• 6 Oktober 2011

    SUDAH 15 bulan bulan blog ini ikut serta dalam meramaikan kancah perblogan di Tanah Air. Samandayu bahkan sudah diendus google dengan konten yang cenderung ‘anti mainstream’. Ketika blog sudah kadung didefinisikan dengan penyuguhan konten berisi curhatan pribadi dengan gaya khas kocak ala teenlit pula lengkap dengan kata ganti ‘gue’, maka Samandayu mencoba menjadi dirinya sendiri dengan menggunakan kata ganti ‘saya’ ...


    ... serta lelucon yang cenderung berbau erotisme dan susastra jenis SMS (Sastra Mazhab Selangkangan –istilah Taufiq Ismail untuk menyebut karya penulis perempuan muda seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan lain sebagainya. Saya sendiri menentang label yang berlebih ini).

    Beberapa pembaca mengira apa yang saya lakukan adalah tindakan pamer untuk mengharapkan pujian dan eksistensi. Beberapa pembaca lagi mengira saya ingin diganjar predikat pintar bin intelektual. Tapi saya percaya sebagian besar pembaca blog saya ( yang juga sebagian besar silent reader) bisa menilai karya saya secara positif. Bahwa berbagi adalah belajar. Saya bahkan tidak merasa membagikan ilmu pada pembaca. Saya mencoba berbagi dengan kosakata dan diksi (pilihan kata) yang saya ambil, yang saya buat dengan ‘tidak mengarah’ dan hati-hati. Yang saya buat dengan selipan yang terkadang frontal demi kemerdekaan berekspresi (yang juga membuat sebagian pembaca murka). Itulah nikmatnya kebebasan mengeluarkan pendapat. Selama itu dilakukan di koridor yang benar, saya pikir itu akan baik-baik saja dan bermanfaat untuk pembaca. Meski saya sadari ada pula pembaca yang tidak berterima dengan cara saya menulis. Selain faktor usia, lebih sering terjadi karena faktor intelektual dan kematangan emosional dari pembaca yang bersangkutan.

    Selamat Datang Bulan Bahasa

    Apakah kawan pernah mendengar istilah Bulan Bahasa? Lebih tepatnya, sih, Bulan Bahasa dan Sastra. Itu berlangsung pada bulan Oktober karena pada bulan ini Sumpah Pemuda lahir (pada 28 Oktober 1928) yang salah satu butirnya menetapkan jika bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa/bahasa nasional.

     Kalau di kampus saya dulu, bulan-bulan ini anak-anak UKM Sastra mengadakan acara perlombaan sastra. Misalnya lomba puisi, membuat cerpen, dan sejenisnya. Saya juga pernah juara, lho. Waktu itu tahun 2007 dan saya menang juara 2 Lomba Menulis Puisi Asas (Asas adalah salah satu UKM sastra terkenal di Bandung). Lomba-lomba semacam ini juga diselenggarakan di beberapa sekolah dan kampus. Bahkan, Kemdiknas kita menyelenggarakan lomba seperti ini untuk kalangan pelajar sampai umum. Jadi saya sarankan kalian untuk ikut atau mempromosikannya pada teman-teman kalian yang punya ketertarikan terhadap kesusastraan,

    Lunturnya Kebanggaan Indonesia

    Saya selalu merasa bangga karena pernah mengecap pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia. Meski sempat dipandang sebelah mata karena jurusan tersebut dinilai punya prospek kerja yang kecil dan termasuk ke dalam jurusan yang tidak populer, tapi saya bangga karena telah memilih dan melakukan apa yang suka. Selalu ‘banyak’ orang yang menyukai ekonomi, hukum, politik, teknik, bidang-bidang yang lebih terlihat dan termasuk mayor. Namun tidak kepada bidang sastra. Sastra telah identik dengan sesuatu yang serius dan berat. Selain itu, kurangnya minat baca masyarakat berpengaruh pula pada minimnya mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Kalau saja pemerintah bisa lebih giat dalam memopulerkan bahasa nasional kita, serta didukung dengan sarana dan prasarana semisal perpustakaan, penyediaan buku murah, atau perpustakaan keliling, bukan tidak mungkin kalau rakyat kita bisa lebih memilih membaca buku ketimbang menonton televisi.

    Contoh kurangnya kemampuan masyarakat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tercermin dalam hasil ujian nasional. Contohnya dalam UN SMA/SMK tahun 2010, mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran dengan nilai yang paling rendah. Bahkan, siswa yang gagal dalam UN, mengulang pelajaran untuk mata pelajaran ini. Di tahun 2011, nilai mata pelajaran ini termasuk yang paling rendah jika dibandingkan mata pelajaran lain yang di UN-kan. Paling tida inilah pengakuan Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional pada 1 Juni 2011 saat mengomentari hasil UN di Jakarta pada sebuah media cetak.

    Prihatin? Tentu. ‘Bagaimana mungkin’ orang Indonesia tidak/kurang menguasai bahasa ibu sendiri. Dan kekurangmampuan remaja berbahasa Indonesia ini merupakan cerminan dari apa generasi sebelumnya, metode pendidikan, dan budaya pop. Remaja lebih senang mengikuti hal-hal yang berbau tren. Tidak heran ketika film Ada Apa dengan Cinta? yang memiliki konten sastra-nya itu, lumayan banyak remaja yang ‘mendadak’ menyukai sastra. Dan di era ini, kita sudah diperkenalkan dengan bahasa alay (anak lebay) dengan pencampuran teks dan angka agar penggunanya terlihat imut, cute, dan lucu.Apalagi dengan penggunaan bahasa asing campur bahasa Indonesia yang memang tidak 'memperburuk keadaan' jika itu ditujukan untuk latihan berbahasa asing'. Namun apa jadinya jika seorang publik figur berbahasa asing di daerah yang bukan teritori bahasa asing yang dia gunakan? Besar kemungkinan penggemarnya akan mengikuti tingkah polah yang sama.

    Selain itu, minimnya nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia dikarenakan pelajar lebih menitikberatkan perhatiannya pada mata pelajaran yang 'serius' seperti Matematika, IPS, atau IPA. Sehingga ada kesan, untuk apa mempelajari bahasa kita sendiri?

    Tidak hanya itu, media juga turut serta dalam memengaruhi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Ketidakkonsistenan penggunaan bahasa Indonesia banyak terjadi sana-sini. Jadi saya setuju jika bahasa Indonesia harus dikritisi dulu sebelum mengkritisi bahasa-bahasa prokem seperti bahasa gaul, bahasa banci, bahasa preman, yang sempat marak digunakan, atau di era ini: bahasa alay. Penggunaan bahasa Indonesia yang baku dengan EYD bisa ditemukan di harian nasional Kompas. Sisanya, media cetak dan elektronik menggunakan bahasa Indonesia ‘asal sampai’ alias asal bisa dimengerti pendengar/pembaca/penyimak. Kalaulah media-media besar itu menggunakan bahasa yang konsisten, bukan tidak mungkin kita semua akan semakin melek kepada bahasa ibu sendiri, dan nilai Bahasa Indonesia dalam UN akan menjadi nilai tertinggi dibanding mata pelajaran lain.

    Baiklah, saya berikan saja contohnya. Meski ini terdengar sepele dan dinilai tidak penting, tapi sampai kapan hal yang konsisten ini tidak digunakan?

    Selama ini kita menganggap kalau kata berimbuhan ‘mempunyai’ adalah kata yang sesuai EYD. Padahal itu keliru. Karena, yang betul adalah ‘memunyai’ sebab imbuhan me- akan selalu luluh dengan kata dasar dengan huruf depan P, J, K, T. Jadi, manakah yang benar? ‘Mempesona’ atau ‘Memesona’? ‘Memfoto’ atau ‘Memoto’? Itu hanyalah salah satu contoh. Masih banyak ketidakonsistenan pemakaian bahasa Indonesia yang kita/media gunakan.

    Tentu saja, kita tidak perlu menggunakan bahasa baku setiap hari. Dalam keseharian, lebih sering orang-orang memakai bahasa daerah, bahasa prokem, atau bahasa yang hanya dimengerti komunitasnya. Namun, kita tidak selamanya menjadi remaja, kan? Ada masa-masa kita berada di depa podium, memimpin rapat, mengeluarkan pendapat saat seminar atau presentasi kelas, membuat tulisan, berpidato, dan di tempat-tempat yang menuntut kita untuk menjadi formal.

    Meriahkan Bulan Bahasa dengan Mengikuti Lombanya!

    Kemendiknas, baru memeriahkan bulan bahasa tahun ini dengan berbagai lomba. Ada lomba membuat puisi yang diikuti pelajar SD, lomba menulis cerpen remaja yang diikuti remaja, sampai lomba blog! Nah, kalau kalian mau tahu secara rinci, klik saja link ini. Meski saya tidak menemukan link unduh yang dimaksud tulisan tersebut. Coba, deh, kalian yang buka. Ada nggak, sih, link unduhnya? Atau belum dipasang pihak sana? Hehe..


    Setelah saya googling, syarat-syarat untuk lomba blog adalah:

    Melakukan pendaftaran dengan melengkapi identitas pemilik blog dan data-data yang lain dikirimkan melalui pos-el lombablog2011@gmail.com:
    - Nama lengkap
    - Tautan Blog
    - Alamat Pos-el yang aktif
    - Nomer Ponsel yang aktif
    - Tanggal Lahir/usia
    - Alamat/kota tempat tinggal saat ini
    - Pekerjaan
    - Satu paragraf pendek, mengenai mengapa Anda mengikuti lomba kompetisi blog ini dan bagaimana tanggapan Anda mengenai masalah Kebahasaan dan Kesastraan di Indonesia pada saat ini.
    - Pendaftaran paling lambat tanggal 15 Oktober 2011 dan blog wajib memasang banner Lomba Blog Kebahasaan dan Kesusastraan.

    Kalian bisa like page facebook berikut dan dapatkan informasi yang lebih jelas di sana. http://www.facebook.com/pages/Lomba-Blog-Kebahasaan-dan-Kesastraan-2011-Badan-Bahasa Yang like baru 169 orang, lho.(Dikit banggetz!!)

    Saya juga akan ikut lomba ini, lho. Tapi saya tidak berharap menang. Maklum, konten yang ada di blog ini suka-suka alias campur sari. Ada artikel di saat saya sedang serius dan kritis, ada pula konten yang apa-apaan, konyol dan sarkastik. Soal cerpen dan cerbung saya? Aduh, lebih banyak bertema slasher dan erotism. Yang penting, ikut serta saja itu sudah menjadi hal yang bermanfaat untuk saya pribadi. Kalian ikutan juga, ya!

    Bulan Bahasa di Sekte Saman

    Karena saya bukan blogger dari kalangan mainstream dan dengan konten yang pantas dibaca anak 18 tahun ke atas, maka pembaca setia pun Cuma bisa dihitung jari. Follower twitter pun tidak membanjir oleh karena saya menyadari kalau blog ini punya pembaca terbatas, pembaca-pembaca jenis ‘silent reader’ yang barangkali  ‘dewasa’ dan tidak punya jejaring sosial atau merasa cukup hanya dengan berkunjung, membaca, setelah itu usai. Selain itu remaja (pengguna internet) kita lebih senang membaca bacaan yang bersifat ringan, lucu, dan menghibur. Tidak heran jika Raditya Dika atau Poconggg digandrungi remaja se-Indonesia.

    Jadi, meski punya komunitas kecil, tapi saya senang dengan aturan baru di grup saya untuk berkomentar dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar selama sebulan ini. Dan ini juga berlaku untuk para komentator di Samandayu, lho. Dan di bulan ini, saya akan memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD paling tida sampai satu bulan ke depan. (^_^)




    Ini adalah link brosur perlombaan di atas. Silakan unduh:
    http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/lamanv42/sites/default/files/1.%20Brosur%20Lomba%20Blog%202011_1.pdf



    Gambar: google

     Referensi:

    22 Komentar

    Sansa Gift & Hampers mengatakan...

    Menarik untuk dicermati bahwa pendidikan di negara maju lebih mengutamakan pendidikan bahasa ibu dibandingkan bahasa asing seperti Bahasa Inggris. Hasilnya? Jauh lebih baik dibandingkan negara ini yang terlalu mendewakan mata pelajaran serius. Mengapa? Kembali pada filisofi mereka bahwa setelah mengetahui bahasa ibu sendiri,maka pemahaman terhadap pelaajaran lain akan lebih teresap. Secara tidak langsung akan membuat mereka mencintai negerinya dan berusaha untuk mempelajari hal yang lain. Ide yang sangat baik untuk ditiru oleh kita. Jadi selamat datang bulan bahasa dan sastra. Sekte saman mungkin salah satu apresiatornya, tapi tidak mustahil akaan menjadi pelopor untuk gerakan cinta bahasa Indonesia untuk yang lain.

    Xinnosuke mengatakan...

    asik bung, saya jadi tertawa saat bung saman memberlakukan peraturan bahasa baku di group
    (ngakak sambil ngangkang)

    RIRIZ mengatakan...

    mungkin untuk remaja yang mengaku kalau dirinya adalah "anak gaul", ini akan menjadi suatu keanehan buat mereka. tapi untuk saya ini sangatlah menarik. mengingat sehari-hari kalau saya berbalas komentar dengan teman di dunia maya, saya menggunakan bahasa campur aduk yang tak jelas jadinya.

    dan ketika Om Saman memberlakukan peraturan berbahasa indonesia yang baik dan benar, saya sedikit tergelitik di buatnya ketika membaca komentar semua orang di grup.
    (ahh ini bener gak sih EYDnya -__-" lieur sorangan jadnya)

    Murodi Shamad mengatakan...

    Menarik sekaligus pembelajaran yang disulap menyenangkan terlebih peraturan yang digunakan di Sekte Saman.

    dalam penggunaan bahasa yang baku dan EYD memang dirasa sangat kurang. media pers, baik cetak, televisi ataupun radio dan internet seperti tidak terlalu mempermasalahkan hal ini.
    mungkin mereka berpendapat dengan menggunakan bahasa sehari-hari masyarakat kita akan cenderung lebih terhibur dan pesan yang ingin disampaikan media tersebut lebih mengena.
    akan tetapi bukankah itu bentuk pembodohan terselubung ?

    ayo, sebagai generasi muda pelajari bahasa ibu itu adalah harta kita juga bukan?

    saman mengatakan...

    Dea: Terima kasih atas tambahannya. Sangat setuju. Salam Kompasiana!

    Nasihin: Iya, kapan lagi berkosakata baku ala novel atau drama. Paling tidak 'siksaan ini' akan berakhir ketika Oktober usai.

    Ririz: Yah, menggunakan bahasa Indonesia baku sering dianggap remaja sebagai tindakan yang kuno, kurang akrab, dan 'apa-apaan'. Sangat sah-sah saja menggunakan kalimat keseharian, tapi penggunaan Bahasa Indonesia juga dikuasai.

    Odi: Ya, setuju. Pembodohan terselubung. Menarik. (heuheu..)

    Dian Wardanaaa mengatakan...

    saya benar-benar merasa kaget om, hampir sama seperti muhammad nasihin, tapi dia lebih ke kekontek lelucon, tapi saya benar merasa aneh, dan baru pertama kali mendengar 'bulan bahasa' ..

    saya sendiri belum pernah sama sekali menggunakan bahasa indonesia dengan EYD yang benar dalam percakapan sebenarnya, karna notaben ( itu bener nggak tulisannya ) hehe di kota saya semuanya menggunakan bahasa daerah yang kental, dan jika kita menggunakan bahasa indonesia langsung di kata-katain, sok keren lah, atau sebagainya :)

    (maap om komennya random ) hehe

    Unknown mengatakan...

    klo tidak dimulai dari kita untuk kembali menggunakan bhs indonesia yang baik dan benar, siapa lagi???

    Dita Khusnul Khotimah mengatakan...

    kenapa penggunaan bahasa indonesia yang sesuai EYD hanya dilakukan dalam satu bulan saja? baiknya dilakukan setiap hari.

    namun, dosen bahasa indonesia saya pernah berkata. bahwa penggunaan bahasa indonesia yang paling baik adalah yang sesuai situasi dan kondisi.

    (kan gak mungkin bilang sama mamang becak "mang, berapakah yang harus saya bayar untuk bisa sampai ke depan? kan dengan bilang "mang, ke depan berapa?" mamang nya juga ngerti)

    nah, begitulah kira-kira. (hahahaha)

    saman mengatakan...

    Dian: Istilah bulan bahasa memang bukan saya bikin sendiri. Silakan googling untuk mengetahui lebih banyak (Heu). Menggunakan bahasa itu, kan, sesuai konteks. Ini berhubungan dengan hubungan sosial. Sama halnya saat kita memilih diksi yang tepat untuk anak-anak, sebaya, dan orang tua. Entah itu memakai bahasa Indonesia, prokem, atau daerah. Penggunaan bahasa Indonesia tidak hanya lisan, tapi tulisan. Sangat berguna bagi pelajar dan mahasiswa jika sedang mengerjakan karya ilmiah/makalah/skripsi/tesis.

    madz: Setuju sekali Bung Madz.

    Dita: Ya, seperti yang Dita bilang. Kalau ini dilakukan selama 12 bulan, akan jadi seperti apa nantinya? Takutnya jadi seperti kasus 'tukang becak' itu. Anggap saja ini sebagai upaya memperingati bulan bahasa ini atau sama-sama sedang belajar mengetekskan bahasa Indonesia. Nanti ada kawan yang memperbaiki kesalahan bahasa teks tersebut. Ini juga mungkin menyenangkan karena tersimak seperti dialog telenovela.

    Memang benar penggunaan bahasa Indonesia itu disesuaikan dengan konteks, yang erat hubungannya dengan bidang sosiolinguistik dan antropologi. Dan, lebih sering kalimat langsung/dialog dalam novel pop, memang mengacu ke sana: bahasa sesuai konteks. Tapi tanyakan pada Dosen Dita, apa itu berlaku di novel susastra angkatan lama? (:3)

    Abah mengatakan...

    saya menulis di blog dengan kata "gue" karena merasa lebih mengalir dalam menulis. karena ketika awal-awal saya menulis di blog menggunakan bahasa baku saya merasa kurang mengekspresikan diri saya. tapi ketika dituntut untuk menulis dengan bahasa baku saya masih merasa sanggup untuk melakukannya.
    di sma saya juga sering diadakan perlombaan untuk memperingati bulan bahasa. tapi itu tidak saya rasakan lagi ketika memasuki dunia kampus.

    @Dita Khusnul Khotimah: kalau saya tidak salah, kalimat "mang, ke depan berapa?" juga seudah menggunakan bahasa baku. mohon Bung Saman untuk mengoreksi apabila saya salah. :D

    Dika Arianti Lestari mengatakan...

    setuju bang!
    *sebenernya bingung mau ngomong apa*
    Sistem pendidikan Indonesia lebih mengutamakan mata pelajaran eksak seperti matematika, IPA, hingga mengutamakan pelajaran bahasa asing seperti Bahasa Inggris.
    Memang, saya adalah salah satu pecinta bahasa Inggris. Tapi meskipun begitu, tidaklah melunturkan kecintaan saya terhadap bahasa Indonesia. Bahasa tanah kelahiran saya.
    Selain itu, jam pelajaran bahasa Indonesia disekolah-sekolah lebih sedikit dibandingkan pelajaran lainnya.
    Menurut sebagian anak remaja jaman sekarang, bahasa baku mungkin sangat membosankan. Tapi tidak dengan saya. Saya terkadang lebih nyaman jika menggunakan bahasa baku walaupun saya sendiri sadar bahasa baku yang saya gunakan belum begitu sempurna. Mohon bimbingannya dalam menggunakan bahasa baku ya bang :D
    (huehehehe.. maaf loh ya bang kalo bahasanya ini campur aduk ga karuan:p)

    crisan mengatakan...

    hihi,semacam terapi juga lho di grup Samandayu.

    Riu is me mengatakan...

    Sedikit aneh sebenarnya ketika kita terbiasa menggunakan bahasa gaul, tiba-tiba saja diperintahkan untuk memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kikuk, tentu saja. Tapi demi menyukseskan acara danaturan yang dibuat oleh pemilik blog, saya harus melakukannya meski harus dengan terpaksa. *(nyengir)

    saman mengatakan...

    Rahmat: Sebenarnya tidak masalah ingin memakai kata ganti apa. Kalau itu mencerminkan siapa kita dan mengekspresikan diri, pakailah kata ganti yang kita suka. Sebab, dengan menulis blog (yang positif) saja itu sudah hal yang baik.

    Kalimat langsung: "Mang, ke depan berapa". Secara gramatikal (bentuk) sudah betul. Tapi secara konteks akan melahirkan ambigu atau multi tafsir. Maksudnya 'ke depan' kemana yang dimaksud? Dan, apanya yang 'berapa'.

    Dika: Pelajaran eksak atau IPS untuk jurusan IPS yang dinomorutamakan atau yang harus dipelajar 'secara lebih serius dan intens' adalah cermin betapa pelajaran tersebut adalah sebuah momok. Seharusnya tidak ada yang harus diprioritaskan. Semua mata pelajaran harus diprioritaskan.

    Crisan: Lebih tepatnya grup Sekte Saman yang berjumlah 200- lebih sedikit anggota. Sementara grup Samandayu punya 2000-an anggota yang sebagian besar anggotanya bahkan tidak tahu apa itu Samandayu.

    Mahasiswa Baru: Terima kasih sudah berkomentar. Silakan baca lagi artikel di atas. Di bagian bawah ada link untuk mengunduh formulir perlombaan. Ini baru saya dapat dari balasan komentar saya di halaman facebook lomba tersebut.

    saman mengatakan...

    Arif: Ya, setuju. Ayo, kita sukseskan!

    eh tapi blog samandayu walau menggunakan bahasa hampir EYD tetap bisa dinikmati koq. Hehehe...
    saya suka blog ini... :D

    tak kalah sama blognya Poconggg

    Anonim mengatakan...

    Wah saya liat udah di pasang tuh bro linknya. Coba deh di cek lagi :)
    Ini linknya
    http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/lamanv42/?q=node/2625

    Kaget mengatakan...

    Wah bulan bahasa sebentar lagi ya. Mirisnya negara kita yang sering menggunakan bahasa gaul hingga seperti bahasa resmi :(

    Anonim mengatakan...

    Wihh manteb ikutan ah... oia ituh linknya udah bisa kok.... barusan unduh udah bisa...

    Asop mengatakan...

    Jangan sampe menganggap bahasa baku membuat blog gak enak dibaca. :( Justru saya beranggapan blog berbahasa baku lebih enak dibaca. ;)

    Jadi bulan Oktober ini selain bulan batik juga bulan bahasa ya. :D

    beby mengatakan...

    saya bingung harus harus bersuka cita atau berduka cita akan adanya bulan bahasa ini bung saman

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan