• 7 Januari 2013

    BANYAK pengguna internet yang memiliki kemampuan menulis karya fiksi. Mereka datang dari berbagai usia, latar belakang, dan gaya. Ada yang teenlit/remaja, fanfiction, religi, humanis dan lain sebagainya. Kali ini saya berbicata sebagai pengamat awam.Mengingat dalam beberapa tahun terakhir, saya lebih sering membaca cerpen (baik di koran maupun di media internet) ketimbang menulis cerpen.

    Sebenarnya saya pernah menulis artikel beginian beberapa tahun lalu. Tapi entahlah, saya sendiri malas membuka kembali. Yang jelas saat ini saya lebih berfokus pada 'kekeliruan' seorang cerpenis dalam membuat karya fiksinya. Bagaimana agar karya tersebut tersimak indah bagi pembaca.

    Tata Teknis

    Beberapa di antara kita mungkin sudah sangat mengatur cerpen kita. Mengenai kekonsistenan tata letak, pungtuasi, spasi dan tetek bengek lainnya menyoal EYD. Hal ini lebih sering tidak dianggap serius oleh cerpenis muda. Yang memang bertujuan untuk 'menulis sebagai have fun'. Pungtuasi yang tidak benar, tidak dianggap masalah, selama tipografi/tata letak diletakkan dengan baik. Namun jika mereka selalu tak mau tahu, mereka tak akan pernah berkembang.

    Sibuk Akan Gaya Bahasa

    Bagi sebagian cerpenis, adalah penting berpuitis-puitis ria dalam membuat cerpennya. Ia menganggap, akan menjadi indah dan sastrawi jika cerpen disusupi banyak kalimat-kalimat 'surgawi' yang bermajas tinggi. Namun sayang, karena melulu berkutat pada hal ini, konten pun terbengkalai. 

    Cerpen-cerpen yang sering dimuat di Koran Kompas misalnya, lebih sering yang memiliki muatan puitikal, atau permainan kata layaknya puisi. Deretan kata ini pun mengundang decak kagum saya sebagai pembaca. Namun mereka tidak kehilangan arah dalam menuntun alur ceritanya.

    Sementara di berbagai tipikal koran lain, permainan bahasa itu tidaklah begitu berpengaruh selama konten atau alur cerita, dinilai kokoh dan baik. Sehingga saya bisa menyimpulkan, cerpen yang baik tidak harus melulu puitik. Salah-salah bisa jadi picisan.

    Terlalu Banyak Dialog

    Untuk cerpen anak-anak atau remaja, hal demikian adalah hal yang dimaklum. Bagaimanapun membaca deretan dialog lebih asyik ketimbang membaca deskripsi. Setuju tidak? :D Sementara cerpen dewasa lebih mampu memosisikan deskripsi dan dialog dengan seimbang dan selaras. 

    Namun meski demikian, hal itu tidak mutlak. Sekali lagi, jika konsep cerpen kokoh, dominasi salah satunya (dialog dan deskripsi) pun tak masalah. Asal jangan full narasi dan full dialog.

    Konsep Kemana-Mana

    Dalam cerpen, kita tidak bisa membicarakan banyak hal. Inilah yang membuat beberapa cerpenis kehilangan ide ceritanya sendiri dan sibuk membicarakan 'hal lain'. Maksud saya adalah, ketika kita berhasil untuk straight to the point, itulah karya yang barangkali bisa menjadi cerpen yang baik secara obyektif.

    Konsistenlah terhadap satu konsep cerita. Yakni ketika kita paham, mau dibaa kemana cerpen ini. Apakah membicarakan tentang anu, atau tentang anu. Janganlah bercabang-cabang.

    Mengemas Data Otentik

    Untuk membuat cerpen, seseorang perlu data-data kongkret sampai riset segala. Baik pustaka internet maupun observasi. Itu sangatlah baik. Ada pula yang memang sudah kaya wawasan, sehingga tak susah menulis cerpen yang diinginkannya. 

    Tapi ada cerpenis amatiran yang merasa perlu memberikan data yang kongkret sehingga kerepotan mencari sumber. Katakanlah setting tempat yang tak pernah didatanginya. Padahal hal demikian bisa 'diakali' dengan permainan bahasa, atau menyampulnya dengan balutan dialog. Sehingga kita sebagai sang pencerita (orang ketiga) menyerahkan kesahihan di tangan para aktor (tokoh).

    Bagi sebagian cerpenis baru, memasukkan data-data hasil riset juga dianggap sesuatu yang penting. Tapi hey, kamu bahkan tidak sedang membuat karya ilmiah. Jadi santai saja. :D

    *




    2 Komentar

    Anonim mengatakan...

    suka bingung masalah pungtuasi, kapan-kapan bikin yang artikel tentang penggunaan tanda baca, donk :-)

    Unknown mengatakan...

    waduh saya tidak memperhatikan ini semua. saya hanya mengandalkan imajinasi+membaca anime dlm membuat cerpen hehehe

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan