- Home>
- Film Horor >
- Hostel Part 3: Horor Apa-Apaan
16 Desember 2011
IDE cerita trilogi Hostel ini memang cukup menarik. Menceritakan tentang sekelompok kaya raya yang tergabung dalam klub psikopat seluruh dunia. Klub ini rahasia dan hanya orang-orang yang memiliki bakat psikopat dan juga berduit yang bisa masuk ke dalamnya. Grup bawah tanah ini bergerilya di media internet. Cara transaksi antara klien dengan calon korban pun dilakukan di internet dan beberapa media elektronik lain.
Para klien atau member harus bersedia dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Yaitu dengan membayar dana yang jumlahnya sangat mahal, harus membunuh korban sampai mati, merahasiakan, dan harus rela ditato di bagian manapun yang mereka inginkan. Tato itu bergambar kepala anjing sebagai tanda keanggotaan.
Para klien atau member harus bersedia dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Yaitu dengan membayar dana yang jumlahnya sangat mahal, harus membunuh korban sampai mati, merahasiakan, dan harus rela ditato di bagian manapun yang mereka inginkan. Tato itu bergambar kepala anjing sebagai tanda keanggotaan.
Film ini berlatar di Republik Slowakia, sebuah negara sempalan Cekoslowakia di Eropa Tengah. Tempat ini menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi turis asing seperti yang datangnya dari Amerika. Di tempat tersebut ada sebuah tempat penginapan atau hostel yang sebenarnya sebuah jebakan. Para turis akan diculik untuk dijadikan korban aksi sadis para psikopat.
Para korban ini ditempatkan dalam ruangan khusus dengan alat-alat penyiksaan yang kejam. Tidak lama, seorang klien datang untuk menyiksa korban sampai korban tersebut tewas.Di sinilah calon korban itu harus berjuang keras menyelamatkan diri dari gedung dengan penjagaan yang superketat itu.
Pada review kali ini, saya akan membahas trilogi film Hostel. Tapi entah kenapa saya malah lebih senang menyebut film ini film dwilogi. Sebab Hostel Part 3 sangat mengecewakan. Mirip ketika saya menonton The Grudge 3. Faktor perbedaan produser atau sutradaralah yang menyebabkan hal ini terjadi.
Secara singkat, akan saya jabarkan sinopsis mengenao film Hostel kesatu dan kedua.
Hostel(Rilis Januari 2006)
Sutradara: Eli Roth
Dua mahasiswa dari Amrik, Paxton dan Josh berlibur di Eropa. Mereka mengunjungi diskotik di Amsterdam sampai ke rumah bordil yang ada di sana. Kemudian mereka bertemu Alexei yang merekomendasikan hostel menarik di Slowakia. Di hostel itulah kejadian mengerikan dialami keduanya. Endingnya, Paxton selamat dari maut dan sempat membunuh pria yang mengejarnya di toilet.
Karena ditonton beberapa tahun lalu, saya kurang ingat latarnya secara rinci. Namun scene paling impresif adalah ketika perempuan yang ditolong Paxton bunuh diri dengan menabrakkan diri di kereta api yang tengah melaju. Ini terjadi karena perempuan itu menyadari wajahnya hancur setelah mengalami penyiksaan.
Hostel Part 2 (Rilis Juni 2007)
Sutradara: Eli Roth
Paxton dinyatakan selamat, namun setibanya di rumah, kepalanya dipenggal suruhan dari klub psikopat.
Sementara itu di Italia tiga mahasiswa sedang berlibur. Mereka adalah Beth yang kaya raya, Whitney yang nakal dan Lorna yang freak. Ketiganya berlibur dan sempat menghadiri kelas melukis model perempuan telanjang bernama Axelle.
Beth pun berkenalan dengan Axelle dan tanpa diduga bertemu kembali di kereta api. Axelle pun merekomendasikan Desa Slowakia dan tempat spa yang sangat menarik. Beth dan kedua temannya pun menuruti. Sayang, di situlah hidup mereka terancam.
Lorna tewas di tangan seorang perempuan yang mandi darahnya. Lorna tergantung dalam keadaan terbalik, sementara klien yang seorang wanita dan bertelanjang itu melukai Lorna hingga darah mengucur. Klien pun bermandi darah Lorna.
Sementara Whithey harus sekarat setelah klien yang bernama Todd tidak bisa melakukan pembunuhan. Todd pun dibunuh lantaran tidak mengusaikan aksinya. Dan Whitney yang sekarat dilelang kepada sahabat Todd yang bernama Stuart.
Sementara Stuart memiliki korban yang bernama Beth. Keduanya memang sempat saling mengenal saat pesta. Ternyata para klien memang 'diperkenalkan' dengan calon korbannya dengan interaksi di lapangan.
Singkatnya, Beth selamat dari maut dan memegang kendali. Beth memutuskan masuk klub dan dengan begitu dia berhak membunuh Stuart.
Scene yang paling mengganggu adalah saat Beth memotong penis Stuart dan penis itu dilemparkan ke anjing. Anjing pun memakan potongan daging itu. Stuart pun ditinggalkan di ruangan dan tewas karena kekurangan darah.
Hostel Part 3 (Rilis Desember 2011)
Sutradara: Scott Spiegel
Dibuka dengan cowok freak yang masuk ke kamar hostel yang dihuni sepasang muda-mudi dari Ukraina. Ternyata, cowok itu adalah salah satu pemimpin dari kelompok psikopat yang kemudian menculik pasangan itu.
Kemudian, cerita utama dimulai pada persahabatan ketiga orang lelaki. Yaitu Carter, Justin, Mike dan Scott. Scott akan melangsungkan pernikahan dan dia akan mengadakan pesta bujang.
Akhirnya, dalam sebuah ruangan yang dapat disaksikan anggota klub lain, Carter dan Scott berperang. Carter pun dapat dilumpuhkan, namun dia masih hidup. Sementara pemimpin klub mencoba kabur dan menghilangkan barang bukti dengan meledakkan gedung itu. Dia khawatir praktik ilegal itu dicium rombongan polisi yang akan datang. Namun Carter membunuh pemimpin itu. Carter juga mengunci Scott agar tidak bisa keluar dari halaman gedung.
Gedung pun hancur. Hanya Carter yang selamat. Cuma sial, ternyata Scott masih hidup. Pasca musnahnya gedung, Carter mengira dia bisa berbahagia dengan Amy. Namun Amy menjebak Carter dan melakukan penyiksaan bersama Scott.
Hostel Part 3: Horor Apa-Apaan
Antusiasme adalah wujud dari spekulasi tinggi terhadap film yang akan ditonton. Sialnya, kekecewaan akan kita dapat kalau film tidak berjalan sekehendak kita. Apa yang kita harapkan tidak kita temukan dalam film, apalagi jika itu trilogi. Sudah barang pasti akan dikaitkan dengan seri sebelumnya. Seharusnya saya ngecek dulu daftar kru. Eli Roth memang menjadi salah satu penulis film ketiga ini. Namun dia tidak mengambil bagian penyutradaraan. Dan yang perlu diperhatikan adalah Quentin Tarantino yang tidak memproduseri film ini. Alhasil, efek Hostel 3 pun tidak spektakuler. Adegan penyiksaannya sangat minim dan kemudian lebih mirip drama lepas yang cocok disaksikan di TV-TV.
Separah itukah? Ya, begitulah. Perbedaan tampak mencolok sejak opening scene mengemuka. Dalam Hostel 1 dan 2, opening scene begitu menegangkan bin mengerakan. Namun yang ketiga, sangat hambar. Sialnya saya menyadarinya belakangan.
Adegan ekstrim pun dibuat sekenanya alias berdurasi pendek karena keterbatasan teknis. Hanya adegan wajah lelaki yang dikuliti yag lumayan bikin merinding. Sisanya, sampah. Benar-benar film yang buruk. Inilah daftar scene pembunuhan yang dikemas buruk, yang saya maksudkan.
Seorang korban perempuan dipakaikan pakaian cheerrleader dalam sebuah ruangan yang dapat disaksikan para tamu klub. Klien pun datang untuk menyiksa. Siksaannya cukup cupu, yaitu memberikan serangga ke tubuh korban. Adegan ini tidak menggigit dan tidak memberikan kesan ngeri yang pekat lantaran kekurangan tata efek.
Seorang lelaki yang sebelah kakinya tidak berfungsi dengan baik, menjadi korban. Dry ice pun dinyalakan dan membuat ruangan berkabut. Seorang perempuan bertopeng pun datang dan memanah. Satu persatu panah bersarang di tubuh korban. Sialnya, kita nggak akan bisa lihat cara nanclebnya itu panah. Tahu-tahu udah banyak panah yang nusuk termasuk ke selangkangan korban. Ah, kena penis lagi! =-=
Pertarungan Scott versus Carter di ruangan lumayan bikin mata ngantuk.
Adegan lari-larian di dalam gedung sama sekali nggak keren. Latar pun tampak terlihat ala kadarnya.
Adegan penusukan si pemimpin yang dilakukan Scott nggak memberi kesan dramatis apa-apa. Masak cuma ditusuk-tusuk gitu pake piso itu perut? Tahu-tahu si pemimpin keluar dari mobil dalam keadaan terluka parah. Kemudian Scott memosisikan si pemimpin agar bisa ditabrak dengan mobil. Namun adegan tergilaspun terbilang cupu. Hoahhmm ...
Mengenai ending. Tidak mengejutkan memang. Sudah bisa ketebak. Kirain bakal kayak apa. Eh tetep ya, adegan berdarah-darahnya cukup diwakili dengan bunyi teriakan dan musik serem.
Alhasil saya nggak dapat apa-apa dari pelem ini. Yah, biasanya saya akan menonton ulang sebuah film yang saya pikir bagus. Tapi Hostel 3 adalah pengecualian. Apalagi dengan tidak ada kelanjutan nasib Beth yang muncul dalam Hostel Part Two.
Separah itukah? Ya, begitulah. Perbedaan tampak mencolok sejak opening scene mengemuka. Dalam Hostel 1 dan 2, opening scene begitu menegangkan bin mengerakan. Namun yang ketiga, sangat hambar. Sialnya saya menyadarinya belakangan.
Pertarungan Scott versus Carter di ruangan lumayan bikin mata ngantuk.
Adegan lari-larian di dalam gedung sama sekali nggak keren. Latar pun tampak terlihat ala kadarnya.
Adegan penusukan si pemimpin yang dilakukan Scott nggak memberi kesan dramatis apa-apa. Masak cuma ditusuk-tusuk gitu pake piso itu perut? Tahu-tahu si pemimpin keluar dari mobil dalam keadaan terluka parah. Kemudian Scott memosisikan si pemimpin agar bisa ditabrak dengan mobil. Namun adegan tergilaspun terbilang cupu. Hoahhmm ...
Alhasil saya nggak dapat apa-apa dari pelem ini. Yah, biasanya saya akan menonton ulang sebuah film yang saya pikir bagus. Tapi Hostel 3 adalah pengecualian. Apalagi dengan tidak ada kelanjutan nasib Beth yang muncul dalam Hostel Part Two.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
9 Komentar
hiii...ternyata emank harus liat daftar pemain atao krunya dulu. mulai dari produser,sutradara en penulis skenario. klo ga, bisa kecewa berat. saya hanya nonton hostel pertama, yg kedua ga kuat nontonnya,lagian ga ada tmn buat diajak nonton en kaya'nya ga bakaln nonton yg ketiga.
nice post
Sekali lagi, salut karena berkali-kali mereview film2 jenis penyiksaaan seperti ini. Meski aku gak bakal berani utk menonton atau nengok sedikitpun film jenis ginia, tapi paling tidak aku jd tahulah!
Kenapa aku gak berani nonton film ginian ya.... padahal kayaknya menarik banget buat ditonton. :)
Oh ya? Hostel III mengecewakan ya... Baguslah, saya dan adik saya jadi gak perlu repot2 membuang uang untuk beli DVD-nya (bajakan). 8-|
Ternyata benar dugaan saya, pas Sedayu bilang di awal bahwa perbedaan produser dan sutradara. Mau jadi apa pilem ini kalo tanpa Eli Roth dan Tarantino? *ketawa* :D
Oke, saya akui saya bukan penggemar genre pilem macam gini. Saya gak suka banget sebenernya, film yang berdarah-darah. Pilem "Hostel" menurut saya gak ada esensinya, cuma pamer darah. Kasarannya, pilem orang gila, fanatik, dan stres. :D Adik saya yang penggemar horor pun mual dan gak menyukai "Hostel". Tapi, saya wajib akui bahwa Tarantino dan Roth sungguh luar biasa dan amat serius dalam pengerjaan film.
Coba kita lihat sepak terjang dua orang tadu. Eli Roth itu 'kan yang berkontribusi sebagai sutradara di film "Grindhouse" dan "Cabin Fever". Film yang diproduserinya juga banyak, semua horor. Salah satunya adalah "The Last Exorcism". Sebagai aktor, dia main di "Inglorious Basterds" sebagai Donowitz. Semuanya film yang memamerkan darah.
Lalu Quentin Tarantino, saya akui saya hanya pernah menonton dua film "Kill Bill" dan "Inglorious Basterds" dari semua film yang disutradarinya. Saya belum nonton "Pulp Fiction". Tapi dari ketiga film tadi dan dari "Hostel", bisa saya katakan bahwa Tarantino itu "gila". Bukan dalam arti sebenarnya. "Gila" dalam arti suka membuat penonton mual dengan begitu banyaknya darah yang muncul di layar. :D
Nah, tanpa kontribusi dua orang itu, saya pikir benar jadinya bahwa "Hostel III" akan terasa hambar. ^^
wah kecewa saya... yg pertama keren krn ada pemerannya yg bagus bgt meraninnya... bener2 psikopat, manusia seperti babi yg dijadiin buruan dan korban. bisa di apain aja sesuka hati, asalkan membayar sejumlah uang. efek yg Hoster pertama pun begitu sadis dan mendebarkan...
yg menjadi hot dari film ini karena menurut kabar memang ada suatu daerah di Eropa sana yg selalu menculik turis2 asing untuk diambil daging dan organ dalamnya. atau bahkan untuk kepuasan semata. tapi entah klo sekarang, karena sekitar 5 tahunan lalu berita ini cukup gencar dimana2...
anjrit !! benar benar spoiler abis abisan ni review....
jadi pengen nonton 8-)
yah baru mau nonton... gak seru ya :-0
ahh kurang sadis -,-
Niy di tv kabel lg di puter.... thx info y... gak greget.... biasa bgt......
Posting Komentar