14 Oktober 2013
Kepraktisan
Biasanya mereka-mereka yang akan sedih jika kucing betinanya beranak pinak.Sebab ia merasa tak sanggup merawat bahkan dengan empati pribadi dan sisi magis emosionalnya, ia memilih untuk memberikan, atau jika si kucing sudah "kecelakaan" dihamili kucing lain, si anak kucing ini akan ditidurkan. Bahasa kerennya mah dimatikan dengan proses euthanasia. Pemilik kucing, biasanya memiliki hati sehalus pantat bayi kucing. Sensitif dan melankolis. Apakah saya demikian? Entah, mungkin hati saya selembut pantat bayi babi.
Apapun, ada banyak ketidaktegaan demi ketidaktegaan yang menjadi persoalan dilematis dan serba susah. Padahal bisa jadi itu hanya ketidaksiapan mereka memiliki seekor kucing. Kalau Anda memelihara binatang, otomatis Anda harus "menerima konsekuensi dan risikonya". Tapi dengan jalan mengebiri kucing, apakah itu tindakan yang selembut pantat bayi? Mungkin langkah itu relevan, realistis, demi menyingkirkan kekejaman lain. Tapi tentulah Anda tak pernah lupa, kucing diberi insting membertahankan diri di lingkungan luar. Mereka akan belajar menghadapi kerasnya kehidupan. Semoga ini tidak drama, anak kucing tak akan pernah jadi terlantar sampai sang ibu menyusui. Sampai sang ibu memandirikan anak-anak kucing itu sehingga siap menantang dunia. Halah ..
Plus Minus Sterilisasi Kucing
Setidaknya dari yang pro sterilisasi pahami, apa yang mereka bilang sebagai manfaat ini sebenarnya lebih tepat manfaat bagi mereka sendiri sebagai manusia.Sebagai kucing? Belum tentu.
1. Mencegah Kelahiran Anak Kucing yang Tidak Diinginkan - Tindakan ini juga memungkinkan pemilik kucing bisa
merawat kucing-kucingnya dengan maksimal. Maksimal tapi membuat si kucing meong menderita buat apa? Daripada Anda tahu dia menderita? Anda bayangkan saja sendiri kalau reproduksi Anda hilang.
2. Kurang Agresif Terhadap Kucing Lain. - Testosteron pada jantan memengaruhi
perilaku pada kucing jantan. Salah satu perilaku yang
banyak dipengaruhi hormon testosteron adalah perilaku agresif. Setelah
kebiri, perilaku ini cenderung berkurang banyak. Jadi selamat datang black death, eh selamat menyambut banyaknya populasi tikus. Jantan adalah predator paling wahid dan lebih agresif memangsa tikus-tikus. Bayangkan sendiri kalau tiba-tiba kucing ini jadi BANCI. :D
3. Spraying/Urine marking - Spraying/urine marking adalah salah satu perilaku alami kucing jantan
yang tidak dikebiri. Artinya Anda tidak akan lagi menemukan kucing jantan yang pipis sembarangan. Meski hal ini mengesalkan manusia, tapi pipis itu adalah tindakan membatasi wilayah. Coba kalau tidak pipis, mungkin akan lebih banyak kucing yang jalan-jalan di rumah Anda.Maka beruntunglah jika teras rumah Anda dikencingi seekor jantan, artinya Anda hanya akan melihat si jantan itu saja. Tidak si jantan-jantan lain yang mungkin akan lebih memuakkan Anda.
4. Tidak Suka Berkeliaran -
Kucing betina yang sedang birahi mengeluarkan feromon yang dapat
menyebar melalui udara. Feromon ini dapat mencapai daerah yang cukup
jauh. Kucing jantan dapat mengetahui dimana letak kucing betina yang
sedang birahi melalui feromon ini, lalu kemudian mencari dan mendatangi
sang betina meskipun jaraknya cukup jauh. Kucing jantan yang telah
dikebiri cenderung tidak bereaksi terhadap feromon ini dan lebih suka
diam di dalam rumah. Nah, kan. Bayangkan sendiri, AKAN BERAPA BANYAK BETINA YANG JOMBLO KARENA ISYARATNYA TAK PERNAH SAMPAI?! :D
5. Lebih Jarang Terluka 0 Keuntungan medis lain dari kebiri adalah jarangnya kucing terluka
akibat berkelahi dengan kucing lain. Ya iyalah, secara kucing jantan udah jadi "banci", tak bergerak, diem aja, mana bisa berkelahi. Bukankah perkelahian adalah sifat kucing? Besar kemungkinan jadi pasifnya kucing yang dikebiri karena mereka bersedih. Ya, BERSEDIH KARENA ZAKAR TITITNYA HILAAANG! :D
6, Peningkatan Genetik - Beberapa kucing dikebiri karena mempunyai/membawa cacat genetik.
Diharapkan kucing-kucing cacat tersebut tidak dapat lagi berkembang
biak, sehingga jumlah kucing-kucing cacat dapat dikurangi. Lah kalau kucingnya sehat walafiat dan enggak cacat, mau berkembang biak gimana wong tititnya udah direnggut?
7. Mengurangi Resiko Tumor & Gangguan Prostat - Gangguan pada prostat berhubungan dengan testoteron. Otomatis kalau dikebiri hormon testoteron ini hilang. Ya jelas aja enggak akan keserang tumor. Gangguan prostat juga sebenarnya lebih sering terjadi pada anjing.
Demi Kesejahteraan Kucing
Daripada melihat kucing ditelantarkan ke jalanan, lebih baik disterilkan. Kejam sih, tapi untuk menghindari kekejaman lain, wajar saja dong? Itulah hal yang sering saya dengar dari seorang catlover "tingkat alay". Lagi-lagi itu hak si pemoncong. Bisa jadi pemilik kucing jenis ini tipikal infantil bin penuh perasaan binti penuh perhitungan. Akhirnya jalan pemotongan kelamin pun dilakukan. Hak reproduksi hewan pun hilang. Kalau kita mengenal perikemanusiawian, maka kita mungkin akan mengenal periperkucingan. Santai, saya tidak menyindir kucing-kucing dua kaki di mal. Mahal, sih. (okey, lupakan).
![]() |
| Foto: http://www.kucingkita.com |
Alasan paling mumpuni dari pro steril ini adalah "alibi" kesejahteraan kucing. Definisinya tergambar begitu aduhai. Seperti yang disinggung tadi. Lebih baik mencegah sang kucing beranak pinak ketimbang membiarkan banyak anak kucing yang dibuang dan "terlantar" di jalanan. Mereka berpikir kalau kucing tidak bisa melangsungkan kehidupannya di jalan. Ketakutan akan sang kucing yang rentan disiksa manusia, rentan kecelakaan pun terpampang nyata merasuk sukma Mak Enty. Jadi tak ada pilihan, sterilisasi kucing harus dilakukan.
Bahkan yang menurut saya memprihatinkan, sejak tahun 2008, sterilisasi massal ini dilakukan di Jakarta. Populasi kucing dianggap terus meningkat. Setidaknya dari sampel kasus di Kota Jakarta. (sumber Perkembangan Kucing Liar Tak Terkendali, PDHI Sterilisasi,) populasi kucing liar dianggap meningkat sehingga upaya pensterilan dilakukan secara berkala. Seekor kucing betina bisa melahirkan dua sampai tiga kali dalam setahun, dengan jumlah anak sampai lima ekor.
Tingginya populasi kucing liar ini konon sangat mengganggu kesehatan lingkungan (meski saya belum menerima kabar berita kalau ada kasus manusia dalam kurun waktu dan di areal tersebut yang tewas karena rabies atau virus kucing), sehingga pensterilan adalah wajib. Kucing liar dianggap rentan menularkan penyakit kepada manusia seperti rabies dan toxoplasma. Saya sangat awam, tapi kucing-kucing gila itu jarang ditemui di jalanan. Setidaknya belum ada berita mengenai hal itu.
"Untungnya, aksi sosial" ini dilakukan rutin setiap tahun. Semoga tidak setiap bulan. Sebab apa jadinya kalau kucing tidak bisa beranak pinak. Mata rantai akan rusak. Sebagaimana anak SD tahun, kucing memakan tikus, tikus memakan segala yang ada di dapurmu. Tikus -seperti halnya para koruptor berpakaian biru-biru ala Angelina S - diam-diam menyusup, memberikan bau tak sedap, tak hanya itu, memberikan penyakit yang jauh lebih seram dari hanya bau pipis seekor kucing jantan. Apa jadinya kalau populasi kucing ini "dibatasi" tanpa pernah ada penelitian empirik mengenai jumlah populasi tikus.
Mungkin wabah pes yang dibawa tikus belum atau tidak terasa di detik ini. Tapi bisa sangat mungkin jika sterilisasi terus dilakukan, Tuhan akan membuat perhitungan. Tahu sendiri manusia secara sadar dan tidak sadar, sudah banyak merusak ekosistem.
Kita Adalah Pembunuh
![]() |
| Foto: http://www.wanasedaju.blogspot.com |
Ketika saya menyarankan saran yang lebih sehat (setidaknya menurut jiwa saya yang kucing), dengan memberikan kampanye anti kekerasan terhadap binatang di grup pecinta kucing, tentu saja saran naif tersebut dikeparati secara halus. Bahkan sang lawan diskusi tercinta membahas "kekerasan" yang dilakukan dalam pertunjukkan lumba-lumba.Kalau saya diseret-seret sampai kemana-mana, akan jadi bias dong ah. Kecuali kalau saya diseret ke dalam kamar.Kamar apa? Kamar cinta dong .. Oke, lupakan sejenak. Mari minum kopi kotoran luwak.
Perkara kucing yang dibunuh dan disiksa manusia, bukankah itu perkara nasib. Bahwa tidak setiap makhluk hidup bahagia sentosa. Dan jika kita menemukan kucing yang terluka dan meninggal, tentu perasaan sedih akan termurka di hati. Tak jauh berbeda saat kita menemukan banyak kekejaman lain yang dilakukan oleh manusia ke manusia lain. Dan sebagai manusia, juga punya keterbatasan, ia tak bisa menolong banyak kucing yang "terlantar", atau menolong banyak manusia yang kesusahan.
Tapi jika sterilisasi dilakukan secara massal kepada kucing-kucing liar, seolah ada epidemi yang menyerang kota, tidakkah tindakan itu gegabah. Mungkin itu tindakan pencegahan, tapi dengan mematikan hak reproduksi mereka? Tidakkah itu sangat ekstrim?
Merasakan Jadi Kucing
Kayaknya sebagian besar catlover memelihara kucing sama aja kayak memelihara boneka hidup.Mereka tak mau ada kucing lain sebagai hasil anak pinak, mereka hanya mau satu. Dan oleh karena kucing hanyalah binatang, tindakan sterilisasi dilakukan selayaknya memperlakukan robot. Padahal kucing bukan hewan ternak. Tuhan memberikan hewan seperti kambing, sapi, ayam untuk diternakkan. Hewan-hewan ini, seberapa tega kita, toh kita pernah makan juga.Perkara kekejaman kucing juga pernah ditemui, yakni dijadikannya kucing sebagai pangan. Kejadian itu hanyalah langka, namun jika sterilisasi terhadap kucing ini membudaya, hati manusialah yang sebenarnya harus dikebiri.
| Foto: http://www.kucingkita.com |
Cobalah rasakan menjadi kucing. Manusia mungkin menganggapnya biasa-biasa saja. Di tangan medis, semua serba aman dan tak menyakitkan. Namun siapa tahu, layaknya film Cats and Dogs dimana para kucing ini bisa ngomong, mereka akan sedih karena kelamin mereka direnggut. Begitu sedih tak bisa menguasai seksulitas mereka, tak bisa lagi menikmati harum birahi, tak bisa lagi kawin dengan senang hati, tak bisa lagi menikmati sakit sekaligus nikmatnya bersalin. Apakah catlover ini merasakan hal demikian? Mungkin dalam hati kecil, mereka mengakui. Tapi kepentingan nilai praktis membuat mereka tak ubahnya bagai pemerkosa. Pemerkosa hak binatang.
Hukum dalam Agama Islam
Sterilisasi terhadap kucing ini bisa menggunakan teknik ovariohisterektomi yakni tindakan operasi
pengangkatan ovariun dan uterus, sehingga kucing tidak menghasilkan keturunan,
tetapi tetap bisa melakukan aktivitas biologisnya. Untuk jantan dikenal dengan teknik orchidektomi yakni prosedur operasi/bedah dengan tujuan
membuang testis hewan. Untuk meniadakan rasa sakit, pengoperasian ini dilakukan dalam keadaan tak sadar/dibius.
Dalam Islam, pengebirian dapat memandulkan binatang karena tak bisa lagi berketurunan. Maka hukumnya adalah haram. Seperti hadis Nabi SAW yang diriwayatkan diriwayatkan dari Ibnu
Umar RA:
(نهى رسول الله صلى الله عليه و سلّم عن إخصاء
البهائم و الخيل. رواه أحمد )
”Rasulullah
SAW telah melarang mengebiri kuda dan binatang-binatang (HR Ahmad). (Lihat
Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 1660,
hadits no. 3581).
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas RA bahwa
dia berkata,
(إن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن صبر الروح وعن إخصاء البهائم
نهيا شديد. أخرجه البزار)
”Bahwasanya
Nabi SAW telah melarang mengurung/menahan [binatang] yang bernyawa [dan
membunuhnya sampai mati dengan panah atau yang semisalnya] dan melarang
mengebiri binatang dengan larangan yang keras". (HR al-Bazzar,
dengan sanad sahih) (Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1661)
Namun selalu ada pengecualian, pengebirian dibolehkan selama kucing terindikasi penyakit mematikan (toxoplasma) atau bahkan menidurkan selamanya kalau si kucing rabies. Sebab binatang tentu tidak lebih mulia dari manusia.
Kaidah fiqih menyebutkan :
إذا تعارضت مفسدتان، روعي
أعظمهما ضررا بارتكاب/ بأخذ أخفّهما
“Jika
bertentangan dua mafsadat (bahaya), maka dilihat mana bahaya yang lebih besar
dan diambil bahaya yang lebih ringan dari keduanya.” (Imam Suyuthi, al-Asybah
wa an-Nazha`ir fi al-Furu’, hal. 62).
Allah SWT berfirman [artinya] :
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan
anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka
rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS.
al-Israa: 70)
Tapi yang kita temui sekarang, sterilisasi dilakukan karena kepraktisan demi nilai ego, karena ketidakmauan majikannya mengurus para kucing. Dengan banyak dalih yang begitu drama bin melankolis. Belum lagi sterilisasi massal seakan-akan kota diserang epidemi yang mematikan.
Diskusi Mengharu Biru di Grup Kucing
Indonesia Cat Group adalah grup kucing dengan jumlah anggota sampai belasan ribu. Sudah setahunan saya tergabung di sana namun tidak aktif. Paling hanya sekali dua kali posting mengenai video saya bersama kucing meong. Tapi ketika saya memulai sindiran tentu dengan kata-kata saya yang nakal, dapatlah ditebak. Berikut ini mungkin sangat menunjukkan kenarsisasn. Tak dibaca juga tak mengapa, setidaknya ini jadi koleksi pribadi saya. Dan siapa tahu buat orang yang merasa perlu, akan ada gunanya membaca diskusi cinta ini.
FOTO: SCREENSHOOT PRIBADI
Tulisan ini dibuat berdasar kebiasaan seorang teman penyayang kucing yang memiliki tiga ekor kucing yang kesemuanya disterilisasi. Suatu hari dia membeli kucing baru dan berniat mensterilkan, saya hanya merespons, saya bilang saya tidak akan melakukan itu -pengebirian- karena selain dilarang agama, juga tak tega. Tapi tampaknya dia tersungging dengan opini saya. Entah bagaimana jadinya jika ia membaca tulisan ini. Mungkin dia menjadi orang kesekian yang berbalik antipati sama saya hanya karena kita berbeda paham. :)
Selesai ... Akhirnya kelar juga dah.. HAHAHA ...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






















2 Komentar
Whew, panjang jg ya... -_"
Btw saya kontra sama sterilisasi itu. Apa2an bgt, pengendalian jumlah populasi? Manusia udah berasa Tuhan aja... Apapun alasannya itu udah kyk menentang ketentuan Allah. Saya yakin dn percaya Allah udah punya jalan sendiri untuk kehidupan di bumi, gk cuma kucing tapi semua hewan dan makhluk hidup lain...
Gua dulu pernah melihara kucing dan gua bisa dengan bangga bilang bahwa kucing gua ga dikebiri, hehehe...
Posting Komentar