7 Februari 2012
Mengenai pekerja outsourching, paling tidak Anda bekerja di tempat yang nyaman. Teruslah mencari pekerjaan yang Anda anggap layak. Kecuali Anda mendapatkan kemungkinan kalau Anda akan naik jabatan di perusahaan yang Anda jalani sekarang. Yang jelas, bersyukurlah dengan apa yang kita punya dan tidak kita punya.
Rapat Kantor
Hilman, 27, Jakarta
Hai, Sam. Gue adalah staf di sebuah perusahaan di bidang advertising. Sialnya gue masih pekerja kontrak, alias belum jadi staf. Biasanya kita rapat evaluasi seminggu sekali di kantor. Tapi kemudian berembus kabar kalau bulan depan, rapat akan diselenggarakan di Surabaya. Yang bikin mata gue melotot kaku, akomodasi dibayar sendiri-sendiri bagi yang pekerja kontrak. Awalnya gue kaget kayak orang kesamber petir, tapi kemudian gue bernapas lega lantaran hal itu enggak diwajibkan.
Yang bikin gue ngakak, ternyata itu semua cuma akal-akalan pekerja yang lain cuma agar bisa liburan. Mereka memang rapat di sebuah ruangan hotel, pake presentasi segala, lengkap dengan makalah hasil rapat yang akan diserahkan ke kantor. Gue enggak bilang ini ilegal, tapi cukup konyol karena buat liburan rame-rame aja perlu pake alibi rapat ke luar kota segala. Gue menduga ini agar para staf bisa ke luar kota gratis dibiayain kantor. Apalagi ternyata, beberapa orang di sana bawa keluarga segala. Gue makin ngakak, deh. Katanya juga itu semua sunah. Kalau mau ikut, silakan. Kalau enggak, ya, enggak apa-apa. Otomatis gue lebih memilih enggak ikut. Toh enggak ngefek ke kinerja juga nantinya.
Cuma yang gue sayangin, kenapa staf dibayarin sementara yang buruh kayak gue enggak. Ya, wajarlah kalau dimana-mana perusahaan pake jasa outsourching. Mereka berharap tugas-tugas mereka sempurna dengan adanya buruh, sementara smooth deskriminasi akan terus berlangsung.
Kata Saman:
Memprihatinkan juga kalau itu memang terjadi. Menurut saya itu sama saja dengan akal-akalan dari sekelompok pekerja yang jenuh pada pekerjaannya, kemudian berinisiatif melakukan travelling dengan biaya yang dijamin kantor. Tapi sebenarnya itu hal yang wajar, kok. Apalagi kalau rapat yang mereka maksudkan memang mendapatkan hasil signifikan untuk kinerja mereka ke depan. Meskipun, sebenarnya perusahaan sudah memberikan mereka kesempatan dan waktu luang dengan acara rekreasi gratis yang diberikan secara berkala.
Mengenai pekerja outsourching, paling tidak Anda bekerja di tempat yang nyaman. Teruslah mencari pekerjaan yang Anda anggap layak. Kecuali Anda mendapatkan kemungkinan kalau Anda akan naik jabatan di perusahaan yang Anda jalani sekarang. Yang jelas, bersyukurlah dengan apa yang kita punya dan tidak kita punya.
Digantung Penerbit
Rini, 26, Jakarta
Saya bekerja sebagai freelancer di sebuah penerbit ternama di Jakarta. Saya pun mencoba-coba mengirimkan novel yang satu bulan kemudian menerima surat penolakan. Sebenarnya kirim mengirim itu projek coba-coba. Diterima syukur, tidak diterima tidak apa-apa. Yang lebih asyik, saya didaulat akan dijadikan penulis untuk genre remaja oleh penulis kenamaan yang juga menjabat sebagai manajer. Yeah, itu pun lewat obrolan ringan yang hanya memakan waktu kurang dari lima menit. Padahal saya membayangkan akan dipanggil ke mejanya. Kemudian, saya pun menunggu sampai sebulan. Maklum, saya bukan tipe orang yang grasak-grusuk. Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk mengiriminya SMS yang berisi pertanyaan akan janjinya itu, sekalian ingin meminta alamat email-nya karena saya punya naskah lain. Tapi seperti yang saya duga, SMS itu tidak dibalas. Bahkan sampai beberapa hari kemudian.
Sebenarnya saya sangat berharap apa yang dia katakan bisa direalisasi. Yaitu yang katanya akan dilatih untuk menjadi penulis genre remaja. Tapi melihat gelagatnya yang saya anggap tidak profesional dan cenderung menyepelekan, saya jadi ragu. Saya berhenti berharap. Sementara saya juga enggak bisa mengirim naskah lagi ke sana karena faktanya, naskah yang mereka terbitkan adalah naskah yang mereka pesan ke penulis-penulis yang sudah punya nama. Artinya, kesempatan penulis amatiran yang mengirimkan naskah sangat kecil untuk dimuat.
Sebenarnya saya bisa saja lebih terlihat. Mungkin beliau lupa. Tapi saya bukan orang yang seperti itu. Saya tidak bisa menjilat. Bukan pula saya gila hormat. Tapi saya hanya menyayangkan digantung-gantung seperti ini layaknya jemuran. Menerima penolakan itu hal yang wajar, tapi diberikan ketidakpastian, itu baru sesuatu yang kurang menyenangkan.
Kata Saman:
Seharusnya kamu merasa beruntung karena akhirnya kamu tahu dengan siapa kamu akan bekerjasama. Saya tidak tahu bagaimana cara editor memperlakukan penulis baru. Apakah sama rata atau tebang pilih. Tapi faktanya mereka memang berpihak pada penulis yang sudah punya nama atau yang punya jam terbang tinggi. Ada baiknya kamu coba di penerbit lain, dan jangan pernah putus asa. Karena yang berkualitas dan konsisten, akan selalu dicari. Siapa tahu kamu maju di penerbit lain dan editor bersangkutan yang sudah menghubungimu hanya akan menelan ludah kepahitan.
Tapi kalau kamu memperbaikinya, bisa, kok. Itu pun akan mirip dengan apa yang kamu bilang dengan menjilat. Yaitu terus menghubunginya, telepon atau ketemu langsung kalau bisa. Yah, semua itu ada di tanganmu. Kalau kamu tipe orang yang idealis, maka kamu akan lebih suka menunggu dan memperhatikan. Entahlah, mungkin sampai yang bersangkutan lupa akan janjinya kepadamu. Saya tahu bagaimana rasanya jadi introvert sekaligus orang yang idealis. Mereka memang tidak gila hormat, tapi rasa respek, dan menganggap kalau menanyakan kesempatan yang telah lama dijanjikan akan mengurangi sedikit harga diri. Paling tidak kamu sudah diperhitungkan dan diperhatikan. Tunggu saja dan selagi menunggu, teruslah menulis dan jangan pernah berhenti.Yang penting berpikirlah positif. Jika satu pintu tertutup, cobalah memasuki pintu lain. Masih banyak jalan selama kita mau berusaha dan ikhtiar.
*
Kotak Surat Samandayu
Buat kamu yang mau tanya-tanya ke Samandayu tentang masalah pribadi, dunia tulis menulis, atau apapun, bisa kirimkan email ke saman_dayu (at) yahoo.com atau inbox saja facebook saya (FB saya: Saman Dayu). Jangan lupa kasih data nama, usia, dan kota domisili agar data tersebut bisa di-publish di postingan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Komentar
Posting Komentar