• 14 Januari 2012

    MALAM minggu ini saya menemukan tayangan waras dari Metro TV. Yaitu Idenesia, Ide untuk Indonesia yang dipresenteri Yovie Widiyanto. Seorang musisi berkualitas dari Indonesia yang ternyata punya kemampuan mengarahkan acara dengan bagus. Nggak nyangka saya. Tayangan yang baru saya sadari itu membahas tentang bahasa baku Indonesia dengan tema, kalau tidak salah 'Bahasa Indonesia Bisa Juga Gaul'.


    Narasumber yang dihadirkan adalah blogger, Raditya Dika, seorang presenter perempuan yang saya lupa namanya dan budayawan, sastrawan, Radhar Panca Dahana.

    Ini menarik karena fenomena bahasa nonbaku yang sering digunakan anak muda, atau yang lebih dikenal sebagai bahasa alay atau gaul, mendapat pandangan dari dua generasi yang berbeda. Dua dari sudut pandang anak muda dan perwakilan dari rakyat sipil yang 'awam' mengenai tata bahasa baku. Dan yang satunya dari profesional. 

    Pada kesimpulannya kita akan menemukan betapa kita memang harus menempatkan kapan dan terhadap siapa kita memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebab menurut Radhar, penggunaan bahasa itu terbagi menjadi tiga.

    Satu, bahasa konseptual; dua, bahasa praktik, tiga, bahasa puitik.

    Apa yang kita kenal dengan bahasa alay atau dengan teks percampuran huruf angka yang ngetren pada medio 2009, adalah bahasa praktik. Bahasa keseharian dengan kata ganti lo, gue, baik yang kita gunakan sebagai komunikasi langsung ataupun tulisan blogger, masuk ke dalam bahasa praktik. Kesompulannya hal ini tentu dilegalkan karena mobilitas sosial tidak pernah mengenal kata kaku. Ada yang tua, berarti ada yang muda. Yang muda mencari 'cara' agar identitasnya berbeda dari seniornya. Maka mereka membikin kosakata yang hanya dimengerti mereka, yang kemudian diikuti oleh yang sebaya dengan dirinya. 

    Bahasa konseptual, adalah ketika kita menggunakan bahasa atas pertimbangan kapan, dan terhadap siapa kita berbicara. Contohnya ketika kita berpidato kenegaraan, kita wajib menggunakan bahasa Indonesia baku. Presentasi makalah di kelas, wawancara kerja, ujian sidang, adalah contoh lainnya. Di media teks, tulisan karya ilmiah wajib menggunakan bahasa Indonesia sesuai EYD. Contohnya skripsi, tugas mata kuliah, mata pelajaran, dan sejenisnya. 

    Bahasa puitik, adalah bahasa penuh ambiguitas dan multi tafsir. Digunakan dalam karya sastra jenis puitik, dan deskripsi cerpen atau novel yang acapkali memerlukan dramatisasi teks seperti kalimat penuh perumpamaan. Jadi, kita akan menemukan bahasa puitik dalam karya fiksi seperti novel, cerpen, cerbung, atau teks drama. Dan dalam ranah perfilman, kita juga bisa menemukan bahasa puitik, karena bahasa adalah alat komunikasi yang dipakai dalam cerminan kehidupan manusia: film. Dan oleh karena tanpa skenario, sebuah film tidak akan pernah ada. Dan tentu saja beberapa film yang menggunakan teknis bahasa puitik karena biasanya film di luar mainstream ini kurang mendapat perhatian masyarakat luas.

    Kemudian pada akhirnya, kita diberi keleluasaan untuk menggunakan bahasa sesuai porsi dan situasi. Secara pribadi, saya tidak risih dengan temuan bahasa-bahasa alay dari anak muda jaman sekarang. Itu hanya sebatas bikin saya tersenyum sambil ngulum rambutan. Saya hanya khawatir, jika tata bahasa alay/gaul itu terus dipelihara, bukan tidak mungkin anak/pengguna bahasa yang bersangkutan akan menemukan kesulitan ketika dia beranjak dewasa.

    Dalam dunia kerja atau dunia akademik misalnya, seseorang akan terlihat 'terdidik' dan 'berisi' jika mampu menggunakan bahasa Indonesia baku. Jadi mari kembali memahami dan belajar mengenai penggunaan bahasa Indonesia  baku yang baik dan benar, yang bisa kita pelajari dengan mudah dengan membaca koran nasional, cerpen, novel/karya sastra Indonesia, atau menonton program news Indonesia. Meski untuk memahami pungtuasi/tanda baca, akan lebih efektif jika kita rajin baca koran pagi (harian Kompas terutama).

    Dan tahukah, jika kita punya kemampuan bahasa Indonesia yang baik, maka itu akan membuat diri kita lebih mudah menganalisis dan menuangkannya ke dalam media teks ataupun dialog. Sebab tahukah kenapa, jika kita pernah merasa susah mengemukakan pendapat baik dalam dialog maupun teks? Atau merasa susah mengemukakan ide/gagasan? Yah, barangkali karena kita rajin memakai penggunaan bahasa nonbaku, dan mengenyampingkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik.

    Tapi saya percaya, banyak anak muda Indonesia yang berpikir kalau menggunakan bahasa Indonesia baku itu keren. Seperti blog Samandayu yang konsisten memakai bahasa Indonesia baku, sebagai wujud kecintaan saya terhadap Indonesia. Meski tentu saja, karena blog adalah media menguraikan pendapat, maka penggunaan bahasa yang dipakai adalah bahasa praktik, yang tentu tidak sepenuhnya baku, sesuai EYD, dan disusupi bahasa-bahasa keseharian.


    *

    9 Komentar

    dian andriyana lutter mengatakan...

    wah....ternyata saya lumayan berbahasa indonesia yg baik an benar dalam tulisan atau dalam berdialog. dan saya bangga, karena saya lihat teman2 blog sebagian sangat nonbaku atau setengah-setengah, tapi saya konsisten dengan bahasa baku karena memang sudah biasa....(kecuali kadang pake bahasa sunda sebagai bahasa kedua saya)

    Riu_aj mengatakan...

    Seertinya bahasa Alay akan terus berlanjut. Secara anak kuliahan sekarang juga masih suka memakai bahasa itu. Kalo anak SMA sih aku masih memaklumi, tapi kalo sudah anak kuliahan dan masih pakai bahasa Alay, #tepokjidat dah!

    btw, tadi tidak sempat lihat acaranya. thanks sudah dibuat reviewnya, me. makin cinta mati aja nih...

    Unknown mengatakan...

    hmmm,menarik gan untuk disimak. tapi rasanya masyarakat hrus membiasakan diri untuk pakai yang baku. karena selain karena efek bahasa gaul,bahasa indonesia juga banyak tercampur dari bahasa daerah setempat atau diserap dari bahasa asing

    Tulisan Terakhir! mengatakan...

    Itu yang saya suka, Anda memaparkan sesuatu hal dengan menarik. Semoga suatu saat Anda menjadi salah satu narasumber seperti mereka.

    Bitchy Nerd mengatakan...

    Perkembangan bahasa Indonesia baku di kalangan siswa-siswa sekolah sudah dalam tahap kritis Me. Banyak teman-teman di kelas, kalau membuat presentasi/karya tulis (cerpen/teks drama) bahasa dan tanda bacanya kacau. Dan yang bikin gregetan guru-guru Bahasa Indonesia membiarkannya :-? Hadeeh.

    Ramy mengatakan...

    yang mengganggu dan gak keren itu tidak baku yang dipaksakan :D

    zuri mengatakan...

    semoga saja yg sadar akan bahasa indonesia yg baik n benar lebih bnyak daripda pengguna bhasa alay,geli banget deh klo da orang yang sudah bukan pelajar tapi tulisan n bhasanya alay mode on.

    setuju sm yg di atas prkembngan bhasa indonesia di kalangan pelajar sudah dalam tahap kritis,lihat saja di fb betapa alay dan membingunkan nama nama mereka. "bELLLaaSaaiiiAAnnkDia CeLaAManya" :D

    pernah coba gunain EYD, tapi kayaknya ngerasa munafik aja. :( serasa pembunuhan karakter

    Armae mengatakan...

    Baku atau tidak baku menurutku tidak masalah. Yang penting sesuai dengan situasi, kondisi, serta siapa yang sedang diajak berbicara. :)

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan