- Home>
- Review Film >
- Road to the Oscars 2012: The Help
28 Januari 2012
Plot:
Berlatar di Amerika Serikat khususnya di daerah Jackson, Mississippi pada tahun 60-an, opening scene dibuka saat Aibileen Clark (Viola Davis) menjawab pertanyaan dari seseorang pewawancara. Selanjutnya kita akan diajak menyaksikan aktivitas Clark sebagai pembantu rumah tangga berkulit hitam yang mengerjakan pekerjaannya di rumah Elizabeth. Selain memasak, bebersih dan job desc yang dilakukan seorang PRT, dia juga mengurus anak perempuan Elizabeth yang masih kecil.
Sementara Eugenia 'Skeeter' Phelan (Emma Stone)digambarkan sebagai 'satu-satunya' gadis yang belum menikah dan memiliki anak. Maklum, di kota itu para gadis kulit putihnya kebanyakan sudah berkeluarga. Skeeter yang baru lulus sarjana ini pun melamar pekerjaan di sebuah surat kabar sampai akhirnya diterima untuk mengisi kolom khusus mengenai aktivitas rumah tangga.
Skeeter punya tiga sahabat sejak SMA yang baik. Dua di antaranya adalah Elizabeth (Ahna O' Reilly) dan Hilly Holbrook (Bryce Dallas Horward). Jika Elizabeth adalah tipe pengekor yang gampang diperalat, maka Hilly adalah orang yang berpengaruh di kalangan ibu-ibu setempat. Hilly bahkan mencanangkan ide untuk membuat toilet khusus untuk pembantu kulit hitam. Dalam pandangannya, negro (sebutan kasar untuk orang berkulit hitam), membawa penyakit sehingga tidak boleh menggunakan kamar mandi yang sama dengan yang berkulit putih.
Suatu hari pembantu Hilly yang bernama Minny Jackson (Octavia Spencer) terpaksa menggunakan toilet majikannya. Tentu saja dia tidak bisa melewati badai saat itu untuk menuju toiletnya di luar rumah. Karena hal ini, Hilly murka dan memecatnya. Tidak hanya itu, Hilly juga menyebar gosip kalau Minny telah mencuri barang rumah tangga di rumah.
Minny yang merupakan sahabat Aibileen itu pun susah mendapat pekerjaan sampai akhirnya bekerja untuk seorang perempuan bernama Celia Foote (Jessica Chaistain). Celia adalah perempuan yang sudah bersuami dan memiliki rumah yang megah. Namun entah kenapa dia dijauhi oleh teman-teman se-kompleks (baca: Hilly dan teman-temannya). Meski awalnya Minny merasa aneh, namun dia kemudian cocok bekerja di rumah Celia. Celia ternyata memiliki masalah serius yaitu memiliki kandungan yang lemah sehingga rentan keguguran. Hal itu disembunyikan dari sang suami dan hanya kepada Minny-lah, Celia mengaku.
Sementara Skeeter mulai menulis naskah buku tentang pembantu rumah tangga berkulit hitamdi Mississippi. Selain dilatari tuntutan profesional, dia juga melakukannya berdasar pengalaman pribadi yang menyakitkan. Ketika pengurusnya, Constantine Bates, seorang pembantu rumah tangga berkulit hitam di rumahnya, mendadak pergi ketika dia SMA.
Akhirnya, Skeeter berhasil mewawancarai Aibeleen dan Minny. Keduanya tidak ragu menceritakan kisah hidup mereka tentu dengan nama anonim ketika diadaptasi menjadi naskah. Saat konflik rasis mengemuka,tidak hanya mereka yang bersedia diwawancara, namun pembantu rumah tangga lainnya berinisiatif sendiri untuk diwawancara.
Begitulah Skeeter meramu naskahnya sampai sesekali membalas kelakuan arogan dan rasis dari temannya, Hilly. Dan tentu saja 'scene' fenomenal dalam film ini, ketika Minny berhasil memberi pelajaran paling menjijikkan pada mantan majikannya, Hilly.
The Help: Film Manis tentang Rasisme
Tentu saja kita tahu, bahwa rasisme terjadi lebih banyak dan terlihat di masa lalu. Dan sebenarnya, masih terpelihara dalam keadaan yang samar di masa kini. Ketika perbedaan warna kulit menjadi hal yang dipermasalahkan dalam kehidupan sosial. Saya tentu sudah menonton film Saw terutama yang terakhir. Di sana ada sekelompok anak muda yang 'dihukum' karena bertingkah rasis. Dan Jigsaw bilang 'dibalik lapisan kulit, kita semuanya sama' yaitu bahwa tak peduli kau berkulit kuning, hitam atau putih, tapi kita semua punya darah yang berwarna sama: merah.
Dalam The Help, cuplikan dialog yang mengena itu terdapat dalam narasi yang diucapkan Aibileen. Yaitu ketika ia mendapati kabar bahwa tornado telah menyerang kota: '10 orang kulit putih dan 8 orang kulit hitam tewas. Tapi Tuhan tak peduli dengan warna kulit dengan tornadonya'.
Film ini juga tidak menggambarkan tokoh secara hitam dan putih. Kebencian warga kulit putih terhadap kulit hitam diwakili tokoh perempuan hedonisme bernama Hilly. Karakter jahatnya ini lebih bersifat gangguan psikologis sehingga tidak hanya berlaku rasis terhadap kulit hitam, namun synical terhadap yang sewarna kulit dengannya. Rasismenya muncul karena mengukuhkan 'tradisi' dan konstruksi sosial saat itu yang 'mengharuskan' kulit hitam berada di bawah titik marginal.
'Fakta' ini membuat The Help sebenarnya tidak berbicara mengenai rasisme, namun tentang humanisme. Bagaimana tokoh kulit putih lewat sosok Skeeter dan Celia, tidak membuat jurang pemisah pada warga berkulit hitam. Keduanya memosisikan yang berkulit hitam sebagai manusia, dan bukan sebagai budak.
Sementara, tokoh kulit hitam yang digambarkan tipikal sebagai 'budak' (tokoh Minny) oleh kulit putih yang diwakilkan tokoh Hilly, akhirnya melakukan aksi balas dendam secara 'budak' (baca: keras, tak pantas). Tentu penonton tidak akan lupa bagaimana saat Minny berpakaian rapi menuju rumah Hilly dengan membawa semangkuk besar pie cokelat buatannya. Maklum, Minny memang dikenal jago masak. Scene itu terpotong dan penonto mengira Minny melemparkan pie tersebut ke muka mantan majikannya.
Namun tidak, Minny melakukan acara balas dendam yang kemudian dilegalkan. Meskipun sangat mengejutkan juga hal itu dilakukannya. Ketika ternyata, Hilly menganggap kedatangan Minny ke rumahnya sebagai upaya permintaan maaf. Hilly pun memakan pie itu di meja makan dengan lahap. Namun dia sangat terkejut saat mendengar pengakuan Minny, kalah salah satu bahan dalam pie itu adalah feses. :D
Yeah, mari saya seret kalian semua di jajaran teknis. Satu hal yang menonjol dalam cerita ini selain naskah adaptasi yang gemilang, juga ensemble cast yang tampil luar biasa. Para aktor mengimbangi satu sama lain dan menjaga kekonsistenan karakter. Sementara teknis lain semisal art direction, editing, dan semacamnya, tidak ada yang istimewa.
Yang jelas The Help adalah drama terbaik tahun lalu dan saya rekomendasikan agar kalian menontonnya. Dengan durasi dua jam lebih itu, saya yakin kalian enggak akan pernah merasa bosan menyimak setiap scene demi scene yang berarti.
Kans di Academy Awards 2012
Film ini memperoleh empat nominasi yaitu Film Terbaik, dan sisanya kategori akting yaitu Aktris Terbaik untuk Viola Davis, dan Aktris Pendukung terbaik untuk Octavia Spencer dan Jessica Chaistain. Di penghargaan film lain, ketiga aktris itu masuk nominasi yang sama dan memenangkan penghargaan, yaitu:
Best Actrees: Viola Davis
- African American Film Critiscs Association
- Black Film Critics Circle
- Broadcast Film Critics Association
- Indiana Film Critics Association Awards
- Satellite Awards
- Women Film Critics Circle
- Palm Springs International Film Festival
Best Supporting Actrees: Olivia Spencer
- Golden Globe
- African American Film Critiscs Association
- Black Film Critics Circle -
- Broadcast Film Critics Association
-Washington D.C Area Film Critics Association
Penghargaan yang diterima Jessica Chaistain:
Best Breakthough Performance di Detroit Film Critics, Hollywood Film Festival, dan Los Angeles Film Critics Association
Best Supporting Actrees di New York Film Critics Circle
Yang lebih mungkin The Help akan memenangkan Best Supporting Actrees untuk Olivia Spencer. Sementara untuk meraih Best Actrees, Viola harus bersaing ketat dengan Meryl Streep dalam The Iron Lady. Sebab biasanya, pemenang Oscar akan multietnik atau 'sengaja' memasukkan pemenang kulit hitam agar tidak dianggap rasis. Meski penilaian memang sangat obyektif, tapi isu Oscar yang menghindari rasisme adalah selentingan yang kerap kali terjadi. Saya belum menonton The Iron Lady, jadi belum bisa membandingkan akting Streep dengan Davis. Tapi menurut prediksi standar Oscar, pemenang Best Actrees akan jatuh pada Streep, dan Supporting Actrees baru diraih Spencer.
*
The Help (Pembantu Rumah Tangga). Sutradara/penulis: Tate Taylor Produser: Chris Columbus, Michael Barnathan, Brunson Green Pemain: Emma Stone, Viola Davis, Bryce Dallas Howard, Jessica Chastain Musik: Thomas Newman Sinematografer: Stephen Goldblatt Editor: Hughes Winborn Studio: Dreamworks Pictures, Reliance Entertainment Rilis: 10 Agustus 2010 Negara:AS Bahasa: Inggris
Penyutradaraan: 8 Cerita: 9 Akting: 9,5 Tata Kamera: 8,5 Editing: 8 Musik: 7 Tata Suara: 7 Best Quote: Aibeleen said: 'Tak ada orang yang menanyakan bagaimana rasanya menjadi diriku. Saat kebenaran kuungkapkan, aku merasa bebas".
Best Impresive Scene: Saat Aibileen mendengarkan ide dari teman-teman majikannya kalau pembantu kulit hitam tidak diperbolehkan satu kamar mandi yang sama lantaran dianggap membawa penyakit' dan 'Saat Aibileen masuk ke gereja dan menyaksikan semua teman-temannya bertepuk tangan kepadanya. Aibileen pun bertepuk tangan juga dan bertanya pada Minny 'Kita bertepuk tangan untuk siapa?'
Score: 9/10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
5 Komentar
:) sampai sekarangpun, rasanya masih banyak rasisme dimana mana, enggak cuma di amrik aja, disini tak rasa ada juga orang manggil cinak!, itukan buat saya, bikin sakit hati yg denger.. :nyu: ntr coba donlot ahhh....
sebelum tidur.....
hmmm,,,setelah menariknya film CRASH...ini jadi wajib tonton...
dan untuk viola...bersaing denga aktris se kaliber meryl streep kaya'nya ga ada kesempatan,tpi liat aja nanti....
saya suka akting meryl streep yg sangan berkarakter....best actress ever....
met bobo
Wowwww....Akhirnya penasaranku terbayar sudah. Sudah tak sabar lihat ini film, barisan Cast-nya sangat menggoda sekali.
Setelah CRASH, mungkin inilah film dengan budget kecil namun sanggup mencuri perhatian publik.
awalnya saya nonton film ini karena saya suka sama emma stone.. filmnya bagus. :)
suka sama meryl streep :}
Posting Komentar