28 Desember 2011
ANAK-ANAK yang memakai kata-kata sarkastik barangkali pernah atau sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Taruhlah ketika sekali-sekali kamu ke warnet yang menawarkan jasa game online, di sana anak-anak SD itu sudah memakai kata-kata kasar sejenis 'anjing', 'taik', 'bangsat', sebagai luapan kekesalan atau bahkan kata ganti kepada temannya. Sungguh hal yang kurang nyaman didengar. Karena lagi-lagi saya harus bilang, "Selamat Datang di Era 2000-an".
Ketika anak-anak sudah layak mengonsumsi produk dewasa dan menjadi korban gaya hidup urban. Artinya kalau eloh udah pake kata-kata kasar kek anjing, babi, dan sejenisnya, eloh udah keren punya. Sebab eloh udah kek anak yang bebas, tanpa aturan. Sounds like good. Isn't?
Kebiasaan maki-maki pun dilakukan sebagian anak Indonesia. Yang tentunya penyuka tayangan yang bernama SHITnetron. Yeah, di sana, kita enggak hanya akan menemukan cewek bangun tidur dalam keadaan menor, tapi kamu juga akan nemuin bapak-bapak yang gampar anak lelakinya karena alasan yang sepele. Bumbu tragis pun kerap meracuni anak-anak sebagai penonton: scene pertengkaran. Enggak heran hal kayak gini dituruti anak-anak. Anak-anak yang sifat dasarnya meniru yang lebih dewasa itu, melakukan hal serupa dan kemudian, punya pola pikir sentimen/cynical terhadap orang yang tidak dia suka. Apalagi kalau teman-temannya punya 'paham' serupa. Kecuali kalau mereka diberi pemahaman oleh orangtua dan guru masing-masing.
Nah, itu semua adalah gambaran realitas. Anak-anak yang kasar, selalu kita temui di kehidupan nyata. Tapi, apa jadinya kalau hal itu diangkat dalam karya sastra? Enggak apa kalau itu ditulis untuk pasar dewasa. Misalnya, Djenar Maesa Ayu yang kebanyakan karyanya bercerita tentang trauma seorang anak perempuan yang dilecehkan/diperkosa pihak laki-laki. Tapi kalau untuk pasar anak-anak? Waw, ini hal yang patut diperhatikan.
Seorang penulis anak-anak yang sudah punya jam terbang tinggi, menulis karya fiksi dengan salah satu mata pelajaran yang digandrungi sekaligus ditakuti anak-anak seluruh dunia: Matematika. Tapi dua karyanya yang sempat saya edit, punya unsur kekerasan dan kecenderungan mengkritik birokrasi yang ketat. Tidak masalah jika beliau ini menulis untuk pembaca dewasa, namun kita sedang berhadapan dengan anak-anak. Jadi agak waw wew wow saat saya nemuin diksi 'brengsek', 'bangsat', 'edan', 'gila'. Narasi berisi kritik terhadap pemerintah secara eksplisit, sekuen/adegan pembunuhan, dan sejenisnya, dan sejenisnya.
Saya tidak tahu karya-karya sebelumnya yang sudah terbit seperti apa. Apakah editor bahasa yang bersangkutan memangkas, mengganti, dan menjadikannya layak dikonsumsi anak-anak, atau 'membiarkannya begitu' sebagai 'nilai jual'.
Tentu saja, unsur sarkasme ini tidak hanya dilakukan sebagian penulis dewasa yang menulis untuk anak-anak. Sebagian penulis anak-anak pun kerap kali melakukannya. Biasanya, mereka menulis 'tanpa sadar' alias 'tauk-tauk' muncul sumpah serapah yang kurang enak disimak. Tema yang ditulis pun cenderung klise dan bisa sangat jadi keklisean ini merupakan buah dari keinginan kebanyakan anak-anak -atau anak-anak sebagai korban paradigma lantaran disuguhi struktur yang itu-itu saja.
Tapi kalian pasti sering mendapati problematika klise dalam SHITnetron seperti: jurang pemisah yang frontal antara si kaya dan si miskin, tokoh antagonis digambarkan hitam pekat tanpa adanya sifat-sifat kemanusiawian (tauk-tauk di ending, dia minta maaf kepada tokoh utama dengan serba ujug-ujug tanpa ada proses psikologis/beban batin yang terlihat). Contoh kongkrit lain adalah keberadaan geng yang berisi anak-anak nakal bin sombong, yang senantiasa menindas geng yang dari strata 'anak baik-baik'. Sialnyaa, di sini kita enggak menjumpai tokoh protagonis lawan antagonis. Namun, tokoh utama malah melawan tokoh antagonis dengan tidak kalah bengis. Seperti meluapkan kekesalan tokoh utama dengan diksi yang berbahaya. Apakah penulis anak untuk pembaca anak ini korban dari 'kebiadaban' SHITnetron yang membuat emosional mereka melulu menukik sampe ke ubun-ubun?
Selain menemukan naskah yang menurut saya kurang bagus, saya juga sekali-sekali menemukan naskah yang bagus sehingga saya kepingin kenalan sama penulisnya -sayangnya itu enggak saya lakukan ampe sekarang. Bagaimana sebuah naskah -untuk anak- dikatakan bagus? Tentu saja punya unsur-unsur mendidik/edukatif. Yang dapat saya jabarkan sebagai berikut (jadi kayak buku pelajaran Bahasa Indonesia =-=" )
1. Kata-kata yang sopan, hati-hati, namun mengalir dan bergaya anak-anak.
2. Deskripsi tokoh yang jelas baik secara fisik maupun yang digambarkan melalui dialog.
3. Amanat yang digambarkan baik secara eksplisit (teks narasi) maupun implisit dari dialog.
4. Menggambarkan sosok antagonis dengan deskripsi santun.
5. Mengindari dialog yang berisi sumpah serapah.
6. Plot yang sederhana dan happy ending.
7. Punya tema yang menarik dan aktual.
8. Penulis tidak memosisikan diri sebagai hakim. Namun dia bisa melakukannya/menjadi hakim dalam tokoh-tokohnya. Itu pun harus diungkapkan secara santun.
9. Narasi (teks kalimat tidak langsung, terutama dari kacamata penulis/kata ganti orang ketiga) sebaiknya baku dan sesuai EYD.Kecuali kalimat langsung (dialog), kata-kata nonbaku/keseharian sangat diperbolehkan di sini.
10. Menghindari unsur erotisme, kekerasan, RASIS.
Tentu saja kalo saya sedang jad kuli, euh maksud saya tukang ngedit naskah, euh -ah atau apalah itu namanya, saya enggak memosisikan diri sebagai penulis. Tapi sebagai pembaca, job description saya, kan, cuma ngedit tata kalimat, pungtuasi (tanda baca). Dan kemudian, saya dan kuli (baca: prilanser sejenis) harus memperhatikan tema, kehati-hatian diksi, dan segala hal yang seharusnya dilakukan editor profesional.
*
Bagaimana Sebuah Buku Fiksi Dikatakan Bestseller?
BAGAIMANA sebuah karya bisa jeblok di pasaran? Baiklah, karya (sastra/buku) yang enggak best seller bukan berarti karya yang jelek. Tidak pula saya mau mengatakan kalau karya yang sukses di pasaran itu karya yang jelek. Faktor kekinian, adalah faktor terpenting di dunia kapitalisme. Di sini para seniman/artis/kreator berlomba-lomba membuat karya yang memiliki napas tren yang sedang digandrungi.
Contohnya? Pasca kesuksesan Poconggg Juga Pocong karya Arief Muhammad, muncul novel-novel jenis yang berbau pocong lengkap dengan ilustrasi buku yang mengekor. Contoh lain dalam dunia penerbitan adalah demam sastra Islami yang sempat booming. Yeah, sastra Islami memang punya pasarnya sendiri. Namun, pada pertengahan dekade 2000-an, sastra genre ini sempat digandrungi segala kalangan.
Kemudian, suatu karya bisa meledak lantaran faktor pembeda. Maksud saya, ketika banyak karya menjamur dengan tipikal yang muncullah karya yang berbeda dan kemudian diterima. Karya jenis ini dianggap pionir. Contohnya, karya autobiografi seperti Raditya Dika dengan Kambing Jantan-nya.
Kemudian, faktor nilai obyektifitas. Ketika suatu karya baik secara penjualan karena rekomendasi teman, polemik di media massa sebagai obyek kritik akademik, menjadi obyek kajian penelitian, dan yang kemudian menjadi kontroversi bin pembicaraan. Contohnya novel Saman karya Ayu Utami.
Jadi agak aneh kalau seseorang menilai satu karya jeblok lantaran ketidakhati-hatian editor dalam mengolah diksi. Bisa jadi tema buku bersangkutan sudah last year. Maksudnya, ayolah! Hari gini jual buku antologi cerpen ala Chicken Soup dengan tema animal lover? Saya tahu akan ada banyak faktor yang dijelaskan dalam rapat evaluasi seminggu sekali yang memaparkan sebab musabab mengapa buku sejenis jeblok di pasaran. Namun jika secara profesional buku itu jeblok lantaran dikata proses editing yang kacau hanya karena adanya scene 'makan kepala orang', rasanya itu naif. Apalagi beliau tidak mengutarakan alasan lain jebloknya buku yang kemudian ditarik di pasaran saking nggak lakunya itu.
Sebab agak kerepotan kalau tema kekerasan bukan sebagai 'bumbu penyedap', tapi sudah jadi plot. Perlu diketahui bahwa ada naskah yang alurnya berisi pembunuhan antarkeluarga. Lengkap dengan sekuen berisi deskripsi berdarah-darah/gore bin slasher layaknya film horor atau crime untuk 18 tahun ke atas. Di sisi lain, kita punya tanggung jawab pekerjaan dan moral untuk mengedit bagian/alur tersebut dengan diksi yang lebih santun. Di sisi lainnya, karya barangkali akan menjadi tidak utuh sehingga membuat penulis aslinya protes. Jadi, apa yang ingin disampaikan penulis, tidak terjelaskan dalam bukunya.
Yeah, bukankah 'yang penting' buku itu laku? Eaaa!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
8 Komentar
Bagian editor mah paling sulit. Udah capek-capek ngedit aja masih sering disalahkan, apalagi kalo penulisnya udah punya nama.
kalo masalah kekerasan dalam cerita anak, kayaknya memang sudah biasa ya... dongeng-dongeng sebelum tidur pun sering memasukkan unsur begitu, meski dgn bahasa yg halus. tapi kalo udah terpasuk 'daleeeem', mungkin juga karena faktor media yang sering dilihatnya, gak sadar tahu-tahu udah jadi tulisan aja.
hemmm.... aja para orang tua lebih selektif lagi dalam memilih buku bacaan utk anak-anak, agar anak terhindar dari hal2 yg tak diinginkan. :)
Eh, waduh, saya baca The Novelist karangan Dean Koontz dulu ya. :woot:
Dulu aku penggemar berat novel anak-anak karya Bung Smas dengan serial 'Noni' dan 'Pulung'nya atau Arswendo dengan serial 'Imung'nya yang bergenre detektif dan action. Tapi meski tergolong genre keras kayaknya gak ada tuh kata-kata atau kalimat-kalimat sarkastik.
Buku-buku anak-anak jaman baheula menurutku temanya lebih beragam dan sangat mengasyikkan ( mungkin waktu itu karena aku membaca sebagai seorang anak ya jd bisa pny kesan demikian ) |-)
#ah, jadi kangen juga ama CM Nas dll, dll
penulis sekarang udah kebanyakan nonton shitnetron...jadi kebawa-bawa dah sampe ke karyanya.
menurutku sie, emank perlu di rapatkan untuk editor ama penulisnya. biar cerita dan genenya bsa nyambung dan pas. penulis ga bsa egois lah,dan penerbit pun ga bsa asal cetak. setiap isi buku harusnya dikerjakan dengan hati2...agar maksud dan tujuan dari buku tersebut sampai pada pembaca....
tapi memang tak dipungkiri karya sastra yang sarkastik dsb memang lebih menjual dan menarik, baik itu karya sastra anak..
makannya pendampingan orangt tua itu perlu..
toh si anak bisa mengerti maksud dan tujuan penulis jika di dampingi..
Menulis buat anak-anak memang susah, bukannya karena mereka kurang cerdas sehingga pilihan tema jadi kurang beragam, tapi kadang karena mereka "terlalu cerdas" jadinya minat mereka sudah "lebih dewasa" dibanding anak-anak jaman 90an umpamanya..
Lagian, saya kurang yakin kalau anak-anak sekarang masih suka baca mereka lebih suka main game online atau PS atau masih baca tapi bacaannya komik Jepang atau komik Korea.. 8-)
harusnya editor berterimakasih sama kamu karena peka sama hal yang harusnya dilakukan editor... :D
kita berharap kata-kata yang SHIT ini tidak akan terus menjamur kepada anak cucu kita... heuheu kek yang betul aje...
:fufu:
bangun tidur tapi wajah masih menorrrr ..
ahahahaha .. terlihat aneh tapi nyata dalam sinetron ..
kalau masalah bapak yang menampar anaknya karena urusan selepeh *sepele , hha sutradara harus pintar-pintar meletakkan adegan menangkis tangan supaya pipi sang anak tidak semakin merah ( sebelumnya sudah memakai blush on ..)
:)
Posting Komentar