• 6 Desember 2010


    Cerpen atau cerita pendek adalah cerita fiksi, karangan, rekayasa yang berisi pengalaman hidup seorang tokoh yang dijabarkan singkat, satu scene atau beberapa sekuen (bagian), dengan penggambaran yang tidak serumit novel, dan tentu saja dengan kemasan yang pendek. Jika dalam halaman Microsoft word, cerpen maksimal 10 halaman dan minimal 5 halaman (untuk standar cerpen koran).


    Cerpen merupakan salah satu produk karya sastra imajinatif termasuk puisi dan drama. Jadi ada tiga produk karya sastra imajinatif itu: prosa, puisi, dan drama. Dan cerpen, novel, cerbung (cerita bersambung), masuk ke dalam golongan prosa. Unsur-unsur Cerpen (termasuk prosa = novel) terdiri dari unsur intrinsic dan ekstrinsik. Intrinsik adalah alur, plot, tokoh, sudut pandang, gaya bahasa dan sebagainya. Unsur ekstrinsik adalah biografi pengarang, latar  belakang pengarang. Biasanya dua unsur ini dibutuhkan  jika kita meng-kaji cerpen atau novel, biasanya dilakukan mahasiswa Fakultas Sastra. Nah, mau tahu tips saya dalam membuat cerpen? Jilat, deh!
    1. Munculkan kemauan yang kuat. Ketika kau membaca cerpen orang lain baik di koran, di buku, atau di blog, kamu mungkin merasa terpecut  untuk mengikuti. Ini positif jika dibandingkan dengan orang yang sangat responsive jika idolanya dikritik. Daripada menunjukkan kebodohan dengan pengedepanan emosi tolol dan tak bernyawa, lebih baik kau membuat cerpen.
    2. Inspirasi bisa didapat dimana saja. Kamu mungkin punya banyak ide di kepala. Misalnya cerita mengenai teman yang menusuk dari belakang. Hmm, saya tidak berbicara mengenai gay sialan yang berniat meny odomi kawannya yang cakep. Tapi katakanlah cerita mengenai, bagaimana kau merasa nyaman dengan seseorang kemudian kau menganggapnya sahabat, tapi orang itu ternyata punya kepala dua.
    3. Susah banget untuk menulis! Padahal tema udah numplek di otak! Saran saya, tulislah apa yang ingin kamu tulis. Jangan punya patokan karena standarmu ketinggian. Maksudnya jangan pernah membandingkan karyamu dengan karya yang sudah profesional. Ini sangat berhubungan dengan rasa pede. Jadi wujudkan kata-kata yang ada di otakmu dalam bentuk tulisan.
    4. Perbanyak membaca agar kau semakin kaya menyoal pilihan kata, tata kalimat, dan tentu saja EYD.
    5. Langkah yang paling bagus untuk dilakukan penulis muda adalah: buat kerangka. Berikut ini saya jabarkan bentuk kerangkanya.
    Judul: Mabuk Kawin
    Genre/jenis: Drama komedi.
    Alur: Kisah percintaan dua lesbian  Vitania dan Elisiah yang kemudian harus dicekcoki dengan sepasang gay Feliks dan Randy Ontohod. Pasangan gay kemudian menikah dengan pasangan lesbi untuk menutupi aib. Misalnya Vitania kawin dengan Randy, Elisiah kawin dengan Feliks.
    Tokoh dan watak: 
    Tokoh Utama:  Vitania, berwatak keras, penjilat dan angkuh. Elisiah, feminin namun gotik. Feliks: bot, centil, kritis. Randy: keras, muka jelek.
    Tokoh Pendukung: Deendra, pembantu rumah tangga yang suka mencuri kutang.
    Jenis alur: Alur maju (artinya tidak ada kilas balik). Jenis-jenis alur: alur maju, alur mundur (flashback), dan alur maju mundur.
    Sudut pandang/Point of view: sudut pandang orang ketiga (yakni penulis sebagai si pencerita, si ‘Tuhan’, si sutradara). Jenis point of view lainnya: kata ganti ‘aku’ (yakni penulis menyamar sebagai tokoh. Misalnya kau menyamar menjadi Elisiah dalam cerpen ‘Mabuk Kawin’.
    Ending: Open ending (artinya ending yang ‘klise’ ketika cerita harus kau akhiri menjadi dua pilihan: mau akhir yang bahagia atau akhir yang sedih). Yang kedua close ending (yakni ketika akhir cerita dibiarkan ‘menggantung’, artinya bukan dibiarkan ‘tidak selesai’, melainkan anti klimaks yang sengaja dibuat untuk mendatangkan thriller sekaligus impresi (keterkesanan) untuk pembaca. Saya selalu menggunakan ending ini.
    6. Perhatikan EYD (ejaan yang disempurnakan). Agar pembaca merasa nyaman, kau perlu membuat kalimat yang baik dari segi pungtuasi (tanda baca) dan gramatikal (bentuk) kata/kalimat). Contoh:
    Meski tidak mutlak, tapi untuk memulai cerpen (cerpen koran), gunakan kata pertama dalam cerpen dengan huruf kapital semua. Misalnya ‘SUATU hari saya pergi ke kuburan. Lalu..’
    Perhatikan, untuk kalimat langsung. Kau tentu saja harus menggunakan tanda petik (“). Perhatikan pula pungtuasi yang lain. Simak di bawah ini.
    YANG SALAH:
    “Kamu tahu kan apa yang kupikirkan?. Kamu nggak perlu tahu.” Kata Feliks sambil meminum wedang jahe.
    YANG BENAR:
    “Kamu tahu 'kan, apa yang kupikirkan? Kamu nggak perlu tahu,” kata Feliks sambil meminum wedang jahe.
    Yang perlu diperhatikan dalam membuat cerpen yang baik (kecuali genre teenlit/remaja). Buat kalimat yang baik dan hindari kata-kata tidak baku. Misalnya:
    Kalimat Tidak Langsung:
    Dia ngatain saya seperti psikopat. Padahal saya kan hanya menulis cerpen.
    Seharusnya: Dia mengatai saya seperti psikopat. Padahal saya hanya menulis cerpen.
    Kata baku dan nonbaku boleh digunakan dalam kalimat langsung (dialog) karena memaparkan realitas (sosial masyarakat). Jadi boleh pakai bahasa alay (asal jangan teks alay dengan angka), bahasa ngondek, bahasa slang, Inggris, bahasa daerah. Misalnya:
    “Tempo tah status FB-na? Asa gaje.”
    “Iya, saya juga setuju.”
    7. Banyak pembaca yang ‘tak bisa’ menulis. Mereka hanya ingin menjadi penikmat. Tapi kalau kau punya keinginan menulis, tentu saja bisa karena kau keseringan membaca karya orang lain. Di awal menulis, gaya menulismu akan sama dengan penulis idolamu. Misalnya saya ngefans Ayu Utami, pada saat kuliah, tulisan saya akan mirip dengan Ayu. Saat SMA, tulisan saya sangat Goosebumps. Itu karena saya suka Goosebumps. Itu sangat lumrah. Belakangan, seiring waktu, seiring kau latihan dan punya banyak bahan bacaan, kau akan punya gaya sendiri. 
    8. Hindari plagiarisme! Untuk jadi bagus, kau tidak perlu mencontek/menyadur karya orang. Terinspirasi boleh saja, asal sebisa mungkin bikin sesuatu yang orisinal.
    9. Tunjukkan pada kawan yang hobby membaca. Bukan menyombongkan diri, tapi kita butuh juri, butuh penilaian. Jika ada yang bilang cerpen kita bagus, itu bikin kita semangat, bukan? Lalu bagaimana kalau ada yang bilang jelek? Jadikan itu kritik! Jangan menyerah pada kritik baik yang keras maupun yang lembek. Kritik adalah faktor paling ampuh dalam latihan menulis (dan membuat karya apapun).
    10. Setelah kau menulis, sebaiknya memang direvisi. Baca ulang karyamu dan koreksilah. Jadi jangan ‘asal jadi’ lalu kau poskan sebagai catatan facebook. 
    11. Kirimkan ke media. Iseng-iseng saja. Jangan berharap ‘dimuat’. Jadikan itu tolak ukur. Dan, kalaupun tidak dimuat, jangan menyerah dan jangan merasa kalah. Mereka menolak karyamu bukan karena karyamu jelek, tapi tidak sesuai dengan media mereka. Misalnya kau menulis cerpen teenlit, kamu harus kirim ke majalah Story, Gadis, Aneka Yess! Atau Kawanku. Kalau kau punya cerpen susastra (sastra/drama), kau boleh kirim ke harian seperti Seputar Indonesia, Kompas, atau koran-koran lainnya.
    Itulah tips-tips dari saya.Kalau ada yang masih mau ditanyakan, silakan ditanyakan. Nantikan tulisan saya mengenai cara mengapresiasi cerpen yang baik, akan diposkan.
    Photobucket
    Ilustrasi: arnenixoncenter.org

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan