- Home>
- Review Film >
- Tenggelamnya Kapan Van der Wijck: Titanic-nya Indonesia?
20 Desember 2013
SASTRAWAN Indonesia, Hamka, bisa jadi satu-satunya novelis Indonesia yang novelnya paling sering diadaptasi ke dalam sebuah film. Sebelumnya pada 2011, muncul film Di Bawah Lindungan Kakbah karya Hanny R Saputra yang diangkat dari novel berjudul sama karya Hamka. Versi pertama film itu sendiri sudah pernah dibuat pada 1981.
Meski dibuat EPIC dengan budget yang fantastis, tapi film tersebut tidak terlalu booming malah sepi apresiasi di penghargaan perfilman. Adanya produk placement (iklan dalam film) mengurangi nilai artistik film ini.
Di penghujung 2013, sebuah film yang proyek pembuatannya sudah berembus sekira dua tahun lalu, baru saja dirilis. Adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang diadaptasi dari novel berjudul sama yang dibuat pada 1939. Sama seperi Di Bawah Lindungan Kak'bah, Herjunot Ali dipilih sebagai aktor pemeran utama. Aktor yang pertama kali muncul lewat Lovely Luna tersebut disandingkan dengan aktris cantik Pevita Pearce. Bagaimana film ini menjadi begitu menarik?
Plot
Zainuddin adalah anak yatim piatu dengan latar belakang keluarga yang kurang baik. Ayahnya adalah mantan narapidana. Zainuddin kemudian izin pergi ke Minangkabau pada pengasuhnya, Mak Base.

Kedatangan Zainuddin tidak mendapat sambutan baik karena ia dianggap tak punya darah Minang sebab almarhumah ibunya berasal dari Bugis. Hal ini membuat dirinya terasing dan mencurahkan isi hatinya pada Hayati, gadis bangsawan yang berempati kepadanya.
Interaksi yang diawali dari pertemanan beda kasta itu membuat keduanya jatuh cinta. Namun sayang tidak disetujui oleh keluarga Hayati. Zainuddin pun pindah ke Padang Panjang sementara Hayati dijodohkan dengan lelaki bangsawan bernama Azis.
Hayati akhirnya menikah dengan yang sesama Minang dengannya sementara Zainuddin putus asa dan tinggal di Jawa bersama temannya, Muluk. Zainuddin yang suka menulis akhirnya menjadi penulis/penyair terkenal. Suatu saat di Surabaya, ia dipertemukan dengan Hayati yang telah menikah. Sayang keluarga Hayati berantakan setelah Azis ternyata mengalami kebangkrutan karena judi.

Kemudian sebuah tragedi membuat Hayati harus kembali ke kampung halamannya dengan menggunakan Kapal Van den Wijck. Akan tetapi sesuatu yang nahas terjadi dan membuat kedua orang yang saling mencintai itu mengalami hal yang sama sekali tak diinginkan.
Bukan Titanic-nya Indonesia
TKVDW merupakan salah satu film terbaik yang dimiliki Indonesia. Sinematografi yang indah dipadupadankan dengan tata artistik yang mumpuni. Kita benar-benar merasa hidup di era 30-an dengan nuansa lokal, adat istiadat, hierarki kedudukan yang tercermin lewat departemen set decoration yang matang. Tata busana dan tata rias pun membuat film ini semakin terlihat berkelas. Dalam beberapa scene, mengingatkan saya pada epic-nya hairstyle dan kostum dalam The Great Gatsby.
Di bagian akting, Herjunot Ali tampil baik meski perannya mengingatkan saya pada perannya di film terdahulu (Di Bawah Lindungan Kakbah). Sementara Pevita Pearce berhasil menanggalkan citra gadis era 2000-an. Pevita yang selalu tampil maksimal seperti dalam filmnya Dilema dan 5cm, kembali membuat saya jatuh cinta. Kemampuan aktingnya natural sekali. Keduanya tampil saling melengkapi sebagai sepasang kekasih yang tak bisa bersatu.

Keberadaan Reza Rahadian pun semakin memperkelas film ini. Reza pernah tampil memukau sebagai antagonis dalam Perempuan Berkalung Sorban. Kali ini ia tampil sebagai bangsawan penjudi yang keras, intimidatif, namun ternyata rapuh.
Tata musik/scorng etnik Minang yang melatari scene montage film ini juga lumayan menyeret-nyeret emosi penonton. Sayang seribu sayang dan tentulah ini hanya selera pribadi. Adanya latar lagu Nidji benar-benar bikin kening berkerut. Sebagus dan sedalam apapun kata orang, ditempelkannya lagu ini sebagai latar membuat film ini teraroma pop urban.
Sementara karena film ini ber-setting tempo dulu terlebih diangkat dari sebuah novel, pemakaian kata baku mendominasi setiap dialog. Syair-syair puitis pun kerap kali terdengar dan barangkali membuat penonton kurang menyerap keindahannya. Teman saya yang ikut menonton berkata kalau film ini teatrikal sekali. Bahkan lebih jauh ia menerka kalau film ini akan jadi sejenis film Titanic.

Nyatanya, meski judulnya sangat menggoda iman dengan kata-kata kapal, namun adegan tenggelamnya kapal sangat sebentar. Beruntung tata musik dan proses editing bisa mengakali keterbatasan itu. Dan jangan lupakan juga, visual effect kapal,lautan, atau setting pelabuhan.Meski tak semulus CGI Hollywood, tapi bagaimanapun inilah hal terbaik yang bisa dilakukan Indonesia.
Tak Ada Jilid Dua
TKVDW adalah film utuh yang tak perlu pakai acara sambung-sambungan segala. Memangnya sinetron apa? Satu film yang dipecah menjadi dua part memang dilakukan oleh novel tebal sebutlah film Harry Potter seri terakhir, namun jika satu novel bisa diadaptasi menjadi film yang padat dan utuh,mengapa perlu dipecah menjadi dua film.
Masih ingat dengan Ketika Cinta Bertasbih? Atau yang baru-baru tayang, 99 Cahaya di Langit Eropa. Dan konon Laskar Pelangi2: Edensor yang akan tayang minggu depan itu akan dijadikan dua bagian. Novel fiksi populer tersebut bisa sangat mungkin dibuat padat menjadi satu film yang utuh, tapi 'kepentingan' berkata lain. Konon kepentingan bisnis lebih mengaroma.
Akhirnya Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah film Indonesia layak tonton di penghujung tahun ini. Seseorang tidak akan rugi mengeluarkan koceknya untuk menonton film ini di bioskop. Tapi bagi yang barangkali saja awam, jangan pasang ekspektasi lebih karena film ini hanyalah kisah roman cinta segitiga. Tak akan ada adegan kapal karam yang dramatis seperti halnya Titanic. Tapi pastinya, siapkan saja tisu. Karena film ini membuat saya menangis. Jujur saja. :'(
Score:
9/10
*
foto: https://www.facebook.com/pages/Tenggelamnya-Kapal-Van-Der-Wijck-The-Movie/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

5 Komentar
Bro. Apakah Film ini layak mendapatkan CITRA untuk Film Terbaik?
"Meski tak semulus CGI Hollywood, tapi bagaimanapun inilah hal terbaik yang bisa dilakukan Indonesia."
kok yang terbaik, bro...... udah mentok kesannya. X-D
tp btw, sy kurang suka sama castingmya. rasanya kurang Minang. jd kurang nyatu. apalagi film Indonesia cenderung teatrikal dialognya. ditambah adegan kapal-kapalannya yg kurang intens, sy rasa nilai yg Anda berikan terlalu subyektif..... tp ya gmn, ini blog Anda. X-D
ya ealah.. yg namanya opini mah SUBJEKTIF. kalo imdb pasang 8/10 nah ente baru bisa protes bro. maksud ane 'meskit tak semulus bla bla bla .. ' tapi hargailah karena senggaknya itulah yg bisa dilakukan perfilman kita. kalo dibanding bandingin sama hollywood mah jauh ateuuh.. wkwkwkwk..
saya ndak suka FFI hehe ... jadi ndak tau :)
aku gak nangis waktu nonton malah tidur, bosenin
Posting Komentar