- Home>
- Review Film >
- Kekacauan Orientasi Seks dalam Arisan! 2
18 Juni 2012
Meski demikian, tidak banyak film Indonesia yang sukses pada 'film seri' keduanya. Beberapa film lokal yang bahkan menjadi trilogi pun hanya sampai meraup kesuksesan di film kedua. Taruhlah Get Married, Kuntilanak, atau Garuda di Dadaku. Bagaimana dengan Ketika Cinta Bertasbih. Oh, tidak dengan film mahabencana itu. Itu adalah sinetron kejar tayang yang ditayangkan di bioskop, khusus untuk penonton penggila shitnetron.
Plot
Meimei (Cut Mini) mengidap kanker dan tengah menjalani pengobatan alternatif dengan Tom (Edward Gunawan) di Pulau Lombok. Meimei membawa Talu, anak dari Lita (Rachael Maryam), seorang pengacara yang akan terjun ke politik.
Sakti (Tora Sudiro) sudah putus dengan Nino (Surya Saputra), Sakti sendiri menjalin hubungan asmara dengan sosok yang lebih tua, Om Gerry (Pong Hardjatmo). Sementara Nino berpacaran dengan brondong, Octa (Rio Dewanto).
Arisan! 2 sebenarnya memberi ruang lebih untuk tokoh Meime, di drama ensamble kedua ada hubungan gay Sakti, dan sisanya para tokoh metropolis ini berembuk dalam scene demi scene yang memang tidak fresh. Karena kita sendiri sudah mengetahui tipikal prekuelnya, Arisan! yang terlihat sangat segar dan jujur.
Plot tambahan ini bercerita tentang berbagai macam tipikal kalangan ibu-ibu jetset. Semua dipaparkan secara singkat baik sebagai sebuah ironi/sindiran, maupun bumbu komedis. Saya tidak bilang ini berhasil karena gelak tawa yang diperoleh terasa kurang menghentak ketimbang menonton prekuelnya.
Kekacauan Orientasi Seks dalam Arisan! 2
Arisan! 2 adalah sebuah drama dengan alur dan ending yang mudah ditebak (paling tidak menurut saya), sehingga tidak ada lagi sejenis 'shock culture' karena semua clue yang dipaparkan Nia dalam skenario dan scene-nya amat gamblang dan terendus. Belum lagi dengan ending yang hanya mengurai kehampaan, tidak ada tangis bahkan haru. Namun sebagai penonton yang sudah mencium bau-bau 'kurang sedap' di awal scene, ekspektasi pun berkurang seiring berjalannya waktu. Alhasil, sekuel ini tidak seimpresif yang pertama.
Nia juga menyindir kekacauan orientasi seks yang sebenarnya sudah 'biasa' dilakukan kalangan jetset. Ketika Gerry dan Joy adalah sepasang suami istri yang sama-sama biseksual. Gerry berpacaran dengan Sakti, dan Joy berpacaran dengan Ara (Atiqah Hasiholan). Seperti yang diperkirakan, jiwa skeptis Sakti menolah untuk bergabung dan memilih untuk konsentrasi pada sahabatnya yang penyakitan: Meimei. Klise.
Menonton Arisan! 2, jelas tidak sedang menonton drama religius. Meimei -entah apa agamanya-, memilih untuk mendalamai tingkat 'spiritualnya' setelah menjalani pengobatan/terapi alternatifnya bersama Tom, yang digambarkan beragama 'universal'. Dia bukan atheis, tapi meminta pertolongan atau berdoa sebagai rasa syukur di luar cara yang dilakukan agama-agama yang diakui di dunia. Artinya, Anda tidak boleh berharap Meimei salat tahajud atau sering-sering pergi ke gereja setelah tahu kanker menggerogoti tubuhnya. Yang akan Anda lihat adala Meimei yang terinspirasi perkataan pengidap kanker rahim, Moli (Ardina Wirasti) lalu sibuk berjoget reggae sampai pagi buta.
Arisan! 2 juga punya cara 'inovatif'' dalam memberi tahu penyakit yang diidap Meimei. Yakni dengan menyimak video editan Meimei di laptop. Ini mungkin mengharukan, tapi liat bagaimana aktor-aktor itu terlihat berusaha mengeluarkan air mata. Hanya Rachael Maryam yang bisa melakukannya. Cut Mini sendiri memang dikenal sebagai aktris yang kurang bisa mengeluarkan air mata dan hanya memasang ancang-ancang mewek. Seperti yang pernah ia lakukan dalam prekuel Arisan! atau Laskar Pelangi. Kalaula Nia Dinata mau memberi efek insto, mungkin scene itu akan tampak meyakinkan.
Plus Minus Arisan! 2
Arisan! 2 tidak sepenunya mengecewakan, beberapa scene drama ensamble berhasil dibawakan. Hal ini berlangsung karena dua aktor yang bermain sangat baik meski mendapat porsi sedikit seperti Rio Dewanto dan Ardina Wirasti. Sayang, Nia kembali menggambarkan gay feminin yang bertato pada toko Rio. Ketika dalam sebua scene, lengan atas Rio yang bertato diperliatkan begitu saja. Entah mau mengulangi tato is art sebagaimana Sakti dalam Arisan! 1, atau hanya pendukung wardrobe semata ketika gay harusla berpakaian serbaketat. Nafas lesbian Moli juga digambarkan secara samar sehingga kita sebagai penonton hanya bisa menduga.
Paling tidak chemistry antara Meimei dan Tom, juga Moli ketika 'masuk', menjadi acting ensamble yang bagus. Namun tidak dengan para toko numpang lewat seperti Atiqah, Sara, Cyntia Lamusu, atau Santy. Semua bagai petasan yang tidak mengejutkan. Apalagi Ria Irawan sebagai Yayuk Asmara kurang mendapat 'peratian' di sini. Padahal dalam prekuelnya, Ria bermain bagus meski porsi yang hanya sekian menit.
Yang jelas, meski tidak istimewa, tapi sinematografi penggambaran outdoor terbilang memukau mata. Sementara untuk segi artistik, tampaknya tone untuk film kedua ini agak 'suram'. Scoring berhasil membengkitkan mood penonton meski tidak diperdengarkan (tentu saja) secara utuh. Upacara Hari Raya Waisak dijadikan momentum dalam usaha membangkitkan sisi spiritual Meimei meski dengan teknis ala kamera montage.
Sementara tentula kita terbiasa dengan ucapan kalangan hedon yang gemar mencampur aduk bahasa Indonesia plus english, sehingga jangan ketawa saat Meimei bilang "gue cancer" (cancer = kanker). Untung nggak ada yang jawab, "kalau gue virgo," "gue aries, Mei". Tapi itula efek dramatisasi bagi penonton KERE dan JELATA kayak saya. Yang lebih melek sama kata kanker ketimbang cancer. LOL.
Arisan! 2 boleh menjadi semacam reuni untuk penggemar/fans film sebelumnya. Nia kembali menaru Meimei sebagai gadis malang dan menjadikannya berpenyakit kanker untuk mendukung kisah sahabat sejati orang-orang kaya ini. Meskipun pencarian spiritualnya ini udah mantep banget kayak Julia Robert dalam Eat Pray Love.
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

9 Komentar
sory ye hurup 'h' nya lagi g bisa diketik di keyboard lopi. jadi banyak typo ==
bagus ga sih pilmnya, belum pernah nonton arisan
belum nonton sih.... tapi kalo yg pertama kemarin emang TOP banget!
sebenarnya kekacauan seksual ini paling banter hanya berlaku sampai umur 30 saja. setelah melapau umur 30, banyak kaum ini yg mulai kembali ke fitrahnya karena memang lingkungan tidak mendukung di Indonesia. Hmmm.... meme gmn?
ngakak bagian cancer nya :))
nih film potret jetset sejati, ga cocok klo ditonton ama orang gembel kaya' gue, hahaha
hmmm gak pernan nonton Arisan yg pertama jadi gak mudeng deh ma sekuel selannjutnya hehehe
masalahnya, saya belum pernah nonton =,,=
nonton film ini membuatku menyimpulkan betapa kerenya aku sampe ngerasa film ini beneran absurd....
Baru selesai nonton film Arisan 2 di Youtube! Gue setuju sekali dengan isi blog ini. Film asalnya (Arisan!) leluconnya jauh lebih lucu dan jalur ceritanya lebih fresh dan ngena daripada yg kedua ini. Pemeranan di fiom yang kedua ini juga tidak senatural yg pertama. Beberaoa adegan aktingnya akting standard Indonesia yg terlalu dibuat-buat (dibuat-buat dalam arti: sepertinya kalau jita ngomong sehari-hari nada dan pemilihan kata kita tidak seperti yg ditunjukkan di film). Kayanya selama ini film Indonesia yg gue bilang aktingnya paling oke, natural, dengan gaya bahasa yg tidak dibuat-buat dan jalur cerita yg menarik tuh ...ohya,,,dan editing yang lumayan bagus (karena film Indinesia editingnya tuh kacau abis) masih segenggam tangan saja. Film2 yg lumayan itu menurut gue adaah: Ada Aoa Dengan Cinta, Quickie Express, Arisan!
Posting Komentar