• 22 April 2011

    DUA film ini sangat artistik namun sangat  'mengganggu' untuk tipikal pecinta film horor seperti saya. Film apa Saja?



    * * *
    SUDAH lama saya tidak meresensi film asing. Menyoal film nasional, itu tidak mungkin karena bioskop kita kebanjiran film-film eceng gondok. Tapi saya akan membahas dua film keluaran lama bergenre horror yang mampu membuat saya merinding ngeri. Dan istimewanya, dua film ini sama-sama memiliki tingkat artistik yang cukup tinggi. Film apa sajakah itu?



    Yang pertama adalah film Perfume: The Story of Muredered. Film tahun 2006 yang bercerita tentang seorang pemuda yang memiliki indera penciuman super tajam yang kemudian menjadi pembunuh berdarah dingin. Yang kedua adalah film Anti Christ, film keluaran tahun 2009 tentang istri yang depresi lantaran anaknya meninggal jatuh dari balkon rumah. 

    Kedua film itu memiliki kesamaan dalam hal kesadisan dan vulgarisme (sexuality and violence) dengan kadar yang lumayan frontal. Kalau Perfume terkesan sangat mainstream. Namun tidak untuk Anti Christ. Itu adalah satu-satunya film yang membuat saya meringis karena ngeri!

    Perfume: A Story of Murdered

    Jean ketika usai dilahirkan.
    Film  berlatar Perancis pada  abad ke -18 ini merupakan adaptasi dari novel Patrick Suskind dengan judul yang sama. Difilmkan pada tahun 2006 oleh Tom Tykwer dengan dua bintang papan atas Dustin Hoffman dan Alan Rickman. 

    Kalian yang sudah menonton pasti setuju kalau ini adalah film yang sangat bagus untuk ukuran film horor. Perfume memiliki tingkat teknis yang brilian. Sinematografi yang indah, editing, sound mixing, dan pengemasan yang bercita rasa seni. Para pemainnya pun mampu berperan dengan baik menurut porsinya masing-masing. Film ini asyik untuk diikuti dan tak ada scene membosankan satu pun. Semua terasa pas, menegangkan, dengan ending yang memuaskan.

    Pefume bercerita tentang seorang anak lelaki yang lahir dari perempuan yang tidak menginginkan keberadaannya. Sang ibu adalah pedagang di pasar kumuh. Simak scene melahirkan yang lumayan bikin miris karena sang ibu yang sudah melakukan persalinan kelimanya mengeluarkan bayinya dengan mudah. Bayi itu pun langsung ia telantarkan dan ia pun kembali melayani pembeli dengan wajah pucat. Namun bayi itu ternyata memiliki bakat penciuman yang tajam. Ia bisa merasakan apapun hanya dari bau. Ia pun menangis dan itu membuat semua orang di pasar mengetahui keberadaannya. Akhirnya sang ibu dihukum gantung atas tuduhan menelantarkan anak. Dan bayi itu kemudian diurus oleh seorang perempuan yang biasa mengurus anak-anak untuk diperjualbelikan.

    Anak kemudian dinamai  Jean-Baptiste Grenouille (Ben Whishaw ) dan ketika remaja ia dijual  adala ke sebuah pabrik penyamakan kulit yang bau.  Karena ia giat dan kuat, ia pun disuruh majikannya mengantarka pesanan ke luar kota. Ia pun sampai ke rumah seorang ahli parfum bernama  Giuseppe Baldini (Dustin Hoffman).  Karena ingin tahu lebih banyak soal wewangian, Jean mencoba ‘cari muka’ pada Baldini bahwa ia mampu membuat parfum saingan Baldini. Meski Baldini sempat menolak, Jean pun akhirnya dipekerjakan. Jean sanggup membuat banyak parfum dengan mudah. 

    Pandai meramu parfum.
    Jean pun berkelana setelah mendapatkan ijin dari majikannya. Ia bekerja di sebuah pabrik parfum dan dia ditempatkan di bagian penyulingan. Di sinilah Jean mulai melancarkan aksinya.

    Jean dan Bau Tubuh Perawan

    Jean hapal betul semua bau yang pernah ia hirup. Namun sebelum ia bertemu Baldini, ia sempat mengekor seorang gadis penjual buah di jalanan Paris pada suatu malam. Jean menghirup aroma paling wangi dan ternyata hanya bisa dimiliki oleh seorang gadis cantik juga perawan. Tapi karena Jean tidak tahu bagaimana caranya bersosialisasi, secara tidak sengaja ia membunuh gadis itu. Ia preteli pakaian sang gadis dan meremas-remasnya untuk menghirup aroma wangi itu. Sayang, karena sudah meninggal, aroma itu pun hilang dengan sendirinya.

    Membaui wangi tubuh perawan.
    Usai bekerja dengan Baldini dan ia pindah di pabrik penyulingan parfum, ia mulai menyuling seorang perawan di tempatnya bekerja. Tidak tanggung-tanggung, ia memasukkan gadis itu ke dalam tabung akuarium raksasa yang dipenuhi air untuk mendapatkan sulingan aroma sang gadis. Namun cara ini ternyata tidak berhasil.

    Laura, incaran Jean.
    Akhirnya ia  menemukan cara yang bagus untuk ‘mengabadikan’ aroma perempuan. Yakni dengan memakai lemak hewan. Ia mencobanya pada pelacur dan mencoba mengoleskan minyak itu pada tubuh sang pelacur. Namun karena menolak, pelacur itu pun dibunuh. Jean pun berhasil mendapatkan aroma perempuan itu. Ia mengoleskan lemak hewan pada sekujur tubuh sampai rambut korban. Biasanya rambut korban digunduli agar mudah ‘diperas’.

    Akhirnya ia pun banyak melakukan pembunuhan terhadap gadis-gadis di kota. Hebatnya ia tidak mudah tertangkap karena ia bisa menjaga jarak sekaligus menghindar karena penciumannya. Semua warga pun panik dan meski pemerintah telah memberlakukan jam malam, korban terus berjatuhan. Banyak pemuda yang dicurigai sebagai pelaku sehingga dihakimi masa. Sementara pihak gereja berpendapat kalau semua itu adalah ulah iblis. 

    Lalu berhembus kabar kalau pembunuh telah ditangkap. Kota pun kembali aman dan tak lagi ricuh. Tak ada lagi jam malam. Padahal Jean tak pernah ditangkap. Kabar kalau pembunuh telah mengaku dan ditangkap adalah upaya pengalihan isu dan agar masyarakat tak lagi ketakutan.

    Laura akhirnya jadi korban.
    Jean pun sudah mengoleksi 24 buah parfum dari 24 perempuan yang berbeda. Tapi dia mengincar seorang gadis yang sangat cantik  bernama Laura (Rachel Hurd-Wood). Laura adalah anak seorang lelaki bangsawan bernama  Richis (Alan Rickman). Dan Jean butuh usaha keras untuk meangkap gadis yang sudah lama menjadi incarannya itu. Akhirnya, meski Richis sudah mati-matian menjaga puterinya, Laura pun akhirnya menjadi korban. Jean berhasil mendapatkan parfum terakhir. Sulingan parfum korban terakhirnya pun berwarna agak keruh. Barangkali karena gadis itu sangat istimewa juga perawan.

    Namun Jean akhirnya ditangkap. Dia pun akan disiksa di tengah kota danbersiap dengan parfum yang diam-diam selalu dijaganya baik-baik selama dalam penjara. Ia pun meneteskan sedikit parfum dari 25 campuran aroma itu ketika sipir penjara hendak membawanya. Dan tebak, parfum itu ternyata memiliki aroma yang begitu kuat sehingga membuat orang yang menciumnya terhipnotis.

    Ending Super Gila

    Jean tampil dengan kereta kuda dan pakaian bagus saat menemui algojo yang akan menyiksanya. Namun tiba-tiba rakyat kota yang semula murka berbalik terkesima.  Jean berdiri di tengah tempat algojo dan sang algojo malah bertekuk lutut dan menganggapnya sebagai malaikat. Jean pun meneteskan parfumnya ke sapu tangan yang kemudian ia terbangkan. Seketika semua rakyat pun dibuat mabuk dan mereka pun melakukan aktifitas seksual saat itu juga. Semua telanjang dan bercinta, termasuk pendeta yang ketika itu hadir untuk menyaksikan penyiksaan.

    "Dia tak bersalah!" Seru algojo.
    Meski Jean selamat, namun hatinya tetap hampa. Ia mungkin bisa menggunakan parfum itu untuk menguasai dunia. Semua orang bisa menuhankannya, agar kelak ia diterima, menjadi kaya raya, dan terkenal. Namun ia sadar bahwa apa yang didapatkannya kelak hanyalah sebuah kepalsuan. Sebab orang-orang memujanya karena parfum yang dipakai, bukan karena keberadaan diri. Akhirnya ia kembali ke tempat ia dilahirkan pada suatu malam. Ia menyaksikan gelandangan kelaparan yang sedang menghangatkan diri mengelilingi api unggun. Lalu ia pun mengucurkan semua parfum itu ke tubuhnya. Dan seketika orang-orang pun mengerebutinya saking cinta dan terkesima. Malah saking cintanya, mereka pun memakan tubuh Jean sampai habis tiada tersisa.

     Pesan Bijak yang Didapat dari Film Ini

    Kebahagiaan tidak datang dari kekuasaan terbesar (disimbolkan dengan parfum ‘ajaib’, melainkan dari hati yang jujur. Jean menghukum dirinya dengan memakai seluruh parfum itu.  Ia sadar dirinya tidak akan selamat dari orang-orang yang mencintainya sebegitu besar. Sementara ia pun sempat membayangkan bercinta dengan korban pertamanya –gadis penjual buah. Ini merepresentasikan keinginan untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki keadaan.

    Anti Christ

    Vulgar tapi artistik.
    Saya nonton film ini karena penasaran dengan judul dan sampulnya yang horor art sekaligus seksis itu. Ketika saya menikmati openingnya, wuaaaw, keren gila. Slow Motionnya dibuat beberapa kali lipat. Adegannya pun ndak tanggung-tanggung, sepasang suami istri paruh baya yang sedang melakukan aktifitas seksual pada suatu siang di ruangan lain –yang bukan kamar pribadi. Sementara ada scene anak mereka, anak lelaki berusia lima tahun, yang dibiarkan sendirian di kamar dengan jendela terbuka. Kamar anak itu berada di lantai atas dan tentu saja akan berakibat fatal kalau ia bermain-main di sekitar jendela tanpa pengawasan. Akhirnya ketika si suami istri itu asyik bercinta, sang anak malah jatuh ketika hendak ‘menempelkan’ boneka kesayangannya di antara langit yang bersalju.

    Film ini dibagi menjadi empat babak di luar prolog yang saya paparkan di atas. Babak satu adalah Grief, menceritakan tentang suami (Williem Daffoe) yang setia memberikan kesembuhan untuk sang istri (Charlotte Gainsbourg) yang depresi berat pasca meninggalnya anak mereka. Mereka menenangkan diri di sebuah tempat terpencil dan tinggal di rumah peristirahatan (kabin kecil) yang biasa mereka tempati jika sedang liburan. Di sini kita akan diajak untuk lebih memahami karakter keduanya dengan lebih dalam. Sang istri yang depresi total dan sang suami yang sabar.

    Tanpa pengawasan, bayi ini pun jatuh.
    Pada babak kedua yang dinamai Pain (Chaos Reigns), kita akan mendapati keanehan-keanehan yang terjadi di hutan. Mulai dari seekor rusa dengan anak rusa yang menempel di bagian rahimnya, burung yang jatuh dan dimakan semut namun dimangsa elang, sampai rubah sekarat yang berbicara dua patah kata. Bagian ketiga dinamai Despair (Cynocide) yang menggambarkan sang suami yang mendapati loteng rumah itu dipenuhi gambar-gambar dan tulisan tesis  buatan istrinya mengenai gynocide dan perburuan dan penyiksaan terhadap penyihir di masa lampau. 

    Film Paling Mengerikan

    Kenapa saya bilang kalau ini film paling mengerikan? Karena  apa yang terjadi dalam scene-scene selanjutnya adalah scene-scene di luar ekspektasi. Scene-scene mengejutkan yang tidak saya harapkan. Misalnya saya menonton film Saw atau Canibal. Saya tentu bersiap dengan scene-scene tipikal yang menyeramkan. Namun dalam Anti Christ, sumpah bikin saya ngilu dan kepengen tutup mata. Berbeda halnya dengan Parfume yang sebagian besar alurnya bisa saya tebak.

    Sang istri yang sudah depresi berat itu mengaplikasikan apa yang pernah dipelajarinya soal anti kristus atau iblis. Awalnya ia sempat meminta suami memukulnya saat sedang bercinta, namun karena permintaan itu tidak dikabulkan suami, sang istri pun keluar malam-malam dalam keadaan telanjang lalu masturbasi di balik pohon raksasa. Tidak lama sang suami muncul dan mereka pun bercinta di situ. Selanjutnya simbol-simbol yang tidak saya mengerti pun muncul di situ. Yaitu ketika banyak tubuh manusia terselip di akar pohon itu.

    Scene paling mengganggu.
    Lalu mana adegan sadisnya? Karena cekcok dan sang istri berpikir kalau sang suami akan meninggalkannya. Mereka pun guling-gulingan di lantai kamar. Karena sang suami tahu cara meredam emosi istrinya dengan berhubungan seksual, mereka pun sempat berhubungan seks. Namun sayang, sang istri kelewat emosi sampai menghantamkan sejenis bata ke selankangan sang suami. Sang suami pun pingsan dan si istri sempat terdiam beberapa saat sampai akhirnya mengonani penis suaminya yang masih tegang. Penis itu tentu saja tidak muncrat sperma, melainkan darah. OMG! Dan puncak kengerian ini -di bagian keempat: Three Beggars, yakni saat sang istri memotong klitorisnya sendiri dengan gunting!

    Saya sumpah masih belum mengerti dengan cerita ini. Tapi bisa saya tafsirkan kalau ini adalah bentuk ritual iblis yang dilakukan tokoh istri terhadap perihal anti kristus yang dipelajarinya selama kuliah. Depresi hebat menuntunnya untuk melakukan ritual iblis tersebut dengan menghukum bagian paling vitalnya sendiri juga suami. Karena birahilah yang membuat anak lahir dan yang kemudian ia anggap sebagai sumber dosa. Jadi dengan menyiksa diri, itulah cara ia kembali ‘suci’.

    Sehabis menyiksa diri.
    Nah, kawan. Begitulah resensi film saya kali ini. Saya tidak menyarankan kalian menonton film Anti Christ karena di dalamnya terdapat banyak adegan dewasa. Yakni ketika alat-alat kelamin pun tidak segan-segan diperlihatkan atas kepentingan film. Tapi yang jelas, saya suka film ini karena totalitasnya. Yang lebih menarik lagi film ini membawa artis utamanya sebagai Aktris Terbaik dalam Cannes tahun 2009. Dan soal para aktor/aktris yang telanjang dalam film yang bukan blue film, saya pikir itu dihalalkan atas nama seni. Lihat saja Kate Winslet dalam The Reader yang membuatnya diganjar Best Actress Oscar. Ia telanjang dan sempat memperlihatkan bagian kewanitaannya. Tahu Daniel Radclife si Harry Potter? Ia sempat telanjang selama pertunjukkan drama berlangsung di Inggris. Tapi kalau saya disuruh melakukannya untuk kepentingan akting? Ya, jelas ndak mau.  Saya cuma telanjang saat mandi dan saat...

    BEST CAPTURE

    Ritual iblis.
    Penyulingan gadis.



    12 Komentar

    Ami Sz mengatakan...

    yang anti crist kayanya ga tega klo nonton :( bikin ngilu, tapi yang parfume okeh bgt tu kayanya :)

    AkaneD'SiLa mengatakan...

    beuh sip bangetz nhe pilm.. boleh nhe buat ditonton... kalo donlot ada gak ya?? hmm..

    gita mengatakan...

    omaigat.lewat...lewat...saya mah ga berani nonton film yang ada adegan iris2an bagian tubuh.linuuu....

    Dita Khusnul Khotimah mengatakan...

    wuih resensi film nya fantastis :O

    tapi bagian awal film anti christ yang ayah ibu nya sibuk sendiri sampai ga sadar anaknya dalam bahaya bikin inget di bagian awal film hantu yg rumah pondok indah itu ya. bedanya si anak kesetrum.

    setuju nonton parfume, kalo anti christ kaya nya ga sanggup -____-

    Crisan D mengatakan...

    yang anti christ mah belum liat tapi kalo perfume. beneran deh,waktu keluar novelnya aja udah takjub. stunning banget filmnya,secara artistik. tapi yah kalo secara moral beda lagi :P

    primebound mengatakan...

    wah nyari di rental dvd ah..
    saya suka horornya luar negeri. gak kayak indonesia yg cuma jijik n ngageti

    dian andriyana lutter mengatakan...

    perfume is great tpi antichrist lom liat...we`ll see then.....

    Rita mengatakan...

    kok g bs komen lwt fb yak??? jd ribet deh..hehehe
    aku dah nonton perfume pertamanya sih byasa aja mpe tengah ngeri juga liat orang bwt parfum mpe kayak gitu, klo anti christ kayaknya ak g brani nonton deh...

    draketodeath mengatakan...

    saya udah baca novelnya dan saat melihat ulasan film Perfume ini, betapa kagetnya saya ternyata isinya beda jauh dengan yang dibuku (walau endingnya memang benar mirip di buku) hahaha

    Maudy mengatakan...

    Hem, gue belum nonton Antichrist. Kayanya disturbing? Disturbingan mana sama A Serbian Film? Atau Salo? Btw, sumpeh tuh ending Perfume begitu? meskipun elo sangat totalitas bikin spoiler disini.

    oeloen mengatakan...

    parfume lbh seru novelny si.. klo anti christ boleh d coba jg.. bagi saya the saw n final destination msh lbh menji2kan :)

    Nugros C mengatakan...

    setuju banget sama disturbing-nya Anti Christ,
    ane udah kebal banget sama gore-nya Saw dan semacemnya..tapi pas liat Antichrist bner2 ngilu,bahka sampe mau tutp mata segala *plak* pas adegan klimaks akhir tuh yg ps kakinya si Willem Dafoe di bolongin trus sma scene gunting..

    adegan kejar-kejaran di bawah pohon tuh juga bikin senewen sendiri ^^

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan