TERNYATA ada korban lain dalam kasus tuduhan pelecehan seksual yang dialamatkan RW pada penyair "seksis" Sitok Srengenge. Dilansir dari merdeka.com, dosen Fakultas Ilmu Budaya, Sarasdewi, mendampingi korban pada Kamis kemarin (5/12).
Mahasiswi dari Bandung tersebut pernah menghadiri launching buku Sitok di Jakarta setahun lalu. Sebagai fans, korban kemudian bercakap-cakap hingga akhirnya ia diajak Sitok untuk ke kosan Sitok dalam membicarakan proyek sastra. Di kosan tersebut Sitok melakukan pelecehan seksual dengan memberi korban minuman keras. Beruntung, mahasiswi tersebut berhasil melarikan diri. Saraswati berkata bahwa ada pelecehan seksual namun tidak ada hubungan koitus/hubungan seksual.
Korban kedua itu muncul ke permukaan setelah RW melaporkan SS ke polisi. Saras Dewi yang merupakan feminis itu berkata kalau laporan korban kedua ini didorong setelah melihat media yang membahas SS dan RW (mungkin salah satu media yang dimaksud adalah Kompasiana). Korban mendatangi Saras dua hari yang lalu pada jam 7 malam hingga jam 10 malam. Sampai kini Saras mengatakan bahwa korban yang sudah lulus kuliah itu masih trauma.
sumber: www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/mahasiswi-bandung-juga-ngaku-dicekoki-miras-sitok-srengenge-919fe4.html
Karya Seksis Sitok Strengenge
SS adalah salah satu kurator seni Komunitas Salihara, komunitas sastra terkenal di Jakarta. Di komunitas itu SS berperan sebagai kurator teater sejak 2008. Salah satu kuratornya adalah novelis ternama Indonesia Ayu Utami (tergabung dalam Teater Utan Kayu sejak lama). SS sudah mengundurkan diri demi mengurus proses hukum. Demikian yang disampaikan Ayu Utami pada 3 Desember.
Ayu Utami sendiri tercitrakan sebagai penulis feminis. Meskipun hingga sekarang namanya diidentikkan dengan penulis seksual. Dalam novelnya Saman, sesungguhnya dia berbicara mengenai politik. Baik menyindir orba, maupun politik perempuan/diri perempuan. Jika pun ada yang mengatai karyanya porno, semata karena ia jujur menarasikan seperti apa sesungguhnya sosok/tokoh perempuan. Bagaimana seksualitas perempuan harus diceritakan. kemudian Ayu menelurkan banyak novel humanis sekaligus lebih ngepop, yang tentunya tidak sarat bumbu seksual.
Apa hubungannya dengan ini? Ya jelas ada. Komunitas Salihara juga dikenal mengusung tema feminis. Ini sangat bertentangan dengan apa yang sudah dilakukan SS. Dan menurut kabar, komunitas yang juga 'anak kandung' dari media Tempo ini memberikan kabar yang dinilai timpang. Banyak pihak yang merasa heran dengan cara Tempo memberitakan kasus yang melibatkan SS. Ahli Komunikasi lulusan UGM dalam situsnya http://wisnuprasetya.wordpress.com/ berkata bahwa dari empat media besar yakni Kompas, Republika, dan Jawa Pos, hanya Tempo yang tidak menyebutkan bahwa SS menghamili mahasiswi. Bahkan tak ada kata "menghamili" pada setiap artikel Tempo. Sekalipun memberitakan dengan gaya obyektif, bagi saya setiap artikelnya diakhiri dengan kalimat kutipan yang berusaha mengarahkan opini publik.
lihat contoh screenshoot berikut:
Link: http://www.tempo.co/read/news/2013/12/03/064534295/RW-Korban-Sitok-Depresi-Lima-Bulan
Sindiran untuk Komunitas Salihara Lewat Karya Fiksi
Bisik-bisik 'arogansi' Komunitas Salihara (KS) (termasuk Teater Utan Kayu atau TUK) memang sudah terjadi sejak dulu. Seorang mantan member Komunitas Salihara, Viddy AD Daery, akhirnya protes lewat sebuah cerita pendek yang dimuat di dua media besar sekaligus sebagai cerpen koran. Yang pertama dimuat di harian Jawa Pos dan Majalah Boemiputra.
Viddy sendiri dikeluarkan gara-gara novel Viddy “Pendekar Sendang Drajat” `diterbitkan oleh Pustaka Alvabet yang rupanya sahamnya adalah milik anggota TUK. Intinya dia dianggap menyalahi aturan sehingga harus dikeluarkan.
Sebagai tanda protes, dia membuat cerpen dengan gaya super metafora yang kurang dipahami pembaca awam. Tapi kalangan satrawan tahu siapa yang disindir dalam cerpen berjudul di Antara Mayat dan Senandung yang dimuat pada 24 September 2003 ini.
Cerpen itu mengisahkan tentang para sastrawan yang keluar dari Gedung Tokay. Mereka melintas di tengah pengemis dan salah satunya menemukan gadis pengemis yang diibaratkan pelacur. Salah seorang sastrawan itu mengaku pernah menyetubuhi si gelandangan dengan 25 ribu saja setahun lalu. Dan sosok yang menyetubuhi ini bernama Wong Nge Tok.
Perkataan puisitis Wong Nge Tok dihentikan Ayu Jaremu. Dan tak lama "peperangan"/kekacauan/chaos terjadi di sekitar mereka. Ini membuat mereka bersembunyi. Sang Wanto berkata dengan gemetar bahwa ia dan keempat temannya adalah saksi mata.
Nah dari penamaan saja sudah tertebak Wong Nge Thok menyamai nama Sitok sementara Ayu Jaremu familiar dengan Ayu Utami. Baca kutipan cerpennya berikut yang seakan menyindir Ayu Utami:
"Stop, stop, kenapa engkau kuda yang menikam jantungmu dengan lagu melankoli, Wong Nge Tok? Semestinya kuda adalah meringkik, mengangkat kaki dan memukuli tanah berdebu dan lari tak kenal waktu…ahh, masih mendingan aku, karena aku wanita tetapi membuka baju dan mengejanya di setiap naskah-naskahku…aku wanita yang membaca tubuhku sendiri….aku wanita yang membuka kamar rahasiaku, tempat aku bercinta dengan laki-laki dan referensi….,"
lihat cerpen utuhnya di sini: http://www.mataharinews.com/entertainment/tv/3320-cerpen-tentang-kelakuan-sitok-serengenge-dan-kawan-kawan-.html
Konklusi
Semua pemaparan yang barangkali cukup panjang itu membuat mata kita lebih terbuka kalau ada "apa-apa" di balik komunitas sastra tersebut. Apalagi dalam tubuh Sitok. Tentu wajah Komunitas Salihara tidak tercitra dari wajah Sitok. Komunitas tersebut sudah berkontribusi banyak pada dunia kesusastraan Indonesia. Jikapun ada masalah pribadi, tentunya hal itu konflik personal. Sebagai pengamat, kita pasti selalu rentan memihak salah satu dengan amat mudah, sesuai dengan apa yang kita serap.
Seperti kasus SS yang dikira beberapa kompasianer sebagai kegiatan seksual suka sama suka. Padahal amat dini sekali untuk menyimpulkan hal itu. Meskipun kita semua di sini lebih banyak penulis nonprofesional alias nulis bukan buat konsumsi media cetak, tapi setidaknya kita pasti punya kemampuan mengarahkan opini publik. Dan bukannya mengulurkan maaf, si you know who ini malah pakai media fiksiana.
Sekarang sudah jelas ada korban kedua yang melapor, apakah si anu, si anu, atau anu-anu lain di Kompasiana yang namanya tak boleh disebut, masih berpikir kalau korban ini mahasiswi "nakal"? Jangan-jangan ada argumen begini: "mahasiswi baik mah gak akan begitu mudah terbujuk rayu omongan sang sastrawan". :v #ngakak
*
foto: merdeka.com
Arsip Blog
-
▼
2013
(40)
-
▼
Desember
(9)
- Perempuan Sadis Penyiksa Kucing
- Tenggelamnya Kapan Van der Wijck: Titanic-nya In...
- Jargon Aneh "Damn! I Love Indonesia!"
- Frozen: Animasi Feminin yang Memukau
- Apakah Samandayu Punya Kucing?
- Korban Kedua Sitok dan Wajah Kelompoknya
- Sindrom Jumawa Catlover Tipe Pengebiri Kucing
- Alasan Konyol Para Pengebiri Kucing
- Dikatain Goblok Sama Si Pengebiri Kucing
-
▼
Desember
(9)
Samandayu. Diberdayakan oleh Blogger.
0 Komentar
Posting Komentar