• 15 Juli 2010

    KAWAN, teman-teman saya semasa kuliah rata-rata menyukai puisi. Sebagian bahkan senang membawakannya. Berteater, berdrama, berkesenian dengan puisi. Sesuatu yang dibawa sejak mereka SMA dalam barangkali sebuah pensi.  Mungkin kawan juga suka (siapa yang tak suka). Tapi acapkali beberapa di antara kita tidak pede ketika harus menuliskannya. Tentu saja karena ada kata ‘harus’ di sini.

    Maksud saya, menulislah tanpa ada paksaan. Keluarkanlah apa yang ada di pikiran, apa saja, kata apapun, diksi apapun, kalimat apapun. Selain sukses sebagai media patah hati atau peluapan rasa cinta, puisi juga dapat meningkatkan jiwa berseni masing-masing.
    Kenapa harus ada kata ‘harus’? Maksud saya, katakanlah teman saya semasa SMA yang memlagiat puisi lain saat tugas Bahasa Indonesia. Atau lebih syukur meminta bantuan orang. Tentu akan lebih indah jika dilakukan sendiri. Sebab tahukah, bahwa puisi itu akan terasa indah karena kejujurannya. Nah, saya akan berikan tips-tips untuk beberapa di antara kita yang hendak menulis puisi. Mungkin untuk kalian yang sudah jago, tips itu boleh dijadikan angin lalu. Tapi semoga bermanfaat untuk yang pemula.

    1.       Menulislah tanpa ada ‘paksaan’. Singkirkan standar tinggi mengenai puisi yang bagus setelah kita membaca puisi lain yang mungkin jauh lebih ‘kaya’. Mengawali lebih baik daripada tidak. Jadi jangan tunggu sampai ilham yang ada di kepala pergi. Sebab mungkin susah untuk mendapatkannya kembali.

    2.       Seperti yang saya katakan, puisi adalah sarana ‘kebaikan’ untuk menumpahkan perasaan. Suatu hari saya berkelahi dengan dua orang di masa perkuliahan. Lalu saya menumpahkannya dengan kata-kata dan jadilah sebuah puisi tak berjudul. Ketika saya membacanya kembali keesokan harinya, saya beri saja judulnya ‘Amarah’. Yang kemudian sempat dibawakan teman saya Sifa dalam pertunjukkan teater mahasiswa baru. Dan kelak, jika kita membacanya kembali di waktu yang berbeda, kita akan ingat sebuah memoriam. Katakanlah bahwa saya pernah berantem juga, bahwa kawan juga sempat patah hati atau jatuh cinta. Nah, semoga ‘kisah’ ini akan membuat kita yakin bahwa perlunya berpuisi dengan tulus.

    3.       Perempuan lumer dengan kata-kata. Ini adalah tips rahasia saya. Haha. Gombal, ya. Untuk menarik rasa hati lawan jenis (terutama kaum lelaki pada kaum perempuan, yang tua atau yang muda), berikan ia puisi cinta. Tapi jangan pernah menyadur atau mengadaptasi karya orang, ya.

    4.       Siapapun tak suka karya palsu. Suatu hari saya sebagai Seksi Kesenian di OSIS SMA mengadakan lomba puisi Islami. Saya terkejut dengan salah satu puisi teman saya, Ucon dan Sidki yang begitu bagus. Tapi lihat ketika saya menemukan antologi puisi di perpustakaan. Begitu mirip dengan kedua puisi anak itu. Wah, tidak jadi deh, membuat mereka sebagai pemenang. Karya orisinil lebih baik daripada mengambil karya orang. Sama dengan mencuri, lho. Dan seorang hati seorang pencuri selalu tak akan pernah tenteram.

    5.       Perbanyak bahan bacaan. Kawan bisa menemukan karya-karya puisi berkualitas di koran setiap akhir minggu. Seperti di Kompas, Seputar Indonesia atau media-media lain. Bisa juga didapat di perpustakaan sekolah, universitas, umum, toko buku.. Tapi tunggu. Buku antologi puisi di Indonesia begitu sedikit.  Perlu dimaklum? Jelas iya –meski sangat disayangkan. Namun jika  masyarakat lebih beranimo pada puisi, bukan tak mungkin penerbit akan memasarkan banyak buku kumpulan puisi.

    6.       Memperbanyak bahan bacaan apapun dapat meningkatkan daftar kamus diksi atau pilihan kata di kepala kita. Kita juga bisa ‘meniru’ ciri khas penulis kesayangan. Ini hal yang lumrah pada tahap awal. Dan jika kawan konsisten, maka akan muncul ciri khas sendiri. Jadi, teruslah berlatih.

    Kawan, saya rasa hanya itu. Jadi tunggu apa lagi untuk menulis puisi? Kalian juga bisa memostingkan puisi kalian di blog saya ini. Semoga bermanfaat!
     

    1 Komentar:

    Abah mengatakan...

    terima kasih tipsnya, saya mau belajar menulis puisi lagi. kalau berkenan nanti mohon kritik dan sarannya. :D

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan