- Home>
- Review Film >
- Jurrasic World: Super Impresif
10 Juli 2015
Trilogi JP pun diciptakan. Adalah The Lost World dan JP3.
Sayang dua film ini tidak sebaik yang pertama. Apalagi yang ketiga, sangat
membosankan. Franchise JP ternyata tak berhenti sampai di situ. Jurrasic World
(JW) rilis tahun 2015 dan langsung menjadi box office.
Orang-orang mungkin sudah jenuh dengan hewan purbakala itu. Cukup
banyak film berbau dan bertema dinosaurus pada akhir 90an. Namun keberadaan JW
jadi angin segar tersendiri. Orang-orang kembali penasaran, seperti apa taman
jurasik yang sekarang?
Ternyata hasil filmnya tidak mengecewakan. JP berhasil
karena saat itu sedikit sekali film-film dengan efek megah. Kreator JW tahu itu
dan mencoba membuat sejenis 'reebot' dari JP: ketika cukup banyak scene yang
mirip dengan JP.
Berikut review saya yang penuh dengan spoiler:
PLOT
20 tahun setelah insiden mengerikan JP, taman hewan
kloningan ini dibuka kembali dengan nama Jurrasic World di bawah perusahaan
Masrani Corporation. Taman dibuat di taman yang sama dengan wahana yang jauh
lebih bervariasi.
Namun sang pemilik JW, Simon Masrani ingin ada satu hewan
yang jadi ikon. Hewan itu harus lebih besar, lebih seram dan lebih banyak gigi.
Maka Dr Henry Whu seorang geneticist/pembuat dinosaurus, membuat satu hewan
purbakala gabungan dari gen hewan-hewan lain. Hewan ini dinamai Indominus-Rex
(apakah namanya terinspirasi nama merek mi instan Indonesia?).
Premis ini sangat klise, kita seperti mampu meraba bagaimana
endingnya. Keserakahan manusia yang menjadi bumerang sendiri. Indominus lebih
raksasa dari T-rex, lebih mengerikan bahkan bisa mengubah warna seperti
bunglon.
Seorang manager bernama Claire Dearing adalah orang yang
bertanggung jawab dalam pengurusan JW. Dia kedatangan dua keponakannya Zach dan
Gray. Sayang karena sibuk, ia terpaksa tak menemani kedua keponakannya itu.
Yang kemudian menjadi masalah, Indominus Rex dinyatakan
kabur, padahal hewan itu masih ada di kandang. Kepintaran membuat hewan itu
mampu mengelabui dan bersikap kamuflatif. Korban mulai berjatuhan, ia lepas kandang.
Claire meminta tolong seorang pawang bernama Owen Grady,
seorang pawang hewan raptor. Keduanya kemudian mencari keberadaan Zach dan Gray
yang hilang. Dua anak lelaki itu akhirnya ditemukan, dan kini bagaiamana caranya
Indominus tewas.
Caranya adalah dengan mendatangkan T-rex. Dengan gagah
berani Claire membuka kandang T-rex, memancingnya keluar, dan mempertemukannya
dengan Indominus. Mirip scene dalam film Godzilla, Indominus VS T-rex pun
menjadi scene seru.
Namun yang mengejutkan, Indominus ternyata mati di tangan
hewan lain. Ya, oleh si buaya laut raksasa, Mossaurus.
Film berakhir tanpa menyisakan scene ending. Tapi entahlah,
saya keburu keluar pas ending titlle. Petugas bioskopnya sudah unjuk gigi di
bawah layar kepengen penonton segera keluar. Apakah ada sejenis scene akhir
yang menyiratkan film kelima akan dibuat? Tolong kasih tahu saya.
Kelebihan
Walau punya premis klise tapi eksekusinya sangat tidak mengecewakan.
Penonton dibawa santai dulu menikmati luas dan megahnya JW. Bagaimana ramainya
itu, apa saja wahananya. Saking asyiknya, kamu ingin scene itu dieksplorasi
lebih lama mirip film dokumenter. Tapi ini film dengan durasi terbatas.
Kreator tahu hal itu. Mereka juga menciptakan tokoh-tokoh
yang tak banyak dan gampang diingat. Semuanya serba komikal. Lihatlah Claire
Dearing yang hardworker sampai menelantarkan keponakan-keponakannya. Sifatnya
perfeksionis, tegas, sekaligus canggung. Tokoh ini diperankan dengan sangat
baik oleh Bryce Dallas Howard.
Tokoh Owen Grady lain lagi. Dibuat dengan kostum ala tokoh
adventure dan terlihat sangat maskulin. Menjadi tokoh utama yang paling memancing
simpati karena keberaniannya.
Tokoh Gray si anak kecil umur 10 tahunan dan kakaknya Zach,
sayangnya kurang realistis. Hubungan kakak adik antarkeduanya kurang terasa.
Sebagaimana ciri film Hollywood lain, tokoh-tokoh berbagai
ras dimasukan. Tokoh kulit hitam ditaruh jadi sekuriti operations, ras tionghoa
jadi pembuat dinosaurus, dan orang India kini jadi sang pemilik taman.
Kelebihan lain tentu saja dalam kualitas efek visual. Kalau
kamu berpikir semua efek ini murni CGI, kamu salah. Sama seperti JP, robot
dinosaurus pun dibuat untuk beberapa scene.
Mana adegan yang paling seru? Adegan Pleranodon, burung
purba yang keluar kandang bisa menjadi scene paling mengerikan. Mereka keluar
kandang dan menyerang pengunjung yang berlarian. Tapi semua pasti setuju kalau
yang menjadi hero sesungguhnya adalah Mossaurus. Keberadaanya mungkin hanya
terlihat 3 menit, tapi buaya raksasa ini muncul memberi kesan yang dalam pada
awal, hingga tiba-tiba muncul di akhir.
Kekurangan
Nuansa humor dalam JW memang terjaga dengan baik. Tidak
banyak tapi kena. Joke Claire-Owen bisa memancing senyum. Tapi tidak dengan
tokoh kacamata di ruang pengoperasian JW. Bagi saya itu terlalu dipaksakan.
Salah satu scene yang bisa jadi aneh adalah saat kaka
beradik Zach dan Gray menghindar dari serangan Indominus. Dua anak itu meloncat
ke sungat dan sesampainya di darat mereka malah terkekeh-kekeh sambil berkata,
'akhirnya kau melompat'.
Apa-apaan? Maksudnya mirip scene Rose mau loncat dari kapal
Titanic? Setelah mereka sampai di daratan, bisa saja Indominus melompat dan
melanjutkan serangan. Tapi tidak, hewan itu sepertinya 11-12 sama kucing: takut
air. Dan sangat mengherankan kala dua anak itu ketawa-ketawa setelah loncat dan
berenang. Sempat-sempatnya.
Adegan heroik Calire membuka kandang T-rex juga dibuat
dramatis. Apa kamu berharap tokoh utama simpatik ini langsung dimakan? Tidak,
dengan sepatu hak tingginya ia berlari memancing T-Rex keluar dan berhasil!
Anehnya setelah Indominus tewas dimangsa, T-Rex tak
menyerang Claire dan yang lain. Mungkin T-rex sekarang sudah selembut kucing
meong. Ramah pada manusia.
*
Apapun JW menjadi film menghibur yang berhasil. Rasanya
kepengen nonton film ini dua kali dan berkali-kali. Menyenangkan melewati
beragam scene penuh nuansa thriller yang membuat jantung deg-degan.
Score: 8/10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 Komentar
Posting Komentar