- Home>
- Review Film >
- Standing Applause untuk Di Bawah Lindungan Ka'bah
29 Agustus 2011
Paling tidak inilah film satu-satunya yang waras dan epik di pertengahan tahun ini. Kalau tahun lalu yang menonjol adalah Sang Pencerah, maka tahun ini adalah Di Bawah Lindungan Kak’bah (DBLK). Entahlah, semoga di bulan-bulan berikutnya, projek Riri Riza Bumi Manusia, Nia Dinata Arisan 2, atau karya Joko Anwar dan Mo Brother bisa rilis secepatnya. Ini agar saya bisa bikin jadwal nonton. Maklum, saya Cuma nonton film yang kemasannya kelihatan bagus.
Dan inilah yang saya alami. Saya menonton DBLK nyaris tanpa ekspektasi. Sebab saya tahu gimana gaya Hanny di film-film sebelumnya. Namun ketika saya menyimak DBLK, saya berani memberi tepuk tangan berdiri usai menonton (ah, dramatisasi tulisan, sih. Nyatanya di bioskop saya Cuma bisa apus air mata). Yah, ketahuan, deh. Ini memang film tragis yang bikin nangis. Soalnya saya jarang banget mewek pas nonton. Terakhir mewek film Indonesia yah film Sang Pencerah dan Perempuan Punya Cerita.
Sinopsis

Film dengan setting tahun 1920-an di daerah Padang ini bercerita tentang Hamid (Herjunot Ali) dan Zainab (Laudya Cyntia Bella) yang jatuh cinta satu sama lain. Sayang, keduanya tidak dapat bersatu karena perbedaan keadaan. Yang satu datang dari keluarga miskin, yang satunya lagi datang dari keluarga kaya raya. Ketika keduanya sedang berdua di pinggir pantai, Zainab menanyakan tentang impian terbesar Hamid. Hamid bilang bahwa ia ingin naik haji. Zainab agak kecewa, sebab ia berharap Hamid ingin mempersuntingnya. Zainab pun memaklumi kemudian menitip doa jika Hamid sudah sampai di Mekah. Zainab bilang, bahwa ia ingin menikahi seseorang yang mencintai dan dicintainya.
Nyaris seperti lakon Siti Nurbaya dan Romeo dan Juliet, Zainab pun dijodohkan orang tuanya. Sebesar apapun cinta Hamid, ia harus menyerah pada keadaan. Terlebih saat ia diusir dari desa karena dituduh berbuat tidak senonoh kepada Zainab. Yap, saat itu Zainab kecemplung sungai saking keburu-burunya pengen nonton Hamid yang sedang lomba debat di Surau. Teman Zainab pun meminta tolong maka semua warga pun berlarian ke tepi sungai. Sayang, yang menolong hanya Hamid seorang. Zainab selamat dengan cara yang dipandang aneh oleh orang-orang dusun itu. Yap, Hamid memberikan nafas lewat mulut untuk Zainab. Dan semua warga melihatnya risih. Mereka berpikir Hamid sudah melakukan tindakan zina.
Pembantaian
Film ini punya sinematografi dan tata artistik yang bagus. Simak art direction untuk perkampungan dan stasiun kereta. Begitu pula dengan perjalanan ibadah haji serta setting kakbah. Terasa begitu hidup dan ‘nyata’ ketimbang film-film sebelumnya sekelas Ayat-Ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasbih. Mengenai akting, saya pikir akting yang lumayan menonjol di sini adalah Jenny Rachman. Meskipun di salah satu scene dia terlihat berusaha keras menitikkan air mata. Sementara Herjunot Ali dan Laudya Cyntia Bella tampak berusaha terlihat natural di scene awal, namun mereka sukses menguras emosi penonton terutama di bagian ending.
Menonton film ini, saya juga jadi tahu alay-alaynya remaja tahun itu. Yaitu ketika kamu bahkan nggak boleh pegangan tangan saat PDKT. Hamid dan Zainab bahkan ‘mesra-mesraan’ dengan papan yang menjadi pemisah. Itu juga merupakan simbol kalau cinta mereka memang terhalang adat dan agama. Begitupun saat mereka hujan-hujanan di pasar. Saya sempet bilang apa-apaan, tapi itulah romantisme murni di zaman itu. Meski sayang, saat mereka saling ketawa karena saking bahagianya berduaan, saya melihatnya seperti terlalu berlebihan. Itu lumayan terlihat pop (kekinian).
Sementara itu Herjunot dan Bella juga para aktor favorit saya. Saya memuji akting Junot dalam Realita Cinta dan Rock and Roll dan Bella untuk Virgin. Namun, chemistry keduanya terasa kurang greget. Meski demikian, saya salut dengan beberapa aspek teknis film ini. Dimulai dengan skenario yang dikerjakan Titien Wattimena dan Armantono. Soal penggarapan tata artistik, jangan ditanya. Tata kamera dan editing pun patut diberi apresiasi. Namun sayang karya epik ini harus kehilangan prestisiusnya ketika terkena sindrom Produck Placement. Apakah itu?
Pernah lihat, kan, film yang dalam beberapa scene-nya muncul merek-merek suatu produk terkenal. Posisinya sengaja dibikin sesuai skrip. Tapi kita yang waras tahu lah, kalau itu tuh jualan. Misalnya, sang aktor yang haus tiba-tiba minum teh botol merek anu, lengkap dengan merek teh botol yang kelihatan kamera. Paling jijik sih, saat nonton Ketika Cinta Bertasbih (entah yang kesatu atau yang kedua). Tapi film itu penuh dengan iklan terselubung.
Di film barat pun itu bukan sesuatu yang aneh. Contohnya film E.T yang menunjukkan permen cokelat MnM. Di video musik pun udah nggak aneh lagi. Tahu dong, situs jodoh Plenty of Fish, itu muncul di video Telephone Lady Gaga, We Are Who We Are Kesha, dan Hold It Against Me Britney. Tapi, apa jadinya kalau product placement itu merusak keindahan film.
Ini yang terjadi pada DBLK. Yaitu ketika sedang mempersiapkan acara, seseorang menuangkan kacang merek Garuda. Lengkap dengan dialog “beli kacang garuda, yah”. Yah, pas di bagian ini saya masih bisa terima. Dan saya pun mikir itu kacang emang udah ada di tahun 1920-an, toh abis nonton, saya bisa googling untuk mengecek kebenarannya. Saya pun kembali terbenam dalam kenikmatan alur cerita. Namun ada lagi scene ketika ada obat nyamuk bakar yang menyala, dan itu mereknya Baygon. Ah, saya baru tahu kalau baygon itu muncul tahun segitu. Entar deh, saya googling. Nah, pas ada scene bapak-bapak makan GERRY CHOCOLATOS, whuahahahahah!! Saya rasanya kepengen buka baju terus lemparin ke depan. Harusnya itu bapak ngomong “mamamia lezatos” dong. Cuma sayang, dia Cuma mengkriuk itu cokelat. Uuumm…
Beginilah, kalau industri pelem kita kurang dana. Mau minta bantuan pemerintah pun setahu saya cukup susah, yah. Maka produser perlu ‘minta bantuan’ perusahaan lain. Yah, saya awam untuk urusan ini. Tapi yang jelas emang begitulah aturannya. Kan kayaknya sutradara harus patuh sama produser. Film Identitas dan Kentut-nya Aria Kusumadewa saja harus pake banyak iklan nggak penting. Dan sang sutradara pun mengaku tidak nyaman dengan itu semua. Dan saya pikir, Hanny juga merasakan hal yang sama (kayaknya, sih). Soalnya masak iya, setting udah sedemikian bagus, akting oke, malah harus dirusak dengan sepotong cokelat kesukaan Nikita Willy? Huft..
Apapun, film ini patut diapresiasi dan pantas dijadikan tontonan keluarga. Soalnya ini adalah film yang sopan tanpa kiss scene. Selain itu, dijamin bikin mewek. Soalnya film ini diangkat dari novel karya Buya Hamka dengan judul yang sama. Mungkin orang-orang angkatan sebelum saya tahu benar film aslinya. Tapi saya belum pernah menonton jadi tidak bisa membandingkan meski saya berani bilang kalau ini adalah film remake Indonesia paling berhasil.
Catatan Nggak Penting
Sebelumnya saya janji ketemuan dengan sahabat saya. Saya berangkat ke Bank BCA Jalan Juanda Bogor dulu untuk jadi nasabah. Sayang, pas saya nanya baik-baik ke satpam di lobi gedung, itu satpam udah main bentak aje. Bukan karena dia marah gan! Mungkin karena banyak nasabah yang memenuhi gedung. Saya nanya dengan sopan ‘Mas kalau mau bikin tabungan baru ..” Lum sempat saya abis ngomong, dia balas “Oh nggak bisa hari ini!” terus dia ‘ngobrol’ ama nasabah lain. Saya dikacangin, deh. Y_Y
Ya udah saya sms orang rumah dulu, terus balik lagi buat nanyain kapan bisanya. Saya pun nanya ‘Kalau bikin tabungan baru …” “Oh udah nggak bisa!” Buset om! ANE BELUM SELESE NGEBACOT! . Ya, udah saya terusin dengan intonasi yang sangat jelas dan barangkali kedengeran ama yang lain “… Itu bisanya hari apa?” “Hari senin!” “Senin depan?!” “Iya!” “Oke, terima kasih!” Udah gitu saya ngeloyor pergi. Sabar, ini adalah puasa terakhir (ralat: lebarannya kan, hari RABU. Haha!)
Eh, sebelum saya masuk ditanyain ama penjaga toilet. “Maaf, bisa lihat tiketnya?” Buset! Mungkin pihak 21 udah pada melek lihat pengunjung mal (yang bukan penonton bioskop) yang gunain toilet 21.Jadi dicek dulu deh, apakah yang masuk itu penonton bioskop apa bukan. Wah, kurang nyaman juga sih, diginiin. Untungnya saya nggak lagi kepengen berak. Coba pas saya mau berak terus ditanyain begitu sementara tiketnya di tas ane. Udah keluar deh, itu feses ke lantai.
Yah, paket nasi ayam dalam cup itu disembunyiin di jaket temen. Soalnya pernah waktu bulan puasa, makanan dalam tas kami wajib dititipkan. Waktu itu di bioskop XXI Botani Square. Bahkan ada pengunjung bioskop yang protes. Dia bilang “Lha, kami buka puasa sama apa!” (dia datang ama keluarga). Kalau kayak gini malah kasihan petugasnya. Saya mah mikirnya gitu. Watir ajah. Kayak tadi aja ada botol Aqua di tas,tapi si bapak petugasnya nggak nyuruh untuk dititipin. Mungkin dia masih punya ‘hati nurani’ dengan membiarkan saya berbuka hanya dengan sebotol Aqua.
Ah, sudahlah. Ini Cuma keluhan konsumen biasa. Yang jelas, saat itu saya beli baju lebaran buat kedua orang tua saya. Sisanya buat angpaw ponakan. Sisanya sempet kepake berobat. Dan sisanya… Hufft. Tak usahlah ditanya. Toh uang masih bisa dicari. Yang penting semua senang! Hahahaha!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
11 Komentar
saya blm pernah nonton virgin om :D
*brb* nyari link download filmnya, soal produk placementnya gw setuju review om, ngeganggu film banget, mungkin emang belum ada yang sebaik cast away - fedex :D
Jadi penasaran pengen nonton. Coba minta dana sama produk yg memang udah lama ada di Indonesia ya. Maksudnya pilih2 juga gitu yg mendukung setting. Semoga bisa nonton abis Lebaran. Aamiin...
LOLOLOL gery chocolatos XDDD
hmm, jadi pengen nonton... emang biasanya kan kalo di bioskop gak boleh bawa makanan dari luar. jadi biasanya aku mesen popcorn sama aqua aja T_T
gw juga ga setuju sama yang PMI... kesannya kayak wajib gitu.... >.<
jadi ...
ini yang katanya film termahal di indonesia itu kan yah?
nonton ah :D
Secara umum, filmnya lumayan bagus ASALKAN tidak ada iklan2 yang saaangat mengganggu, dan beberapa adegan yang ga penting dan terkesan bertele-tele.
Reviewer yang disini menonton film tanpa terlalu berekspektasi pada film ini sebelumnya sehingga bisa sedikit banyak menikmati ceritanya. Sayangnya saya, kebalikannya, karena ekspektasinya terlalu tinggi jadi kecewa ketika nonton. Jadi bagi yg mau nonton janganlah berekspektasi ketinggian dulu, nikmati aja ceritanya apa adanya.
bete :(
PMI..... ckckckckcck
ga tertarik sih nonton filmnya. Dan gue juga ga pernah suka karya Hanny R. Saputra.... yang mana aja. Apapun itu yang pernah dia bikin selama hidupnya.
Posting Komentar