• 7 Agustus 2011

    UNTUK membunuh makhluk tanpa hidung mancung a.ka pesek bernama voldemort,Harry dan kedua sahabatnya harus menemukan 7 horcrux –jimat yang menyimpan nyawa Voldemort dalam benda-benda pusaka yang susah ditemukan untuk kemudian dihancurkan. Di film sebelumnya,tiga horcrux telah dihancurkan dengan ending super menyedihkan: ketika si peri rumah, Dobby, yang muncul dalam Chamber of Secret, mati.


    Kini, Harry, Ron, dan Hermione harus mencari tiga horcrux agar Voldemort mudah ditaklukkan.Hermione harus menyamar menjadi Belatrix untuk sampai ke bank penyimpanan The Gringott untuk menemukan horcrux yang berwujud piala. Sampai akhirnya ia dan kedua temannya kembali ke Hogwart yang saat itu dipimpin Snape. Tidak lama pasukan Voldemort menyerang Hogwart dan pertempuran pun pecah. Karena Hogwart mulai lumpuh, Harry mendatangi markas Voldemort. Serta merta Harry lumpuh di tangan Voldemort. Padahal Harry-lah horcrux keenam itu. Raja Kegelapan Voldemort pun kembali ke Hogwart dan menunjukkan kematian Harry Potter. Namun Harry kembali hidup dan pertarungan sebenarnya pun dimulai. Di tempat lain, Hermione dan Ron berusaha membunuh ular Voldemort, kemudian ular itu dibunuh di tangan Neville. Singkatnya, Voldemort pun menjadi almarhum dan Hogwart terbebas dari mara bahaya.


    19 tahun kemudian, Harry dan Ron memiliki keluarga masing-masing. Harry menikah dengan adik Ron, Ginniy Weasley. Ron menikah dengan Hermione. Dan ada juga Draco Malfoy yang sudah menikah. Mereka berkumpul di peron untuk mengantarkan anak-anak mereka bersekolah di Hogwart. Selesai.


    Review

    Perlu sembilan bulan menunggu untuk menikmati Harry Potter and The Deathly Hallows (HPTDH) Part 2 setelah menyaksikan yang pertama. Para pecinta novel HP tentu sudah tahu benar bagaimana ending dari cerita fantastis karangan Rowling ini. Saya pun begitu: tahu sekilas bagaimana ending Harry. Mengenai dia akhirnya ‘hidup lagi’ kemudian berketurunan. Saya hanya membaca novel Harry Potter sampai jilid empat. Selebihnya, ketika novel tersebut difilmkan, saya lebih memilih menyaksikan film adaptasinya ketimbang membaca novel-novelnya. Jadi ketika saya mengetik tulisan ini, saya sampai pada kesimpulan, kalau film Harry Potter adalah film adaptasi yang paling berhasil.

    Hanya, ketika HP seri terakhir harus dibagi menjadi dua bagian dengan rentang rilis yang lumayan jauh, itu akan menjadi kesulitan bagi saya untuk menjaga emosi. Intinya, kalaulah saya menonton HP seri terakhir dalam durasi 5 jam (digabungkan), mungkin emosinya akan lebih terasa. Tapi tunggu dulu. Memang orang gila mana yang mau nonton film super panjang begitu? Bisa-bisa berak di celana saking kelamaannya. Tapi bagi saya, lebih baik berak di celana ketimbang menyaksikan film yang ‘setengah-setengah’ begitu.

    Namun HPTDH Part 2 menjadi tontonan menarik di musim panas/liburan. Kehadiran film ini juga ditunggu ‘rakyat banyak’. Dan menurut saya HPTDH part 1 dan Part 2 memiliki tata teknis yang paling baik disbanding film HP sebelum-sebelumnya. Mulai dari kekonsistenan tata artistik yang memukau, sinematografi/tata kamera yang indah, scoring/tata musik yang bagus, apalagi dengan efek visualnya. Semuanya begitu memukau dan dramatis. Apalagi dengan kualitas para aktornya. Kalau Part 1-nya saya memuji kepiawaian akting Emma Watson dan Helena Bonham Carter, maka di part 2 ini saya memuji kualitas akting Alan Rickman. Nuansa kelam berhasil ia bangun dari seri kesatu sampai part 2. Kemudian, ia menunjukkan sisi-sisi manusiawinya di penghujung ending film. Termasuk di part 2 ini. Yah, meskipun scene ‘kilas balik’ lewat prosesi air mata Snape itu terkesan terburu-buru dan kurang emosional.

    Ada lagi dengan Profesor McGonaggal. Ia berhasil membuat penonton ngakak karena ia mengaku sudah lama ingin mengucapkan mantera membangkitkan pasukan Hogwart. Rasa terharu cukup mengena karena kita biasa melihat dia sebagai guru yang dingin, kaku, namun memiliki kepedulian cukup tinggi pada sekolah dan terutama pada Harry.

    Namun, HP part2 terasa semakin berbeda dan kelam, karena akting konsisten dari pemeran Luna dan Neville. Keduanya menurut saya adalah pasangan yang paling serasi dibanding tokoh-tokoh lain. Neville yang dikenal ‘pecundang’ karena sering dijadikan olok-olok kini menunjukkan dirinya sebagai lelaki patriotik. Rasanya tidak percaya, pada seri 1 dia digambarkan sangat blo’on, namun kali ini dia adalah remaja dengan postur tubuh yang bagus.

    Sementara soal perkara asmara dalam film ini, jujur saja, terlihat cukup ‘menjijikkan’. Meski di sisi lain saya bersyukur karena adegan ciuman itu tidak dilihat secara frontal lewat sisi sinematografi. Ciuman Ron dan Hermione maupun Harry dan Ginny, terlihat seperti bumbu yang harus ada alias ‘dipaksakan’. Entahlah, barangkali karena ini film adaptasi dan pemosisiannya dianggap kurang pas oleh sebagian penonton. Atau karena satu hal:kalau saya memang tidak setuju dengan perjodohan yang ditulis Rowling.

    Sebab Hermione sudah cukup banyak memiliki keterkaitan emosi dengan Harry. Namun, sayang penulisnya menginginkan Harry menikah dengan lain gadis. Harry pun sempat digambarkan jatuh cinta pada gadis keturunan Cina di sekolah. Namun kemudian, ‘dia malah’ jatuh cinta pada adik Ron. ‘perkenalan’ Harry dan Ginny sendiri sudah dimulai sejak seri kedua –kalau nggak salah. Namun saya merasa Harry lebih cocok kawin dengan Hermione.

    Tapi mirip seperti pepatah ‘benci jadi cinta’, barangkali itulah yang digunakan Rowling.  Hermione dan Ron sama-sama antipati satu sama lain di awal-awal perkenalan. Yang satu cerdas dan yang satu ceroboh. Mungkin apa yang saya rasakan juga dirasakan sebagian penonton HP dari 1 sampai akhir. Berbeda halnya dengan pembaca juga penonton HP. Sebab deskripsi di novel tentu lebih jelas ketimbang penggambaran film.

    Namun, tidak ada satu pun cerita yang tidak berakhir. Pada akhirnya saya harus keluar dengan tatapan mata kosong juga hampa setelah HP Part2 yang saya saksikan di BIP bersama seorang kawan, berakhir. Mungkin akan lain kalau saya menjadi pembaca novelnya (HP), ketika saya akan sangat setuju kalau si anu akan kawin dengan si anu, dan begini begini begitu-begitu. Sebab penulislah yang menjadi tuhan akan kisah ini. Dan Rowling melakukannya.



    Mengenang Harry Potter


    1. Saya hanya punya buku HP dari jilid satu sampai jilid 3

    2. Ketika HP difilmkan, saya baru masuk SMA. Saya berkacamata dan punya rambut lebat dan acak-acakan. Jadi bisa ditebak kalau saya kerap dipanggil begitu sama orang. Bahkan, sampai kuliah. Namun ketika Harry beranjak dewasa, saya tentu tidak lagi mirip. Daniel Radclife atletis dan wajahnya sudah tegas, sementara saya tidak berubah.

    3. Saya menonton Harry Potter and The Sorcere’s Stone via VCD.

    4. Saya menonton Harry Potter and The Chamber of Secret ke bioskop setahun kemudian. Sebuah pengalaman yang buruk. Karena saat itu nonton bareng sama pacar kakak saya yang sekarang ini sudah jadi kakak ipar saya.

    5. Saya menonton Harry Potter ketiga bersama kawan SMA saya.

    6. Saya memasang beberapa kali poster HP ukuran besar di kamar kosan saya.

    7. Saya merasa risih kalau dikatakan kepengen niruin Harry. Soalnya Cuma mirip sekilas. Soalnya saya juga sering dikatain mirip Nobita, Conan, dan tokoh-tokoh lain yang berkacamata. Paling nggak enak saat booming Afgan. Ane dikata mirip Afgan deh. Mirip dari mananye coba. Meong.

    8. Saya menonton seri keempat bersama mantan saya tahun 2007.

    9. Saya menonton seri kelima sendirian via pinjeman Video Ezy di kosan.

    10. Saya tidak menonton seri keenam di pertengahan tahun 2009.

    11. Saya menonton seri ketujuh part 1 bersama kawan SMA saya di akhir 2010

    12. Saya menonton seri ketujuh part 2 bersama kawan kuliah saya di awal Agustus 2011.


    Apakah kamu berharap Harry Potter akan dilanjutkan? Ah, tidak. Lagian penulisnya juga udah ogah. Katanya dia akan buat cerita baru lagi. Tapi bagaimana jadinya kalau Harry Potter dilanjutkan? Mungkin kalau produsernya Shankar, maka HP pun akan dilanjutkan. Bagaimana ceritanya?

    Harry Potter and The Desire
    Scenario by Samandayu

    Harry hidup di dunia muggle bersama istrinya di sudut Kota Inggris. Namun, di usia perkawinannya yang ke-15, ia mulai jenuh. Ia pun ingat pada Hermione. Di sisi lain Hermione pun memiliki kerinduan yang sama. Akhirnya mereka selingkuh. Keduanya melakukan hubungan asmara super panas tanpa sepengetahuan pasangan masing-masing. Namun, tidak ada pesta yang tidak selesai. Atau pepatah yang paling cocoknya adalah ‘sebagus-bagusnya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga’. Maka, Ron dan Ginny pun mulai mencium perselingkuhan itu. Ron dan Harry pun bertempur habis-habisan. Keduanya memorakporandakan Inggris dengan adu sihir. Karena sangat mengganggu, keduanya beralih bertarung di Indonesia dan membikin suasana di Indonesia menjadi tambah kacau. Jakarta pun menjadi korban. Kota itu terkena banjir super hebat akibat ulah keduanya. Naas, keduanya malah tewas dengan gaya 69 di jamban umum. Hermione pun sedih lalu menyendiri di Pulau Bali dan berharap menemukan ketenangan batin seperti yang pernah dilakukan Julia Robert. 




    19 Komentar

    Anonim mengatakan...

    ahahaha... benar-benar kreatif nerusin cerita HARPOT. mending mas Samandayu aja deh yang tulis cerita selanjutnya daripada Rowling yang katanya udah ogah-ogahan... kalau Harry dan Ron bertempur, hancur dunia persilatan. *meong XD

    Yudistira Akbar mengatakan...

    Ngakak bener dah tiap kali liat editan gambar yang kang wana buat, apalagi ditambah kelanjutan cerita herpot versinya meong.
    XD

    Setuju sih, Herpot series itu salah film adaptasi yang bisa dibilang berhasil digarap. Sedangkan untuk film adaptasi yang lain biasanya kurang memuaskan. Cuman, kalo film dibuat 2 part gini, banyak penonton yang ga ngikutin serinya dari awal ngerasa kurang greget. Feelnya gantung. Sedangkan bagi fansnya sih ngerasa enggak, apalagi bagi yang udah baca novelnya. Juga banyak momen momen di novel yang sebenarnya gak ketayang di film.

    Satu lagi, reviewnya bagus kang. :)

    Alvi Syahrin mengatakan...

    Nggak pernah ngikutin Harry Potter. x(

    Asop mengatakan...

    Wah wah, saya belum nonton nih... :( Saya cuma lihat trailernya doang di youtube, memang adegan penyerangan pelahap maut ke Hogwarts terlihat masif ya. Benar begitu? :D

    Saya malah pertama kali beli buku Harpot yang seri kedua lho, pas saya SD, sekitar tahun 2000-an. :D

    Menurut saya, film adaptasi terbaik ya Lord of The Ring. Ketiga novelnya luar biasa, superb, film-nya pun begitu. Kalau mau menikmati film LoTR, cari filmnya yang uncut, tidak dipotong. Film yang beredar di bioskop itu versi yang sudah dipotong, hanya tersisa sekitar dua hingga tiga jam.
    Saya pernah lihat versi extended-nya, tanpa dipotong di DVD original punya sodara saya, sampai lima dan enam jam, sodara-sodaraaaaa! :D :D

    PIPIT mengatakan...

    belom nontoooooooooon Y__________Y menyedihkan nasibku!!

    rian prihantana mengatakan...

    wkwkwkwkwkwkwk, scenario by samandayu nya bkin ngakak, heum david yates memang sutradar hp paling baik diantara semuanya tp ian mau bilang makasih sama chris columbus sama yang casting nya waktu soalnyaaaaa pilin daniel sama emma, mereka memang keren, ian juga lebih suka harry nikah sama hermionie mereka lebih serasi.

    helena bonham carter memang dahsyat keren banget aktingnya di alice in wonderland juga lucu hahahaha keren deh apalagi kalo ngga salah dia masuk nominasi oscra yah di film apa gitu lupa speech2 gitu deh judulnya.

    kalo kata ian make up giny pas tua maksa banget, hermionie masih kaya remaja, nah kalo harry sma ron memang kaya bap2 banget. ngga terlalu suka pas adegan voldemort mati kurang tragis masa cuma berubah jadi debu ian malah lebih suka waktu belatrix mati seneng aja abisnya belatrix lestrange nyebelin banget bikin kesel.

    ian nnton film ini udah dua kali d btm hahaha, kurang seru sih soalnya ngga ngantri, lebih suka ngantri yang panjaaaaang gitu biar kerasa perjuangannya beda kesan nya dibanding nnton yang ke 6 soalnya ngantri nya panjang abis datang ke bioskop jamm 1 nnton yang jam 6 lumayan lama lah hahahahaha.........

    bakalan kangen sama harry potter, heum tapi bisa aja kan j.k rowling buat lanjutannya yah anak2 mereka itu yang lanjutin judulnya bukan harry potter lagi tapi ALBUS SEVERUS POTTER ngga akan ada abisnya kalo ngomongin harry potter.

    r10 mengatakan...

    kalau filmnya slama 5 jam maka bakalan rugi secara ekonomi, soalnya jumlah tayang dibioskop berkurang dari misalnya bisa 6 kali sehari mnejadi hanya 2-3 kali sehari padahal harga tiket sama

    jelas rugi

    Tiara Putri mengatakan...

    yes akhirnya ketemu juga, saya juga setujunya Harry sama Hermione, udah mana di film goblet of fire, Hermione kayak yang care banget ama Harry, mungkin Hermione><Ginny supaya ikatan mereka "abadi" kan jadi keluarga tuh

    Claude C Kenni mengatakan...

    Iya, filmnya kurang seru ah, Voldemort kalahnya gampang banget dan Ginny nya kurang cantik, udah gede malah keliatan kayak Ibu2...mestinya Harry jadian ma Luna aja, hahaha

    Neville keren banget. Kalo ini Lord of The Rings, Neville tuh Aragornnya. Harry jadi Frodonya.

    Gua ngakak liat komik di bagian paling bawah, hahaha

    R.J mengatakan...

    daripada HP aku malah lebih suka The Lord of The Ring.. LOTR juga certia adaptasi yang lumayan sukses. Kalo harry potter gara2 ga nonton film nya dan cuma baca bukunya, skarang udah lupa sama ceritanya. hahaha

    rian prihantana mengatakan...

    harry potter pokonya keren, yah lord of the rings frodo nya juga mirip sama harry. kaya kembarr

    Si Geje Habib mengatakan...

    " Tak ada guna terlalu bersimpati kepada orang yang meninggal, simpatilah kepada orng yang masih hidup dan tidak begitu mendapatkan kebahagiaan "

    Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore

    Abah mengatakan...

    wkwkwk lucuan HP an The Desire. :D

    kalo masalah perjodoan itu setuju banget, keknya kalo cuma liat pilemnya lebih serasi sama hermione.

    Miawruu mengatakan...

    paling sedih bgt liat snape mati huhuhuhuhu pas baca dibuku nya jg mia sdh bgt saat snape mati. cintanya ke lily sangat besaaaaarr. cinta sejati gt. poor snake, byk hal yg dia korbankan demi cintanya yg ga kesampaian T^T

    a mengatakan...

    sedih harry potternya udahan,. :(

    Diabolus_Bonus mengatakan...

    Lha, ngapaen si Shankar ikut juga??

    jd tmbh gk laku ntar...

    wkwkwkwkwkwk

    semoga aj ad cerita 'lepas' mengenai si Albus Severus Potter, menantikan kisah si anak apa jadi masuk Slyterin/ Gryfindor....

    nah, lho...

    :D

    Anonim mengatakan...

    hmmm.. kayaknya seru... aku nonton harry pitter baru 1/3 film-nya. jadi tertari buat beli DVD bajakannya. heu heu

    komiknya koq rada homo gini sih? >.<

    Anonim mengatakan...

    versi film banyak yang gak sesuai ama di novel, menurut gw lebih bagus versi novel
    tapi film nya lumayan baguslah, banyak improvisasinya atau lebih tepatnya melenceng dari si buku. jadi rasanya kurang dapet feel yang gw rasain dari buku di film

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan