• 4 Februari 2012

    SEJUJURNYA saya enggak suka akting Owen Wilson yang sering main sebagai komedian di  film-film komedi. Beruntung, nama Rachael Mc Adams, Katthy Bathes, dan Adrien Brody bikin saya semangat nonton film nominasi Oscar ini. Apalagi ketika nyimak, opening scene-nya aja udah bikin jatuh cinta. Selebihnya, film ini sastrawi banget karena selain mengambil tema sastra, tema film ini ternyata surealis.



    Plot:

    Opening Scene dibuka dengan gambar Kota Paris dari pagi sampai malam hari selama kurang lebih 3 menit. Seolah sutradara ingin mengukuhkan kalau filmnya sangat Perancis dengan latar perkotaan yang indah. Dan adalah Gil  Pender (Owen Wilson), seorang penulis naskah film yang kemudian akan merampungkan novelnya yang mengambil tema masa lalu, dengan metafornya yaitu: toko nostaligia. 

    Dia sedang liburan bersama calon istrinya, Inez (Rachel McAdams) di Paris. Sialnya Inez membawa dua orangtuanya yang sebenarnya tidak terlalu menyetujui hubungan sang anak dengan Gil. Karena seorang penulis identik dengan hal-hal yang berbau idealisme dan introvert, Gil tidak senang dengan basa-basi sosialita teman-teman Inez. Alhasil, Gil lebih memilih jalan-jalan sendirian ketimbang ikut acara teman-teman Inez.



    Sampai di suatu tengah malam di sudut Paris, sebuah mobil kuno mengendara dan parkir di sampingnya. Gil pun diajak oleh para penumpang yang ternyata adalah tokoh-tokoh terkenal di masa lalu. Dia bertemu dengan penulis, Scott (Tom Giddlestin) dan Zelda Flitzgerald (Alisson Pill). Keduanya mengajak Gil ke sebuah rumah yang ternyata ditempati penulis terkenal Pablo Picasso (Marcial Di Fonzo Bo). Saat itu Gertrude Stein (Kathy Bates) sedang mengkritisi lukisan Pablo yang sedang melukis representasi Adriana (Marion Colliard), seorang gadis cantik yang ingin belajar dunia fashion di Paris. Tak hanya itu,  Gil juga bertemu dengan penulis favoritnya Ernest Hemingway, seorang lelaki yang blak-blakan dan tanpa basa-basi.




    Akhirnya, Gil punya dunianya sendiri yang akan selalu ia alami pada tengah malam. Hal ini membuatnya dilema karena ternyata dia jatuh cinta dengan Adriana. Sementara di dunia nyata, dia akan menikah dengan Inez. Bagaimanakah langkah yang ditempuh Gil kemudian? Memilih masa lalu atau masa depan?


    Midnight in Paris: Film Romantik Sureal yang Sangat Paris

    Kayaknya Oscar tahun ini sedang demen-demennya milih film-film berbau Perancis. Unsur-unsur itu terdapat dalam film Hugo, The Artist, dan tentu saja Midnight in Paris (MIP). Ada pula film animasi dari Perancis yang masuk Animasi Terbaik: A Cat in Paris, yang tentunya akan di-review sebentar lagi. Heu. 

    Namun dalam MIP, kita akan menemukan tipe film ala Amerika dengan gaya yang berbeda. Sutradaranya cadas bener ngasih kita scene demi scene jalanan Kota Paris yang indah. Kemudian, sebagian besar scene dilakukan secara outdoor. Aroma Paris enggak hanya terlihat dari latar, melainkan dari musik dan lafal Perancis beberapa aktornya. Permainan ensemble aktor pun seperti biasanya bagus. Tapi karena saking semuanya bermain di porsi yang cukup dan aman,  film ini tidak mendapat nominasi di kategori akting.


    MIP mendapatkan 4 nominasi Oscar yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Tata Artistik Terbaik, dan Naskah Asli Terbaik. Di beberapa penghargaan, film ini mendapatkan penghargaan di segi naskah. Jadi bisa saya prediksi kalah MIP akan membawa Oscar di kategori ini. Orisinalitas Woody Allen (aktor, penulis naskah, dan sutradara peraih Oscar) sebagai penulis patut diacungi jempol. MIP punya  ide cerita (istilah blogger film mah 'premis') segar ketika dua dimensi waktu yang berbeda, disatukan 'seenak udel sendiri' dengan alibi kejaiban di setiap tengah malam di Kota Paris.


    Penonton yang membayangkan ini akan menjadi komedi romantis berkadar pekat, mungkin akan mengerutkan kening. Terlebih bagi penonton awam yang tidak mengenal tokoh-tokoh terkenal di dunia sastra dan seni seperti Hemingway atau Pablo. MIP bisa saja membikin puyeng penonton yang berharap mendapatkan drama komedi romantis ala Amerika seperti yang sudah-sudah. Tapi seperti poster filmnya yang menggabungkan ilustrasi kenyataan (Gil berjalan) dan langit animasi (perwakilan masa lalu), maka begitulah film ini berjalan.

    Namun mata kita dijamin akan adem sendiri dengan sinematografi yang lembut terutama di scene restoran tua. Sebagian pengambilan gambar juga dilakukan dalam sekali take di 20 menit  film berlangsung, sehingga kita dengan leluasa melihat secara detil jalanan Paris.

    MIP barangkali akan menggondol penghargaan Best Original Screenplay, itu pun harus bersaing ketat dengan The Artist. Yang jelas film ini tidak akan meraih Best Picture karena punya kemungkinan yang kecil. MIP hanya akan menjadi daftar saja dalam jajaran 9 film terbaik Oscar sepanjang tahun 2011.


    Midnight in Paris (Tengah Malam di Paris) Produksi: Gravier Productions/Mediapro/Televisió de Catalunya (TV3)/Versátil Cinema, 2011) Sutradara Woody Pemain: Owen Wilson, Rachel McAdams, Kathy Bates, Adrien Brody Musik Stephane Wrembel Tata Kamera Darius Khondji, Johanne Debas Editing Alisa Lepselter PDurasi  94 menit Negara Amerika Serikat Bahasa Inggris, Perancis Rilis: 20 Mei 2011



    Penyutradaraan: 8 Akting: 7,5 Cerita: 8 Tata Kamera: 8.5 Artistik: 8 Editing: 7 Musik: 7.5 Best Quote: Gertrude Stein mengomentari naskah Gil. She said: Tugas seorang seniman adalah untuk tidak menyerah dan putus asa, tetapi mencari solusi sebelum ketiadaan eksistensi.Dan tulisanmu mengandung suara patah semangat yang kuat. Jangan terlalu mengalah. Best Scene: Pertemuan kocak Gil dengan Salvaldor Dali. Meski akting Adrien sebentar, namun dia mencuri perhatian. 

    Score: 8/10


    6 Komentar

    gita mengatakan...

    Owen wilson maen film beginian?surprising.saya biasa liat dia berantem sambil ngelawak soalnya.:-D
    Ah...endingna kumaha?*curious*
    Waduh,ketemu ernest hemingway bisa diskusi tentang old man and the sea tuh.tapi saya lebih suka ketemu j.k rowling...:-D

    Riu is me mengatakan...

    Ternyata kita sama, aku juga gak suka banget dengan Owen. Film-film kocak yang biasanya dia perankan membuatku jd ilfill duluan saat mau nonton filmnya.
    Tapi setelah membaca beberapa review, ternyata banyak yang memuji keindahan filmnya akhirnya memutuskan untuk menonton. dan ternyata para pereview itu gak salah. Top banget dah gambar Parisnya.

    rana musika mengatakan...

    Hemmingwaaaayyy!! aku penasaran banget sama karakter aslinya. Interesting.

    Reviewnya keren as always.

    Bagian yang memilih masa lalu atau masa depan itu dalem banget :)

    bebas mengatakan...

    ngga terlalu suka juga sama owen wilson, tapi kayaknya fimnya bagus, dan kapan lagi sih liat owen main film yang rada serius.

    krismorgana mengatakan...

    sesuatu yg baru dari seorang owen wilson....
    ya, ga selamanya komedian di amrik sana melulu mengambil peran yg stereotype...dan mungkin in breakthrough buat owen juga yg pgn peran yg serius...
    mau nonton,,,tpi sialnya lom nemu di toko dipidi...
    kemaren dpt THE HELP masie kopian rekaman dri bioskop...

    Dodo Wiyono mengatakan...

    Seperti perjudian memang, melihat OWEN WILSON dalam karakter yang tidak biasanya. Tapi yang membuat kita penasaran pasti karena ada WOODY ALLEN di kursi sutradaranya.


    Dan, lumayan dia. Paris memang indah, dan itu bisa terlukiskan lewat MIP. Salut buat WOODY ALLEN, makin tua makin yahud saja.

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan