• 14 Februari 2016



    JARGON "I'm Moslem No Valentine Days" mengemuka sejak seahun lalu. Saya sendiri pernah menulisnya di sini  dan ini. Saat itu di situs fanpage muslim, remaja muslim memfoto dirinya dengan tulisan dengan kalimat tersebut. Adapula yang hanya memfoto tulisan itu saja.

    Hal itu dimaksudkan sebagai pengingat sesama muslim terutama remaja untuk tidak merayakan hari kasih sayang yang berujung pada perilaku mudharat. Kalau mengingat berita penjualan kondom meningkat menjelang Valentine, kamu mau bilang apa? Pasti sebagai muslim merasa sedih.

    Jargon itu adalah bentuk imbauan, bukan PAKSAAN. Kenapa kapital semua? Itu capslock jebol? Bukan, kawan. Itu sengaja ngejeder begitu biar pada melek. Karena masih ada yang sinis dengan imbauan kami-kami yang peduli terhadap generasi muda.

    Tadi saya lihat di timeline, ada postingan screenshoot berisi komenan terhadap palentin dey. Sang pemilik akun itu memang dikenal religius dari yang ia perlihatkan di sosmed. Tapi kok saya jadi kecewa saat dia menyetujui komentar capture-an itu? Dengan dalih sebagai bentuk toleransi?

    Dengan dalih toleransi, dakwah kecil pun kena sentil.

    Komentar berbahasa Inggris itu sempat saya baca juga jauh sebelum ini. Di komenan link saya juga ada tuh komencan macam begitu.

    Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, isi komenannya adalah:

    "Kepada muslim, Alhamdulillah jika kamu tidak merayakan Valentine Day. Tapi mohon berhenti memasang poster bertuliskan "Im muslim. Say no to Valentine Day." Bagaimana perasaanmu jika seorang nonmuslim memasang banner bertuliskan "saya Kristen,katakan tidak untuk Ramadan", "sata Hindu, katakan tidak untuk Idul Fitri," "Saya Budha, katakan tidak untuk Haji."

    Serius, Nabi besar Rasulullah menyuruh kita untuk menghormati orang lain walau Beliau tidak merayakan.

    Kalian semua (Muslim)  membuat  muslim jadi terlihat buruk."

    Apakah kamu setuju dengan si pengomen? Kalau saya sih 100 persen tidak setuju. Kenapa?

    1. Si Pengomen ini menganggap imbauan Im Muslim Say No To Valentine Day sebagai sebuah paksaan. Agama Islam sendiri melarang memaksa orang lain. Apa yang kami lakukan adalah imbauan. Mengingatkan sesama muslim kan kewajiban. Soal ditindaklanjuti atau tidak itu jadi urusan pribadi.

    2. Apakah Valentine Days bagian dari ritual agaa tertentu? Kristen. Budha, Hindu atau agama lain? Saya pikir bukan. Itu tidak bisa disamakan dengan paskah, natal, apalagi ramadan dan hari raya umat muslim. Analogi dengan mengaitkan ke hari besar agama dengan Valentine Days adalah keliru.

    3. Rasulullah SAW tentu saja menyuruh kami semua untuk menghormati orang lain atau agaa lain. Lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu bagiku agamaku. Kembali tadi, si pengomen ini mungkin orang yang reaktif. Tatkala imbauan dianggapnya paksaan atau aksi radikal, jalan pikirannya udah pasti kacau.

    4.  Benarkah hanya dengan syiar kecil dan dakwah melarang remaja muslim merayakan Valentine sudah bisa disebut merusak nama muslim sendiri? Tentu saja tidak.

    Semoga umat muslim terutama, yang pemahamannya masih kurang terhadap Islam itu sendiri, dapat mengerti. Memang kalau mau main naif-naifan, kamu mungkin berpikir Valentine nggak separah itu kelez! Sebagai manusia yang punya banyak keterbatasan, apalah daya kita. Kalau bukan dengan jalan mengingatkan dengan cara sederhana seperti ini, dengan cara apa lagi? Memang akan selalu ada kerikil saat seseorang atau sekelompok orang hendak melakukan tujuan baik.

    Semoga kita semua dicerahkan. Aamiin ...

    *





    0 Komentar

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan