• 6 Maret 2012


    OKEY, sudah cukup banyak blogger dan kompasiener senusantara yang me-review film ini dengan konten positif. Judul yang agak-agak gimana versi saya tentu bukan bermaksud untuk mendeskreditkan film atau menjadi pembeda di antara artikel lain. Tapi itulah hal yang bisa saya lakukan, menulis jujur dengan judul yang juga sekehendak hati. Tapi tentulah pembaca bisa menyimak persepsi lain dari salah satu penonton yang menonton film adaptasi novel berjudul Negeri 5 Menara.


    Pada awal kemunculan kampanye film, saya sangat tidak tertarik. Membaca novelnya saja belum pernah. Melihat fakta bahwa novel laris seorang penulis diterbitkan, lumayan bikin ngiri. Sempat jauh-jauh hari menyimak traillernya yang animatif. Saya pun sama sekali tidak berniat menonton. Namun kemudian  hati saya 'tersentuh' dan akhirnya memutuskan untuk menonton. Dan memang, film ini adalah film yang epic, yang dibuat sangat serius, dan bertata seni yang lumayan tinggi. Semua perkara teknis diperhitungkan dengan baik. Artistik, sinematografi, tata suara, dan editing juga musik, semua bersinergi mendukung setting pesantren. Lengkap dengan kasting yang patut diapresiasi. Meski ada yang kurang menyenangkan di ending cerita, yah, menurut pandangan saya tentu.

    Enggak heran peminat film ini pun kalangan waras sejenis mahasiswa atau ibu-ibu bawa anak atau pelajar MAN. Soal bangku penonton, ketika saya masuk, barangkali hanya dua baris saja yang terisi. Tapi katanya sudah ada 50 ribu orang yang sudah menyaksikan film ini di Indonesia. Waw! Dan percayalah, film ini memang sangat layak tonton.

    Plot

    KISAH ini bercerita tentang seorang pemuda peragu, pemalu dan soleh bernama Alif. Yang dibesarkan atas didikan orang tuanya yang taat agama (diperankan David Chalik dan Lulu Tobing). Alif yang berasal dari Padang ini berniat berkuliah di ITB, namun dia harus menuruti orangtuanya dengan berpesantren di Ponorogo setamat SMP.


    Sesampainya di Pondok Madani, dia berteman dengan lima orang remaja dengan latar belakang kultur yang berbeda. Ada Baso dari Gowa, yang paling pintar di kelas dan pandai membaca Alquran, ada Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya dan Dulmajid dari Madura. Keenamnya kemudian menjalin persahabatan dan suatu siang bertekad untuk mempraktekkan slogan Man Jadda Wajada (yang berhasil adalah yang bersungguh-sungguh).


    Kalimat itu sendiri diperkenalkan di kelas Ustad Salman (Donny Alamsyah). Yeah, ketika semua anak siap mengikuti kegiatan belajar mengajar, sang ustad datang dengan dua bongkah dahan pohon dan sejenis golok. Setelah salam dan perkenalan, beliau memotong dahan pohon itu dengan golok berkali-kali. Kemudian berteriak "Man Jadda Wajada!". Scene tanpa banyak dialog itu adalah representasi dari kesungguhan kita dalam meraih sesuatu. Makanya diumpamain pake dahan gelondongan kek gitu.


    Nah, di satu siang yang saya maksud, keenamnya mengobrol tentang cita-cita, yang kesemuanya mengarah pada cita-cita yang tinggi. Ada yang ingin belajar sampai Amerika, Afrika, Eropa, tapi tiga lain konsisten belajar di Indonesia. Dan selanjutnya, penonton akan digiring pada aktivitas pesantren yang digambarkan begitu natural.

    Mulai dari Alif yang menjadi reporter di majalah pondok, keikutsertaan Baso lomba pidato Bahasa Inggris, membantu membenarkan generator, sampai membikin pentas teater. 


      Ending Menggelikan dalam Negeri 5 Menara

    Negeri Lima Menara punya format yang sama dengan Laskar Pelangi. Dua-duanya sama-sama mengambil masa kanak-kanak sebagai awal cerita juga konsep edukatif dan tidak menggurui. Bedanya Negeri 5 Menara setahu saya adalah novel trologi, dan Laskar Pelangi sudah menjadi tetralogi. Setahu saya lagi dari yang saya simak hanya di film pertama keduanya, Negeri 5 Menara punya ending lumayan klise, ketika kesemua tokoh meraih cita-citanya, sementara Laskar Pelangi setahu saya punya beberapa tokoh yang gagal atau pada awalnya gagal meraih cita-cita. Negeri 5 Menara juga punya nuansa Islami yang lebih pekat dan setting yang lebih berwarna. Menyoal film mana dari kedua itu yang lebih baik? Saya angkat tangan. Sebab saya kurang menyukai Laskar Pelangi (film) hanya karena jajaran kasting yang mengecewakan.

    Inilah yang saya rasakan pada Negeri 5 Menara. Terutama di ending, ketika anak-anak belasan itu tumbuh menjadi pria-pria mapan. Beberapa aktor terkenal dan yang beberapanya komedian, dengan 'seenak udel' menggantikan para tokoh di masa kecil. Perbedaanya? Jelas sangat kontras. Ketika Alif muda yang diperankan Gazza Zubizareta, harus digantikan aktor Aryo Wahab. Entah di umur berapakah wajah cute dan innocent Gazza berubah menjadi wajah yang seolah memendam banyak tekanan batin. Tapi dalam scene ending itu, sebuah handphone Nokia dan Motorolla keluaran lama terlihat. Dan kedua kubu sedang kontak melalui speaker hape, bukan pidio. Jadi kira-kira setting mereka dewasa, ada di awal 2000-an. Sorry kalao salah. Mungkin yang sudah membaca novel triloginya bisa kasih komeng. Tapi ending ini sumpah bikin saya ketawa ngakak kejer. Penonton lain juga pada ngakak, tuh.

    Ending yang menurut saya cuma tempelan itu mungkin akan dijawab di sekuelnya yang konon masih rencana. Sebab saya sebenarnya terheran menyaksikan kesuksesan keenam (enamnya) para tokoh yang soleh-soleh ini. Semua serba ujug-ujug alias tiba-tiba, seolah ingin mendukung kalimat Man Jadda Wajadda. Dan karena semua tokohnya bersungguh-sungguh, maka berhasillah mereka semua. Ini tentu tidak haram dalam sebuah drama. Tapi cukup membuat kening saya berkerut dan berpikir kalau ini hanyalah cerita yang naif.


    Meski akan dibuat sekuelnya, tapi saya pribadi tidak punya keinginan untuk menonton lanjutannya. Sama halnya seperti Laskar Pelangi dengan sekuelnya Sang Pemimpi. Sampai sekarang tak pernah saya menonton Sang Pemimpi, yeah, hanya karena jajaran aktor yang menurut saya tidak pantas untuk memerankan tokoh-tokoh epic dalam novel (saya membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor). Jadi sebagai tanda kekecewaan, biarlah saya hanya membaca bukunya saja, ketimbang menonton filmnya. 

    Meski demikian Negeri 5 Menara memang film yang berkualitas di awal tahun ini. Sang sutradara Affandi Abdul Rachman baru saja menyelesaikan The Perfect House yang gemilang itu. Kini ia mengulangi kemapanannya men-direct Negeri 5 Menara. Para aktor muda yang dipilih itu konon 'dikarantina' dulu dengan aktor lain agar mendapat nuansa keakraban yang pekat. Dan itu berhasil. Sehingga sebagai penonton, kita seperti melihat film dokumenter anak-anak pesantren, ketika mereka tidak terlihat sedang berakting, namun benar-benar melakukan hal yang dialami di pesantren.

    Saya juga menaruh respek luar biasa untuk poster film ini, dengan keenam tokoh juga dengan bayangan menara yang menjadi tujuan mereka. Benar-benar merepresentasikan konten film. Tapi ada beberapa poster film genre sejenis yang menurut saya tidak bagus. Ketika film-film Islami sejenis meletakkan aktor senior di poster demi sebuah pamor, maka Negeri 5 Menara tidak melakukannya. Lihat bagaimana poster Semesta Mendukung atau Hafalan Shalat Delissa, wajah-wajah aktor terkenal nempel tepat di atas sekumpulan anak-anak polos itu. Alangkah indah jika bagian montage kepala-kepala itu dihilangkan, agar menjadi poster yang indah dan artistik. Namun begitulah cara kampanye produser, sebab konon masyarakat lebih ingin menyaksikan film dengan bintang terkenal di dalamnya.

    Tanpa kepala-kepala itu, poster film
    ini akan meyakinkan. Percayalah.
    Ini poster apa poto kelas?

    Sementara para aktor senior dalam Negeri 5 Menara memang patut mendapatkan apresiasi. Penonton yang tidak melihat trailernya akan terkejut melihat beberapa aktor kawakan atau aktor muda yang muncul seolah cameo. Di jajaran akting, semua berjalan sempurna. Pemeran Alif muda pun bermain natural dan mengingatkan saya pada tokoh Harry Potter yang simpatik (dan tokoh Alif ini representasi dari penulis novel tersebut). Dan selanjutnya Negeri 5 Menara menurut saya sangat tepat ditonton segala umur. 


    Yeah, pada akhirnya saya harus klise, tapi film ini mengajarkan penontonnya untuk LEBIH bersungguh-sungguh meraih cita-cita. Dalam film ini juga ada dialog kalau meraih cita-cita itu harus TINGGI sekali! Ya, ampuN! Jadi inget sama Nyai Momon, deh. Soal ketiga tokoh itu terutama yang bersekolah di luar negeri, saya anggap ketiganya dapat beasiswa atau keberuntungan tingkat dewa. Sebab dalam beberapa cerita, kau tak harus mengharapkan para tokohnya gagal go international. Tidak harus realistis memang, karena penggambaranlah yang lebih penting.


    Score: 8/10
    Foto: Google

    16 Komentar

    Miawruu mengatakan...

    waaannn.. penasaran mmgnya begimane endingnya sampe ketawa gt? message ane ya kl ga mau ksh bocorannya di khalayak umum *tsaaahhhh*. kalo ntn sendiri males ah, laskar pelangi aja ga mia tntn. ayat2 cinta yg fenomenal itu aja kaga ntn mianya, tapi baca novelnya ada sih.

    kl film yg ga komedi, suka ngantuk ntnnya wan. kl yg endingnya nyebelin suka sakit hati ntnnya wqwqwqwq

    btw, ketawa pas baca "ini poster film apa foto kelas sih" wqwqwqwqw

    Destini mengatakan...

    pemeran Randai juga jauh dari harapan. Di buku ke 2 kan Randai bisa memikat cewek cantik bernama Raisa yang juga di sukai Alif. kok yang meranin Randai malah....*lupa nama aslinya :-

    terus yang meranin adiknya Alif, kok malah kelihatan kayak kakaknya ya -___-
    soal endingnya emang bikin ketawa. Pemeran Alif dewasa kayaknya make Ario Bayu soalnya wajahnya mirip sama penulis aslinya.hehe

    but, nasehat dalam buku ini dapet banget.

    saman mengatakan...

    @mia: mending nonton deh :p
    destini: ralat: yang memerankan alif dewasa itu aryo wahab, bukan ario bayu hehe

    Riu is me mengatakan...

    bener kaaaannn
    udah sesuai dugaan sih...
    novelnya aja aku gak bca, gimana filmnya. :P

    Destini mengatakan...

    wahahaha lah iya itulah..aku lupa nama aslinya

    Dodo Wiyono mengatakan...

    Memang ada beberapa perbedaan yang jelas antara buku dan filmnya.....

    Seperti tokoh Randai (Seperti kata destini) yang berkebalikan. Dibuku memang gambaranya lebih tampan dari pada Alif. Perbedaan ini mungkin dimaksudkan untuk lebih fokus ke Alif.

    Juga dujualnya kerbau untuk biaya sekolah Alif, yang didalam buku sebenranya adalah motor (Bukan kerbau).

    Yah,,,endingnya memang terlalu terburu-buru, juga terjadi pergeseran certia yang awalnya lebih ke Alif, semakin ke belakang sepertinya lebih ke Baso.

    Ralat : Pemeran Alif dewasa ARIO WAHAB (Mungkin karena mirip dengan penulisnya, walau kontras dengan GAZZA) bukan ARIO BAYU.

    Ca Ya mengatakan...

    wah,,,kirain saya doank yg rada' gimanaaaa gitu ama endingnya hehe...sangat disayangkan memang, dari awal sampai klimaksnya,film ini menarik,tapi jatuh bebas pas endingnya. Sayang banget >,<

    Anonim mengatakan...

    akting Eriskarein bagus ngga wan??
    -hyding

    Unknown mengatakan...
    Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    di novelnya memang setting yang digunakan itu era 2000an awal... (buat endingnya) bahkan diceritakan kalau alif dihubungi sama temannya di PM dengan menggunakan BB. mungkin tahun 2007/2008. pas mereka ketemu di london yah memang agak2 aneh.... terkesan dipaksa... :(

    setuju sama dodo.... terus ke belakang, fokus ceritanya malah ke Baso... :(

    Unknown mengatakan...

    tetep ya kang.. ujung2na teringat si nyai dengan single di masa kecilnya.. wkwkwkwk


    akh tuh kan saya jd penasaran pingin liat filmnya...haha tp lebih pingin baca bukunya sih.. *cari pinjeman dulu*

    zuri mengatakan...

    Hahaha ngakak baca yg paling bawah,kok si nyai dipah gogon !
    blm nonton mlah baru baca novelnya blm slesai,dari gaza yang blastrean pakistan ke aryo wahab,ya ga cucok lah !

    krismorgana mengatakan...

    wew...ga jdi ah nontonnya...
    baca aja belum. dan memang hidup tidak se naif buku/novel yang secara instant menjadi sukses...walau pun sudah bersungguh-sungguh...hmmmm

    Unknown mengatakan...

    Gue cuma setuju ttg cast tokoh2 ketika udah dewasa sangat2 ngga cocok...

    Yang lainnya, Gue suka banget sama film ini. Pesan moralnya banyak, akting tokohnya bener2 natural...

    Btw, Gue saranin sih pada baca novelnya dulu baru komentar, sistem ceritanya emang mirip Laskar Pelangi. Dari kecil --> dewasa --> flashback lagi ke belakang --> dewasa lg --> flashback lagi, begitulah seterusnya...

    Di novel yg ke-dua dari Negeri 5 Menara ini, Ranah 3 Warna, nantinya bakalan flashback lagi ke masa Alif baru lulus dari Al-Madani, dan pas niat mau lanjut ke ITB, dia baru sadar kalo dia ngga ada ijazah SMA. Nah, nanti di sini Alif gak cuma berbekal Man Jadda Wajada, tapi juga Man Shabara Zhafira (yg sabar akan beruntung). Konflik di sini juga bakalan makin jelas...

    Jadi kalo dikau udah pesimis dan udah niat ngga peduli sama sequelnya, coba pikir lagi... :D

    Dodo Wiyono mengatakan...

    Kalau untuk urusan departemen akting, Affandi A Rahman memang mampu men-direct cast-nya dengan baik, terutama untuk aktor remaja utamanya. Apalagi, dengan pengalaman sang sutradara : Pencarian terakhir, Heartbreak.com, Aku atau Dia hingga The Perfect House.

    Affandi memang lihai dalam berbagai genre.

    Memang bukunya bagus, cuma untuk filmnya minim konflik plus ending yang terburu-buru. Jadi Keberhasilan Salman Aristo di Laskar Pelangi seperinya rada-rada gagal dalam naskah film ini.

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan