• 2 Juli 2012

    BELUM pernah Regina menemukan pernyatan yang datangnya keluar dari seorang editor profesional. Editor  yang menaungi bagian anak-anak itu berkata saat mengecek naskah yang sudah diedit anak buahnya di layar komputer. "Wah, komanya masih kebanyakan, nih!" Regina yang kerap dipanggil Ranginang di kantornya hanya bisa menelan ludah pahit. Layaknya bos, tentulah pekerja upahan seperti dia layak dikatakan begitu, apalagi dengan pemberian nasi kotak yang sempat diributkan saat orang-orang kesetanan deadline.


    Di suatu hari, Regina mendapatkan pekerjaan. Dia diberi instruksi oleh asisten editor yang tentu saja dibawahi pula oleh editor senior. Instruksinya klise dan ia sendiri sudah mengaplikasikannya di puluhan novel yang sudah ia edit. Sang asisten editor itu berkata, "tolong kurangi tanda baca."

    Regina mengharapkan penjelasan dan solusi, sebab setahunya belum ada aturan tertulis yang diterapkan penerbit khusus untuk novel-novel anak. Namun dari tiga rapat yang dihadirinya, semuanya hanya perkara basa-basi bin klise ketika editor berupaya membakar semangat para proofreader, demikian editor buruh disebut. Sang editor bahkan sempat berkata akan memilih proofreader siapa saja yang terbaik dan yang menjadi pemenang akan mendapatkan reward. Namun ternyata itu hanya isu. Ya, tepat di sembilan bulan yang lalu. 

    Yang lebih menggelikan, asisten tersebut berkata, yang mungkin perwakilan dari orang-orang redaksi: "di nopel bagian anak ini memang dikenal banyak koma." Regina langsung menggelinding, JADI BAGIAN LAGI KOMANYA MINIM GITU???

    Editor atau siapapun yang tidak berkepentingan dalam soal teks dan perbahasaan, mungkin akan leluasa mengatakan kalau: sangat tak enak sebuah novel penuh dengan tanda koma. Sebaiknya mereka berpikir atau menelisik ketimbang harus mempeributikan hal yang sebenarnya sudah jelas tertuang secara teknis dalam KBBI. Sementara, penerbit lain tidak menggunakannya. Maka dari itu Regina hanya ingin kejelasan soal aturan penulisan yang harus dibuat demi kebaikan bersama. Jangan maunya perkara beres!

    Misalnya di tempatnya bekerja, yang benar adalah kalimat:

    "Masa, sih, begitu? Kok, aku enggak tahu, ya?"

    dan di penerbit lain akan jadi:

    "Masa sih, begitu? Kok, aku enggak tahu?

    bahkan di penerbit novel pop/teenlit bisa jadi tanda koma itu dikeparatkan. Misal:

    "Masa sih begitu? Kok aku enggak tahu?'

    Lalu bagaimana cara yang efektif menurut Regina? Menurut idealismenya, berdasar permintaan editor yang ia yakin juga direpresi pihak atas, kalimat itu akan menjadi:

    "Masa begitu? Aku enggak tahu."

    Mungkin orang-orang sudah sangat mengerti kosakata ucapan seperti: deh, dong, kok, eh, ah, argh, oh, ups, ssst. Nah, aturannya kepenulisan yang baik dan benar menurut EYD adalah: Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
    contoh: O, begitu. Wah, bukan main.

    Tak hanya itu! Koma juga dipergunakan jika kata hubung ada di awal kalimat. Conto:

    "Aku ingin memasukinya. Tapi, bisa saja dia mengamuk dan ngesot."

    atau bisa sangat mungkin menjadi kalimat majemuk bertingkat:

    "Aku ingin memasukinya, tapi bisa saja dia mengamuk dan ngesot"

    di penerbit lain bahkan hal baku di atas tidak diterapkan:

    "Aku ingin memasukinya. Tapi bisa saja dia mengamuk dan ngesot.

    Partikel Bahasa untuk Novel

    Seperti yang Regina sebutkan, partikel bahasa itu lebih sering ada dalam dialog novel anak-anak dan remaja/teenlit. Sukar menemukannya dalam novel sastra atau dewasa. Jika pun ada, lebih sering dialog novel dewasa atau terjemahan itu punya partikel bahasa prokem yang minim.

    Partikel dalam bahasa nopel anak diperlukan agar dialog berbau anak-anak dan agar tidak kaku. Namun harus tersendat gara-gara editor malas memberikan kaidah tertulis sendiri.

    Regina tak Mengerti

    Regina sebenarnya tak mengerti, tapi dia juga tak bisa mengelak. Kerja editor yang dikenalnya tidak lebih dari menyeleksi naskah (mungkin lebih cocok orang tersebut disebut redaktur), si bos ini juga punya editor freelance yang punya kinerja yang terkadang tidak jauh lebih baik. Padahal, proofreader punya job desrcription mengecek. Namun pada kenyataannya melakukan pekerjaan keras ala editor seharusnya. Mereka tidak hanya memperhatikan tanda baca, tapi konten. Dan ketika novel itu terbit dan sang penulis berterima kasih pada editor yang telah mengedit, Regina yang hanya buruh, cuma bisa tertawa geli.

    Regina Jadi Juara

    Kesal dengan pekerjaannya, Regina mengikuti ajang pencarian bakat, dan masuk ke dalam dua besar. Apakah Regina akan menang? Ya, dia menang. Dia tak lagi jadi buruh yang bahasa kerennya prilancer. Tapi kesuksesannya hanya sementara saja. Dia lebih sering dipakai offline dan menguap bagai uap tinja.

    *




    1 Komentar:

    Diabolus_Bonus mengatakan...

    O, emangnya, pemakaian koma, sering, bikin orang lain, gk ngerti dari maksud penulis, yang sebenarnya...

    Kayak baca dengan nafas yg terputus2...

    Terengah-engah...

    hahahaha...

    Renginang? makanan yg kayak beras, digoreng??

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan