- Home>
- Film Horor >
- The Final: Pembalasan Dendam Para Freakers
12 Desember 2011
HEBATNYA film mancanegara (barat), film yang dibuat oleh
rumah produksi kecil boleh dibilang bagus. Meskipun, tidak sefantastis
film-film yang dibikin studio besar seperti Universal, 20th Century
Fox, Miramax, dan sebagainya. Yang membedakan tentulah di bagian bujet yang
memengaruhi bagus tidaknya faktor teknis sebuah film.
Mohon maaf, tapi ini mungkin akan kembali terdengar
memojokkan. Rumah produksi milik kita terbilang sedikit. Sisanya rumah produksi
yang kaya raya lantaran pernah bikin sinetron yang keuntungannya sampai
bermiliar-miliar. Sialnya, mereka Cuma ngasih barangkali sekian ratus juta
untuk sebuah film yang tentunya berkualitas rendah. Menyoal film horor
misalnya, yang membutuhkan tata efek yang lebih ekstra. Kebanyakan film kita
malah serba tipikal dengan tata make up murahan, zoom shoot dan sinematografi
terlalu dinamis untuk menutupi kendala teknis, dan tentunya mengarah pada
sensualitas. Semuanya bikin film jadi ndak jelas. Mau horor tapi nggak serem,
mau erotis tapi nggak ada adegan bokepnya kecuali cipokan gaje dan pamer dada
bokong.
Sudahlah, cukup di situ kritiknya karena saya sudah banyak
bermoncong ria soal hal kek beginian di artikel sebelumnya. Saya toh sedang
ingin membahas film thriller berjudul The Final. Sebenarnya saya menyimpan
ketertarikan pada film tahun 2010 ini hanya dari poster official-nya, ketika
seorang siswi menunduk dan tengah duduk di kursi kelas. Dan, baru kali ini saya
mencomot filmnya dari rental VCD. Hasilnya? Lumayan di awal, kendor di tengah
dan membosankan di akhir. Yang jelas saya masih menyukai The Final ketimbang horor yang saya bahas minggu lalu, Insidious. Karena The Final, kerinduan saya terhadap suasana sekolah ala Amrik terpuaskan juga. Heu.
Plot
Scene dibuka hitam putih saat seorang gadis remaja masuk ke sebuah restoran dan memesan burger. Dia mencuri perhatian penjual dan pengunjung lantaran bentuk wajahnya yang rusak juga dengan jari tangannya yang sudah tidak lengkap lagi. Karena sadar jadi pusat perhatian, dia pun membanting meja dan marah-marah karena tersinggung dengan tatapan demi tatapan itu.
Setelah opening scene itu, kita memasuki suasana SMA ala Amerika, ketika koridor sekolah dipenuhi anak-anak berpakaian bebas dan tentu saja selalu ada si aneh dan si urban. Yah, ngingetin saya dengan drama remaja terbaik: Mean Girls.
Seorang anak keturunan India, Raavie, terus diganggu dan dihina oleh Bradley dan Bernard. Sementara gadis gothic bernama Emily selalu diejek tiga cewek yang populer yang bernama Kelli, Bridget dan Heather. Tindakan bullying itu jelas dilakukan Bradley seperti mengata-ngatai sampai memukul. Raavie memiliki seorang sahabat bernama Dane dan keduanya sempat jadi bulan-bulanan di kamar mandi oleh Bradley dan Bernard.
| Ravi di-bully Bradley dan Bernard. |
Akhirnya Dane bersama keempat kawannya yang sama-sama menjadi korban bullying mengadakan suatu jebakan. Tanpa sepengetahuan korban, mereka menyelipkan undangan pesta dengan jumlah undangan yang terbatas (invitation only) di sebuah kabin di tengah hutan. Para korban yang pem-bully itu pun akhirnya masuk perangkap. Mereka berpesta sampai akhirnya tertidur lantaran minuman yang mereka minum sudah dicampuri obat tidur.
| Dane, sang dalang yang kelihatan lemah namun cadas. |
Kesemuanya terbangun lantaran bunyi lengkingan radio dalam keadaan terantai. Di sanalah beberapa korban disiksa secara sadis. Pertama seorang korban yang bernama Miles harus terluka di bagian muka dan paha lantaran pistol ternak sapi yang diarahkan Jack.
| Terbangun. |
Selanjutnya,Dane yang masih ditutup topeng mempersilakan satu orang anak yang ingin keluar. Tomy mengacungkan tangan dan dia pun keluar kabin. Sayang, di tengah hutan, kakinya terperangkap jebakan beruang, dia pun dibawa kembali ke kabin dalam keadaan terluka di ruangan khusus.
Kemudian, Bernard disiksa Emily setelah Bernard meminum racun yang membuatnya lumpuh. Dengan gaya psikopat, Emily yang bertopeng itu menusukkan jarum satu per satu ke leher dan ke dada Bernard.
| Emily menusuk Bernard. |
Sementara Kurtis, tokoh supel yang berada di pihak kelompok freak dan kelompok urban, berhasil lolos setelah Raavi sengaja menjatuhkan kunci ke hadapan Kurtis. Karena Ravi dianggap pengkhianat, Dane pun menusukkan pisau beberapa kali ke jantung Ravi sampai tewas.Emily tak menyangka hal itu terjadi, namun dia harus tetap meneruskan apa yang sudah direncanakannya.
Akhirnya, kelima orang itu melepas topengnya. Siksaan pun berlanjut. Heather diolesi lilin di wajahnya yang bisa membuat wajah hancur setelah merasakan gatal dan perih luar biasa. Sementara Bridget kemudian memohon agar mereka dibebaskan, sampai akhirnya dia disuruh Emily untuk memotong jari tangan Bradley.
| Penyiksaan terhadap Bridget. |
Karena enggan, Bradley lah yang memotong jari tangan Bradley. Dua jari pun hilang sudah, namun Emily memberi kesempatan Bridget untuk menyelamatka diri. Namun Bridget tak dapat menyakiti Bradley. Karena tidak mampu melakukan tugas, Bridget pun diolesi lilin panas yang membuat wajahnya hancur.
| Wajah Bridget akhrinya melepuh. |
Sementara Kurtis yang sudah kabur, meminta bantuan veteran bernama Parker. Namun Kurtis malah dianggap maling dan dibekap Parker. Sementara di sisi lain, Dane menusukkan tulang belakang Bradley sampai lumpuh.
| Dua misterius, Andy dan Emily. |
Kurtis akhirnya sampai di kabin dan menemukan Dane sedang siap menyuruh Emily dan Andy membunuh Riggs. Namun Dane menembak Kurtis meski tidak sampai tewas. Sesaat kemudian, Emily menembak Dane dari belakang. Lalu, Andy menembak kepala Emily atas permintaan Emily. Sementara Andi menembak kepalanya dengan pistol sesaat setelah polisi mengepung kabin.
Scene ending kembali hitam putih dan menceritakan Bridget yang masuk ke restoran untuk memesan makanan. Ini adalah kontinuitas dari opening scene sebelumnya.
The Final: Pembalasan Dendam Para Freakers
Sebenarnya ide cerita film ini cukup memancing perhatian,
lho. Meskipun, tema seperti ini sudah lumayan banyak dipakai di beberapa film
sejenis. Yaitu tentang pembalasan dendam orang-orang freak atau
ter/dipinggirkan di komunitasnya, terhadap orang-orang yang menindasnya. Yap,
ini adalah cerita tentang bullying. Dulu, saya pernah menonton drama remaja
untuk tontonan dewasa berjudul Bully. Film ini diperankan Brad Renfro, yang
merupakan salah satu aktor muda terkenal di tahun 90-an. Film itu mengisahkan
tentang seorang lelaki yang dominan dan pemaksa terhadap teman-temannya.
Teman-temannya pun merencanakan sebuah pembunuhan terhadap si pem-bully tersebut.
Lainnya, kita mengenal film Carrie, yang lebih bernuansa
horor. Tapi kisah orang-orang yang dicap aneh memang selalu menjadi cerita
menarik. Apalagi jika mereka diposisikan sebagai orang-orang yang ditindas
sekelompok orang yang lebih ekstrovert dan sosialita.
Dalam The Final, kita akan menemukan sekelompok murid SMA
yang selalu ditindas kelompok lainnya yang lebih urban. Kelompok freak itu
kemudian merencanakan pembalasan dendam dengan cara membikin pesta fiktif untuk
undangan terbatas. Akhirnya, kelompok urban pun mendatangi pesta lalu
kesemuanya tertidur setelah meminum minuman yang diam-diam telah dicampur obat
tidur.
Sementara keenam orang freak itu sudah memakai kostum dan
topeng dan mulai menyiksa musuh mereka.
Para korban dirantai dan beberapanya mulai disiksa dan sengaja diperlihatkan
kepada korban lain. Cara menyiksanya? Lumayan cupu. Penggambaran adegan
eksekusi tubuh pun tidak diperlihatkan jor-joran. Hanya musik scoring yang
lumayan membuat setiap scene-nya terasa tegang. Sampai kemudian saya
benar-benar berpikir kalau hal ini dilakukan sang kreator karena ketidakmampuan
membuat darah buatan, efek kepala yang tertembak, wajah yang hancur, tulang belakang yang hancur, atau penusukan
ke jantung.
Tapi menonton film ini memang tidak seeneg saat saya melihat
gaya Alan di tayangan klip youtube yang super annoying itu, kok. The Final
masih bisa dinikmati dan sangat saya sarankan untuk para penonton yang tidak
suka melihat scene ekstrim seperti Saw dan sejenisnya. The Final mungkin dibuat
‘aman’ untuk remaja (SMA). Lagipula film ini adalah film independen hasil dari After Dark Horrorfest pada 2010, yang meluncurkan 8 film horor indie, termasuk The Final.
Score: 7 dari 10
Credit:| Disutradarai oleh | Joey Stewart |
|---|---|
| Diproduksi oleh | Jason Kabolati |
| Ditulis oleh | Jason Kabolati |
| Dibintangi | Marc Donato Jascha Washington Travis Tedford |
| Musik oleh | Damon Criswell |
| Pembuatan film | Dave McFarland |
| Editing oleh | Bill Marcellus |
| Studio | Agora Hiburan |
| Didistribusikan oleh | After Dark Film Lions Gate Entertainment |
| Rilis tanggal (s) | 29 Januari 2010 |
| Negara | Amerika Serikat |
| Bahasa | Bahasa Inggris |
Bonus:
Berikut dua film yang pernah saya tonton dan saya rekomendasikan untuk kalian.
Shaun of The Dead
Film berbujet kecil lainnya adalah Shaun of The Dead (SOTD),
merupakan film komedi berdasar plesetan dari film zombie terkenal Dawn of The
Dead. SOTD ini punya rating yang bagus, lho, di IMDb. Maklum film ini punya unsur drama yang cukup
kental. Dari segi tata teknis, memang terlihat sangat FTV atau standar film
lepas untuk konsumsi pemirsa televisi. Soal sense of humor-nya, menurut saya
kurang menggigit. Unsur drama pun barangkali bisa bikin sebagian orang mewek,
tapi saya nggak. Sebab saya menonton film tersebut dengan ekspektasi Scary
Movie. Ternyata saya salah total. Film itu jauh lebih buruk. Meski tidak
seburuk tayangan The Hits yang durasinya melar dan diisi tayangan ulang sebagai
kebuntuan kreatifitas demi kepentingan bisnis.
SOTD bercerita tentang seorang lelaki berusia kepala tiga
yang sedang bermasalah dengan ibu dan kekasihnya. Dilema ini bertambah buruk
dengan seorang sahabatnya yang berpostur tubuh gemuk, yang hanya merepotkannya
saja. Lebih buruk lagi, ternyata dunia sedang diwabah virus zombie. Meski
demikian keadaan inilah yang membuatnya berkumpul dengan teman, ibu, dan
pacarnya. Mereka berjuang menghindari zombie dengan berlindung di sebuah
restoran tua. Sial, zombie masih mencium keberadaan mereka sampai ibu si lelaki
tergigit seorang zombie. Akhirnya sang ibu pun harus ditembak mati mau tidak mau.
Score: 6 dari 10
Kalau yang ini adalah salah satu horor kesukaan saya. Film
ini bisa bikin kamu ketawa sekaligus ngeri. Sebab bumbu humor di film ini pas,
begitpula dengan unsur mencekamnya. Film sekuel ini (yang kedua berjudul
Hatchet 2) bercerita tentang seorang monster yang tidak lain adalah seorang
anak yang cacat fisik Tubuhnya sekeras batu, bentuk mukanya pun mengerikan. Dia
adalah anak seorang lelaki penebang hutan. Kejahatan si monster terjadi saat
rumahnya terbakar karena anak-anak melempari rumahnya dengan kembang api. Saat
itu dia sendirian di rumah yang terkunci. Sementara sang ayah bekerja. Sang
ayah pun pulang dan mendapati anaknya terjebak dalam kebakaran besar. Sang ayah
pun memakai kapaknya untuk menghancurkan pintu. Namun sial, di saat yang tepat,
sang anak berada dibalik pintu. Otomatis kampak itu membelah kepala si anak.
Akhirnya sang ayah meninggal dan ternyata si anak monster
itu masih hidup. Hobby-nya membantai makhluk hidup termasuk manusia dengan cara
yang sangat sadis dan ekstrim. Lebih sial lagi, dia sangat sulit dimampuskan.
Meski dari studio kecil, namun film ini jelas menggambarkan
scene-scene yang diharapkan penyuka film gore kayak saya. Seperti kepala yang
dicopot dan diputar, wajah yang kena mesin pemotong, dan sebagainya. Meski
demikian, alur cerita dan konsep psikopatnya lumayan mirip film Cold Prey (wah,
apalagi, tuh?). Yah, kapan-kapan akan saya bahas.
Score: 8,5 dari 10
Itulah Kritik Film Mancanegara saya kali ini. Di antara
ketiga film itu, saya merekomendasikan film Hatchet, yang mungkin akan saya
bahas secara khusus dengan film lanjutannya Hatchet 2. Pokoknya pantengin aje
Samandayu yang akan berubah nama menjadi Camandayut ini (singkatan Caman
Ngaburayut). See yu .. ya yu =-=.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



4 Komentar
selalu seru dan mendetil...
tapi agak susah nyari film indie...
saya suka ga suka sie film slasher, cuman klo emnak punya plot menarik. tentu saya akan menontonnya....
thx rekomendasinya....
serius jadi caman ngaburayut??? wakakakkakaaka
kyaknya akan seseru pelm yang kmren gue tonton ya wan?
hehehehe
ditunggu kritik Hatchet itu... :fufu:
Meme, aku kok jadi takut gini ya....
Gimana ya.... tontonan kamu selalu berbau sadis. Tontonan dgn banyak adegan kekerasan bisa berpengaruh ke psikis juga lho, me.
Tonton yang lain juga dong, me. Coba dikurangi tontonan serem-seremnya kayak gini.
Beneran takut aku ama kamu, me.
Rekues pilem horor thailand dong bangggg........... :3
Posting Komentar