• 19 Februari 2014

    13927459261982594574

    FILM bergenre thriler psikologi "Killers" ternyata masih gagah berp di etalase bioskop. Film ini sudah mengeruk sekira 122.663 penonton di Indonesia. Film yang ber-setting di dua negara yang berbeda sekaligus dibintangi aktor dari Indonesia dan Jepang ini benar-benar mencekam benak penonton. Tapi bagi penyuka film 'gore dan slasher', seseorang sebaiknya meminimalisir ekspektasinya sebelum memutuskan menonton. Dimana tingkat kesadisan yang diharapkan, bisa saja jauh dari harapan.

    Belakangan Daniel Mananta selaku salah satu eksekutif produser, ternyata melemparkan Killers versi sensor, untuk ditayangkan di bioskop Indonesia. Sementara versi uncut-nya hanya akan diedarkan di Jepang dan di beberapa negara lainnya. Dari kacamata produser, tindakan ini dimaklum mengingat film terkhusus genre horor slasher atau drama/komedi erotis, biasanya tak akan 'utuh' lagi karena kena sensor 'sadis' dari Lembaga Sensor Film. Maka untuk menghindari hal itu, dibuatlah versi 'amannya'. Dan hal ini sama sekali tak berdampak begitu mencolok bagi penonton Indonesia. Maklum saja, film horor Indonesia yang box office di biasanya tak jauh-jauh dari unsur-unsur pornografi atau poster serba 'jebakan betmen'.

    Paling tidak film ini diputar pertama kali di Sundance Film Festival di Park City, Utah, Amerika pada 20 Januari kemarin dan mendapa respons positif. Di Jepang juga tak kalah bagus. Killers ditayangkan pada 1 Februari dan rencananya akan diedarkan juga di Perancis, Jerman, Inggris, Turki, Hongkong, Singapura, dan Thailand. Sementara di Indonesia sendiri tayang minggu kemarin tanggal 6 Februari dan seperti yang saya katakan masih gagah perkasa nongol di bioskop.

    *

    Adegan pembuka dalam sebuah film haruslah mampu menyeret emosi penonton. Dibuka dengan adegan yang tak nyaman, seorang lelaki bertopeng "ku klux khan" memburu seorang gadis

    Nomura Shuhei adalah eksekutif muda di Tokyo yang punya kehidupan sempurna. Ia adalah lajang yang digambarkan menyukai gadis bernama Hisae. Sementara itu ada Bayu Aditya, seorang pria beristri dan beranak satu yang tidak bahagia. Selain menjadi suami Dina dan menjadi puteri bagi Elly, ia juga wartawan depresi karena rencananya membongkar politikus yang diduga korupsi, gagal total.

    Bayu yang dilanda stres tingkat tinggi kemudian melihat video pembunuhan yang dilakukan dan di-upload Nomura di sebuah situs terlarang. Hal itu membuatnya tergerak untuk melakukan hal yang sama. Pada awalnya ia membunuh dua perampok dalam taksi karena alasan membertahankan diri, kemudian di saat kondisi keluarganya semakin tak menentu, ia memutuskan untuk mencari korban pembunuhan dan memvideokannya. Persis seperti yang dilakukan Nomura.

    Konflik terjadi saat Nomura sebagai 'mentor' akhirnya berselisih paham dan menyeret Dina dalam kubangan interaksi tersebut. Di sinilah sisi manusiawi Bayu diuji, apakah akan meneruskan, atau berhenti menjadi pembunuh.

    *

    Mo Brothers sepertinya terinspirasi dari beberapa tokoh psikopat di beberapa film horor skala internasional. Tokoh Nomura mengingatkan saya sama tokoh epic, Patrick Bateman, sang psikopat yang diperankan Christian Bale dalam American Psycho. Ada pula unsur-unsur tokoh Dexter sang psikopat gemuk dalam Human Centipede 2 dalam sosok Nomura.

    Kazuki Kitamura, pemeran Nomura, menunjukkan akting gemilangnya. Ia berhasil menjadi sosok pembunuh berdarah dingin yang tenang, namun mencekam. Sementara Oka Antara tampaknya berusaha keras untuk menghayati perannya sampai-sampai segala hal dari dirinya 'keluar', termasuk 'ingus'. Sesuatu yang lumayan bikin saya ngikik di saat orang-orang di bioskop, hening. Sesuatu yang pernah ditemukan dalam ending Sae Heaven dimana Fachri Albar melakukan hal serupa.

    Luna Maya seperti biasanya menunjukkan kualitas akting yang baik, sebagaimana aktris Jepang yang cantik itu, Rin Takanashi. Keduanya adalah 'visual' tak terbantahkan untuk memberikan kesan feminitas sekaligus 'calon korban' atau tokoh yang rentan.

    Sementara dari segi teknis, tak jauh berbeda dengan Rumah Dara. Moving camera ekstrem selalu tiba di scene-scene pembunuhan. Cukup membuat mata lelah lengkap dengan editing yang dinamis. Perkara ending, lumayan mengecewakan untuk sebuah film yang awal hingga pertengahannya bagus/menarik. Apalagi dengan visual efek yang terlihat sekadarnya saat scene jatuh dari ketinggian.

    *
    1392746368717356282


    Killers digadang-gadang sebagai film mengerikan, sekaligus proyek ambisius dari The Mo Brothers. Adalah dua sutradara bernama Timo Tjahjanto dan Kimo Stomboel yang pernah membuat film pendek Dara dan film panjang Rumah Dara. Timo sendiri pernah membuat film pendek untuk film Hollywood The ABCS Death berjudul Libido dan V/H/S 2 yang berjudul Save Heaven (kolaborasi dengan Gareth Evans).

    Killers sepertinya sengaja dibuat untuk konsumsi Indonesia /Asia, dengan menyelipkan pesan khusus bahwa seseorang pada akhirnya tidak perlu menjadi monster, dan bahwa seorang antagonis harus mati. Konsep cerita adaptif (yang disesuaikan) ini perlu juga mengingat penonton Indonesia barangkali saja tak familiar dengan film-film jenis psikopatik. Film Pintu Terlarang atau Kala dari Joko Anwar saja tidak box office.

    Artinya Killers harus dibuat aman dan adaptif. Apalagi penonton setia bioskop Indonesia kebanyakan datang dari anak-anak belasan tahun. Meski film ini mendapat bubuhan dewasa, tapi pengelola bioskop tentulah meloloskan para penonton belia ini karena 21 bukan sejenis sekolahan. Meski demikian ada penonton dewasa/dewasa muda, atau yang melek film dan memasang ekspektasi tinggu untuk Killers, yang sedikit/banyak kecewa atas versi 'sensor' ini. Lihat responsnya di sini.


    Setidaknya Timo Tjahjanto terutama, sudah lumayan puas membuat film pendek 'gila' seperti dalam film pendek berjudul 'Libido'. Tapi secara keseluruhan, Killers bisa dikatakan tontonan horor yang pas dan menakutkan penonton Tanah Air. Apalagi tagline film ini lumayan horor: Inside us lives a killer. Untungnya tagline tersebut diteks-kan dalam bahasa Inggris lewat posternya. Jadi tak terlalu terasa provokatif seperti saat seorang Indonesia membaca: Kita punya jiwa pembunuh dalam diri kita.
    *
    Score: 7/10

    3 Komentar

    Destini mengatakan...

    Saya udah nonton film ini bang. Kalau bagi bang Saman ini kurang sadis, bagi saya sih ini udah sadis maksimal hehe. Ya cuma agak sedikit kecewa di ending pas Dina (Luna Maya) meninggal. Kok tiba-tiba meninggal gitu? mana adegan penyiksaannya? si Nomura cuma bilang kalau Dina is a real fighter. Nah, kan jadi cuma ngira-ngira aja gimana perlawanannya LunMay.
    btw bang, saya cuma mau koreksi sedikit di bagian ini:
    "Nomura Shuhei adalah eksekutif muda di Tokyo yang punya kehidupan sempurna. Ia adalah lajang yang tinggal berdua bersama adiknya yang autis. Selain itu ia digambarkan menyukai gadis bernama Hisae."
    yang autis itu, Soichi adiknya Hisae. Dan Nomura nggak punya adik, dia cuma punya kakak yang sudah meninggal dan jasadnya diawetin di rumahnya.
    :)

    Unknown mengatakan...

    ASLIIII KURANGGGGGGG SADISSS DAN KURANGGG DARAHHHH...BENERAN DAH

    bebas mengatakan...

    Nomura tinggal sendiri oh iya sama mayat kakanya yg diawetin kalo anak cowo yg autis itu adiknya cewe yg disukain nomura, ga inget namanya. Hehe

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan