• 2 April 2011

    KENAPA harus menjiplak kalau kita mampu bikin sendiri? Sebab seorang plagiator biasanya seorang yang miskin ide dan pengecut.


    Plagiator berbeda dengan membuat sesuatu dari inspirasi. Plagiator adalah menjiplak dan menyadur tanpa mengakui bahan jadi yang dia sadur. Sementara inspirasi adalah role model dan ia mengakui kalau produknya terinspirasi dari role model bersangkutan. Biasanya seorang plagiator memlagiat karya-karya yang dianggapnya tidak dikenal. Padahal banyak orang melek di luar sana.

    Ketika saya menginjakkan kaki di tingkat pertama kuliah, saya mendengar dari dosen kalau ada tiga orang plagiat di kampus yang menang lomba cerpen berskala Kota Bandung. Juri sayembara cerpen ini dipegang oleh sastrawan kenamaan. Sialnya yang menang itu menyadur karya orang lain. Akhirnya pemenang dibatalkan dan mendapat malu. Dua di antara mahasiswa itu mengundurkan diri sebagai mahasiswa di universitas. Sedangkan yang satunya 'tebel muka' dan tetap melenggang sebagai mahasiswa sampai ia sarjana.

    Prisa Plagiat Cerpen

    Tiga bulan yang lalu muncul kabar memalukan di dunia selebritis Indonesia. Sayangnya karena yang bersangkutan kurang terkenal dan media infotainment kagak pernah tuh ngurusin soal sastra, kabar ini pun melempem. Adalah Prisa, penyanyi yang pernah berduet dengan J Rock dan sudah mengeluarkan album solo dengan single yang saya suka 'Kau Selalu Ada'. Ia mendapat 'tantangan' dari Majalah Story (majalah cerpen remaja/teenlit Indonesia). Dalam rubrik 'Cerpen Seleb', dia mesti membuat cerpen sendiri. Cerpen berjudul Kasih Ibu pun dimuat dan amanlah si Nyai Prisa ini. Tapi belakangan ia mesti menelan ludah sepahit-pahitnya manakala kedoknya kebuka. Kata teman mirip banget sama lagunya Muka Dua.

    Cerpen  iru dimuat di Majalah Story edisi 17/Th.II/ 25 Desember 2010-24 Januari 2011 dengan nama penulis Prisa Adinda Arini Rianzi.  Klaim atas ‘kepemilikan’ cerpen tersebut semakin dipertegas dengan pengantar yang diberikan majalah Story di sudut kiri atas cerpen. Begini tulisannya:

    “Ketika Story menantangnya bikin cerpen, Prisa langsung menyambut penuh semangat. “Aku bisa kok bikin cerpen,” katanya. Terbukti cerpen yang digarap Prisa ini benar-benar menghanyutkan. Kisah yang sangat menyentuh. Baca yuuk..”

    Nah, ternyata cerpen tersebut saduran dari cerpen karya Desi Sommalia berjudul Hati Ibu. Cerpen itu pernah dimuat di koran harian Riau Pis tanggal 11 Januari 2009. Cerpen tersebut juga mendapatkan penghargaan sebagai cerpen terbaik Juara 1 tingkat mahasiswa se-UIR pada 2008 (lomba skala kampus). Dan prisa tinggal mengganti nama, latar, sekuen dan membuatnya menjadi kelihatan berbeda dan baru. Akhirnya Desi Sommalia pun melayangkan protes ke pihak Story. kemudian Story pun memberikan ralat. Itu pun dinilai Desi tidak memuaskan karena majalah itu terkesan menyepelekan kasus plagiarisme itu. Apalagi si Prisa adem ayem aje alias ngumpet. Kagak minta maaf kali, yak. Udah copas. Baca ini untuk lebih detil (Klik Ini)

    Berikut pemberitahuan Majalah majalah Story edisi 19/Th.II/25 Februari 2011-24 Maret 2011

    Pemberitahuan: Setelah melakukan penelusuran berdasar­kan informasi yang masuk, cerpen Kasih Ibu yang ditulis Prisa Adinda dan dimuat dalam rubrik Cerpen Seleb Story edisi 17, 25 Desember 2010, ternyata memiliki banyak kesamaan dengan cerpen Hati Ibu milik sdri Desi Sommalia. Agar polemik ini tidak berkepanjangan, maka dengan ini Story menyatakan pencabutan cerpen Kasih Ibu yang ditulis Prisa Adinda dan menya­takan bahwa cerpen tersebut tidak pernah dimuat Story. Demikian pemberitahuan ini, agar tidak ada pihak yang dirugikan. Redaksi. 

    Kalau saya jadi Desi tentu saja saya sangat menyayangkan format ralat seperti di atas. Pihak redaksi tidak tegas dalam memihak siapa yang pantas dibenarkan dan siapa yang pantas dipersalahkan atas pelanggaran hak cipta. Dilihat dari frase 'memiliki banyak kesamaan' atau 'agar polemik tidak berkepanjangan maka cerpen Prisa dianggap tidak pernah dimuat'. Buset, begitu naif. Mengapa tidak 'Setelah kami telaah ternyata cerpen Prisa merupakan bentuk penjiplakan dari cerpen Desi. Dan diharapkan Prisa meminta maaf atau pihak Desi akan men-somasi." Walah, walah... Hahahay.

    Seorang redaktur cerpen memang harus kaya wawasan membaca. Namun koran lokal di Indonesia ini kan, banyak. Dia tentu tidak tahu cerpen di koran Kota Riau. Jadi yang harus bertanggung jawab penuh tentu saja Prisa. Kalau saya jadi dia, langkah yang akan diambil adalah mengakui. Kalaupun ia tidak menjiplak, ia bisa membuktikan dan menjelaskan proses kreatifitas atas pembuatan cerpen itu. Hmmph, kenapa harus copas, sih? Padahal dia bagus nulis lagu? Apa karena ia keceplosan nanggepin permintaan Story kalau dia bisa bikin cerpen?

    Lihat artikel Desi Sommalia di sini.


    Taufiq Ismail 'Plagiat' Puisi

    SEJAK Taufiq Ismail berlaku keras pada 'tren' novel yang dibuat penulis perempuan muda tahun 2000-an dengan label yang ia namakan dengan Sastra Mazhab Selangkangan, saya tidak menaruh 'respek' kepadanya. Saya pun tidak memerhatikan karya-karyanya kecuali namanya yang besar dan penting dalam kesusastraan tanah air. Namun beberapa hari belakangan ini muncul rumor kalau dia memlagiat puisi karya asing. Puisi itu diterjemahkan dari versi aslinya yang berbahasa Inggris.

    Puisi Taufiq yang berjudul Kerendahan Hati ini disebut-sebut mencontek puisi Be the Best of Whatever You Are karangan Douglas Malloch. Taufiq diduga menerjemahkan dan mengontekskannya dengan perbendaharaan kata Indonesia. Kabar ini 'anehnya' muncul pada peringatan 55 tahun karir Taufiq di dunia sastra (1953 - 2008). Om ini pun belum mengeluarkan konfirmasi. Bahkan Majalah Sastra Horison belum membuka suara.


    Malloch adalah penyair kelahiran Muskegon, Michigan, Amerika Serikat, pada 1877. Ia menulis puisi untuk pertama kalinya pada usia sepuluh tahun, yang diterbitkan di Detroit News kala itu. Hingga kumpulan puisinya diterbitkan dalam bentuk buku berjudul In Forest Land dan menjadi buku terlaris.

    Berikut kita simak puisi karya Douglas Malloch dan Taufik Ismail.


    Be the Best of Whatever You Are

    By Douglas Malloch

    If you can’t be a pine on the top of the hill,
    Be a scrub in the valley — but be
    The best little scrub by the side of the rill;
    Be a bush if you can’t be a tree.

    If you can’t be a bush be a bit of the grass,
    And some highway happier make;
    If you can’t be a muskie then just be a bass —
    But the liveliest bass in the lake!

    We can’t all be captains, we’ve got to be crew,
    There’s something for all of us here,
    There’s big work to do, and there’s lesser to do,
    And the task you must do is the near.

    If you can’t be a highway then just be a trail,
    If you can’t be the sun be a star;
    It isn’t by size that you win or you fail —
    Be the best of whatever you are!


    Kerendahan Hati

    Oleh Taufik Ismail

    Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
    Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau.

    Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
    Jadilah saja rumput, tetapi rumput yangmemperkuat tanggul pinggiran jalan.

    Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
    Jadilah saja jalan kecil,
    Tetapi jalan setapak yang
    Membawa orang ke mata air

    Tidaklah semua menjadi kapten
    tentu harus ada awak kapalnya….

    Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
    rendahnya nilai dirimu
    Jadilah saja dirimu….

    Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

    Dilansir dari detikhot.com, kedua puisi tersebut dipandang Martin memang hampir sama. Namun ada sisi menarik dari salah satu penggalan puisi 'Kerendahan Hati'.

    Pada kata:

    If you can't be a pine on the top of the hill

    diterjemahkan oleh Taufik Ismail

    Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit

    "Mengapa kata 'pine' itu diartikan beringin? Kan itu artinya pinus. Di Indonesia itu ada pinus kan? Berarti ini yang menulis puisi tersebut cerdas, dia tahu soal puisi," kata Martin saat berbincang dengan detikhot di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (1/3/2011).

    Namun, lanjut Martin, ada juga yang dibiarkan dalam arti sebenarnya. Yaitu 'Be the best of whatever you are'. Taufik Ismail menulisnya 'Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri'.

    Martin tidak tahu pasti apakah itu benar karangan puisi dari Taufiq Ismail sang penyair atau tidak. Ia pun tidak pernah pernah membaca puisi tersebut.

    Namun dugaan muncul tudingan Taufiq plagiator adalah buntut dari kabar Taufiq akan menyerbu diskusi buku seniman Lekra di PDS HB Jassin pekan lalu. Saat ditanya hal tersebut, Martin yang menjadi bagian dalam diskusi tersebut tidak tahu jika ada hubungannya.


    Dari Tempo Interaktif, kemarin (1 April 2011) Fadli Zon, Redaktur Majalah Horison dan ketua panitia peringatan 55 tahun Taufiq di dunia sastra, memaparkan berdasarakan pesan Taufiq kalau puisi Kerendahan Hati itu bukan karya Taufiq. Puisi itu ditulis dengan huruf -k (bukan q untuk Taufiq).

    Dilansir dari artikel Kompasiana berjudul Benarkah Taufiq Ismail Melakukan Plagiat karya Aziz Miring, saya mendapati scan-an puisi Kerendahan Hati sebagai soal ulangan Bahasa Indonesia. Di sana tertera nama Taufik Ismail. Berikut scan-annya.

    Terampil Berbahasa Indonesia Kelas VIII SMP/MTs.
    Gambar: Kompasiana.
    Bingung, yah? Kalau memang karya ini dari Om Taufiq, kenapa klarifikasi dari yang bersangkutan baru dilakukan sekarang lewat perantara. Apa itu karyanya apa bukan karyanya. Apa itu taufik dengan k atau dengan q. Apa karena puisi Om Taifiq banyak banget? Atau ini 'cuma' kesalahan soal. Tahu sendiri dengan salah kaprah soal keajaiban dunia? Faktanya Candi Borobudur nggak masuk 7 keajaiban dunia. Namun masuk sebagai warisan budaya dunia. Hahay. 



    7 Komentar

    AkaneD'SiLa mengatakan...

    ckck.. hebat bangetz..
    moga aku bukan salah satu dari sekian ribu orang plagiat.. amin....

    Rian Prihantana mengatakan...

    udah buka tadi cuma mau komen di blog gg mncul2 komen fb nya... ya ampun prisa jahat bgt sih dia kok ngga tahu malu banget sih please deh cantik2 kok maling heum tapi memang banyak sih sekarang maling yang cantik jadi jangan ketipu sama penampilan... kalo yang puisi itu jujur gue kaget ternyata puisi sebagus itu hasil copasan sumpah itu kan suka dibaca sama siapa yah artis deh pokonya setiap selesai acara ngabuburit di trans tv waktu bulan puasa kemaren..... penjahat semua yah, yang copas rekaman ka wana juga ngga tahu malu banget muka tembok....

    Miawruu mengatakan...

    wah ajiiiib,,, kalo beneran sastrawan sekaliber pak taufiq plagiat karya puisi orang lain,,, shockingggg!!!!

    saman mengatakan...

    Jakarta Penyair Taufiq Ismail dituduh menjiplak karya Douglas Malloch, penyair asal Amerika Serikat. Penyair yang terkenal dengan kumpulan puisi 'Tirani dan Benteng' itu akhirnya memberikan jawaban mengenai tudingan tersebut.

    Kejadian berawal pada sebuah perbincangan di akun Facebook milik Bramantyo Prijosusilo beberapa waktu lalu. Diskusi itu sampai melibatkan sejumlah pelaku sastra Indonesia.

    Tak terima dituduh plagiat, Taufiq Ismail akhirnya memberikan jawaban. Dalam sebuah rilis yang diterima detikhot, Sabtu (2/4/2011) ia pun mengungkapkannya.

    Inilah respons saya terhadap percakapan di atas, yang saya baca dari fail internet.

    Puisi “Kerendahan Hati” disebutkan sebagai karya Taufiq Ismail, dituduhkan sebagai plagiat dari puisi “Be the Best of What You Are” karya Douglas Malloch.

    Dalam tuduhan itu puisi “PK” tidak disebutkan dipublikasikan di mana dan kapan.

    Karya puisi saya selama 55 tahun (1953-2008) telah diterbitkan lengkap (Ketua Panitya Fadli Zon), dengan judul Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit. Jilid 1. Karya prosa lengkap dimuat dalam MKB-MBK Jilid 2 dan 3.

    Kumpulan MKB-MBK Jilid 1 itu, tebal 1.076 halaman, memuat 522 puisi. Untuk informasi Bramantyo, puisi berjudul “Kerendahan Hati” itu, yang dituduhkan sebagai karya plagiat, tidak ada di sana. Itu bukan puisi karya saya.

    Sekarang mengenai puisi “BBWYA” karya D. Malloch yang dituduhkan sebagai sumber plagiat.

    Pada tahun 1992 saya selesai menerjemahkan puisi Amerika Serikat, di Universitas Iowa, yang kumpulannya saya beri judul Rerumputan Dedaunan, meliputi kurun masa 1850an-1980-an. Antologi ini belum terbit. Kumpulan itu tebalnya 693 halaman, memuat karya 160 penyair. Nama David Malloch tidak terdapat di dalamnya.

    Dia bisa saja penyair bagus, tapi dari begitu banyak penyair Amerika 1850an-1980an, Malloch tidak termasuk ke dalam 160 penyair yang saya pilih. Kalau dia lulus seleksi saya, karyanya tentu saya masukkan dalam antologi terjemahan RD itu.

    Pertanyaan berikutnya sekarang: kenapa dituduhkan itu sebagai sumber plagiat?

    Dalam 12 tahun terakhir ini, frekuensi kegiatan saya yang mempertemukan saya dengan sastrawan muda, guru, mahasiswa dan siswa tinggi sekali, melalui program pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra), SBSB (Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya), sanggar-sanggar sastra, komunitas ini-itu, dst. Dalam interaksi itu banyak karya sastra didiskusikan, termasuk terjemahan puisi. Mungkin sekali dalam salah satu kontak itu karya David Malloch dibicarakan, diterjemahkan peserta dan saya diminta memberi komentar. Itu yang paling mungkin. Dan jelas saya tidak membubuhkan nama saya untuk terjemahan itu, dan tidak mempublikasikannya. Arsipnya saja saya tidak menyimpannya. Kalau Malloch favorit saya, dia mestilah saya masukkan dalam antologi RD. Ini tidak.

    Dalam hal ini tidak jelas siapa yang mencantum-cantumkan nama saya pada terjemahan puisi Malloch itu. Saya jadi teringat pada kasus lagu Tuhan, yang lirik dan lagunya digubah Sam Hardjakusumah, dinyanyikan Bimbo. Karena saya menulis sekitar 70 lebih lirik Bimbo, lirik lagu Tuhan itu sering sekali dikira dari saya. KCI malah pernah salah kirim honorarium lirik lagu itu kepada saya. Saya berulang kali menjelas-jelaskan ini kepada publik. Beda kasus saya dikelirukan dengan Sam Bimbo, adalah bahwa saya sampai mendapat honor yang mestinya dikirimkan kepada Sam, tapi dalam kasus saya dikelirukan dengan Malloch, saya dicaci-maki oleh facebookers yang salah tuduh..

    Saya tidak terima dinista sedemikian. Saya akan membawa ini ke ranah hukum, dengan mengadukan Bramantyo Prijosusilo ke Kepolisian RI, agar dia diproses sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam hal pencemaran nama baik.

    Saya meminta bantuan pengacara sastrawan Suparwan Parikesit SH dan aktivis kampus Abrori SH, dengan saksi pelukis Hardi dan budayawan Fadli Zon.***

    Taufiq Ismail, Rumah Puisi, 1 April, 2011.

    Sumber: http://www.detikhot.com/read/2011/04/02/143955/1607230/1059/ini-dia-jawaban-taufiq-ismail-soal-tuduhan-plagiat

    Lavi mengatakan...

    HAAAAAAAAAAAAAAAHHHH???
    Prisaaa??
    memalukaaaaaaaaaaan
    Gak nyangka... = =
    tp kok kaga ada di tipi ya?
    bukannya dia jago bikin lagu?
    yaah mungkin aja dia lagi males bikin cerpen makanya asal niru aja.
    BAHAHAH

    Ariya mengatakan...

    taufik/taufiq? nah lo, salah paham, masalah yang paling sering terjadi di dunia ini ^^

    sayang sekali, setiap manusia punya otak sendiri-sendiri, masih nggak pede dan akhirnya melakukan plagiasi. ckckck

    wah, nyanyi lagunya Bimbo ah... :D
    "...semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian.. Semoga kita menjauh dari sifat sedemikian..."

    Unknown mengatakan...

    wah baru tahu nih gw om...si prisa juga nimbrung di dunia plagiat2an...hahahaha...thanks infonya om :-)

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan