• 18 Februari 2016



    SALAH satu penyakit filmmaker Indonesia adalah, bikin sekuel karena tergerak sendiri setelah bertahun-tahun lamanya. Sang filmmaker membuat sebuah sekuel atau film lanjutan dari film pertama, semata karena 'langsung terpanggil' atau karena 'asas kangen-kangenan'. Sehingga hasilnya? Jangan ditanya: malah buruk. Atau tidak sebaik film pertama. 

    Film-film Hollywood kebanyakan tahu sebuah film akan jadi film tunggal atau jadi trilogi/sekuel. Jangka perilisan pun tidak panjang. Kalau tidak dua tahun, bisa empat tahun. Bisa pula hitungan bulan atau satu tahun dua film seperti The Matrix.

    Film Hollywood juga mengenal reboot. Ini bukan lanjutan atau bagian dari trilogi, melainkan film yang dibuat ulang. Seperti misalnya The Amazing Spiderman yang merupakan re-boot dari film trilogi Spider Man. Superhero yang digambarkan 'manusiawi' sempat jadi trend dalam satu dekade ke belakang.

    Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Trilogi film Indonesia yang paling dikenal adalah Kuntilanak-nya Rizal Mantovani. Sang filmmaker sudah tahu kalau film ini akan dijadikan lanjutan sampai tiga episode. Dan itu konsisten dilakukan. Soal kualitas, ya tahu sendiri film Indonesia kayak gimana. Jadi pembahasannya dibatasi.

    Sekuel-sekuelan film Indonesia juga terjadi pada  film Virgin karya Hanny R Saputra. Tergoda kesuksesan film ini, Koya Pagayo membuat sekuel Virgin dengan judul yang sangat murahan: Virgin 2:  (dengan sub judul) Bukan Film Porno. Ya eyalah, emang Vivid Production merilis filmnya di bioskop? Judul nggilani itu dianggap pancingan pada penonton agar secara samar film itu memang vulgar. Saya sendiri sempat nonton sekuel film ini di bioskop. Bukan untuk mengapresiasi sih, tapi untuk menertawakan. Ya kebiasaan nonton film buruk sebagai candaan itu sempat saya jadikan hobi sama temen saya. Jadi nggak heran saat semua orang serius nonton, saya sama temen malah ketawa-ketawa di tengah jalannya cerita. Menertawakan kebodohan film.

    Lainnya, film sekuel dan trilogi di Indonesia yang lebih sering maksa adalah film yang diangkat dari novel. Sebut itu Ketika Cinta Bertasbih dan sejenisnya. Film 99 Cahaya di Langit Eropa, film tanpa konflik utama itu juga dibuat sekuel. Sesuatu yang sebenarnya bisa dijadikan satu film, malah dibuat jadi dua jilid. Udah berasa Harry Potter Deadly Hallow aja pake part-part-an. Padahal film bisa dipangkas agar efisien. Berbeda dengan Harry Potter yang seri terakhirnya memang sangat tebal sehingga tak mungkin dijadikan satu film seperti biasa.

    Di Indonesia ini, selain sang kreator susah mengakali skenario, juga ada kepentingan bisnis. Ya, penonton jadi kepengen nonton lanjutannya. Ya udah kayak nonton sinetron aja di ending film ada kata bersambung (lirik film Ketika Cinta Bertasbih).

     Ada Apa dengan Cinta 2

    Bagaimana dengan proyek AADC 2? Kok, kurang bergaung ya? Atau hanya saya yang merasa? Saya sendiri kurang/tidak antusias pada film ini karena jeda waktu menuju film jild dua ini sudah lebih dari satu dekade (2002 - 2016). Nah, gimana nggak aneh tiba-tiba film sakral AADC diterusin? Apa Miles menganggap orang-orang pada penasaran sama lanjutan kisah Rangga dan Cinta?

    "Kamu ini kenapa sih? Kesinggung gara-gara saya nggak mau diwawancara? Kalau gitu wawancara sekarang!"
    "Elo mau diwawancara sekarang? BASI! MADINGNYA UDAH SIAP TERBIT!"

    Kalau misalkan sekuel AADC dibuat dalam jeda waktu yang tak terlalu lama, mungkin akan berkesan. Sekarang setelah sekian tahun lamanya? Memang mungkin cerita AADC 2 ini dibuat 4 atau 6 tahun setelah Rangga Cinta pisah di bandara, tapi dengan rupa fisik para aktor/pemain aslinya yang sekarang? Hal itu cukup mengganggu. Sekarang para aktornya sudah pernah memainkan banyak peran sehingga mereka sudah bukan lagi Cinta, Rangga, Karmen, Milly atau Alya. Sangat susah membayangkan mereka kembali menjadi tokoh-tokoh natural dalam AADC pertama.

    Proyek AADC 2 ini mengingatikan kita pada film sukses Arisan yang kemudian dibuat sekuelnya pada tahun 2011. Hasilnya: kurang memuaskan/mengecewakan. Ragam tokoh memorable dalam Arisan pertama seperti rusak total saat kita menyaksikan sekuelnya. Hal itu sepertinya akan terjadi pada AADC 2. Ending AADC pertama sudah sangat bagus karena cinta memang tidak harus bersama. Soal lanjutannya bisa dikembalikan ke benak penonton.

    Saya menduga Mira Lesmana dan Riri Riza tergoda membuat sekuel AADC setelah melihat film pendek dari Line. Film dari Line itu, meski hanya 20 menit namun sangat berkesan, elegan, dan punya sinematografi yang rapi. Kedatangan AADC film pendek ini dirilis tiba-tiba, membuat publik heboh sendiri.

    Ini Joni dalam Jani Joni, Gie dalam Gie, atau Rangga dalam AADC?
    Cinta sudah jadi ibu muda.

    Mungkin berawal dari situ Mira Lesmana akhirnya terpancing bikin film panjang AADC, dinamai AADC 2 dan disutradarai Riri Riza. Dengan waktu yang cukup pendek itu, apakah mereka bisa membuat skenario yang matang? Coba kalau sekuel AADC itu dirilis dalam jeda waktu 3-4 tahun, mungkin akan berhasil. .

    Saat menonton trailer-nya saja saya agak malas. Saat Rangga membacakan puisi miliknya, mungkin terdengar picisan. Atau mungkin belum akrab didengar.  Lalu ada cuplikan Cinta kembali berjalan menjauh membelakangi Rangga, mengingatkan kita saat scene adegan di jalanan saat Cinta marah sama Rangga. Saat itu body Cinta masih bagus, sekarang Cinta sudah dewasa dan kurang enak pas dilihat dari belakang. Tidak munculnya tokoh Alya juga jadi nilai minus. AADC tanpa geng Cinta yang lengkap? Dari segi gambar film karya Miles selalu pakai kamera mumpuni 3,5 mm, jadi sudah grande.


    Cinta dulu dengan gaya berjalan imutnya.
    Cinta yang sekarang. Terlihat lucu, ya.

    Di jajaran lagu soundtrack, setidaknya dari trailer, kok lagu itu-itu lagi yang diputer? Jangan bilang kalau lagu-lagu AADC semuanya akan di-remake? Kalau begini caranya sih, sangat membosankan. Akan lebih baik kalau pakai lagu baru. Poster dan grafis posternya apa masih pakai trademark yang lama? Apa tidak lebih bagus kalau buat poster baru? Yeah, kita tunggu poster official-nya.

    Ini posternya?


    Apapun, kalau ditilik dari kacamata kreatifitas: bolehlah. Kita juga tidak pernah tahu kualitas AADC 2 sebelum kita menontonnya. Preview tentu akan berbeda dengan review. Siapa tahu saya ada waktu nonton AADC 2 dan kita lihat bagaimana ulasannya nanti.

    *



    2 Komentar

    wah iya ternyata meskipun dian sastro masih cantik, kalau di bandingkan sama dulu apa lagi pas fotonya yang di belakang itu. Beda banget ya.
    Hmm mungkin memnag riri riza itu penasaran sama hasil nya gimana ketika film ini muncul. apakah sama hebohnya sperti ketika video pendek di line ada.

    Fauzy Husni mengatakan...

    Emang keren banget sih yang pertama. Bener juga, kok sekuel lama banget ya?? Harusnya reboot ini sih..

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan