- Home>
- Review Film >
- Road to The Oscars 2012: The Artist
26 Januari 2012
ACADEMY Awards atau yang lebih dikenal dengan Oscar adalah penghargaan perfilman prestisius yang ditunggu-tunggu pelaku industri perfilman sekaligus pecinta film. Pengumuman nominasinya sendiri diberlangsungkan kemarin (25/1) dan akan diumumkan pada 26 Februari mendatang. Kali ini Samandayu akan memulai review khusus tanpa spoiler mengenai beberapa film yang masuk nominasi.
Kenapa beberapa? Karena tidak semua film masuk ke bioskop Tanah Air. Dan bukan rahasia umum kalau saya dan pecinta film lain lebih update dengan menemukan film yang dimau via internet. You know lah hay. Heu. Dan apa yang dimaksud spoiler adalah bocoran ending, sesuatu yang sering saya lakukan dalam me-review film-film lama atau film yang saya kaji dalam rubrik Kritik Film Mancanegara atau Kritik Film Lokal. Namun untuk memancing rasa keingintahuan penonton, kajian kritik film untuk "Road to Oscar 2012" tidak akan disertai itu.
Dan film pertama yang saya bahas adalah The Artist. Film ini menjadi salah satu film yang paling banyak mendapatkan nominasi Oscar selain Hugo. The Artist adalah satu-satunya film yang berbeda dari segi konsep di antara 9 nominasi Best Picture Oscar yang lain. Berikut pembahasan saya.
Plot
Film ini mengisahkan kehidupan seorang aktor/pemain film pada tahun 1927 di Hollywood. Adalah George Valentine (jean Dujardin) seorang aktor film bisu yang sangat populer di eranya. Saking populernya, jiwa narsisme-nya tertanam kuat dalam diri sehingga kurang memperhatikan etika menghargai lawan main saat premiere berlangsung. Dibalik kesuksesannya sebagai aktor, kehidupan rumah tangganya malah berjalan kaku. George lebih memperhatikan karir dan mencintai anjing peliharaannya.
Setelah premiere, dia keluar dan berada di karpet merah lengkap dengan juru foto yang mengabadikan gambarnya. Sementara, seorang fans bernama Peppy Miller, tak sengaja menjatuhkan catatan kecil yang dia akan dia gunakan untuk media tanda tangan George. Namun, secara tak sengaja aksi Peppy mengambil catatannya merusak gerak George. Awalnya Peppy dan yang lain tegang lantaran ekspresi George yang dingin. Namun semuanya berjalan normal dan malah, foto keduanya menjadi headlines di surat kabar dengan judul 'Who's That Girl'
Peppy pun mulai merambah karir keartisannya dengan mendatangi audisi. Dia pun diterima dan kemudian takdir mempertemukannya kembali dengan George. Rasa cinta pun tumbuh di antara keduanya meski George sangat tahu batasan. Dan perlahan tapi pasti, karir Peppy pun melesat.
Pada tahun 1929, industri perfilman di Hollywood mulai membuat film dengan suara. George yang memperhatikan proses dubbing seorang aktris malah tertawa terbahak-bahak. Baginya, membuat film non-bisu adalah lelucon besar. Dia pun keluar dari rumah produksi yang membesarkan namanya dan memilih membuat film bisu buatan sendiri. Sementara Peppy didapuk jadi pemeran utama dalam film bersuara. Sialnya, tanggal rilis dua film itu berada di hari yang sama. Mengenai siapa yang berhasil mencuri perhatian, tentulah kita tahu film apa itu.
Yeah, saya pikir sampai di situ saja jalan cerita yang bisa saya beberkan. Heu.
The Artist: Menyenangkan dan Brilian
Ketahuilah kalau The Artist adalah film bisu lengkap dengan screen hitam putih dan teks sebagai pengganti dialog. Hal yang lucu, ketika film ini diputar di Inggris, beberapa penonton yang tidak mengetahui kalau film yang mereka tonton adalah film bisu, malah menuntut bioskop untuk mengembalikan uang mereka kembali. Namun bukan berarti konsep ini membosankan. Kita malah akan tertawa juga bersedih di scene-scene tertentu dengan hanya menyaksikan permainan mimik wajah para aktor, teks sebagai pengganti dialog, dan tentu saja tata musik orkestra yang mumpuni.
Sensasi klasik ini memberikan pengalaman baru bagi penonton di era ini, terutama bagi saya yang memang belum pernah menyaksikan film bisu kecuali Charlie Chaplin yang sempat ditayangkan di TV pada era 90-an. Dan tentu saja karena dibuat di era ini, tata teknis pun dibuat secara epic. Tata artistik, sinematografi dan editing pun mendukung sehingga membuat film ini utuh secara kualitas. Enggak heran masuk banyak nominasi teknis di Oscar.
Pokoknya, tidak perlu mengerutkan kening saat menyaksikan film ini. Gestur dan mimik yang 'comical' yang manusiawi membuat para penonton tak terlalu rumit menikmati plot. Dan jangan khawatir, teks dalam screen pun dibuat seperlunya bahkan boleh dibilang minim. Dan menyoal cerita, tidaklah terlalu istimewa lantaran menceritakan hal yang sebenarnya klise. Namun siapa sangka ide cerita yang sederhana ini menjadi menarik sampai penonton dibuat rileks dan tak perlu menebak-nebak akhir cerita atau scene selanjutnya. Sebab penonton benar-benar bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
| Penyuntingan gambar dinamis dan sangat klasik. |
| Departemen artistik yang berhasil membawa atmosfer tahun 1920-an. |
| Sinematografi berkelas. |
Tapi bukan berarti ending film ini tidak memberikan kesan impresi. Penonton akan diberikan kejutan sebelum film ditutup. Apakah itu? Simak saja ketika The Artist tayang di Indonesia. Yang jelas seperti pengakuan sang sutradara, Michel Hazanavicius, "ini adalah film kecil yang sederhana. Tidak ada sinisme atau sarkasme. Ini semua tentang harapan dan bagaimana seseorang harus beradaptasi terhadap lingkungan yang sudah berubah."
Yeah, boleh dibilang film ini menjadi sindiran bagi film-film berdialog yang tendensif dan terlalu memaparkan keadaan realita secara gamblang dan pekat. The Artist tampil sederhana dengan konsep bisu, musikal, dan menghibur.
*
Film ini memenangkan Best Picture di ajang Golden Globe untuk kategori Musical/Comedy dan Aktor Terbaik kategori Musical/Comedy. Meraih Best Actor di Cannes Film Festival, meraih 12 nominasid i BAFTA Awards, Audience Awards di Chicago International Film Festival.
Sementara di Academy Awards, film ini memperoleh nominasi: Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik, Aktris Pendukung Terbaik, Tata Artistik Terbaik, Sinematografi Terbaik, Editing Terbaik, Kostum Terbaik, Tata Musik Terbaik, dan Cerita Asli Terbaik. Kalau mengingat tipikal pemenang Oscar yang kadang di luar dugaan, bisa jadi The Artist akan mendapat predikat film terbaik. Maklum, Oscar memang gemar memilih film yang berbeda, tidak tipikal atau inovatif selama setahun terakhir. Dan prediksi saya, The Artist menjadi nominator paling mungkin untuk mendapatkan Oscar di kategori Tata Musik Terbaik, Editing Terbaik, Kostum Terbaik. Sisanya harus bersaing ketat terutama untuk memenangkan Best Picture dan Best Actor. Kita tunggu saja. ^_^
*
The Artist (Seniman). Sutradara:Michel Hazanavicius Pemain: Jean Dujardin, Berenice Bejo Produksi: The Weinstein Company Durasi: 100 Menit Rilis: Januari 2012
Naskah: 8 Penyutradaraan: 9 Akting: 8 Artistik: 9 Tata Kamera: 8 Editing: 9 Musik: 9,5 Tata Suara: 7 Best Scene: Saat George Valentine bermimpi tidak bisa bersuara sementara bebunyian di sekitarnya terdengar pekat. Best Quote: Jika kau ingin menjadi seorang aktris, kau harus punya sesuatu yang tidak dipunyai orang lain.
Score: 9/10
Bloopers!
Iseng-iseng nonton film ini lagi. Ternyata ada yang missing di scene awal The Artist. Yaitu ketika Peppy menjatuhkan bukunya, kemudian menyenggol George. Dalam hitungan detik editing, Peppy mengambil bukunya, namun di scene selanjutnya, dia tidak memegang buku. Dalam hitungan detik di gambar selanjutnya, dia kembali memegang buku. Waw, enggak fatal, sih. Tapi, mengurangi ketelitian film. Hal ini ngaruh enggak, ya, ke penilaian Oscar? Heu.
Bloopers!
Iseng-iseng nonton film ini lagi. Ternyata ada yang missing di scene awal The Artist. Yaitu ketika Peppy menjatuhkan bukunya, kemudian menyenggol George. Dalam hitungan detik editing, Peppy mengambil bukunya, namun di scene selanjutnya, dia tidak memegang buku. Dalam hitungan detik di gambar selanjutnya, dia kembali memegang buku. Waw, enggak fatal, sih. Tapi, mengurangi ketelitian film. Hal ini ngaruh enggak, ya, ke penilaian Oscar? Heu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

8 Komentar
jadi list buat nonton dvd entar. semoga dipidi bajakannya udah ada di pasaran :D
nah,,klo oscar boleh dech di jajal filmnya....
emank kadang kurang menarik tpi dari segi seni....jangan di tanya lagi....
ditunggu nominasi berikutnya.....
Salah satu film yang jadi inceran buat saya tonton :)
Benar-benar penasaran nonton film bisu ditengah hingar-bingar film berteknologi CGI dan 3D
Dan harus dunlut nih....
Film-film kayak gini yang aku suka. jadi gapapa deh gak onlen fb seharian buat dunlutnya :D
pemainnya pasti hebat keren, lebih susah akting bisu tanpa bersuara ! kereeeeeeeeeeen acungi jempol buat mereka
belum pernah nonton film bisu, sama sekali :p
jadi penasaran :)
wauuu...artistik bgt ni film dong ya?
Tepok jidat,iyeee...saya ternyata pernah nonton film bisu,ya charlie chaplin gtu,trus sama film vampir super sereeeem walaupun ga ada suaranya.lupa judulnya...>,<
belum liat filmnyaa..... :nyu:
Posting Komentar