• 18 Februari 2012

    DI antara sembilan nominasi film terbaik Oscar tahun ini, The Tree of Life adalah film paling non-mainstream yang susah dicerna penonton awam. Jika kita masih bisa menikmati dan terhibur oleh film The Artist, maka akan susah bagi sebagian orang untuk memahami dan menelanjangi The Tree of Life. Itulah yang saya alami saat menontonnya. Sampai-sampai untuk bikin review ini, saya harus melihat review blogger lain tentang film ini.


    Dalam daftar nominasi Best Picture Oscar 2012 yang harus saya tonton, Brad Pitt main di dua film yang masuk nominasi. Adalah Money Ball dan The Tree of Life. Karena saya endak menyukai aktor ini, saya pun malas-malasan menontonnya. Untung ada aktor Sean Penn dan Jessica Chastain (yang main di The Help). Selain itu dalam suatu scene, ternyata ada scene epic yang mengingatkan kita pada film dokumenter ala Discovery Channel.

    Sebenarnya dikit-dikit, saya juga bisa memahami film ini. Bagaimana manusia mempertanyakan keberadaan dirinya, kebingungan dan keragu-raguannya akan eksistensi Tuhan. Film dengan editing chaos dengan tata kamera dinamis ini juga miskin dialog. Lebih banyak yang kita dengar adalah para tokoh yang menjadi narator dalam sebuah scene montage. Lalu, sebenarnya film ini bercerita tentang apa, sih? Simak saja sinopsisnyah!

    Plot

    Secara  garis besar, film ini dibuat flashback dengan cara penyampaian yang kabur. Opening scene dibuka dengan pasangan suami istri Mr O'Brien (Brad Pitt) dan Mrs O'Brien (Jessica Chastain) yang berduka setelah salah satu anak mereka meninggal. Mereka membesarkan tiga anak lelaki mereka di kawasan Texas, Amerika pada tahun 1950-an. Scene lain ada sosok Jack dewasa (Sean Penn) yang hidup masa kini. Sama seperti masa kecilnya, Jack dewasa juga masih melakukan aktivitas yang sama, dengan memperhatikan langit, bertanya-tanya, dan memorinya tumpah ruah karena masih belum bisa melupakan peristiwa semasa ia kecil.

    Jack (Hunter McCracken) memiliki dua orang adik yang bernama R.L (Laramie Eppler) dan Steve (Tye Sheidan). Mereka selalu akur sampai ketiganya merasakan dampak dari cara pengasuhan Mr O'brien yang keras. Berbanding terbalik dengan cara pengasuhan Mrs. O'brean yang penuh kasih. Lewat kacamata Jack, kita akan melihat perkembangan psikologis dan spiritual sejak ia laghir sampai menginjak usia kanak-kanak. Di usia anak-anak itulah dia mengalami tekanan mental dari kerasnya didikan sang ayah. Jack memilih memendam rasa penasarannya terhadap kehidupan ketimbang harus bertanya pada kedua orangtuanya yang  kerap bersitegang. Pertanyaan-pertanyaan manusiawi dan naif pun muncul di sepanjang pertumbuhannya. Contohnya ketika dia menemukan temannya tewas setelah tenggelam di kolam renang, dia pun menanyakan kenapa Tuhan membiarkan kematian itu terjadi.

    Jack juga kebingungan akan eksistensi dirinya, termasuk memahami perasaan sayang, benci, kenakalannnya, dan tendensi seksualitasnya terhadap lawan jenis. Sementara dia tidak bisa berbuat banyak dalam mengkritisi kedua orang tuanya yang sering cekcok. Sampai akhirnya dia berkata pada ibunya di suatu kesempatan, "kenapa kau membiarkan dia (ayah)  menguasaimu?"



    Film dengan scene demi scene yang disunting 'tanpa ampun' sekeinginan kreator disisipi montage pemandangan alam atau galaksi bimasaksi yang membuat kita merasa sangat kecil sebagai manusia. Salah satu scene epic mengenai penciptaan galaksi serta bumi, membuat kita bertanya, siapakah kita? Apakah Tuhan benar-benar 'ada'? Apakah kita hanya tercipta begitu saja karena proses organisme semata?

    The Tree of Life: Film Spiritual Susah Cerna

    The Tree of Life mendapat kritik yang bagus dari kritikus film dunia. Terbukti dengan banyaknya penghargaan berupa Film Terbaik dan kategori penting lainnya dalam berbagai penghargaan perfilman internasional. Saya tidak familiar dengan sang  kreator, tapi konon sang sutradara yang bernama Terrence Malick adalah sosok pemalu yang menghindari publisitas (mirip sama ane dong ea. Heu =-=). Malick sendiri pernah membuat film Days of Heaven (1978), The Thin Red Line (1998), The New World (2005) dan beberapa film lainnya. Dan katanya, sih, film-filmnya tipikal semua alias nganeh-nganehi. Endak tahu juga. Wong belum nonton.


    Tapi dalam Tree of Life kita akan dibuat takjub dengan scene penciptaan galaksi dan bumi dengan scoring yang masterpiece. Di sana digambarkan bagaimana semesta dibuat, kemudian muncul galaksi bimasakti kita, kemudian sebuah bola raksasa yang kita kenal dengan matahari. Kemudian kita sampai di sebuah planet yang kita kenal dengan bumi. Setelah gempa terjadi berkali-kali, mikroorganisme pun muncul. Muncul pula sejenis ubur-ubur di laut, untuk kemudian berevolusi menjadi ikan. Dengan singkat seekor dinosaurus air terdampar ke daratan dan 'membuat' evolusi lainnya membentuk binatang purbakala lainnya.

    Boleh dibilang, itulah scene yang paling megah dan paling diingat dalam film ini. Sisanya, akan susah dicerna dan barangkali membosankan bagi penonton awam. Salah satu scene Mrs O'Brien yang terbang dan terkurung dalam peti kaca pun bikin orang mengerenyitkan kening. Padahal itu adalah fantasi dari Jack sendiri, yang menggambarkan dua sisi ibunya. Satu yang melayang-layang bahagia dan satu lagi yang terkurung dalam peti sebagai representasi dari ketertekanan yang diperoleh dari sang suami.

    The Tree of Life hanya meraih tiga nominasi Oscar. Yaitu Best Picture, Best Director, dan Best Cinematoghrapy. Sepertinya susah bagi film ini untuk meraih Oscar. Yang berkemungkinan mendapatkan satu Oscar hanya dari penghargaan Cinemathography yang dibuat Emmanuel Lubezki. Lubezki berkali-kali menyabet nominasi di kategori yang sama. Sebut saja film dengan tata kamera yang baik seperti Sleepy Hollow (1999), A Little Princess (1995), Children of Men (2006), The New World (2005). Bisa jadi Oscar akan memberi penghargaan ini kepada Lubezki.


    *
     

    The Tree of Life (Pohon Kehidupan) Sutradara: Terrence Malick Pemain: Brad Pitt, Sean Penn, Jessica Chastain, Hunter McCracken, Laramie Eppler, Tye Sheridan,Kari Matchett, Sinematografi:  Emmanuel Lubezki Editing: Hank Corwin, Jay Rabinowitz, Daniel Rezende, Billy Weber, Mark Yoshikawa Studio: Cottonwood Pictures/Plan B Entertainment/River Road Entertainment Durasi:139 menit Rilis: 16 Mei 2011 Negara/Bahasa United States/Inggris

    Penyutradaraan: 8 Akting: 8 Sinematografi: 8 Editing: 8 Suara: 7 Musik: 7.5 Naskah: 7   Best Scene: Montage penciptaan semesta dan bumi. Best Quote: Unless you love, your life will flash by.

    Score: 7,5/10


    4 Komentar

    Riu is me mengatakan...

    beberapa waktu sempat akan nonton film ini, tp gak sempet. terlalu byk kegiatan jadinya molor terus.
    kalo byk yg bingung ttg film ini, jd penasaran nih... seingatku, Deneid adalah film yg sampai sekarang masih samar-samar maksudnya. meski lbh dr 5 kali nonton, tetep aja blm ngerti. alo film ini makin gak ngerti, maka ada 2 film yg buttuh pencernaan llebih nih...

    dian andriyana lutter mengatakan...

    harus nonton dulu baru komen ya....
    antara setuju dan tidak setuju....
    hmmm,,,moga bsa dpt dipidinya sebelum oscar digelar....

    Ramy mengatakan...

    hmm.. susah dicerna ya, untung baca reviewnya :D

    Ami Sz mengatakan...

    hmmm saya pas kebetulan juga uda nonton filmnya, saya pikir bagus ga taunya saya ga nangkep sama sekali jalan cerita ato maksud dr film ini, abis nonton rasanya capeee bgt, cape mikir ;D

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan