• 1 Desember 2011

    FILM horor dibuat untuk menakut-nakuti sebagaimana film komedi agar orang-orang tertawa dan drama agar orang-orang menangis. Jadi salah kalau horor ditujukan khusus untuk penonton yang punya bakat psikopat kemudian merealisasikan bakat cintanya itu ke kehidupan nyata. Semua hanya terjadi dalam film, seperti film yang akan review kali ini: The Human Centipede 2: Last Sequense.


    Kalau ada yang bertanya, kenapa review-nya melulu film horor, itu karena saya hanya salah satu penonton yang demen nonton film dari genre horor yang termasuk di dalamnya adalah slasher (pembunuhan), crime (kriminal), atau thriller (ketegangan). Sebenarnya lumayan banyak film dari berbagai genre yang pernah saya tonton -dan film animasi adalah genre favorit saya yang kedua setelah genre horor (kontras ye?). Namun entah kenapa, saya lebih bergairah nulis kilas review film yang serem-serem.

    Sick.
    Dan perlu diketahui bahwa barangkali apa yang saya tulis berbeda dengan blogger penyuka film pada umumnya. Ini karena saya menulis film atau apapun tanpa pernah mengikuti 'perkembangan zaman' di dunia blog. Alias, nulis sakadaek kuring (nulis semau gue). Jadi, saya malah kurang ngerti arti dari twist, spoiler, premis dan semacamnya yang sering ditulis blogger genre film. Saya pun sempat mengubek-ngubek blog mereka yang notabene punya pengetahuan yang bagus tentang film. Dan lebih banyak, mereka mengupas habis film yang sudah ditonton tanpa spoiler. 

    Apa itu? Itu adalah sebutan untuk 'pembocoran ending'. Dan kebanyakan review yang saya tulis adalah: membocorkan ending. Karena memang saya menuliskan kembali apa yang saya lihat. Dan karena menulis seperti ngomong bagi saya, nggak heran tulisan-tulisan saya beberapanya panjang, sampe-sampe ada pembaca yang loncat-loncat bacanya. Jadi, boleh dibilang apa yang saya tulis terutama di rubrik perfilman, lebih condong muncul dari pandangan seorang awam, yang memiliki ketertarikan terhadap tontonan film. 

    Sepertinya curhat saya terlalu panjang lebar. Baiklah, kita langsung masuki saja topik kita kali ini. Disarankan untuk menikmati bacaan ini dengan secangkir darah, euh maksud saya secangkir teh manis, atau keripik kepala orang, euh maksudnya keripik pisang.  Heu. 

    The Human Centipede 2: Last Sequence (Manusia Lipan 2: Urutan Terakhir)

    100 % Medically Inaccurate.
    Suatu hari saya jalan-jalan ke Kota Kembang pada 2010, dan saya nemu DVD film The Human Centipede. Ini cover gaje amat, kata saya. Padahal  si amangnya bilang kalau film ini ngeri.Saya sama sekali nggak niat beli (soalnya udah ngeborong banyak). Tahu-tahu, beberapa minggu terakhir saat saya ubek-ubek blog review dari blogger Indonesia, sebagian besar me-review film yang sama. Saya pun tertarik untuk menontonnya dan akhirnya dapat.

    Saya beruntung nggak nonton film yang pertama karena film pertama yang disutradarai Tom Six ini dinilai jelek. IMdb saja memberikan skor 4 dari sepuluh untuk dua film tersebut. Ah, barangkali banyak perating yang datang dari kalangan pecinta drama yang coba-coba ngasih rate. Padahal, film ini hanya salah satu film horor dari sekian banyak konsep horor yang ada.

    Bagusnya sekuel ini masih bisa dinikmati meski kita tidak menonton film pertamanya. Dan tebak, film ini menawarkan scene-scene sadis super ekstrim dan bahkan jorok. Jadi jangan pernah ngemil saat nonton film ini, kecuali kalau kamu kepengen makanan yang sudah ada di perut keluar lagi.

    Dan memang benar, kritik bagi seorang seniman bukanlah sebuah sayuran pahit sejenis paria, melainkan sebuah permen. Tom Six pun membuat sekuel yang benar-benar sinting, yang barangkali akan membuat pecinta film horor memberi tepuk tangan. Dan sayalah yang sudah memberi tepuk tangan berdiri untuknya. Sebab saya melihat dari kacamata seni. Bukan kebrutalan. Oke, mungkin kedengarannya sangat sok dan gaya, tapi itulah yang selintas dapat saya katakan.

    Plot

    Adalah Martin, salah satu penduduk London yang hidup di apartemen murah bersama ibunya. Dia bekerja sebagai penjaga parkir di sebuah area parkir mobil.Tubuh Martin gemuk sekali dan dia punya penyakit asma. Usianya sekira 35 tahun dan hidup ibunya yang sudah tua. 

    Martin sangat tertarik dengan lipan, dia bahkan memelihara seekor lipan dalam akuarium. 

    Saking fanatiknya, dia menyukai film The Human Centipede yang selalu ditontonnya selama bertugas. 

    Film itu bercerita tentang seorang dokter yang membuat projek ilegal, yakni membuat kelabang dari tiga tubuh manusia. Caranya nggak tanggung-tanggung, cara merekatkan manusia-manusia itu dengan cara menjahit mulut seseorang untuk kemudian dijahitkan di anus seseorang. Kemudian, sang dokter pun melatih mereka layaknya melatih hewan peliharaan.


     Dan yang paling menjijikkan, orang yang mulutnya dijahit itu harus hidup dengan memakan kotoran manusia yang berada di depannya.


    Saking terinspirasinya, Martin pun kepingin bikin hal yang sama. Bukan tiga manusia, melainkan 12! Dan dia mulai menjaring korban-korbannya yang merupakan pengunjung parkir tersebut. Ada sepasang kekasih, seorang ibu hamil dan suaminya, dua orang sahabat yang berkulit hitam dan berkulit putih, dua orang lelaki, tiga korban yang salah satunya PSK, dan terakhir aktris yang berhasil diperdayai Martin. Aktris itu bernama Ashlynn Yennie dan menganggap kalau Martin adalah salah satu kru film. Ternyata, Ashlyn harus benar-benar mengalami hal yang sama dalam film yang pernah dibintanginya.


    Sebelum korban terkumpul, Martin harus menghabisi ibunya terlebih dulu. Itu terjadi karena sang ibu yang depresif itu merobek kliping kepunyaan Martin. Martin pun marah hingga memberikan lipan untuk ibunya. Lipan pun masuk ke dalam mulut sang ibu. Tidak hanya itu, Martin juga menghantamkan linggis beberapa kali sampai kepala sang ibu berlubang.


    Meski demikian, dia masih menyantap makan malam dengan sang ibu yang diposisikan berada di hadapannya di sebuah meja makan. Tak lama, musik dari kamar atas pun terdengar. Biasanya, sang ibu semasa hidup memukul atap dengan ujung sapu agar tetangga berhenti memasang musik. 

    Tetangga yang ternyata preman berkepala plontos itu pun turun dan sempat menghajar Martin. Namun, saat si plontos datang, Martin memukulnya dengan linggis.

    Marin membawa si plontos ke dalam mobil dan bersiap melakukan rencananya. Ia pun sudah memasukkan banyak perkakas yang akan ia gunakan untuk 'membuat' lipan manusia. Sesampainya di tempat parkir, dia malah menemukan 'mobil goyang'. Apakah itu? Yah, mobil tipe begini sering ditemui di areal parkir yang sepi pada malam hari, yaitu sebutan untuk orang-orang yang berhubungan seks dalam mobil. 

    Ternyata, di dalam mobil itu ada dua orang lelaki dan seorang PSK. Yang supir bertubuh gemuk, dan yang satu lagi adalah seorang kakek yang juga psikiater Martin.  Martin pun  memukul sang sopir dengan linggis, menembak psikater di kepala setelah menembak selangkangan, dan meringkus PSK yang sempat menyemprotnya dengan gas air mata.

    Di saat yang sama, aktris Ashlyn pun datang dan sudah satu truk. Dia berpikir akan ke tempat syuting,, tapi di situlah mimpi buruk sebenarnya dimulai.

    Dan dalam sebuah ruangan, Martin pun mulai meniru apa yang dilakukan Dr. Heiter dalam film. Silakan skip bagian ini bagi yang ga ga ga kuat!


    Setelah menelanjangi dan mengikat para korbannya dengan lapban dalam keadaan pingsan, mereka diatur sedemikian dalam posisi tengkurap dan berduyun.  Martin pun memosisikan korbannya seusai 'nomor urut' badan lipan. Dan yang menjadi 'kepala' lipan adalah seorang ibu yang hamil besar.

    Martin pun membuka tas yang berisi perkakas dan kliping tata cara membuat manusia lipan. Dan untuk membuat pingsan para korbannya, dia kembali memukul kepala para korban.


    Setelah itu dia membuka lapban yang selama ini menutup mulut para korban. Sayang, karena pukulannya terlalu keras, seorang ibu hamil meninggal. Martin menangis karena itu artinya projeknya tidak akan berjalan sempurna. Dia pun menyeret perempuan hamil itu ke sudut ruangan. Sudut ketika ada mayat temannya yang juga tewas akibat serangannya.

    Setelah itu, tinggal 11 korban yang tersisa. Martin pun mulai merontokkan gigi para korban. Ini agar mulut mereka bisa dijahit ke anus dengan mudah.


    Langkah ketiga, dia membedah dengkul  memotong otot dengkul para korban agar lumpuh.


    Selanjutnya, dia membedah dua belah pantat yang pertama ia lakukan pada seorang korban lelaki. Sayang, karena banyak darah yang keluar, lelaki itu tewas. Martin menangis. Karena stress dan marah, dia pun akhirnya menyambung mulut korban ke anus dengan menggunakan steples.


    Akhirnya, manusia lipan pun jadi. Ashlyn yang menjadi kepala lipan disuruh makan. Karena enggan, Martin merojok selang sampai ke perut Ashlyn lewat mulut. Martin pun mengucurkan makanan ke selang sehingga Ashlyn 'bisa makan'. 



    Karena kesakita, Ashlyn berteriak. Martin pun kesal lalu memotong lidah Ashlyn dengan tang. Siksaan masih terus berlanjut. Martin mengurut-ngurut perut para korban agar berak. Dan fesespun otomatis masuk ke dalam  mulut korban.

    Martin kemudian menyuntikkan cairan laxative ke pantat korban. Atau cairan yang menstimulasi seseorang agar mudah mengeluarka  feses. Ini membuat perut kesemua korban bereaksi dan artinya mereka pun memakan feses korban lain. Kecuali tentu saja, Ashlyn.

    Martin tertawa kesenangan. Dia pun menirukan suara seseorang yang kepecirit. Meski dia kebauan sendiri dan muntah. Tak cukup sampai di situ, dia memperkosa korban paling belakang. Dapat dibayangkan dia memperkosa seorang perempuan yang habis berak.


    Dan ternyata, perempuan yang hamil besar masih hidup. Dia bangun karena kontraksi rahimnya. Dia pun kabur dan menuju mobil. Martin yang habis memperkosa kemudian mengikuti. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Si perempuan pun mengeluarkan bayinya di dalam mobil. Setelah itu dia kabur dengan membawa mobil.


    Sementara itu, manusia kelabang berhasil membagi dirinya menjadi dua. Masing-masing terdiri dari lima korban yang masih terperangkap dalam steplesan maut.



    Karena murka, Martin menembaki satu persatu kepala korban dengan pistol.

    Sementara Ashlyn berusaha mematikan lampu. Lampu ruangan berhasil dimatikan. Martin kembali menyalakan namun dia terkejut karena Ashlyn melemparinya akuarium yang berisi lipan. Lipan pun bebas berkeliaran.

    Martin tambah murka. Namun peluru habis. Dia pun memakai pisau untuk menggorok sisa korban. Semuanya tewas, kecuali Ashlyn.


    Asylyn dan Martin pun berhadapan. Namun tak diguga, Martin dilumpuhkan setelah tangan Ashlyn menyerang selankangan lawan. Martin mengaduh. Sementara dengan sigap, Ashlyn mengambil selang dan memasukannya ke dubur Martin. Kemudian diambilnya lipan. Dan masuklah lipan ke dalam perut Martin.


    Martin meronta, dia pun  menusuk leher Ashlyn sampai tewas kehabisan darah.

    Kemudian yang kita dengar adalah deru kendaraan. Martin tampaknya pergi. Namun scene yang muncul di ending adalah scene saat Martin menyaksikan film kesayangannya.


    Kritik

    Karena sebuah trilogi, film ini berhasil membuat ending yang membuat kita bertanya-tanya dan memberikan banyak gambaran. Apakah Martin hanya berhalusinasi? Saat-saat dia berhalusinasi pun menjadi tanda tanya besar. Apakah ia berhalusinasi sejak scene pertama kita saksikan? Yaitu ketika dia menonton film itu sampai habis (dilihat dari ending tittle). Atau saat dia sudah menjalankan aksinya, karena ada suara anak kecil (anak dari ibu hamil dan suaminya yang ditinggalkan di dalam mobil) dan teriakan kesakitan korban. Atau scene ini sengaja ditempel kembali oleh kreator untuk membingungkan penonton. Yang pasti rasa penasaran ini membuat saya kepengen nonton yang ketiganya.

    Lalu, banyak yang bertanya kenapa film ini dibuat hitam putih. Banyak yang beranggapan kalau ini adalah upaya agar efek yang dibuat selama syuting jadi terlihat nyata ketika scene menjadi putih hitam. Namun sang sutradara mengatakan hal itu ia sengaja agar menampilkan kesan horor yang pekat. Saya setuju, sih. Soalnya konsep ini malah bikin film ini jadi sangat artistik. Kreatornya jadi terlihat memosisikan film ini sebagai film psikopatik dalam balutan seni, bukan film yang mengeksplorasi kebrutalan alias darah, darah, dan kecrotan feses dimana-mana tanpa 'makna'. 

    Artinya selain berhasil menakut-nakuti penonton, film ini berhasil menggambarkan sosok psikopat yang lain. Mereka boleh punya Jigsaw, atau psikopat dalam Scream yang serba tipikal dan hobby bikin teka-teki. Tapi tidak banyak psikopat dengan tampang lucu dan seimut Martin, yang ternyata sakit jiwa. Meski dia tidak pernah berbicara di sepanjang scene, ekspresinya benar-benar bikin kita bergidik. Kalau selama ini psikopat kesukaan saya Esther dalam Orphan. Maka tampaknya saya kemudian memilih tokoh ini sebagai tokoh psikopat terwaw. Meski tentu saja nggak akan pernah berharap ada orang seperti ini di dunia nyata.

    Yang patut diberi pujian adalah pemilihan karakter. Melihat film ini sebenarnya mirip ketika ketika nonton kartun dengan wajah-wajah manusia yang dibuat komikal. Mirip dengan karakter dalam kartun Coraline. Begitulah halnya dengan tokoh Martin yang gendut, berkacamata dan pendek dengan mata seperti mau keluar. Selain itu ada ibu Martin yang punya karakter wajah yang kuat, depresif, dan berkeriput. Belum lagi tokoh psikiater yang punya janggut panjang dan kepala plontos. 


    Soal para korban? Itu beragam dan datang dari ras kulit putih dan kulit hitam. Latar belakang mereka pun bermacam-macam, yang biasanya dibuat antagonis di dalam scene, seperti orang-orang sarkastik, atau pelacur. Meski tentu saja dalam setiap film, harus ada tokoh antagonis yang selamat, yaitu ibu yang hamil tua, dan tokoh protagonis yang harus cantik dan harus berakhir nahas: Ashlyn. 

    Konsep hitam putih membuat tayangan ini berkelas, sederhana, klasik, dan bercitarasa seni yang tinggi. Meskipun unsur psikis dari tokoh ini tidak dijelaskan secara rinci karena kita terlalu disediakan banyak adegan keji. Akhirnya tidak ada simpati sedikit pun pada tokoh Martin. Tak ubahnya seperti menganggap dia sebagai monster yang menjadi kejam begitu saja tanpa penjelasan. Kita hanya diberikan penjelasan dari psikiater yang sempat bertandang ke plat Martin. Martin terobsesi dengan lipan karena hewan itu begitu agresif dengan gigitan yang sangat menyakitkan. Lipan juga disimbolkan sebagai sengatan kepahitan dari masa lalu Martin yang pernah mengalami sex abuse dari ayahnya sendiri yang telah dipenjara.

    The Human Centipede 1: The Last Sequence mungkin sebuah film bodoh untuk kacamata penikmat film genre lain. Tapi tidak untuk pecinta film genre slasher sejati. Sensasi ketakutan, itulah yang ditawarkan film-film jenis ini. Dan ini berhasil.


    Bonus


    Ashlyn said: Aku tidak percaya akan bekerjasama dalam sebuah film garapan Quentin Tarantino.  Agensi saya seperti berada di langit ketujuh. Pernahkah kau menonton The Human Centipede? Dari sudut pandang kedokteran, itu sangat menarik. Jika saya seorang dokter bedah, saya pun akan melakukan hal serupa. Haha. Benar-benar menakutkan.


    Credit



    Directed byTom Six
    Produced byTom Six
    Ilona Six
    Written byTom Six
    StarringLaurence R. Harvey
    Ashlynn Yennie
    Music byJames Edward Barker[
    CinematographyDavid Meadows
    StudioSix Entertainment Company
    Distributed byBounty Films(United Kingdom)
    IFC Midnight(United States)
    Release date(s)22 September 2011(Fantastic Fest)
    7 October 2011(United States)
    Running time87 minutes(International cut)
    84 minutes(United Kingdom cut)
    CountryUnited Kingdom
    Netherlands
    LanguageEnglish
    Box office$108,498












    9 Komentar

    dellosaurus mengatakan...

    enek..........

    RIRIZ mengatakan...

    Astagfirullah... baca aja udah pengen muntah. gimana kalo nonton :-0

    Riu is me mengatakan...

    :-3
    loading distop, biar gambar gak muncul. Setelah itu baru baca tulisannya.
    setelah baca, baru direfress lagi, baru komentar.

    btw, gara-gara nonton Orphan sampe beberapa minggu aku gak pengen nonton film lagi. Masih ngeri.

    *asli komentar gak nyambung*

    Muhammad Firmansyah mengatakan...

    Pertama, mengenai kebiasaan Saman yang menulis review film dan selanjutnya menyertakan spoilernya. Kalau menurut saya hal itu berguna bagi orang seperti saya yang sebetulnya malas nonton film, jadi, sekalian baca sekalian tahu keseluruhan isi film (kali aja tertarik trus nonton film bersangkutan).. 8-)
    Kedua, mengenai filmnya sendiri. Saya setuju dengan konsep hitam putihnya, mungkin Six agak sedikit mengurangi efek sadisnya dgn cara ini, bayangkan kalau filmnya berwarna, keseramannya pasti berlipat bila dipadukan dgn jeritan korban & efek suara peralatan yg dipakai "mengeksekusi" korbannya..
    Dari semua review film horor Saman, ini yang paling horor menurut saya, membayangkan anus disambung sama mulut aja sudah ngeri setengah mati..

    Xinnosuke mengatakan...

    menjijikkan ya om,
    sepertinya saya enggak jadi nonton ini film karena lihat muntahan saja udah mau ikut muntah
    apalagi liat tai :-w

    minnaty s mengatakan...

    ngakak baca komen nasihin hihi :kikik:

    dian andriyana lutter mengatakan...

    sungguh mengerikan. saya ga jadi makan karena bacanya. soal spoiler memangkadang ga seru klo udah tau endingnya,tpi kadang penasaran juga gmn endingnya. tergantung penulis ajah. saya baca,klo menarik,tau ga tau endingnya pasti saya tonton. dan untuk film ini, saya ga berani nonton. bsa ga makan 7 hari 7 malem...hiiiii.....

    anak wayang mengatakan...

    wow,,, say langsung dongdoat tuh film,,, hahaha

    Unknown mengatakan...

    semalam baru nonton, mual gue belom ilang wan....

    yang bikin ngeri malah si ibu hamil yang melahirkan di jok mobil plus bayinya keluar...
    huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ane ampe merinding

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan