• 17 Oktober 2013


    TAK disangka, film yang tampaknya kurang meyakinkan karena saya pikir akan jadi sejenis Filnstones, ternyata punya daya pikat yang luar biasa. Begitu banyak bumbu lengkap yang ada dalam film ini. Komedi,aksi, drama, dan thriller. Semuanya mengalir begitu saja. Jangan lupakan view yang bahkan menyerupai avatar dan hewan-hewan jaman prasejarah fiktif yang fantastis. Sepertinya The Croods akan menjadi Best Animated Feature Oscar tahun depan. Tidak berlebihan karena film tentang keluarga ini memang benar-benar tentang keluarga. Tentang bagaimana seorang ayah melakukan fungsinya sebagai si pemimpin.

    Plot


    BERKISAH tentang keluarga primitif di zaman purba fiktif. Croods adalah nama keluarga dari Grug, seorang ayah yang kuat, protektif namun tak terbuka dalam hal baru. Ia menganggap bahwa tempat di luar sana, selain di gua, adalah tempat yang tak aman dan mematikan.

    Istrinya bernama Ugga. Ugga memiliki seorang ibu bernama Gran. Seorang wanita renta yang sama sekali tak disukai Grug. Bahkan Grug terlihat sangat ingin membuat mertuanya 'mati'. Grug memiliki tiga orang anak. Adalah Sandy yang bergaya seperti anjing, anak lelaki kedua yang bernama Thunk yang punya sikap bodoh. Dan puteri tertuanya yang selalu ingin tahu bernama Eep (dibaca Ip, bukan si E'ep ya. :D ).

    Meski ubungan romantis Eep dan Guy sayangnya kurang dominan,
    tapi The Croods berjalan lancar.

    Mereka selalu mengurung diri dalam gua karena seekor binatang liar siap menerjang mereka kalau berkeliaran di luar. Tapi Eep selalu penasaran dengan cahaya matahari. Ia ingin keluar dari gua dan berpetualang. Hingga suatu malam ia menemukan cahaya yang menyeretnya keluar gua. Dengan sembunyi-sembunyi saat keluarganya tidur, Eep akhirnya berkenalan dengan Guy, seorang pemuda yang bisa membuat api dengan menggunakan batu.

    Meski perkenalan itu pada awalnya tak berjalan mulus, Eep kemudian diberikan sebuah kerang yang bisa ditiup sebagai tanda. Sebab Guy berkata bahwa daerah itu akan diterjang gempa. Benar saja, gempa datang dan menghancurkan gua. Tapi setelah itu Croods menemukan hutan yang amat indah dengan segala hewan yang jauh lebih buas. Segalanya mampu diatasi saat mereka bertemu dengan Guy.

    Awalnya hubungan Guy dan  Grug tidak harmonis. Grug cemburu dan berpikir apa yang dilakukannya benar. Sementara Guy lebih pintar dan rasional. Pada akhirnya  Grug harus bisa memutuskan, mana jalan terbaik untuk keluarganya. Bersembunyi di gua, atau pergi ke tempat yang lebih tinggi di pegunungan.



    Animasi Mengharukan The Croods



    KAPAN terakhir kali kamu menangis saat menonton film? Lebih tepatnya menonton film animasi. Coba hitung mundur untuk beberapa tahun ke belakang. Apa aja sih film yang dapat membuat mata kita tak hanya berkaca-kaca, tapi juga menjatuhkan air mata?

    Kesedihan saat Croods mengira bahwa Grug tewas.

    Film Wall E benar-benar membuat saya tersentuh. Apalagi menuju ending. Jangan lupakan film Jepang 2D  tahun 80'an: Grave Butterfly yang mempunyai ending menyakitkan! Toy Story 3, yang masuk ke dalam jajaran nominasi film terbaik Oscar, begitu menyentuh saat mainan-mainan hidup ini mengira diri mereka akan tewas dalam mesin sampah penggilingan.

    Dan The Croods ternyata membuat hal yang sama saat saya menontonnya menuju ending. Meski merupakan campuran dari premis yang sudah pernah diangkat. Misalnya hubungan ayah dan anak yang renggang ala Finding Nemo, namun The Croods dibuat lebih manusiawi dan dalam.  Kita akan diajak bagaimana rapuhnya hati sang ayah yang telah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan keluarganya ke tempat yang ia pikir aman. Jangan lupakan penyesalan Eep karena tak pernah mengucapkan rasa cinta pada sang ayah hanya karena gengsi. Hal-hal yang sesungguhnya sempat kita alami di kehidupan nyata telah disinggung dalam film ini. Termasuk perkara suami yang membenci mertuanya sendiri.
    OMG! Naksir berat sama kucing meong ini! :D
    Sementara tema prasejarah memang sudah diangkat melalui film The Flinstones, sebuah animasi televisi pada tahun 60'an. Dimana terdapat makhluk-makhluk fiktif yang tak masuk akal namun cute. Saya suka sekali kucing besar berbulu warna-warni yang kemudian menjadi sahabat grug. Yeah, dan pada akhirnya, manusia dan hewan pun digambarkan bersahabat. Karena tak ada antagonis dalam film ini. Yang ada adalah kesalahpahaman dan proses belajar.

    Sebagian blogger yang me-review film ini berkata bahwa mereka tak menangis.Ini mungkin masalah selera. Tapi visual dan alur cerita The Croods memang fantastis menurut saya. Tapi memang perlu ditekankan bahwa sesunggungnya animasi ini terlalu keras untuk anak-anak. Di sini, para tokoh seperti tahan banting, dilempar begitu saja tanpa luka. Bahkan adegan Eep memanjat tebing sangat-sangat bikin deg-degan. Meski tak masuk akal tapi itulah sebuah kisah. Yang paling penting adalah pesan yang disampaikan dalam film ini, yaitu pentingnya sebuah keluarga.

    *
    Score: 9/10

    Foto: capture pribadi dan imdb.com

    1 Komentar:

    Ashbar mengatakan...

    Penasaran pengen Nonton filmnya.

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan