• 30 November 2013


    BERDISKUSI di social media bisa sangat mengasyikkan, tapi bisa jadi malah membuat kepala mendidih. Diskusi di dunia maya punya sangat banyak kekurangan. Di antara kita tak benar-benar bisa mengenal lawan diskusi kita. Lebih sering yang terjadi kita berhadapan sengan makhluk alay. Bisa jadi dia sudah dewasa, tapi punya kemampuan mengolah emosi yang miskin sekali. Sehingga pendapat yang diutarakan sesopan apapun, dianggap sebagai tindakan ofensif yang tak mau kalah.

    Sudah sebulan ini saya bergabung di grup pecinta kucing domestik (kucing kampung/liar). Wall facebook saya semakin dipenuhi foto-foto kucing saja. Maklumlah fanpage yang saya ikuti kebanyakan bertemakan kucing meong! Tapi di grup ini saya bisa melihat foto-foto kucing lokal yang dijepret sendiri oleh pemiliknya. Awalnya saya merasa terhibur dengan foto-foto tersebut,tapi belakangan merasa boring. Kucing-kucing itu melulu difoto secara indoor. Maklum saja kebanyakan yang aktif adalah catlover yang memotret kucing-kucingnya yang sedang tidur di kamar, makan di ruang tengah, dan sebagainya dan sebagainya.

    Grup juga semakin mengasyikkan karena kita bisa sharing ini itu soal si empus. Kita akan menyarankan hal anu kalau kucing lagi anu. Kita juga bisa memberikan apresiasi pada foto kucing yang bergaya aneh dan bikin ngakak. Ini contohnya:

    Santai ..



    Nah, kemarin itu saya nemu status yang membuat saya gatal untuk berkomentar. Berikut statusnya:




    Saya pun mengemukakan pandangan dengan bahasa yang sopan, meremaja, dan juga baik-baik. Tapi segalanya akan berakhir sama ternyata. Golongan catlover ini kebanyakan perempuan dan pro-steril semua. Komentar mereka pun cenderung klise dan gampang tertebak. Masalahnya saya pernah berdiskusi masalah ini di grup kucing lain. Lihat artikel saya di sini: http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2013/03/04/pengebirian-kucing-kekejaman-pecinta-kucing-540071.html

    Makanya untuk menghindari kontraproduktif, saya pun memblokir akun  Fb tersebut. Tentu saja setelah saya menjawab dengan jawaban yang saya pikir aman, tidak mendeskreditkan, dan saya pikir dia sudah membaca komentar saya. Segalanya pun aman dan terkendali. Saya tak perlu keluar grup dan kemudian aktifitas saya di grup tersebut masih terus dilakukan. Dengan catatan orang yang diblokir tadi tidak akan lagi melihat aktifitas saya.


    Dari contoh tersebut, apakah saya bisa dikatakan pengecut karena menghindari diskusi? Apakah tindakan saya alay dan bocah bingit? Menurut sebagian orang pasti jawabannya iya. Tapi menurut saya sih tidak. Logikanya kalau kita berhadapan dengan orang yang tak kooperatif, ngapain kita harus terus berhubungan dengan orang tersebut? Meski telah mengeluarkan kalimat aman dan sopan tapi beliau-beliau ini terus menyerang sentimen, kenapa harus meneruskan diskusi? Diskusi jadi tak sehat. Penuh dengan pergunjingan yang bisa jadi bikin dosa. Jadi daripada dosa ya jalan blokir itu adalah jalan paling tepat. Meskipun idealnya kita bisa diam saja dan pura-pura cuek. Hal yang sebenarnya bisa jadi nggak mudah kita lakukan.


    Memilih Diam Saja atau Ikut Berpendapat?


    Saya hanya menyuarakan suara pribadi saja kalau saya tak setuju sterilisasi/pengebirian terhadap kucing. Sebab seksualitas dan hak bereproduksi hewan akan hilang. Tidak ada unsur pemaksaan pendapat. Hanya menafsirkan link berisi pandangan kebiri kucing dari kacamata Islam. Di sana disebutkan bahwa boleh mengebiri HEWAN TERNAK. Nah sesuai dengan yang ditulis saudari Ist Budiman kan? Tapi kalau tujuannya ke kucing, tentulah keliru. Kucing bukan hewan ternak. Hewan ternak boleh dikebiri atau dikembangbiakkan untuk alasan konsumsi. Hewan ternak juga bisa diperjualbelikan, termasuk hewan transportasi yang jelas bukan ternak seperti kuda atau unta.

    Bagaimana dengan kucing? Pengebirian diperbolehkan jika keadaan sudah urgen betul. Misalnya populasi kucing merugikan manusia, atau hal-hal lain. Tapi pada kenyataannya menurut saya catlover mengebiri kucing untuk alasan kepraktisan: tidak mau mengurus lebih banyak hewan lagi. Mereka juga berkata bahwa dengan pengebirian, JUMLAH KUCING YANG DISIKSA manusia akan berkurang. Mereka berpikir dengan sedikitnya jumlah kucing, maka tak ada lagi kucing terlantar yang katanya rentan disiksa manusia. Memang ada kekerasan terhadap hewan, tapi apa apa jumlahnya banyak sekali? Sementara kita tahu kucing adalah makhluk predator. Mereka bisa melindungi diri sendiri dengan bakat alami mereka. Kucing juga berguna untuk menyeimbangkan ekosistem alam, menyeimbangkan populasi tikus. Alasan-alasan demikian semata agar catlover prosteril semakin yakin akan tindakan mengebiri kucing meong. Padahal logikanya jelas saja, kalau hak reproduksi kita diambil, gimana jadinya?

    Nah, hal demikian yang kira-kira saya sampaikan. Itu pun dengan bahasa yang lebih friendly. Tapi kita semua tahu kan kalau orang yang berbeda pendapat itu kesannya kepengen dianggap benar? Padahal saya mempersilakan mereka melakukan prosteril. Saya pun bilang kalau kita ini benang merahnya kan penyayang kucing. Punya kontribusi sendiri dalam menyayangi kucing. Tapi memang selalu ada orang yang tak ingin ada suara kontra dalam hidupnya.

    Akhirnya daripada kontra produktif terus ya kita akhiri saja. Hehe ...

     Pengecutkah Memblokir Teman Facebook?

    Meng unfriend seseorang atau memblokir seseorang bukan tindakan pengecut kok. Socmed mengeluarkan fitur blokir/ban untuk kebaikan alias ada alasannya. Sebagai manusia kita pasti menginginkan kenyamanan dan menghindari orang yang tak menyenangkan. Aksi pemblokiran juga untuk kebaikan dia yg diblokir. Untuk mengurangi dosa bergunjing. Jadi tak selamanya sosok pemblokir itu sosok pengecut dan tak suportif.  Lebih banyak bahkan  yang punya alasan untuk menghindari percekcokan. Apalagi untuk teman  FB yang sekali kenal kayak contoh di atas. Dan karena belum pernah interaksi sebelumnya, niat saya sharing dan membuka pertemanan pun jadi kandas karena sebagian mereka kurang menerima perbedaan pendapatn.

    Beberapa pengguna tweet yang membuat saya nggak nyaman di twitter pun saya blok. Dengan begitu semuanya jadi serba aman. Sementara tindakan blokir ini meski mengesalkan yang diblokir, memang lebih tepat ditujukan untuk pelaku socmed yang sudah menyerang kita dengan kalimat sarkastik atau mengancam. Tapi memang lebih sering tindakan blokir didasari oleh ego dan keinginan untuk melepaskan diri dari kekisruhan.


    *

    foto: capture penulis



    4 Komentar

    mufid mengatakan...

    Saya sering juga blok akun yg menurut saya mengganggu, bukan tindakan pengecut kalau menurut saya, mungkin lebih tepatnya menghindari konflik

    Anonim mengatakan...

    Kalau menurut saya, tindakan blok atau unfriend itu nggak dewasa. Sama aja kayak lari dari masalah. Kalau saya mah, cuekin aja. Walau annoying juga, saya berusaha ambil sisi positif. Bisa belajar juga dari itu semua. Nambah wawasan. :D

    saman mengatakan...

    Ya itu kan standar anda. standar saya beda. wkwk

    Anonim mengatakan...

    Standar anda standar ank TK sih mas saman, pengecut

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan