7 Maret 2011
JIKA saya mengatakan orang lain bodoh, apakah saya sudah mengejawantahkan diri sebagai orang pintar? Maksudnya dukun, Kang? Maksudnya orang cerdas bin intelektual. Terus situ mau bahas apaan? Begini Cin.. Lumayan banyak yang nanya ke saya, apakah cerpen buatan saya itu (dalam rubrik Cerpen Samandayu) adalah pengalaman saya? Bukan, dong ..
Anehnya lagi, pas saya nyeritain cerpen pembunuhan atau hubungan heteroseksual, jarang banget ada yang ‘nuduh’ dan bilang: “kamu psikopat, ya?” atau “kamu udah pernah ML, ya?” Sampai sejauh ini saya bisa ngerti. Sebab yang nanya rata-rata cowok. Itu pun cowok ‘tertentu’. Lha, kenapa pake tanda kutip, Sam? (Buset nama panggilannya keren banget. Sam. Samantha apa Samanudin?).
| Garuk Aku dengan Cintamu. |
Kenapa saya kasih tanda kutip. Karena mereka telah saya nilai sebagai:
1. Maho yang penasaran dengan identitas penulis dan berharap penulis bisa satu orientasi seksual dengannya.
2. Orang yang lemah wawasan atau lupa dengan pelajaran Bahasa Indonesia waktu di SMA. Sebab yang namanya cerpen adalah cerita pendek, artinya hasil dari karya sastra. Dan karya sastra adalah karya imajinatif, atau khayalan, rekaan, karangan. Dan meskipun karangan, bukan berarti tak menawarkan apa-apa. Nyaris seperti film yang kamu tonton. Ada yang komedi, humanism, horor. Nah, bedanya karya sastra itu berupa teks saja sementara film audio visual.
3. Kurangnya pemahaman tentang proses kreatifitas penulis. Penulis memang kerap memasukkan pengalaman pribadinya ke dalam karya sastranya. Ini pun sudah mengalami adukan dan filtrasi hebat dari bumbu-bumbu imajinasi. Artinya tidak murni pengalaman penulis. Pengalaman di sini adalah pengalaman hidup, pengalaman membaca, dan pengalaman menyimak. Jadi agak tolol kalau seseorang mendefinisikannya hanya sebatas PENGALAMAN PRIBADI.
4. Pembaca tidak jeli. Dia mungkin nggak baca ada titel Cerpen. Atau mungkin dia nggak tahu cerpen itu apa.
Parah.
Terkadang saya bilang, untuk menulis dunia pelacuran, kamu nggak harus jadi pelacur. Untuk ngerti dunia gaib, kamu tentu nggak harus bunuh diri dulu, mati, terus jadi hantu. Maksud saya, sebagai penulis, kita bisa menceritakan ‘apapun’ berdasarkan referensi dari sekitar, cerita teman, pengalaman kawan, atau dari apa yang kita baca dan kita tonton. Kalaupun ada yang memasukkan pengalaman pribadi penulis, itu pun hanya di tema cerita tertentu. Sebab banyak salah kaprah terjadi perihal cerpen ini. Berikut akan saya jabarkan kesalahkaprahan tersebut.
1. Cerpen/cerbung/novel adalah Autobiografi
Cerpen adalah cerita pendek fiksi. Autobiografi adalah biografi/pengalaman/riwayat hidup yang dibuat sendiri oleh penulisnya. Biasanya kesalahkaprahan ini terjadi saat cerpen dibuat dengan gaya naratif dengan kata ganti ‘aku’. Yakni ketika penulis ‘hidup’ dalam satu tokoh rekaannya. Misalnya saya hidup dalam tokoh Altar yang gay. Maka saya pun menceritakan kehidupan Altar seolah diri saya adalah Altar. Efeknya, pembaca awam akan nyangka kalau Altar adalah refleksi dari saya. Singkatnya, pembaca awam akan menganggap saya gay.
Hmm kalau ada yang belum tahu beda cerpen, cerbung dan novel. Berikut akan saya jelaskan dengan singkat. Cerpen singkatan dari cerita pendek, cerbung singkatan dari cerita bersambung, novel adalah cerita panjang. Dan cerita kesemua jenis karya sastra itu adalah fiksi.
2. Cerpen adalah Refleksi Utuh Penulis
Yap, cerpen tentu saja erat kaitannya dengan latar belakang penulis. Latar belakang yang dimaksud adalah (seperti yang saya bilang sebelumnya): pengalaman membaca, menyimak, mengamati lingkungan, sekedar mendengarkan curhatan teman. Jadi tidak melulu berdasar kisah hidup personal. Lalu bagaiamana dengan Andrea Hirata yang menulis Laskar Pelangi? Bukankah Ikal adalah refleksi dirinya? Yap, benar. Tapi juga seperti yang saya bilang sebelumnya, penulis tidak melulu ‘mengangkat kisah hidup sendiri’ dalam setiap cerpen/novelnya.
Dan Laskar Pelangi adalah kisah FIKTIF yang berdasar dari sekelumit kehidupan masa kecil penulisnya. Sebab seri novel selanjutnya, Andrea mengeksplorasi para tokohnya lebih jauh. Dan ini ‘murni’ dari imajinasinya/membuat rekaan masa depan para tokoh-tokohnya. (Laskar Pelangi tidak hanya tetralogi. Asal tahu saja. Setelah empat novelnya keluar, ada lagi dua novel sambungannya. Buset dah).
Saya kerap menerima ping chat dari teman pembaca yang menanyakan hal ini. Dan sudah saya jelaskan kalau itu fiksi. Tapi anehnya mereka masih aja keukeuh (kuat) mempertahankan pendapatnya kalau cerpen saya adalah pengalaman hidup saya. Hmmph.. Kalau udah gini gimana nggak bête? Itu orang kayak nggak pernah makan bangku sekolahan apa? Buset, keras amat, Sam? Huahua.. Saya kan juga punya sifat ego. Habisnya mereka malah mikir kalau jawaban saya adalah jawaban untuk ‘menyembunyikan identitas’ atau jawaban kamuflasif. Maksud lo? Wong dimana-mana definisi cerpen itu begitu: karya fiktif. Mereka pikir saya ngarang-ngarang sendiri apah? Hahhaha… Sabar, Paak… Saya juga bilang ‘lain kali kalau baca lihat-lihat dulu rubriknya.Kalau Cerpen berarti fiksi, kalau Personal baru itu pengalaman saya’. Hmm, tapi beberapa kayak masuk telinga kanan keluar lewat telinga kiri.Ayo, Belajar Bahasa Indonesia!
Okey, anak-anak! Buka seragam kalian! Euh, maksud Bapak..
Buka buku Bahasa Indonesia kalian halaman 96.Mari kita belajar mengenai Sastra!!
Dilansir dari Wikipedia, sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar sas- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.Yang agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra.
Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.Dan bisa Bapak simpulkan,yang termasuk dalam kategori Sastra adalah:
Sastra tulis: novel, cerpen, cerita, puisi, syair, pantun, kaligrafi, teks drama, artikel opini, skripsi, tesis, dsj.
Sastra lisan: cerpen/cerita/pantun/syair yang dibacakan, musikalisasi cerpen/puisi (cerpen/puisi yang dilagukan, diarransemen dengan musik), dsj.
Dan sastra dibagi menjadi dua genre: Sastra Imajinatif dan Nonimajinatif.
Sastra Imajinatif: prosa (novel/cerpen, puisi, drama).
Sastra Nonimajinatif: Feature, artikel, opini, karya ilmiah.
Nah, sampai sejauh ini mengerti anak-anak?!!!!
“Mengerti, Paaak!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Bagus! Sekarang bubar semuanya!! BUBAAAR!!!
Bonus:
1. Djenar Maesa Ayu memang tidak bisa dibandingkan dengan Ayu Utami. Djenar lebih fasih menceritakan kisah kekerasan seksual, pengalaman pahit perempuan yang kebanyakan datang dari perempuan di kota metropolitan. Ayu lebih berbobot dan Ayu tidak hanya berbicara masalah seks. Djenar pernah menulis novel berjudul Nayla, novel yang menurut saya dan sebagian kritikus sastra sebagai novel yang jelek. Di sana, Djenar 'menyamar' sebagai tokoh Nayla. Sosok penulis yang menjadi selebriti lengkap dengan kisah traumatis. Masyarakat yang kurang pemahaman akan menyangka Nayla adalah 'bentuk lain' atau sisi lain dari kehidupan Djenar. Namun yang punya pemahaman waras akan menganggap bahwa Nayla hanyalah karya sastra yang tidak ada hubungannya dengan pengalaman personal penulisnya. Sebab mereka sudah tahu definisi karya sastra itu seperti apa. Jadi agak aneh kalau saya pernah disebut orang yang punya kepribadian ganda lantaran suka jadi bunglon di berbagai tulisan saya.
2. Lumayan banyak cerpen atau novel yang berbicara masalah homoseksualitas. Beberapanya ditulis oleh lelaki juga sehingga 'rentan' dikatain homo karena nulis soal homo. Sastrawan Seno Gumira Ajidarma pernah menulis cerpen bertama gay dalam kumpulan cerpennya 'Sebuah Pertanyaan untuk Cinta'. Novelis yang kurang tersohor, Bagus Utama, pernah membikin novel 'Manusia-manusia'. Novel full menceritakan kisah gay secara eksplisit dan frontal. Sementara di kancah sastra populer kita mengenal Andrei Aksana, yang sukses secara best seller untuk bukunya 'Lelaki Terindah'. Saya sih, nggak pernah baca itu buku sebab pas lihat kaver dan sekilas aja udah males. Apalagi itu foto penulisnya meuni asa heboh ditaro gede-gede di belakang buku. Ini hak penulis sih. Tapi males aja ada novelis yang sempat bikin CD album score untuk novelnya (kalau nggak salah dalam novel dia yang berjudul Abadilah Cinta). Dari kacamata kreatifitas ini sih, sah-sah saja. Dewi Lestari juga membuat CD album yang berisi lagu-lagu yang berdasar cerpen, judulnya CD dan buku 'Recto Vesto'. Dan ini terbilang bagus.
3. Penulis perempuan yang menceritakan kehidupan lesbian adalah Ayu Utami dalam 'Saman'. Hal ini juga dilakukan Djenar untuk novel 'Nayla'. Namun porsi ceritanya tidak dominan sehingga keduanya tidak 'dicurigai' lesbian. Lalu bagaimana dengan penulis perempuan yang menulis tentang homoseksual? Adalah Dee dengan 'Supernova: Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh'. Di sana ia memperlakukan sepasang kekasih gay sebagai narator, atau pencerita. Dee 'merasuk' ke dalam dua tokoh sekaligus yang gay dan saling cinta.
4. Sebenarnya menghubungkan karya seseorang dengan kehidupan/latar belakang si pembuat karya adalah hal yang wajar. Itu berarti orang-orang menaruh apresiasi kepadanya. Ayu Utami menulis kalau ia akan lajang 'selamanya' dalam buku eseinya 'Si Parasit Lajang'. Ini membuat beberapa orang menduga ia lesbian beneran. Djenar dan Dewi 'nggak akan' dicurigai lesbian karena keduannya sudah pernah bersuami. Jadi adalah wajar jika pembaca (awam) menghubungkannya pada ranah pribadi. Sebab pula mereka juga tidak hanya bercerita di satu aspek kehidupan/ satu problematika saja, melainkan beragam.
Yang jelas, nikmati saja karyanya, dan jangan usil dengan mengubek-ngubek areal pribadi seorang artis (baca: seniman yang di dalamnya penulis/sastrawan). Berspekulasi boleh saja, menduga, mengira, adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita. Dijadikan obrolan juga boleh. Asaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal... Jangan ketahuan sama yang kalian gunjingkan..
| Mhuahahaa!! |
Foto: sastrajawa.webs.id/google
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



3 Komentar
oh iya kak, tadi baca cerpen djenar yang "wong asu"
nama fb saman terilhami dari sana bukan ?
yap. benar ^_^
wow.. asiiik juga yaaa..
jangan lupa juga kunjungi blog saya
www.niceliterature.blogspot.com
Posting Komentar