• 14 April 2011

    TAK pernah seorang Hanung Bramantyo membuat film relijius. Ayat-ayat Cinta adalah film cinta, Sang Pencerah adalah film ‘perombak’ kultur..

    ..dan Perempuan Berkalung Sorban adalah film feminis. Dan film Tanda Tanya (?) adalah film tentang toleransi umat beragama. Ini jelas seperti dugaan para pecinta film Indonesia bergenre waras seperti saya –atau sinopsis di web resmi film ini.Bahwa film ? adalah film humanism, drama, bukan relijius.
    Tidak bermaksud mengutip tagline film Cin(t)a, tapi sutradara adalah ‘Tuhan’. Dalam artian seorang kreator (dalam hal ini penulis atau penulis skenario) adalah pemegang kendali dan kuasa.  Bedanya, jika Tuhan membiarkan manusianya bergerak sendiri meski atas ijin-Nya, maka penulis  berbuat sekehendak hati demi mendukung tema cerita. Terkadang ada penulis yang berhasil, yaitu yang membuat kisah terasa realistis, tidak dibuat-buat, dan sangat ‘manusia. Ada pula penulis yang kurang berhasil dan tidak berhasil. Yah, contoh saja itu sinetron yang ibu bapak kita tonton. Lalu apa hubungannya dengan film ‘?’?

    Sebenarnya saya kurang begitu mau nonton film ini. Lihat trailernya di youtube aja sudah tahu film ini akan dibawa kemana. Namun karena ditodong temen-temen untuk meresensi film ini, akhirnya saya ngacir ke 21 bersama seorang teman. Lalu ngajogroglah saya sejenak di depan etalase film tersebut. Terpampanglah tagline yang menurut saya cukup ‘gegabah’: ‘Masih Perlukah Kita Berbeda? Hmm, ngingetin saya dengan tagline film 9 Naga yang kalau ndak salah punya tagline: ‘Manusia Terbaik di Indonesia adalah Penjahat.’

    Dalam pikiran saya yang cetek, saya bisa tebak kalau keduanya menyerpihkan kritik terhadap realitas social kita. Film 9 Naga karya Rudi Soedjarwo ini memiliki tagline yang terlalu ‘luhur’ untuk film berkualitas pas-pasan dengan skenario dangkal dan tata teknis seadanya. Sementara ?-nya Hanung juga  tidak beda jauh. Bermaksud untuk mengritik masyarakat kita yang diam-diam tetap rasis, tetap main hakin sendiri, tetap berprasangka, padahal mereka masih berdiri di bawah payung toleransi. Jelas dua sutradara ini memiliki niat yang mulia untuk diketengahkan pada media film dan untuk kemudian dinikmati masyarakat.

     Namun menurut saya pribadi, film ? ini kurang berhasil. Bukan berarti tidak bagus, bukan berarti pula terpengaruh oleh kontroversi film ini dari kacamata salah satu atau beberapa agama, namun menurut saya, ini sangat terlihat boneka. Alias, para tokoh itu dibuat sangat kartunis, hampa, mengambang, atau karena mungkin penulisnya  (Titin Wattimena) ‘kesusahan’ untuk mengimbangkan porsi penampilan para tokoh-tokoh yang banyak ini - dengan latar belakang  berbeda meski dengan masalah yang nyaris sama: mengenyahkan agama tanpa sadar demi mengedepankan emosi diri –hawa nafsu –masalah pribadi.

    Sinopsis

    Soleh (Reza Rahadian) adalah tipe suami emosional yang mempecundangi dirinya sendiri lantaran menilai dirinya tak mampu menjadi imam keluarga. Ia memiliki istri Menuk (Revalina S. Temat), perempuan muslimah yang bekerja di restoran Pak Tan, seorang Tionghoa (Hengky Sulaeman). Sementara itu Menuk sendiri pernah berhubungan cinta dengan putra Pak Tan, Hendra. Namun karena Menuk lebih memilih Soleh, Hendra pun menjadi skeptis memandang hidup dan menilai bahwa sumber  ‘chaos’ dari ini semua adalah perbedaan agama. 

    Cinta Segi Tiga.
    Sementara itu kita mengenal Rika (Endhita), seorang yang semula muslim namun mengubah keyakinannya menjadi Katolik. Ia adalah janda beranak satu. Anaknya sendiri yang masih kecil itu digambarkan tetap memegang teguh agama Islam. Rika berteman dengan Surya, seorang pemain figuran yang konon terus menjalani pekerjaannya itu –kalau nggak salah- sampai 10 tahun terakhir. Ia muslim dan suatu hari saat ia menerima ajakan Rika, ia pun menjadi aktor sebagai Yesus dalam drama penyaliban di acara keagamaan umat Katolik. Di sinilah pertentangan batin demi pertentangan batin berusaha digambarkan penulisnya. 
    Sayang, film ini hanyalah film berdurasi 100 menit yang tidak cukup berhasil memancing emosi penonton. Sebagian penonton awam bahkan bingung dengan serentetan scene demi scene full dialog singkat sebagai usaha sutradara untuk membeberkan masalah dan pergolakan batin. Namun jadinya malah terlihat lumayan berantakan, lumayan mengada-ngada, dibuat-buat atau yang saya sebut sebagai comical, begitu komik (baca: lucu)

    Pembantaian Saman


    Antagonis manusiawi.
    1. Film ini punya setting awal tahun 2010, di sebuah pemukiman padat penduduk. Ketika orang-orangnya masih saja punya bakat rasis atau memperolok seseorang hanya karena keturunannya. Misalnya ketika seorang Tionghoa lewat di samping sekelompok muslim yang hendak menunaikan salat, dua kubu ini malah adu cekcok karena semburan khas anak kecil:

     Hendra (Tionghoa): Apa lu liat-liat?!

    Sekumpulan pemuda (muslim): Apa lu, Cina?!

    Lalu mereka pun berantem sampai akhirnya dipisahkan. Keantipatian Hendra terhadap kalangan pribumi (baca: muslim), mengobar manakala mendapati tidak sang kekasih (Menuk) malah menikah dengan Soleh (yang muslim). Titik puncak kemarahan Hendra berujung pada keputusan gegabah yakni ketika restoranya keukeuh buka di hari raya lebaran. Hal ini malah membuat restorannya diserbu kalangan muslim yang memang sudah dikompor-kompori Soleh. Intinya, ini mah amarah dua pemuda infantil yang ‘tidak sadar’ punya agama. Yang satu Khonghucu, yang satunya Islam. Keduanya tidak diceritakan dalam gambar memiliki ketaatan lebih terhadap ibadah. Soleh tidak digambarkan rajin salat sesering Menuk salat. Sementara hendra kerap menolak diajak ibadah. Intinya kedua lelaki itu labil alias tidak dewasa. Dan hal ini memang ada dalam realitas kita. Meski penceritaan kisah segi tiga itu terasa dibuat-buat untuk mendukung tema film ini.

    Pindah Agama Junjung Toleransi.
    2. Paling tidak dari film ini saya tahu tentang cara ibadah orang Katolik. Terutama saat Rita menulis definisi Tuhan lewat secarik kertas. Dan ketika dibacakan pendeta,Tuhan pun didefinisikan dengan beberapa sifat ketuhanan dalam agama Islam (Asmaul Husna). Rasanya scene ini terasa dibuat-buat dan kalaupun demi sebuah ‘tujuan’ maka tokoh Rita sebenarnya adalah tokoh yang masih ragu-ragu dalam menentukan jalannya –mengubah agama. Menurut rasional saya, dia tidak perlu sebingung itu untuk mendefinisikan Tuhan. Buat saja jawaban ala pertanyaan pelajaran PMP. Atau ia memberikan jawaban menurut kekritenannya. Bukankah ia mempelajari keyakinannya sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah agama? Namun si janda yang mantan suaminya tida dijelaskan ini harus menjawab dengan jawaban bernada Islam tersebut untuk mendukung film. Agar Rita dikesankan masih memiliki sisa-sisa keislaman yang ada dalam dirinya.

    3. Karena Soleh digambarkan punya keislaman yang parsial meski ia kerap digambarkan selalu berpeci dan berkoko (kontras bukan? Bikin bingung penonton. Ini orang taat beragama atau ndak?), pada suatu kesempatan ketika ia sudah menjadi  satpol PP –akhirnya jadi satpoll pp (dari sinopsisnya disebut banser NU) pun tidak diceritakan rinci, tau-tauk tu orang udah dapet kerjaan. ia pun memasuki gereja sekedar ingin tahu drama natal. Padahal sebelumnya ia sadar bahwa adalah haram seorang muslim memasuki tempat ibadah umat lain. Namun ia ‘takluk’ pada penjelasan sesama  banser. Ternyata eh ternyata, masuknya Soleh ke gereja ini untuk memuluskan skenario. Yakni ketika akhirnya ia menemukan bom. Ia pun gelagapan sendiri namun anehnya tidak berteriak kencang mengabarkan kalau mereka semua mungkin akan mampus karena bom. Namun barangkali dia sudah tobat dan tidak responsive lagi. Akhirnya apa coba? Tu orang bawa bom sendiri dan meledaklah ia. Kata dia itu jihad. Dia pun meninggal. Hmm.. So dramatic. Yang lain mungkin mewek, tapi saya malah ngakak.

    4. Di awal scene diceritakan seorang pendeta yang kena tembak seorang oknum. Oknum ini tidak diceritakan dari golongan atau agama apa. Namun dalam scene lain ketika Soleh jadi banser dan mempertanyakan boleh tidaknya muslim masuk gereja, yang ditanya menjawab kalau intinya kaum muslim (banser yang rata-rata muslim itu), seharusnya tidak mempermasalahkan haram halalnya seorang muslim ke gereja. “Ini agar mereka (umat Kristen), semakin tidak menilai kita (Islam) sebagai teroris.” (dialognya kira-kira begitu). Jadi bisa dipastikan oknum teroris itu dikesankan penulisnya sebagai orang muslim. 

    Buat kalian yang muslim dan jeli dan juga risih, kalian mungkin akan mengira film ini ‘mencitrakan’ kaum muslim sebagai kaum anarkis ‘ala F*I’ yang bakar-bakaran atau main hakim sendiri. Realitasnya tentu saja ada, namun apa yang digambarkan dalam film ini cenderung berlebihan. Lumayan banyak scene-scene yang menggambarkan manusia muslim yang tidak mencerminkan muslim. Contohnya ya itu tadi, aksi main hakim sendiri, gontok-gontokan, seorang muslim awam yang nggak tahu kalau masuk Gereja itu haram, sampai ibu-ibu pemilik kos yang tengil. DIa digambarkan berjilbab namun berghibah –sialnya- di depan seorang anak SD. Wuiih..

    Si Labil yang Akhrinya jadi Superhero.
    5. Adegan paling konyol lainnya, adalah ‘memaksakan’ tokoh muslim yang ‘terpaksa’ ambil bagian dalam drama  umat Katolik. Demi keinginanan duniawinya yaitu mendapatkan peran penting, Surya  akhirnya berani memerankan Yesus dan aktingnya ini berhasil meski sempat kena protes seorang Katolik yang diperankan Glenn Friedly. Yang lebih menggelikan adalah saat ia mengulangi ‘kesalahan yang sama’ yakni menjadi santaclaus/sinterclaus untuk seorang anak yang sakit.  Surya pun bertanya keinginan anak itu, sang anak pun menjawab  ‘aku ingin pergi agar tak menyusahkan ibu lagi’. Eh, tak lama scene pun berubah yang intinya, anak itu meninggal. Surya pun berteriak keras saking batinnya bergolak hebat. Padahal pas lihat scene itu sungguh saya Cuma bisa bilang ‘apa-apaan?’

    Demi karir, akidah digadaikan.
    Di luar banyaknya catatan minus dari pengamatan saya yang cetek ini –maklumlah dari kacamata penonton biasa, saya memberikan acungan jempol pada acting Hengky Sulaeman yang berhasil membawakan ayah sakit-sakitan yang sabar  juga tak habis pikir dengan ‘kelakuan’ puteranya. Sementara Revalina memang hanya mengulang aktingnya di Perempuan Berkalung Sorban. Sementara sisanya tampil mengecewakan. Mungkin karena skenario yang tidak membiarkan mereka ‘berkembang’. Penampilan paling buruk justru pada Endhita. Saya menyayangkan Hanung memakainya. Endhita memiliki kualitas akting sinetron atau FTV.
    Menyoal teknis, Hanung memang jagonya. Sayang, pada latar malam,  tata artistiknya dibuat kelewat realistis sehingga sama dengan ‘kasus’ Sang Pencerah, menikmati scene malam film ? sama seperti saat saya menikmati film horor: mencekam, misterius, dan curiga ada penampakan di belakang tokoh yang sedang berdialog. 

    Thumbs up untuk akting Henky.

    Yang jelas film ini berujung pada sisi positif untuk tetap menghormati agama lain. Soal pernyataan kalau ‘kita memiliki cara yang berlainan untuk menuju Tuhan yang sama’ , itu hanya pendapat agar kita senantiasa memperlakukan sesama dengan baik. Sebab para pemuka agama yang ditampilkan di sini pun mendukung 'pernyataan itu'. Ustad dan Pendeta yang toleran. Meski untuk ukuran ustad yang toleran, adalah hal yang aneh kalau pengikut pengajiannya responsif begitu dengan main serang ala F*I. Kontras, bukan?

    Daan..tidak perlu memercayai apa yang telah saya bahas di atas. Hanung tetap menjadi salah satu sutradara favorit saya. Dan film ? bukan film terbaiknya setelah Perempuan Berkalung Sorban, namun perlu ditonton di tengah film-film sampah sejenis pocong ngesot, bla blabla bla bla bla.



    Bonus! - catatan perjalanan gaje
    - Asyik, 21 sepi! Ya iyalah, wong pengunjung bioskop udah raib. Tapi ada beberapa studio yang masang film barat.  
    - Pas udah beli tiket, langsung beli makanan. Karena ogah beli popcorn yang ditawar-tawarin petugas restoran 21, saya dan temen saya beli makanan kecil yang bisa dimasukin di saku celana. Jadi gendut deh ini pantat. Haha. Tahu sendiri suka ada razia makanan. Nggak lucu kan, kalo makanan yang udah dibawa disuruh ditaro. Palagi ni kagak bawa tas.
    - Pas nunggu di lobi, sepi juga. Asyiik. Eh, anak alaynya berdatangan satu persatu. Terutama segeng. isinya dua cewek dan empat cowok. Nah, yang jadi masalah empat cowoknya itu. Jalan mereka sumpah kayak si Olga dan mereka semua pake celana pendek, pegang hape atau sejenis dompet gitu, terus pake tshirt. Saya dan temen pengen ngakak atau muntah tapi nggak sopan, dong. Soalnya dua di antara mereka sengaja duduk di depan kita berdua. Jadi saling berhadapan di tengah koridor. Dan mereka pegangan tangan coba sambil lihat-lihat ane ama temen ane. Jijay bajay 
    - Udah gitu saya pipis dulu sebelum masuk bioskop di toilet. Eh, tauknya langsung  gelap! Buset! Mati lampu! Baru kali ini ngalamin kayak beginian di mal. Lucunya ada yang teriak-teriak di kamar toilet, cowok gitu. Kayaknya sih salah satu cowo ngondek yang tadi. Akhirnya mal mati lampu selama 15 menit. Untung bisa nyala lagi dan kami pun bisa leluasa nonton. Dan di bioskop, penonton bisa dihitung jari, mungkin hanya 20 orang saja.

    8 Komentar

    Anonim mengatakan...

    kurang bagus, jadi nggak usah nonton yuaaa..??

    saya agak nggak trima sama penulisnya yg kayaknya mojokin Islam bgt, semoga dia dapat rahmat dari Allah..

    ya udah capcus cyiiin...

    hend arto mengatakan...

    Hanung, Hanung ... semoga dpt hidayah dari-Nya

    Zka mengatakan...

    Agak nggak nyambung.. Tapi saya heran, bapak menteri yang tua dan oldschool itu bilang bahwa meningkatnya jumlah film di Indonesia itu indikasi kemajuan KEBUDAYAAN di Indonesia.. Selama iklimnya jelek, produk sebanyak apapun belum tentu bisa memperbaiki kebudayaan kan ya? Maaf kalo salah..

    Anonim mengatakan...

    wan sesekali mereview film asing dong,,,,
    -hyding

    Anonim mengatakan...

    Memang lebih mudah menertawakan karya orang daripada membuat sendiri sebuah karya,

    iya sih apalagi endingnya maksain banget... menurut gw, alasan si hendra mualaf masih kurang ngena.... masak cuman gara2 liat tragedi meninggalnya soleh langsung mualaf? kurang ngena...

    FYI! di film ini, si hendra dan keluarganya itu sebetulnya agama katolik. dan dari temen gw, kalo keluarga cina tuh banyak yang kayak gitu. udah kristen/katolik tapi tetep aja suka sembahyang di klenteng. tradisinya itu tetep dijaga ketat.

    seeker mengatakan...

    justtru ini adalah pengejewantahan kondisi yg ada diindonesia, memang terlihat "aneh" tp memang itulah realita , yg di ambil dr fakta,seperti ejekan cina, pemberontakan fpei ,dll, namun karena keributan itulah rasa hak ,kebebasan itu hilang karena ketakutan ,kecemasan akan keributan jika berbicara ..film ini membantu untuk bagaimana menilat pluralisme agama,toleransinya, yang sangat erat pancasila sila ke 1,jika sila ke 1 saja belum bisa dilaksanakan bagaimana mau melanjutkan sila ke 2,, jika disaring dengan benar maka itulah yg didapat,tp jika penonton melihatnya sudah dipenuhi "negative thinking" dan hanya pake kaca mata "kuda" alhasil cuma bisa nilai ttg porsi agama saja,so ,liad film jng cm liad tp pahami maksud ,label,dan tujuannya.. see more deep ,can be see justice..

    saman mengatakan...

    Seeker: baca habis artikel di atas enggak si? atau tipikal yang baca sekilas trus komeng? apa yang ada dalam film ? adalah bagian dari realitas yang dibungkus dalam media fiksi dengan sekuen demi sekuen yang 'dipaksa' paralel sehingga saya menyebutnya komikal. tujuannya orang waras pun tahu. dan saya bisa melihat film dengan dalam, dan artikel di atas bukan penghakiman, tapi opini

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan