- Home>
- Review Film >
- Plus Minus Avengers: Age of Ultron
5 Mei 2015
MENONTON film Hollywood di bioskop ibarat makan di restoran mahal dengan harga terjangkau dan keluar dengan perut kenyang. Tidak mengherankan penonton Indonesia lebih memilih menggunakan uangnya untuk film Hollywood, film Indonesia-nya asal jadi, pemain itu-itu saja, dan miskin bujet. 40 ribu sekian untuk sebuah FTV? Yang benar saja?
Baru-baru ini saya menonton sekuel The Avengers dan tertarik untuk me-review-nya karena hasrat ngeblog lagi balik mood. Avengers of Ultron dibuka dengan duel antara Tim Avenger dengan tentara Wolfgang di markas Hydra. Misinya adalah merebut tongkat Loki mengingat Hydra akan membentuk manusia super. Dalam misi itu ternyata ada dua sosok manusia super yang berhasil dibentuk Hydra. Mereka adalah sepasang kembar Pietro yang bisa melesat cepat seperti The Flash, dan Wanda yang memiliki kekuatan pikiran (mirip salah satu anak dari film The Incredible). Si kembar ini dendam kesumat pada Stark karena saat orangtua mereka meninggal akibat senjata yang dibuat Stark.
Loki akhirnya ditemukan. Stark dan Bruce kembali ke markas. Loki digabungkan dengan Javire/sistem komputer yang dimiliki Stark. Saat Stark dan Bruce lengah dan semua orang berpesta, masalah dimulai karena otak komputer milik Stark yang kemudian dikenal dengan Ultron, memiliki motivasi sendiri. Ia mematikan Javier dan Ultron berpikir Avenger adalah musuh yang harus dibasmi. Ultron berpikir dunia akan lebih indah jika Avengers tidak ada.
Ultron hidup dalam robot buatannya sendiri. Dalam pekembangannya ia berpikir jauh dan ingin menjadi manusia setengah robot. Atas bantuan si kembar hal itu bisa dilakukan. Wanda yang tahu isi pikiran Ultron saat "jadi" manusia, terkejut karena Ultron ternyata ingin membuat dunia hancur lebur. Mirip kasus meteor menyerang jaman dinosaurus dan dimulailah dunia baru: dunia robot.
Sejak saat itulah misi Avengers lebih berat dari sebelumnya. Selain sempat terpengaruh hipnotis Wanda, mereka juga harus menyerang robot-robot ultron, dan menggagalkan satu kota yang sempat diangkat ke udara untuk dijatuhkan.
Plus
Intensitas bagian aksi dalam film sekuel ini lebih dominan dan gila-gilaan. Dalam opening saja kita disuguhi aksi kompak Avengers dalam lima menit. Soal visual efek jangan ditanya. Tahun 2012 lalu The Avengers masuk nominasi Best Visual Effect Oscar tapi tidak menang. Sepertinya 2016 film ini akan masuk ke nominasi yang sama.
Tidak seperti film pertama, tokoh Hulk kini lebih terlihat. Aksi Bruce yang marah dan mengamuk menjadi bagian paling menegangkan sepanjang film. Apalagi saat Iron Man berubah menjadi Iron Man raksasa seukuran Hulk atas bantuan Veronica, satelit robot yang bertugas untuk membantu Iron Man. Dengan tubuh raksasa Iron Man, sepertinya dia bisa berjuang sendiri tanpa timnya. Tapi ini adalah Avengers, semuanya harus turun tangan.
Selain aksi Iron Man VS Hulk yang sangat mendebarkan, ada pula adegan Avenger berusaha menggalakan rencana Ultron membuat manusia robot. Adegan itu dilakukan di satu kota yang ada di Korea. Warga Korea Selatan pasti bangga tempatnya dijadikan setting penting dalam film maha-epic ini.
Adegan kota yang terangkat juga menjadi bagian yang sangat mendebarkan. Mengingatkan kita pada efek fim 2012.
Minus
Peran Stark yang pada film pertama selalu dapat porsi dominan, kini berkurang. Selera humornya juga klise dan dipaksakan. Adegan-adegan lucu yang pernah ditemukan dalam The Avengers pertama, jarang ditemukan pada sekuelnya.
Bagian Hawkeye yang bertemu istri dan dua anaknya digunakan agar film terlihat manusiawi. Tapi tidak ada rasa sedihnya di sini. Penonton seperti tiba-tiba diajak untuk melihat keluarga salah satu Avengers, dan yang lain pada "jomblo".
Hubungan Bruce/Hulk dan Natasha/Blatk Widow juga sangat dipaksakan. Tidak ada chemistry yang nyata di dalamnya. Mentang-mentang dalam film pertama Natasha sempat ketakutan setengah mati dengan aksi berang Hulk, kreator memasukkan "bumbu cinta" lewat Natasha dan Bruce. Bagian ini sangat tidak berhasil. Menurut saya lho, ya.
Oh ya, ada bagian yang sedikit mengganggu saat aksi Avengers mengevakuasi kota. Hadir ibu muda dengan baju berleher terbuka dengan lipatan dada kemana-mana. Ini mengganggu jalannya adegan aksi. Mungkin kreatornya kepingin ada hal-hal seksi. Belakangan diketahui kalau wanita itu punya anak yang nyempil di reruntuhan bangunan, yang kemudian diselamatkan Hawkeye.
Bagian-bagian klise Avengers menyelamatkan warga kota memang harus ada. Termasuk menyelamatkan seorang wanita dari ketinggian. Sementara banyak orang yang sudah jadi korban. Namanya juga keterbatasan. Di sisi ini kreator ingin menegaskan sosok superhero pada lazimnya: pahlawan yang menyelamatkan masyarakat sipil.
*
Secara keseluruhan Avengers: Age of Ultron sangat impresif. Tapi yang bisa diingat hanya sebatas bagian-bagian aksi. Maklumlah, ini kan film superhero. Selanjutnya sisi drama film ini kurang berhasil. Memang ada tekad kuat dari departemen cerita untuk menguak sisi personal tim. Tapi jika dipaparkan parsial malah jadi tidak sampai ke penonton.
Yang menarik, beberapa penonton masih menunggu setelah credit tittle awal. Biasanya ada scene pamungkas yang menandakan clue untuk film selanjutnya. Sayang pekerja bioskop yang jumlahnya ada 10 itu langsung berdiri di samping layar seakan menyuruh kami semua keluar. Kebiasaan, nih. Tidak seperti Blitz Megaplex yang akan mematikan lampu jika semua penonton sudah keluar.
Pecinta Avengers hanya tertarik melihat scene akhir karena rumornya Spiderman muncul dalam scene pamungkas. Ternyata memang tidak ada. Atau memang ada setelah ending tittle selesai. Sampai detik ini bergabungnya Spiderman dalam tim Avengers masih isu. Avengers sendiri sudah kebanyakan superhero. Dalam sekuel ini saja muncul tokoh Wanda.
Jadi berapa skor untuk film ini? Sepertinya delapan dari sepuluh. Maklumlah saya lebih suka genre horor atau animasi.
*
BONUS ARTIKEL
Luna Maya untuk Black Widow? WTF
Saat premiere film Cinderella, Sandra Dewi didapuk untuk jadi sejenis brand ambasaddor untuk film tersebut. Saat premiere pertama di satu bioskop, dia muncul. Hal ini seperti trik marketing baru untuk menggaet penonton. Padahal tanpa kayak beginian pun orang-orang biasanya tertarik menonton film berkualitas.
Akan tetapi saat tahu brand ambasaddor Avengers 2 adalah Luna Maya, matilah kau. Orang seperti ini kenapa harus mengotori citra luks dan epiknya Avengers? Kenapa tidak artis lain saja untuk dikatakan mirip atau mewakili Black Widow. Natasha Ramanof adalah perempuan misterius, tangguh, 'martir', sportif. Luna? Selain kasus heboh tahun 2010 yang tidak pernah diakuinya itu, apanya yang sportif? Luna bahkan selalu tampil 'tengil' di setiap 'kesempatan'. Dengan aksi membenarkan rambut layaknya wanita nakal.
Semoga lain kali pihak 21 atau siapapun itu, lebih selektf lagi memilih brand ambasador. Jangan sampai nanti Ariel yang akan dijadikan brand ambasador untuk film superhero lain. Makin bokeplah Indonesia.
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

3 Komentar
Setuju banget sama keluarga Hawkeye & pairing mendadak Hulk-Natasha. Saya nontonnya cuma cengo, laah...
JARVIS (Just a Rather Very Intelligent System), bukan javier
Spiderman juga muncul, tapi hanya cuplikan beberapa menit di akhir credit.
Posting Komentar