi pertanyaan akan janjinya itu, sekalian ingin meminta alamat email-nya karena saya punya naskah lain. Tapi seperti yang saya duga, SMS itu tidak dibalas. Bahkan sampai beberapa hari kemudian.

    Sebenarnya saya sangat berharap apa yang dia katakan bisa direalisasi. Yaitu yang katanya akan dilatih untuk menjadi penulis genre remaja. Tapi melihat gelagatnya, saya jadi ragu. Saya berhenti berharap. Sementara saya juga enggak bisa mengirim naskah lagi ke sana karena faktanya, naskah yang mereka terbitkan adalah naskah yang mereka pesan ke penulis-penulis yang sudah punya nama. Artinya, kesempatan penulis amatiran yang mengirimkan naskah sangat kecil untuk dimuat. 

    Sebenarnya saya bisa saja lebih terlihat. Mungkin beliau lupa. Tapi saya bukan orang yang seperti itu. Saya tidak bisa menjilat. Bukan pula saya gila hormat. Tapi saya hanya menyayangkan digantung-gantung seperti ini layaknya jemuran. Menerima penolakan itu hal yang wajar, tapi diberikan ketidakpastian, itu baru sesuatu yang kurang menyenangkan.


    Kata Saman:

    Seharusnya kamu merasa beruntung karena akhirnya kamu tahu dengan siapa kamu akan bekerjasama. Saya tidak tahu bagaimana cara editor memperlakukan penulis baru. Apakah sama rata atau tebang pilih. Tapi faktanya mereka memang berpihak pada penulis yang sudah punya nama atau yang punya jam terbang tinggi. Ada baiknya kamu coba di penerbit lain, dan jangan pernah putus asa. Karena yang berkualitas dan konsisten, akan selalu dicari. Siapa tahu kamu maju di penerbit lain dan editor bersangkutan yang sudah menghubungimu hanya akan menelan ludah kepahitan. 

    Tapi kalau kamu memperbaikinya, bisa, kok. Itu pun akan mirip dengan apa yang kamu bilang dengan menjilat. Yaitu terus menghubunginya, telepon atau ketemu langsung kalau bisa. Yah, semua itu ada di tanganmu. Kalau kamu tipe orang yang idealis, maka kamu akan lebih suka menunggu dan memperhatikan. Entahlah, mungkin sampai yang bersangkutan lupa akan janjinya kepadamu. Saya tahu bagaimana rasanya jadi introvert sekaligus orang yang idealis. Mereka memang tidak gila hormat, tapi rasa respek, dan menganggap kalau menanyakan kesempatan yang telah lama dijanjikan akan mengurangi sedikit harga diri. Paling tidak kamu sudah diperhitungkan dan diperhatikan. Tunggu saja dan selagi menunggu, teruslah menulis dan jangan pernah berhenti.Yang penting berpikirlah positif. Jika satu pintu tertutup, cobalah memasuki pintu lain. Masih banyak jalan selama kita mau berusaha dan ikhtiar.




    Disangka Nyantet Orang

    Rezky, 26, Bandung

    Aku pernah berkonflik dengan rekan kerjaku dulu. Kami enggak pernah akur lantaran ada saja percekcokan yang lebih sering terjadi di chat antarkantor. Kami mengawali karir di posisi yang sama, sampai akhirnya dia diangkat di bagian posisi yang jauh lebih tinggi dariku. Secara sistemik, aku adalah anak buahnya. Aku juga memimpin anak buah yang lain yang posisinya di bawahku. Tapi dengan kesemuanya, aku tidak menyimpan konflik. Barangkali ketegangan ini terjadi saat kami sempat kisruh. Yaitu saat dia melemparkan naskah tebal di sebuah ruangan yang banyak dihuni pekerja lain. Aku merasa terhina dan di situlah kami sempat bersitegang. Selama sebulan lebih aku tidak diberinya pekerjaan.

    Namun peristiwa itu dapat kulupakan, meski aku sangat tertekan dengan sikapnya. Kemudian, karena kupikir dia bermasalah, perusahaan tempat kami bekerja pun akhirnya tahu kalau dia melakukan beberapa kesalahan fatal. Hal ini membuat kontrak kerjanya dihentikan, dan akulah yang menggantikan posisinya. Aku merasa teman sekantorku mempergunjingkan hal ini. Dikiranya aku merebut posisi itu dengan cara yang tidak etis. Publik pun sudah tahu bahwa kami memang enggak akur satu sama lain karena aku membicarakan ketidaksukaanku pada seseorang, seseorang, dan seseorang lagi meski dalam koridor bercanda. Dan mungkin dia juga melakukan hal yang sama.

    Sampai akhirnya aku menerima SMS yang isinya tuduhan mengenaskan. SMS itu mengatakan kalau aku yang mengiriminya santet. Aku tidak mengerti dan sangat terpukul. Bukan berarti aku melakukannya. Aku memang bukan ahli ibadah, keimananku juga tidak sebaik orang-orang. Tapi tak pernah aku mengirimi siapapun dengan santet. Aku sangat terpukul dan aku membayangkan hal ini akan menjadi buah bibir. Bagaimanapun aku enggak mau orang-orang berbicara kepadaku kalau aku tukang santet. Akhirnya keesokan harinya, aku tampil di upacara pagi yang dilakukan sebelum masuk kantor setiap hari. Meski tidak lama, tapi aku mengatakan hal itu secara sekilas saja. Namun kemudian aku dipanggil bagian HRD dan dianggap meresahkan. Aku tidak terima dengan tuduhan itu. Aku merasa bagian HRD itu tidak menyukaiku sejak dulu. Padahal aku tidak berniat sama sekali untuk memperusuh suasana.


    Kata Saman:


    Hal terbaik yang bisa dilakukan dalam keadaan terpukul semacam ini adalah menarik napas dalam-dalam, mengeluarkan perlahan, kuasai diri dengan beristighfar berkali-kali, kemudian cerna sepositif mungkin apa yang baru saja terjadi. Dalam artian, akan lebih baik jika kita tidak menilai hanya dari sudut pandang diri kita. Menerima apa yang dimaksud dengan tuduhan memang sangat tidak menyenangkan. Apalagi kalau harus membayangkan hal itu menjadi gosip yang akan ditemui di kemudian hari. Namun cobalah untuk bersikap tenang dalam beberapa  hari ke depan, konsultasikan ke dua ranah yang berbeda. Yaitu ranah pertemanan, dan ranah pekerjaan. Curhatlah pada satu orang yang terpercaya dulu.

    HRD memanggil Anda karena memang pidato singkat saat upacara pagi itu terdengar kabur dan melahirkan banyak persepsi. Misalnya dengan mengaku kalau mendapatkan tuduhan  menyantet via SMS. Para pekerja  tentu akan bertanya-tanya dan diam-diam saling tuduh. Mereka bertanya, siapakah teman di lingkungan kerja yang melakukan aksi santet. Apalagi jika lingkungan pekerjaan tersebut berlatar religius, ketika kebanyakan orang mungkin berpikir lebih kolot atau konvensional. Itulah kekhawatiran yang dimasksud. Alih-alih ingin meluruskan, namun ternyata malah dianggap membuat kekisruhan.Inilah pandangan dari HRD, karena job description-nya adalah mengetahui beban psikologis para staf. Jadi kalau dianggap menunjukkan ketidaksukaan secara subyektif, mungkin itu adalah wujud prangka.

    Namun jika itu sudah dilakukan dan membuat tenang diri Anda, maka tak perlu menyesali hal itu. Yakinlah apa yang sudah menjadi keyakinan Anda. Sebab dengan begitu, Anda tidak akan menemui isu-isu miring yang berembus diam-diam di kemudian hari. Sebab citra penyantet itu sudah sangat destruktif di mata sosial. Cara Anda memilih langkah cepat barangkali manjur sebagai tindakan protes terutama di lingkungan kerja yang suka 'bergunjing'. Sementara, tak lupa ikut memosisikan diri sebagai si pengirim SMS alias mantan rekan kerja Anda. Sebab rasanya pasti sulit jika berada dalam keadaan sakit, apalagi yang katanya sebagai korban 'kiriman' orang lain. Namun tiap orang memiliki karakteristik yang berbeda, seberbeda mereka mengatasai masalahnya sendiri-sendiri. Tapi selalu ada hikmah di setiap kejadian.


    *

    Kotak Surat Samandayu

    Buat kamu yang mau tanya-tanya ke Samandayu tentang masalah pribadi, dunia tulis menulis, atau apapun,  bisa kirimkan email ke saman_dayu (at) yahoo.com atau inbox saja facebook saya (FB saya: Saman Dayu). Jangan lupa kasih data nama, usia, dan kota domisili agar data tersebut bisa di-publish di postingan. 

    6 Komentar

    Nanta mengatakan...

    :woot: kesian banget ama yg nomor 2...

    Riu is me mengatakan...

    Curhat dong, me!
    gimn dong biar krasan di tempat kos baru. meme kan baru pindah, aku jg baru pindah tp udah gak krasan nih...
    tipsnya dong, me.


    *salahfokus

    Ca Ya mengatakan...

    wah,,trnyta byk yg punya mslah pelik ya di luar sana...semoga bisa dijadikan pelajaran buatku :)

    Diabolus_Bonus mengatakan...

    Semangat teman2 diatas patut diacungi jempol...

    Meski itu merasa sakit d awal, tapi itu pelajaran berharga d kemudian hari.

    Banyaknya kecewa akan membuat pribadi mnjd tahan uji dan terus terpacu mencari alternatif/ inovasi di kemudian hari..

    Jangan menyerah hanya pada 1 penerbit saja... makin bnyk kirim, makin luas kesempatan untuk 'goal'.

    Selamat berkarya untuk anda sekalian...

    krismorgana mengatakan...

    hmmm...isinya tengtang penulis semua...
    apa boleh saya curhat tentang hal lain???
    tpi menyimak dari permasalahan yang di tulis di atas,,,yah,,,anggap saja seorang rookie alias amatir dianggap kurang menjual...makanya mereka agak di kesampingkan...
    tpi sebenarnya,klo ide cerita yg di tawarkan menarik,,kenapa tidak...mungkin memang belum waktunya juga....
    curhat donk papa camandayut.....
    inbox yea...hahaha

    Si Geje Habib mengatakan...

    Pengalaman hiulman sama seperti pengalaman saya, jadi pegawai rendah tapi tanggung jawab numpuk. salah dikit selalu kena semprot, giliran kerjaan beres n memuaskan yang dipuji sama atasan cuma si bos. bukan salah atasan sih coz dia taunya yg ngerjain tu tgs si bos. beliau g tau kalu si bos suka lempar tanggung jawab. dan apa yang saya dapat dari si bosss ????
    Jreng jrenggggg..............

    TERIMA KASIH YA BIB :-)

    Dancok, tunggu balesan dari saya. Semua rahasia ada di saya. tinggal lempar bom aja sayanya. hahahahahahahahahaha...... :-E

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan