• 22 Mei 2012

    LUMAYAN banyak film-film lokal yang mengangkat kehidupan prostitusi. Namun dalam Bidadari Jakarta, skenario yang dibuat begitu dalam dan utuh. Film ini juga tidak menyinggung masalah prostitusi saja, melainkan penggambaran kalangan termarjinalkan di Jakarta. Sayang film ini tidak terlihat. Salah satu penyebabnya adalah poster film yang dikritik banyak orang di dunia maya. 

    Plot

    MENYIMAK opening scene dalam film ini, kita enggak akan berharap banyak dari segi teknis. Tapi kita akan menemukan gambar yang konsisten dan nyaman di mata. Tidak ada sinematografi sok art bin romantis ala Nayato atau editing gila ala video klip chaos. Film ini berbicara lewat dialog yang menggambarkan kelompok masyarakat tertentu. 

    Seorang gadis belasan tahun bernama Ulin datang ke Jakarta dengan harapan yang klise: mendapat pekerjaan dan sukses. Namun akhirnya dia dijebak oleh seorang banci untuk dijadikan pelacur. Ulin akhirnya jatuh ke lembah prostitusi dan tidak bisa keluar. Dia bersama dua temannya kemudian melacur secara 'independen'. Ulin tinggal di sebuah rumah kamar berpetak yang sangat sederhana dengan Tiara, dan Nisa yang sudah memiliki anak lelaki yang bernama Fahmi (kerap disebut Ingus lantaran suka ingusan).


    Fahmi adalah seorang anak jalanan yang amat menyayangi ibunya yang seorang pelacur. Namun Nisa selalu sering memperlakukan anaknya secara kasar. Nisa dilanda depresi amat hebat terlebih saat dia kalah saing dengan pelacur lain. Menyadari keadaan fisikna yang tidak lebih cantik dan faktor umur, dia pun memakai narkoba dan ditemukan over dosis. Nisa meninggal dan Fahmi mengurusnya sampai dua hari berturut-turut. Scene ini lumayan mengharukan lho. Sementara Tiara adalah pelacur yang 'aktif' dan membuka praktek sana-sini. Alhasil dia terjangkit HIV dan meninggal akibat Aids. Lain lagi dengan Ulin yang akhirnya menjadi seorang dosen ketika seorang pengusaha ganteng melamarnya.

    Jika menyimak plot dan bocoran ending ini, mungkin hanya akan terdengar klise saja. Tapi simaklah berbagai dialog yang sangat mengena. Juga beberapa scene yang membuat bulu kuduk kita bergidik. Seperti tawuran antarpreman yang terlihat slasher, penyodomian terhadap anak kecil, bahkan yang lebih parah, pengemis perempuan yang masih kecil disuruh melayani. Tentu saja adegan itu diwakili dalam standar Indonesia. Namun ini semua cukup membuat kita bergidik betapa nahasnya kehidupan kalangan yang tidak jauh lebih beruntung dari kita itu.

    Berbagai Kritik dari Blogger Movie Freak

    Sebelum mengulas film ini, saya googling dulu untuk melihat pandangan blogger lain. Dan nyaris semua yang mengulas memberikan nilai minor untuk Bidadari Jakarta. Berikut cuplikan kritik mereka dan saran dari saya.

    Blog: Abi Bakar Blog
    He Said: Memang memprihatinkan kebanyakan sutradara dan home production menggunakan resep cabulisme untuk menjual filmnya, memang tidak bisa di pungkiri resep ini ampuh untuk menaikan penjualan, sehingga masyarakat kita di beri “makan” yang porno-porno yang efeknya akan menjadi masyarakat cabul!

    Komentar: Blogger ini menulis artikelnya tanpa pernah menonton filmnya terlebih dahulu. Dia menyatakan film BJ sebagai film cabul bin amoral hanya dari asumsi. Faktanya pada tahun 2010, film-film horor seks atau komedi porno memang menjamur. Beberapa kabar di media juga seperti biasanya mengangkat judul-judul bombastis seperti isu adegan pemerkosaan yang nyata-nyatanya tidak istimewa secara pengadeganan. Sebenarnya adegan 'porno' atau cabul di film ini dibuat dalam batas kewajaran. Lagian jika membicarakan pelacuran, otomatis harus menggambarkan dunia itu baik dari scene maupun dialog. Asal ngomong tanpa pernah diliat dulu pelemnya jadi begono tuh heu.

    Blog: Ngobrolin Film
    He Said: Ceritanya memang kacau amburadul dan ga fokus, banyak karakter yg nongol lalu menghilang - pun dengan ceritanya, lepas dari satu masalah, lompat ke masalah lain, dan masalah sebelumnya tidak tahu bagaimana berakhirnya.

    Komentar: Blogger yang sudah bikin banyak review ini mungkin kurang bisa memahami bahwa adegan yang dibilang amburadul dan kacau merupakan penggambaran dari kriminalnya Jakarta. Karakter yang nongol hilang tanpa 'penjelasan' dan loncat sana sini, adalah bagian dari skenario cerdas. Film ini mudah cerna tapi juga akan membuatmu berpikir.


    Blog: Dimadanie 89
    Skor dari blog ini untuk film BJ: 1.5 dari 5

    He Said: Hmmm... Film ini gimana yah? Kayaknya ini film perdana dari rumah produksi ini yaa? Jujur kalau saya agak kurang jelas. Yang agak aneh yang saya tangkap adalah Ulin kan pas pertama datang ke ibukota aksennya sangat Melayu, tapi pas beberapa scene sesudahnya dia sudah lancar berbahasa Indonesia dan logat melayunya hilang total. Itu sedikit dari kebingungan saya sih. Hehehe. Oh satu lagi, disini diceritakan pengamen jalanan yang merupakan pengamen anak-anak, ngamennya pakai lagu nasional Indonesia. Pertanyaannya, emang masih ada ya, pengamen anak-anak yang nyanyi lagu nasional? Jarang nemuin. Hehee. Kalau saya pribadi, agak bosan dan jadi berpikir 'kok gini sih?'

    Komentar: Scene intensitas aktivitas pelacuran yang dilakukan Ulin sudah digambarkan dalam sebuah montage. Artinya sudah lama dia berkecimpung di dunia prostitusi yang sudah amat pasti mengubah logatnya. Soal pengamen yang nyanyi lagu Indonesia, situ terjun aja deh langsung ke lapangan. =,='


    Blog: Database Film

    Skor blog ini untuk film BJ: 6 dari 10
    He said: Namun timbul pertanyaan yang lebih ekstrim lagi, apa yang menyebabkan pria sesempurna Albert jatuh cinta pada tokoh Ulin? Alasan kasihan? Pernah ditabrak? Atau murni cinta pada pandangan pertama?


    Komentar: Blog yang mendapat blog terbaik versi saya ini menilai jika BJ melakukan konklusi yang 'mudah' dan dipaksakan. Beberapa scene seperti preman atau anak jalanan dianggap tidak dituntaskan. Padahal itu adalah sub-masalah yang sengaja diperlihatkan. Dan pada intinya memang mengarah pada 'bidadari Jakarta', masalah utama: pelacuran. Menganai Albert yang jatuh cinta pada Ulin pun memang ramuan ending film yang klise. Sebab di sini seorang  film maker memang sedang bercerita dengan tujuan memberikan harapan dan penyelesaian bagi penonton. Karena pada faktanya di lapangan, enggak semua pelacur beruntung dapat cowok cakep dan kaya raya. Jadi seorang lelaki yang jatuh cinta pada pelacur sangat mungkin terjadi. Toh dalam skenario, 'jodoh' mempertemukan Albert dan Ulin di scene awal. Jadi tidak ada 'faktor kebetulan'.

    Mengenai psikologi Albert jika ingin dikaji. Albert dari beberapa scene dia pergi ke diskotik, barangkali tipe pembosan sekaligus playboy. Dia menginginkan perempuan yang jauh lebih jujur dan sosok Ulin memang simpatik karena menjadi pelacur karena korban. Terbukti dengan tidak diterimanya dia saat diperkosa dua orang sementara dirinya berpredikat sebagai pelacur.

    Bidadari Jakarta: Gambaran Utuh Dunia Pelacuran


    NANANG Istiabudi mengawali debut filmnya dengan membuat film bertema narkoba dan lesbian dalam Detik Terakhir, dua film selanjutnya adalah film horor kacrut yang tidak perlu saya sebutkan judulnya. Bidadari Jakarta adalah filmnya yang keempat dan dia berhasil membangun contoh dari beberaa segmen karakter seperti preman, anak jalanan, pelacur, pengusaha yang peduli, dan aktivis sosial.



    Saya juga memberikan aplause untuk pemilihan pemainnya. Poppy Bunga bermain apik selain karena lebih berpengalaman di dunia sinetron, dia keluar dari pakemnya dengan memerankan pelacur yang lugu dan berhasil menuturkan suara 'pribadinya' sebagai pelacur. Tapi yang istimewa di antara itu adalah pemeran tokoh Nisa dan Tiara yang menjiawai betul bermain sebagai pelacur. Para anak-anak yang bermain lepas pun layak diberi apresiasi. Seakan mereka ini adalah pemain dari teater yang sudah terlatih.

    Dipilihnya Keith Fo sebagai salah satu tokoh sentral ternyata bisa menjadi semacam senjata makan tuan. Di sisi lain laku keras karena aktor ini identik dengan film bokep nanggung, di sisi lain akan membuat pecinta film lokal waras memandang sebelah mata. Sementara poster film ini memprihatinkan banget! Sumpah, siapa sih yang bikin.


    Score: 8/10 
    akan dikompetisikan dalam Penghargaan Samandayu 2012

    5 Komentar

    Maudy mengatakan...

    Gue gak nongton pelemnya sih. Tapi ya emang jelek/bagus itu masalah selera. Agak ketuker sih kadang Sanubari Jakarta dan Bidadari Jakarta. Ahem.

    Anonim mengatakan...

    posternya kok nggak menarik ya...

    Claude C Kenni mengatakan...

    Cerminan kenyataan yg ada di masyarakat kita pada saat ini ya...memang miris kehidupan di hingar bingarnya ibukota...

    Riu is me mengatakan...

    covernya gak banget dah!

    Anonim mengatakan...

    posternya murahan

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan