- Home>
- Review Film >
- Kekonyolan Film Grave Torture Joko Anwar
23 April 2016
GRAVE Turture (Siksa Kubur) adalah film pendek karya Joko Anwar yang rilis 3 tahun lalu. Saya tahu ini bulan Maret kemaren dari iklan facebook. Awalnya ada iklan film The Herd,adalah film pendek tentang pemerahan susu wanita yang konon mengkritik peternakan sapi. Idenya memang brilian, Saya pun suka sebagai pecinta pelem gore. Tapi tendensi kritiknya kok terlalu lebay?
Sapi bagaimanapun juga hewan ternak. Akan jadi lain kalau yang dijadikan konsumsi manusia adalah hewan nonternak kayak kucing atau ANJING! Waduh, maaf-maaf. Efek nonton video curhatannya Prilly. Hehe ...
Pocong selama ini dikenal sebagai salah satu hantu yang ada di Indonesia. Bagi sebagian orang terutama nonmuslim barangkali, pocong itu ya setan atau hantu. Padahal pocong adalah proses secara Islam ketika jenazah dikafani dengan kain kafan warna putih.
Dalam Grave Torture Joko menceritakan bagaimana seorang anak kecil terjebak dalam peti yang di dalamnya terdapat jenazah sang ayah. Sang ayah dipocongi dan disimpan dalam peti. Dalam scene pembuka, kamu bisa melihat bagaimana si anak melihat beberapa orang memekai kerudung dan kopiah. Suara-suara latar walaupun tak jelas, menyiratkan kalau jenazah sudah dilayat banyak orang.
Si anak kemudian masuk ke dalam peti mati. Peti diangkat lalu dikubur. Si anak terjebak dan di dalam kubur anak itu melihat bagaimana ayahnya disiksa. Dia melihat ayahnya ditarik dan masuk ke dalam satu lobang. Kayak lobang nereka gitu. Walau di awal ada kalimat kalau film ini mengandung kekerasan alias sadis, nggak ada tuh gore yang dimaksud. Malah terkesan konyol.
Yang konyol adalah karena Joko sangat keliru memasukkan jenazah pocong ke dalam peti mati. Jenazah dililt kain kafan itu hanya dillakukan untuk umat muslim yang meninggal. Jenazah dimasukkan ke dalam keranda, lalu dimasukkan ke dalam liang lahar. Liang lahat adalah liang untuk jenazah di samping kubur. Setelah itu tanah dimasukkan/dikubur.
Jenazah dimasukkan ke dalam peti mati lazim dilakukan orang-orang nasrani. Mereka menghias jenazah, mendadaninya, lalu dimasukkan ke dalam peti dan dikubur. Itu sepengetahuan saya. Sepengetahuan saya (kalau saya salah dikoreksi ya) umat Kristen ndak kenal yang namanya siksa kubur. Orang yang meninggal akan langsung masuk ke dalam surga atau neraka sesuai dengan amal perbuatannya. Dalam Islam, ada alam barzah dimana jenazah menunggu sampai hari kiamat datang.
Mungkin kamu bilang ini cuma film. Si sutradaranya yang nonmuslim itu entah nggak tahu prosesi pemakaman umat muslim kayak apa, atau dia tahu tapi sengaja memformat filmnya begitu. Wong filmnya buat project luar negeri barangkali. Kalau sudah begini dia seperti ingin berkata padapublik 'dunia' kalau ini loh pocong, setannya Indonesia. Kalangan noni di luar negeri pun berpikir oh jadi mirip ya proses pemakaman orang Nasrani sama Islam.
Walah .. walah .... Kebanyakan makan kecubung kayaknya. Hehe ...
NB: Joko Anwar adalah sutradara Indonesia yang meraih Piala Citra FFI tahun 2015 sebagai sutradara terbaik. Di sosial media dia garang menyuarakan dukungannya pada Jokowi yang saat itu jadi capres, garang pula menyuarakan dukungan terhadap KGBT, Tahun 2010 dia pernah membuat opera musical ONROP yang terindikasi memaparkan propaganda bahwa orang-orang bahagia tanpa aturan dan agama.Pada Mei 2014 dia mengkritik hukuman cambuk terhadap pemerkosa di Aceh. Dalam twitternya dia berkata: "jadi seorang perempuan diperkosa beramai-ramai oleh penggerebeknya bukan masalah gitu? Sedih bacanya. Yang mengerikan adalah, orang-orang ini tidak heboh menghujat para pemerkosanya," Belakangan dia minta maaf. Terlalu responsif sama haters Islam barangkali? Joko sendiri pernah memblok netizen yang menanyakan agama apa beliau. Apa ya agama Joko Anwar?
NB: Joko Anwar adalah sutradara Indonesia yang meraih Piala Citra FFI tahun 2015 sebagai sutradara terbaik. Di sosial media dia garang menyuarakan dukungannya pada Jokowi yang saat itu jadi capres, garang pula menyuarakan dukungan terhadap KGBT, Tahun 2010 dia pernah membuat opera musical ONROP yang terindikasi memaparkan propaganda bahwa orang-orang bahagia tanpa aturan dan agama.Pada Mei 2014 dia mengkritik hukuman cambuk terhadap pemerkosa di Aceh. Dalam twitternya dia berkata: "jadi seorang perempuan diperkosa beramai-ramai oleh penggerebeknya bukan masalah gitu? Sedih bacanya. Yang mengerikan adalah, orang-orang ini tidak heboh menghujat para pemerkosanya," Belakangan dia minta maaf. Terlalu responsif sama haters Islam barangkali? Joko sendiri pernah memblok netizen yang menanyakan agama apa beliau. Apa ya agama Joko Anwar?
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



4 Komentar
Biasanya muslim yang pakai peti itu, yang body rusak seperti kecelakaan atau yang sudah mulai membusuk, seperti korban kapal tenggelam, peswat hilang dan baru diketemukan setelah beberapa lama.
Kalau dari kasus Joko Anwar bisa saja pakai peti, sebab biasanya mayat dari polisi(entah korban atau pelaku) di kirim dari rumah sakit biasanya pakai peti. Ingat si mayat pembunuh berantai, artinya dia bisa saja mampus karena timah panas polisi. Mayatnya diberikan ke keluarga setelah di-autopsi dan itu pasti pakai peti.
Jadi logikanya si mayat baru aja sampai dari polisi, makanya masih dipeti,makanya ada adegan pria berpeci dan ibu berjilbab lagi ngobrol dan si anak baru lihat bapaknya, makanya langsung masuk peti.
Umat Islam jika meninggal tidak ada yg dikubur pakai peti , Peti itu hanya untuk mengangkut saja ,setelah sampai di makam peti itu tidak dipergunakan lagi . kalaupun pakai peti .... peti yang bawahnya sudah dilubangi dan menyentuh tanah.
mengubur mayit dengan peti tidak disyariatkan,karena tidak ada riwayat dari Nabi Saw dan sahabatnya bahwa Nabi Saw dan sahabatnya mengubur mayit dengan memakai peti.
Jangan lupa setelah jenazah dimasukkan ke kubur, malaikat munkar dan nakir akan bertanya sebelum siksa kubur terjadi.
kalau mau bikin film wong gak usah pakai pocong segala jenazahnya, didandani saja itu mayat pakai jas, celana katun panjang dan pantofel.
Hadeuh, jadi biasanya mayat yang mati karena urusan polisi, misalkan ketembak atau whateverlah, itu selalu dikirim dengan peti. Nanti di rumah itu pocong mau dikeluarin kek, mau didiemin kek ya terserah.
Jadi dalam kasus pelem di Joko, si mayat ini pembunuh berantai yang mampus karena polisi, entah ketembak atau dihukum mati (makenya dikirim pake peti karena sudah prosedur wajib!!!!). Nah, si pocong pembunuh berantai ini baru sampai rumah, terus orang rumah lagi diskusi,mau dikubur kapan atau ini mau dikubur dimana? Jadi itu pocong pembunuh berantai belum sempet diapa-apain, masih di dalem peti, begitu. Kalau pelemnya panjang pasti ada adegan, si pocong dikeluarin dari peti, buat dikuburin.
Udah sampai belum logika ya?
Sekalipun begitu ada based on religion fact yang gagal di short film ini, karena itu pocongkan masih dipeti belum dikuburin. Nah, siksa kubur itu harusnya dimulai ketika udah di dalam kubur bukan masih di dalem peti.
Begitu, boooo jauh amat mikirnya ampe ke malaikat, youre so blinded by faith that threw away your capability to think logic.
Ente penulis skenario film pendek itu sampai2 tahu kalau si mayat pembunuh berantai dan habis dieksekusi mati? sampai tahu kalau keluarganya kebingungan ini orang mau dikubur pake peti apa kagak. faktanya tidak ada dialog seperti itu.
Kalau anda sebagai penonton ya nggak jauh beda sama saya. Saat film dilempar ke publik itu sudah jadi hak milik penonton. Penonton bebas menafsirkan apapun. Artikel di atas yang anda baca adalah tafsiran saya. anda punya tafsiran lain? mungkin akan lebih afdol jika ditulis juga di blog anda. sekarang anda main tuduh saya gak punya kapabilitas untuk berpikir logis. anda ini sejenis fans joko tingkat berapa ya? Hahah. Udah ah. Thanks komennya!!
Posting Komentar