• 29 April 2016





    ADA Apa dengan Cinta (2002) adalah film populer dengan pengemasan menarik dan cerita yang sangat meremaja. Di film itu yang benar-benar jadi tokoh sentral adalah Rangga dan Cinta. Tak ada yang lain, tokoh kedua yang dihadirkan sebagai pengganjal sekaligus pembantu adalah Alya. Sosok yang turut serta dalam mengembangkan karakter Cinta.

    Sekuelnya, Ada Apa dengan Cinta 2 (2016) tak memenuhi ekspektasi sebagian penonton -walaupun tipe penonton yang mudah diarahkan akan bilang kalau film ini memabukkan dan pantas ditonton sejuta kali. Jadi sangat dianjurkan (terutama pecinta film tipe kritis) agar tidak berekspektasi apa-apa. Menonton hanya sekadar ingin tahu. Jadi beginilah review saya (seperti biasa ada bumbu spoiler-nya).

    Plot

    Cerita bermula dari beberapa anggota Geng Cinta yang sudah berkeluarga. Si kocak Milly ternyata kawin sama si Mamet. Bisa dibayangkan dua lemot ini tiba-tiba saling jatuh cinta dan menikah (mungkin Milly adalah seorang janda yang bercerai dengan mantannya seperti dalam film bertema bola Romeo dan Juliet). Maura sudah berkeluarga dengan suaminya yang diperankan Christian Sugiono (Setelah sempat jadi pedangdut di Mendadak Dangdut Maura akhirnya menemukan jodohnya). Karmen digambarkan habis rehabilitasi setelah ketahuan pake narkoba (apa lebih dramatis kalau dia digambarkan penderita kanker seperti dalam Arisan! 2?). Dan Alya diketahui telah tewas dalam kecelakaan tahun 2011 (seharusnya Alya digambarkan bunuh diri seperti dalam film fiksi.).

    Selepas perpisahan di bandara dalam film pertama, Rangga-Cinta sempat pacaran LDR. Sayang hubungan mereka kandas dan sempat lost contact sampai sembilan tahun lamanya. Rangga yang tinggal di New York, asyik berjibaku dengan dunianya. Dia punya kedai kopi (mungkin bosan jadi pengantar rol film seperti dalam Janji Joni dan bosen pula jadi aktifis seperti dalam Gie). Di NY Rangga kedatangan saudaranya yang meminta datang untuk menemui ibu kandung Rangga. Dalam film pertama Rangga memang berkonflik dengan ibunya yang mengabaikan dirinya dan ayahnya. Dendam itu bersarang dalam hati Rangga hingga ia memutuskan untuk ke Yogya dan belakangan mampu berbaikan dengan sang ibu.

    Di saat yang sama Karmen dan Milly melihat Rangga. Hal itu yang mendasari mereka mengatakan pada cinta. Geng Cinta menjembatani pertemuan antara Rangga-Cinta. Di sinilah Rangga-Cinta bertemu. Awalnya komunikasi mereka begitu canggung dan kaku. Kemudian mereka mulai mencair dan menikmati perjalanan mereka, jalan-jalan di kota romantis. Sayangnya untuk kembali menjadi kekasih sepertinya susah. Cinta sudah bertunangan dengan Trian yang diperankan Ario Bayu (mungkin Trian sudah bertobat setelah jadi LGBT  dalam KALA atau ONROP, kemudian dia hendak menikahi Cinta).

    Perasaan cinta antara Rangga-Cinta masih membara hingga tahu-tahu mereka ciuman. Ya, lagi-lagi di tempat terbuka. Mungkin sudah jadi kebiasaan mereka kissing di bandara dan lain-lain.

    Setelah pertemuan itu mereka kembali ke Jakarta dan menyangkal perasaan masing-masing. Terutama Cinta yang sudah bertunangan. Rangga tak bisa dibiarkan terus-terusan jadi seorang pecundang yang bisanya cuma ninggalin dan mendewakan ego. Oleh sang kreator dia digambarkan punya inisiatif yang kuat. Sebelum ke New York (lagi) dia mendatangi Cinta dan menanyakan kembali perasaan Cinta. Cinta menyangkal. Baginya ciuman di Yogya tak berarti apa-apa. Rangga kembali jadi pria lemah dan loyo yang kemudian kembali mabret ke luar negeri.

    Mengulang film yang pertama, Cinta kembali jadi sosok dominan yang memperjuangkan cinta. Ia tinggalkan Trian dan bela-belain ke New York buat ketemu Rangga. Sang kreator harus memancing tensi penonton hingga Cinta dibuat balap-balapan mobil sampai nyaris ditabrak tronton. Pada akhirnya, Cinta menemukan tujuannya. Pada musim dingin itu Rangga-Cinta kembali mengultuskan diri sebagai pasangan kekasih. Mereka pun kembali berciuman. Eww ....

    Kritik

    Sepertinya jelas kalau film AADC jadi sekuel lantaran kreatornya tergiur dengan antusiasme AADC versi Line. Film ini terlihat sangat komersil, tampak dari product placement yang terlihat di mana-mana. Memang untuk sebuah film komersil kita tidak perlu serius menanggapi film ini. Tapi jangan salahkan siapa-siapa kalau ada fans AADC yang tak berharap AADC dilanjutkan. Apalagi setelah 14 tahun! 


    Sang kreator berharap para karakter berkembang, tapi yang terlihat hanya sebatas gimmick. Perubahan yang terjadi sebatas tentang status pernikahan atau permasalahan pribadi mereka. Milly tetap dibuat kocak, Maura digambarkan sensitif dan Karmen meledak-ledak. Cinta tetap dibuat sempurna dan Rangga introvek.

    Jujur Prananto penulis skenario AADC 2002 tidak disertakan dalam film ini. Prisma Rusdi, pencetus AADC 2002 lah yang menulis skenario untuk sekuelnya. Puisi dalam AADC 2 tidak seindah di  film pertama. Puisi-puisi Rangga ini berbeda dengan puisi khas Rangga dalam film pertama. Tentu karena pencipta puisi itu sosok yang berbeda. Puisi yang terdengar cukup picisan dan menggelikan (bagi saya). Terlalu termehek-mehek. Bukan Rangga banget. Puisi ini dibuat oleh Aan Mansyur seorang penyair. Ya, tiap orang berhak berpendapat kan?

    Berbeda dengan puisi di film pertama dengan permainan diksi dan tema yang kuat. Baik tentang kesendirian dan kekacauan, ataupun puisi perempuan untuk Cinta dan ibu Rangga. Puisi dalam AADC 2002 kalau tidak salah dibuat Rako Prijanto (sutradara). Mira Lesmana sempat meminta Rako untuk menulis puisi dalam sekuel. Bagusnya Rako menolak karena membuat puisi untuk komersil itu susah. Saat 2001 Rako menulis karena ia masih muda dan antusias dengan puisi. Mungkin dari situlah kita menemukan begitu indah, jujur dan cadasnya puisi Rangga. Kalau tahun 2016 puisi Rangga jadi menye-menye, mungkin pas di New York Rangga kebanyakan denger lirik lagu dangdut.

    Dari segi sinematografi, kamu bisa lihat sendiri di trailer-nya seperti apa. Film Indonesia selalu lemah dalam urusan pengambilan gambar di outdoor. Selalu moving camera. Jadi jangan pernah berpikir teknis AADC2 sebelas dua belas sama sinematografi (bahkan cerita) film Korea.Scoring yang dibumbui lagu-lagu Melly, tidak terlalu menarik saya dengar. Entah kenapa seperti ada yang kurang. Karya-karya Melly bagus di era 90-awal 2000-an. Mungkin saat itu dia masih jujur dalam menulis. Kesan jujurnya itu sampai ke benak. Nuansa komersilnya masih minim.



    Jajaran akting, semua pemain terlihat berusaha keras merasuk kembali ke dalam sosok-sosok ikonik Geng Cinta. Sayang agak susah bagi (sebagian) kita untuk menganggap Cinta masih Cinta, Rangga masih Rangga, Milly masih Milly dan sebagainya karena para aktor ini sudah bermain di banyak film dan memerankan tokoh lain. Dian berusaha menjadi Cinta walau terlihat sangat 'patah-patah' dan canggung. Mungkin yang perlu diberi apresiasi lebih dari departemen akting adalah akting konsisten dari Nicholas Saputra dan juga Adinia Wirasti. Sissy Pricillia sebagai badut di film ini juga cukup menyegarkan suasana.

    Film AADC 2 akan lebih baik jika alur lebih tertuju pada hubungan Rangga-Cinta dan kompleksitasnya yang dibuat serbalogis. Akan lebih bagus lagi jika tata teknis dibuat lebih saksama. Tapi dengan waktu shooting sebentar dan skenario hitungan bulan, kita tahu akan seperti apa film ini.

    Score: 70/100

    *






    0 Komentar

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan