6 November 2010
| Berhasratlah kau pada puisi. |
Dan sekalipun kau artikan, tentu akan berbeda barangkali dengan artian temanmu yang lain. Karena karya puisi itu multi tafsir. Dan buat kalian yang kepingin tahu dan lebih belajar membikin puisi, saya pernah posting soal ini. Jadi silakan jilat artikel: Tips Membuat Puisi: Kenikmatan Berpuisi
Saya menulis apapun yang ingin saya tulis, tanpa adanya tuntutan. Yap, kalian tentu selalu mendengar ini dari saya. Tapi saya pernah membuat banyak tema puisi. Tema Islami misalnya. Dua puisi saya yang dilombakan di kampus dan antarmahasiswa se-Bandung raya menang, lho. Yang pertama berjudul Kesurupan Rindu, itu menjadi pemenang 2 pada 2008. Dan yang satu lagi Ramadhan hari pertama, yang menang juara pertama di Lomba Menulis Puisi Islami di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) UKDM (Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa) pada 2006. Berikut salah satu puisi saya Kesurupan Rindu (yang judul awalnya Kerinduan). Sedang puisi yang kedua tidak ditampilkan karena saya lupa dimana menyimpan diktatnya. Hehe..
Kesurupan Rindu
Samandayu
ditabur gersang di sepanjang perjalanan
……………………..
kesurupan rindu.
memuai janji segala rupa
saat begitu nyeri dan kata-kata semakin membakar
dan laksana dihunus pedang kematian
napasku mencium aroma kubur
dengan segala kemampuan, kuucap zikir-zikir bagai mengalir
namun aku masih khawatir, esok hari aku akan menemukan hati yang patah
di antara fajar yang mewujud getah
yang melengket di tembok kamarku yang biru. Membuatku cemas
dan walau aku meringkuk di pagi harinya
meski pabila aku mengharapkan akhir
ku tahu aku tak akan bisa..
menyebutku sampah di atas sajadah
di mana hati telah menjadi remah
karena Kau akan slalu bersamaku
selalu dan selalu.”
Karena saya juga punya pikiran ‘koclak’ (sinting), saya menulis tema-tema seksual. Mungkin beberapa kalian sudah pernah membacanya. Namun inilah puisi-puisi saya bertema birahi.
TARIAN ANGIN
Samandayu
basah licin
seperti belut dalam lubang
menggelitik dan menyesak
bagai kepala ular yang tak mendesis
ular diam memingkemkan mulut
matanya terpejam lidahnya tak menjulur
tapi menyodok-nyodok pelan lalu brutal
keras hentak sepoi gaduh dosa
tapi kepala mendongak menatap surga
sepasang bintil kecil, basah usai diisap
dan ringkihringkih ranjang
berkedut kedut nyaris sampai
lidah basah dan menarinari dalam mulut
lalu hangat dan (lagilagi) basah nyaris meluber di dalam
dan lubangku tak hanya penuh angin
tapi lendir
9:28 AM 6/29/2010
PRIA DALAM TABUNG SPERMA
Samandayu
akulah pria dalam tabung sperma
masuk dan bergerilya dalam ruangan super mungil yang bukan rahim
aku riak dan meliuk seperti pelepah pisang yang ditiup angin
menari bak elok tapi aku sebenarnya kesakitan
maukah kau masuk ke dalam dan menjadi satu pria lagi dalam tabung sperma?
kita kan merabararaba dan memilinmilin satu sperma yang mujarab untuk menjadi telur
bukan, bukan untuk kita (pria tak bisa hamil)
tapi untuk perempuan kesepian yang setengah frigid
yang rindu akan episode kehamilan pada satu jilid
3/11/2010 7:38:06 PM
Menyoal masalah birahi, kelihatannya memang tidak banyak yang suka membuat puisi. Tapi siapa bilang? Apa yang kita terima selama ini melulu puisi. Lirik dalam lagu, kata-kata dalam cerpen, novel. Namun kemasan puisi lebih jelas, ringkas, bertema. Dan berikut ini adalah puisi dari pengikut sekte Saman. Dua orang kawan facebook saya itu adalah El H Bib dan Ricky Wijaya. El H Bib mengemas beberapa scene hidupnya ke dalam puisi yang ekspresif, brutal, namun menawarkan kejujuran. Sementara Ricky memberikan kita ketenangan dalam puisinya. Jujur, tenang seperti air, sabar, lugas namun tetap enak dinikmati. Mau tahu karya mereka?
| El H Bib dan Ricky Wijaya. |
MURKA
oleh El H Bib
Apa yang kau lakukan kalau rasa rindu
menampar - nampar sampai kau terkapar ?
kumamah saja dengan raku dan lapar.
Atau...
Kutelan mentah - mentah
lalu kumuntahkan pas didepan wajahnya
biar dia tau apa yang kutelan selama ini
Itu sudah cukup bagiku..
H Bib ber-rima ria pada bait pertama ketika ia membubuhkan kata di akhir, sebutlah, terkapar, lapar. Dan agar tidak mengurangi keindahan teks, rima tidak banyak dibubuhkan karena akibatnya akan seperti pantun yang menurut saya kurang enak disimak.
غيور
oleh El H Bib
aku ingin sekali tuli
sekawanan samurai halilintar datang menyerang
mencincang dan mencacah harga diriku
seperti daging selep
mereka menghinaku
karena aku cuma bisa diam
mereka menyumpahiku
karena aku rela diabaikan
takkan kupijakkan kakiku di sana
takkan pula kuhadapkan wajah
dan kubuka mata untuk melihatnya
aku akan dirasuki berjuta imajinasi
mengenai dirimu dan dirinya
bagaimana kalian berdua tertawa dan bercanda
atau....
bercinta di atas meja
dan betapa seharusnya engkau tidak disana
maaf saya sedang tidak berselera untuk disiksa !!!
“Maaf, saya sedang tidak berselera untuk disiksa”. Sungguh kata-kata yang bagus, kawan. Kalimat yang bahkan tidak saya pikirkan ketika saya menulis cerpen. Sayangnya, H Bib memberikan tanda seru yang merupakan refleksi dari kemarahan. Padahal di bait-bait awal, kita sudah diajak untuk mendalami seberapa marah penulisnya (H Bib). Yang jelas, untuk ukuran bocak kayak die, ni puisi layak dikasih jempol. Yah, meski kalian bertanya-tanya apa sih, arti dibalik judul bahasa Arab itu. Saya cek di google translation, itu teh artinya Cemburu. heu..
Simak catatan El H Bib di sini: Puisi El H Bib
Hujan
Oleh: Ricky Wijaya
aku pemenung di kala turun hujan
tangisan awan mendung, anggun sekaligus misterius
bertubuh air, berwujud gerimis, bertemankan hawa dingin.
riintiknya membawa sunyi
yang kaku dengan gigilan
dia rebah di ruang ilusi
ilusi tentang kesendirian
rengkuhkan tangan yg tersembunyi dibalik selimut duka
senyum melukiskan warna yang terpandang oleh mata
warna kelam
hujan bercerita
aku mendengarkan
tahukah apa yang di katakannya ?
padaku dia berikrar
untuk menjadi teman
dalam malam dan siang
entah mengapa, aku suka hujan.
10.35 WIB-05 OKTOBER 2010
Wah, ternyata teman-teman Saman punya bakat menulis puisi yang baik. Simak lagi bait Ricky: Rintiknya membawa sunyi/Yang kaku dengan gigilanDia rebah di ruang ilusi/Ilusi tentang kesendirian. Hmm.. benar-benar saya terbawa dalam ketenangan yang luar biasa saat menyeknyamainya. Great job, Rick. Teruskanlah.. teruskanlaah kau.. begitu..
Belajar dari Kesepian
Oleh: Ricky Wijaya
aku melihat perjalanan jarum jam
ketika itu aku tersenyum
dalam keheningan malam yang dipimpin sang bulan
angin mengajariku tentang kesepian
ketika daun-daun berguguran olehnya tertanda musim telah terganti
hingga sang pohon terlihat kurus, kering, lesuh
dia tak ingin sendirian
dia ingin si Hijau dan si Merah menemaninya
tapi Sang Esa telah menetapkan aturan permainan
siang, malam
pagi, petang
sepi, ramai
dari kesepian angin malam mengajariku tentang keramaian
23.09 WIB-24 oktober 201
Sederhana namun menawarkan kegetirn yang luar biasa. Jujur, permainan kata-kata yang sastrawi, membacanya kau benar-benar diajak untuk mendalami, seperti inikah kesendirian itu? Namun sayang, judulnya seperti tips ala Mario teguh saja. Kalaulah judulnya diganti menjadi yang lebih bercita rasa seni, mungkin akan semakin bagus.
Simak catatan Ricky Wijaya di sini: Puisi Ricky Wijaya
Itulah kawan, semua tentang puisi. Tidak sulit kan, membuat puisi? Nah, buat kalian yang ingin karya kalian diapresiasi dan dikritik oleh saya, kalian bisa kirimkan via inbox facebook saya. Oke, sekian dulu dari sayah.. Saya tunggu karya kalian. Bisa berupa cerpen dan puisi. Asal orisinal ya, nggak boleh copas. Dan Insya Allah akan dimasukan di rubrik Ruang Bahasa ini. Salam..Ilustrasi: animationblog.org
Dilarang mencopas puisi-puisi di atas. Semua karya Samandayu memiliki hak cipta.