• 22 Februari 2012

    PENGUMUMAN pemenang Oscar tinggal menghitung jari, tapi review bahkan untuk Film Terbaik cuma beberapa. Selain faktor malas menonton, faktor kurangnya respons pembaca membuat keinginan saya menulis untuk review Oscar menurun. Namun Rubrik Road to Oscars 2012 kelak akan diganti dengan The Oscar Review, mengingat tidak cukup waktu satu bulan untuk menonton film-film nominasi.



    Kali ini saya akan mengkritik film The Iron Lady, yang hanya masuk di kategori Best Actress dalam Oscar. Tidak heran karena The Iron Lady punya kelemahan signifikan di bagian cerita. Entah mau dibawa kemana film ini. Politiskah? Drama seorang anak pedagang yang akhirnya jadi perdana menteri? Film feminis yang mematahkan patriarki di tubuh partai? Atau kisah seorang perempuan tua pengidap penyakit demensia, atau orang yang tidak bisa membedakan masa lalu dan masa kininya. Meski demikian, The Iron Lady sangat layak tonton karena tidak membosankan. Apalagi penampilan Meryl Streep yang sangat kuat.


    Plot

    Di opening scene, kita akan menemukan sosok perempuan tua di apartemennya. Pada hari itu dia sengaja belanja ke luar karena susu di kulkas habis. Dia pun digambarkan sarapan dengan sang suami. Sampai akhirnya kita tahu kalau sebenarnya dia hanya berhalusinasi. Sang suami sudah meninggal ternyata.

    Kemudian, kita diajak menapaki scene demi scene masa lalu perempuan yang bernama Margaret Thatcher itu. Margaret adalah anak dari keluarga pedagang. Semasa muda, dia sempat cemburu dengan teman-teman perempuan sebayanya yang bisa berkuliah. Akhirnya, dia diterima di Oxford dan mulai menapaki jenjang politik usai lulus. Awalnya keberadaannya di partai mendapat deskriminasi dan penolakan terselubung. Sampai akhirnya dia dicalonkan sebagai delegasi Partai Konservatif untuk kemudian memegang jabatan sebagai Perdana Menteri.


    Untuk sampai di posisi itu, sebelumnya dia telah kehilangan suaminya yang sudah meninggal, dan meninggalkan dua anaknya yang sudah berkeluarga. Selama dalam kepemimpinan Thatcher, Inggris mengalami banyak kemajuan. Meski langkah-langkah kontroversialnya dalam mengatur pemerintahan membuat figurnya dianggap minor. Dia pun kemudian 'ditusuk' oleh koleganya di tubuh partai. Sementara kerusuhan terjadi di Inggris yang menginginkan Thatcher untuk turun. Akhirnya, Thatcher mengundurkan diri dan semenjak itu, dia mengasingkan dirinya dalam sebuah apartemen.

    The Iron Lady: Akting Mumpuni dalam Film yang Lemah

    Jujur saja, ketika saya melihat poster The Iron Lady tanpa pernah tahu sinopsis sebelumnya, saya menyangka film ini adalah film superhero. Kapan lagi Meryl Streep berakting ala Halle Berry di Catwoman. Tapi ternyata dugaan saya salah, The Iron Lady jelas bukan Iron Man. Itu adalah julukan yang asalnya berasal dari Uni Soviet, yang menilai bahwa Thathcer adalah perempuan berdarah dingin (binataaaang, kale). Maksudnya bertangan dingin dan berhati besi. Namun dalam pemaparannya, kita akan menemukan seorang perempuan rapuh yang agak gila sampai kemudian kita akan menemuikan sebagaimana besinya perempuan ini. Yeah, ketika dia memutuskan perang terhadap sebuah pulau milik Inggris yang disabet negara orang. 


    Scene yang tentunya menarik adalah bagian-bagian ketika Thathcer baik ketika masih muda atau sudah mapan, beraktivitas di parlemen yang didominasi laki-laki. Dia memulai dengan usaha menyuarakan pendapatnya, namun sayang gedung yang penuh batangan itu meremehkannya dengan candaan khas. Thather pun menyerang secara verbal dengan kata-kata yang cerdas.


    Tidak hanya itu, ketika dia menjabat sebagai PM dan sedang rapat dengan jajaran menteri, dia meluapkan sisi emosionalnya sebagai perempuan. Di sana dia terlihat sangat memegang alih. Selain karena posisi yang tinggi, dia juga meluapkan titik eksistensi diri sebagai perempuan yang harus didengar. Hal ini malah membuat 'harga diri' para lelaki ini ciut. Bagaimana mungkin mereka dibentak-bentak begitu oleh seorang perempuan? Sampai-sampai, seseorang memutuskan untuk mengundurkan diri. Para kolega dari partai pun diam-diam berniat menggulingkan Thatchet. Bahkan, seorang kolega mencalonkan diri sebagai PM. Thatcher pun mengundurkan diri pada akhirnya. Dan berpikir kalau dia digulingkan karena sisi keperempuanannya. Ketika para lelaki di pemerintahan harus selalu tunduk di ranah profesionalitas, namun bertekuk lutut di atas jubah gender.

    The Iron Lady sebenarnya merupakan sebuah drama yang gampang dilupakan. Namun kita akan mendapatkan banyak dari akting Streep yang mendominasi, yang membuat jajaran aktor lain tampak seperti pajangan hidup saja. Selain itu, drama ini bukan berarti tidak dibumbui komedi. Gestur Thatcher yang kadang jenaka dan halusinasinya akan sang suami, membuat kita tergelak tawa di beberapa titik. Meski demikian, agak susah bagi penonton awam untuk mencerna film ini. Mungkin mereka berpikir kalau The Iron Lady adalah  film hantu. Siapa tahu? Mengingat visual demensia Hatcher dibuat tanpa 'rasa sungkan',  dan seenak udel.


    Ramai Kritik


    FILM ini baru saja diputar di bioskop Indonesia, dan diedarkan di seluruh dunia pada Januari 2012. Namun, kehadiran film ini menuai kritik karena mantan PM yang diceritakan masih dalam keadaan hidup dan juga menderita penyakin demensia. Banyak kalangan yang lebih setuju kalau film ini dirilis setelah Hathcet yang berusia 86 tahun itu tutup usia. Wah, butuh berapa lama untuk merilis sebuah karya seni ini? Meski demikian, film ini hanya diapresiasi dari segi akting, dan tidak dari segi konten. Terbukti dengan tidak dimasukannya film ini dalam kategori utama di setiap penganugerahan film.

    Dan menurut saya, The Iron Lady kurang memberikan sentuhan feminis. Suara yang digelontorkan Hatchet adalah suara seorang rakyat kecil yang diremehkan. Selain itu, keberadaannya selama di pemerintahan yang tidak bekerjasama dengan politisi perempuan, patut dipertanyakan. 

    Kans di Oscar

    PEROLEHAN penghargaan Best Actress untuk Meryl Streep di banyak anugerah  perfilman sebenarnya dikalahkan oleh Viola Davis yang maun dalam The Help. Namun Streep memenangkan kategori yang sama di penganugerahan film yang prestisius seperti Golden Globe dan BAFTA Awards. Jadi kemungkinan besar dia akan kembali meraih Oscar untuk Best Actrees.

    Streep adalah aktris yang memperoleh nominasi Best Actrees terbanyak, sampai empat kali. Di jajaran Best Supporting Actreess, dia memperoleh nominasi di kategori yang sama sebanyak 17 kali. Waw, endak heran,sih. Kemampuan aktingnya memang selalu brilian. Dan kayaknya Streep akan bawa pulang Oscar karena dalam The Iron Lady, dia sangat meyakinkan dengan gestur yang konsisten, ditambah dengan dukungan make up (dapat nominasi Best Make Up Juga). Dan tentu, pelafalan bahasa Inggris british yang bagus.



    *




    Sutradara Phyllida Lloyd Penulis  Abi Morgan Pemain Meryl Streep, Jim Broadbent, Anthony Head, Richard E Grant, Alexandra Roach, Harry Lloyd, Olivia Colman Sinematografi Elliot Davis Editing Justine Wright Studio Film4/UK Film Council/Canal+/CinéCinéma/Goldcrest Film Production LLC/DJ Films/Pathé Durasi 105 menit Negara: Inggris Bahasa: Inggris, Perancis


    Penyutradaraan: 7 Cerita: 7 Akting: 9 Sinematografi: 7 Editing: 6 Musik: 7  



    Best Quote:  Saat Thatcher usai diperika dokter, dia berkata: Berhati-hatilah dengan ucapanmu karena akan menjadi tindakanmu. Berhati-hatilah dengan tindakanmu  karena akan  jadi kebiasaanmu. berhati-hatilah dengan kebiasaanmu  karena akan  jadi karaktermu. Berhati-hatilah dengan karaktermu   karena akan   akan menjadi tujuan hidupmu. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Best Scene: Bersitegang di ruang rapat dengan didominasi lelaki.


    3 Komentar

    Ahmad Saleh Muslimin mengatakan...

    patut untuk guwe nonton filmnya.. kayaknya ceritanya cukup menarik.. :woot:

    Riu is me mengatakan...

    Kemren pas di Bogor penasaran dgn film ini. Tapi karena udah baca reviewnya dan katanya jelek krn miskin naskahnya, jd gak tertarik.
    Biasanya sih sebelum nonton, aku baca dulu reviewnya. mana yg bagus, ceritanya kek gimana dan berapa bintang yg didapat dr para periview. kalo cuma tiga bintang, biasanya aku milih yg lain aja.
    Sebenarnya sih aku suka film yg beginian. rada mikir dan bikin penasaran kek gimana perjuangannya. keknya bakal dunlut juga nih....

    dian andriyana lutter mengatakan...

    untuk meryl streep...
    film sepert apa pun akan jadi brilian...best actress ever...

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan