• 15 Desember 2012

    SILENT Hill adalah film horor yang didaptasi dari video games terkenal. Film yang rilis tahun 2006 ini menawarkan kengerian yang berbeda hingga menjadi film yang paling diingat pecinta film horor. Sampai-sampai Scary Movie pun memarodikannya. Namun apa yang terjadi ketika Silent Hill dibuat sekuelnya?


    Sepertinya terlalu lama jeda waktu hingga Silent Hill: Revelation dirilis. Penonton barangkali lupa-lupa ingat dengan jalan cerita di awal. Namun tak perlu khawatir, sebagaimana film sekuel lain, Silent Hill 2 (SH2) memberikan informasi-informasi dasar di film pertamanya.

    Namun sebaiknya, tak perlu memasang ekspektasi tinggi-tinggi terhadap film ini. Apalagi kalau harus nonton di bioskop. Kamu harus siap dengan adanya penyensoran 'mematikan' LSF hingga membuat estetika film menjadi berkurang!

    Plot

    Sharon kini telah dewasa dan diasuh oleh ayah tirinya. Keduanya kerap berpindah-pindah tempat tinggal semata untuk menghindari kelompok sekte orde yang 'bersemayam' di Silent Hill.

    Silent Hill atau Bukit Sunyi adalah suatu kawasan yang 'dikutuk' karena dibangun di atas tanah pemakaman suku Indian. Menurut mitos hal demikian akan membawa kutukan sehingga pada suatu ketika daerah itu terbakar dan penuh abu. Ada sebuah sekte di sana yang berniat menghapus kutukan tersebut. Yakni dengan menumbalkan beberapa orang hingga seorang anak kecil yang bernama  Alessa
    foto: kaskus

    Namun pembakaran anak itu malah membawa kutukan baru. Alessa yang marah membuat Silent Hill kedapatan mimpi buruk. Jika bunyi sirine bergaung, kegelapan akan datang dan monster-monster menakutkan pun akan muncul!

    Ternyata Sharon adalah 'titisan' dari Alessa.  Alessa sengaja membuat Sharon hidup agar menjadi gadis normal di kehidupan nyata dan menghapus dahaga Alessa yang menderita.

    Sharon dan Alessa memang satu jiwa dalam dua tubuh. Sharon mewarisi kebaikan, dan Alessa kejahatan. Namun ketika Sharon kembali ke Silent Hill, Alessa malah marah dan berniat membunuh Sharon. Sharon yang tahu kalau dia pun kembaran Alessa, meleburkan diri dan 'bersedia' terbunuh. Namun karena kekuatan 'kebaikan' lebih wow ketimbang kejahatan, Alessa pun musnah. :p

    Di sini saja saya sudah lumayan tidak puas dengan akhir ... yang begitu mudah. Saatnya melihat cara mati ketua sekte yang berubah menjadi iblis betina yang ngeri-ngeri seksi. Namun monster berkepala kerucut menolong Sharon dan kedua monster itu berkelahi. -___-'


    Tak Sengeri Seperti yang Dibayangkan


    SH 2 menawarkan kengerian parsial (setengah-setengah) yang tak sampai membuat banyak penonton terhentak. Scene-scene yang kita harapkan akan menjadi sesuatu yang mencekam pun akan terasa hambar bin garing. Tidak heran, SH pertama begitu menjadi horor dengan tata artistik dan efek yang mengagumkan. Di sekuelnya, visual dan artistik itu pun sama-sama mengagumkan. Hanya saja, tidak melampaui kualitas SH 1, sehingga SH 2 hanya sejenis pengulangan yang tidak impresif.

    @samandayu
    Yang paling parah adalah jalan cerita atau skenario yang tidak dibarengi dengan hentakan-hentakan scene yang hanya berakhir antiklimaks. Semua serba ditebak tanpa memberikan ketegangan berarti. Duel monster di ending pun terasa hambar. Hanya adegan di dalam ruangan penuh manekin rusak yang bisa dikatangan sangat mengerikan. Ketika monster laba-laba berkepala banyak manekin itu benar-benar sebuah mimpi buruk! Tapi kita hanya akan mendapatkan monster 'inovatif' seperti itu. sisanya ada monster ketua sekte perempuan yang memang mengerikan tapi belakangan malah terlihat konyol.

    Dan yang menjadi ikon Silent Hill sih, monster suster seksi tak berwajah. Monster-monster yang reaktif akan suara ini kembali dipertahankan di Silent Hill.

    Yang jelas Silent Hill: Revelation bisa menjadi tontonan yang asyik di akhir minggu. Film ini memang tersedia dalam format 3D, tapi tampaknya menonton yang 'biasa' pun sudah lebih dari cukup. Jeda waktu yang lama juga membuat penonton tak paham atau tak mengerti jalan cerita sehingga sangat diperlukan ingatan yang kuat atau kejelian dalam memahami dialog. Departemen artistik juga perlu mendapatkan apresiasi yang besar, meskipun ketakutan kita hanya 'dugaan' yang kurang mendapatkan klimaks.

     Dan lagi, kejamnya penyensoran membuat film ini lumayan 'cacat' untuk dinikmati. Jadi bagi yang sayang uang, mungkin lebih baik menunggu DVD versi blue ray resminya. Memang perlu diketahui film-film asing yang bernafaskan bumbu erotis dan kekerasan kadang suka melalui tahapan LSF. Mereka memilih cara aman demikian ketimbang harus membatasi penonton dengan KTP! Kalau dibatesin ama KTP, kagak laku dong ah! :D Tiket aja makin ke sini makin mahal. Nonton hemat aja sudah dibatasi dari Senin sampai Kamis! Jumat pun sudah dideteksi pemilik 21 sebagai weekend. Ah, ah, ah, lumayan mahal juga yah bagi kita untuk mengapresiasi film itu. Heuheu.

    Ending yang membiarkan Christopher (ayah Sharon, istri Rose da Silva) pun seakan memberi clue pada kita bahwa Silent Hill akan dilanjutkan menjadi trilogi. Tapi saya pribadi sudah kehilangan antusiasme. Mungkin kelak kalau beneran dibikin, saya akan menontonnya sebagai camilan semata. :p

    Score: 7/10

    4 Komentar

    Unknown mengatakan...

    weleh ane malah gk prnah k 21 sjak Soegija ,mklum mahal hahah komen back y

    Miawruu mengatakan...


    waduh.. pas baca alurnya, mmg kok jadi aneh gt ceritanya. terlalu 'ringan'. btw, mia jg dah lupa seri pertamanya kyk gmn, dah lama bgt sih haahahahahah

    nuraa mengatakan...

    wah seru nih kayanya ...

    RUDI KAKKA mengatakan...

    Bisa jelasin gak siapa sih itu monster kepala kerucut n kenapa di ending cerita monster kepala kerucut itu bisa berkelahi dengan ketua sekte?

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan