- Home>
- Film Horor >
- Martyrs: Penyiksaan Demi Seorang Saksi Mata
3 Januari 2012
BAIKLAH, sebelum saya ngerjain banyak editan, saya akan me-review salah satu film yang baru saja saya tonton. Martys adalah film Perancis-Kanada bergenre horor yang mendapat rating tinggi di IMDB. Film yang menjadi salah satu official selection Festival Film Cannes ini ternyata enggak sekacangan film-film sejenis yang memborbardir kebrutalan. Martys punya suatu konsep artistik sebagaimana tipikal film Perancis seperti Antichrist. Bedanya, Martys dibuat lebih dinamis, gamblang, dan tak membosankan. Paling tidak menurut saya.
Kebanyakan film bertema horor menaruh plot 'pemanasan' di tiga puluh menit awal pemutaran film. Namun Martys ternyata tidak mau berbasa-basi dengan penonton. Setelah scene cewek dalam keadaan luka-luka kabur dari rumah penyiksaan, kita akan disuguhi scene singkat seorang anak cewek bernama Lucie, korban penyiksaan yang diasuh di panti asuhan. Di sana, dia didekati seorang anak perempuan bernama Anna. Keduanya kemudian bersahabat dan memiliki hubungan batin yang kuat. Sayang, trauma Lucie membuatnya selalu berhalusinasi. Dia kerap didatangi 'arwah' perempuan bertampang menyeramkan dan berkulit terkelupas.
Selanjutnya, kita akan disuguhi adegan kehangatan sebuah keluarga dengan sepasang suami istri dan seorang anak lelaki dan anak perempuan yang masih remaja. Ketika asyik mengobrol saat sarapan pagi di meja makan, pintu pun diketuk. Sang ayah membuka pintu, namun matanya terkejut saat melihat seorang bertudung sedang siap menembaknya dengan senapan. Tanpa ada kesempatan berlari, gadis yang bernama Lucie itu menembak sang kepala keluarga. Secara brutal, dia pun menembaki sang nyonya rumah. Tak cukup sampai di situ, pemuda tanggung pun di-jedernya setelah Lucie tanya-tanya umur. Selanjutnya, dia mencari yang satunya, remaja cewek yang ngumpet di bawah ranjang, yang akhirnya mampus juga.
Merasa bersalah, Lucie menelepon Anna. Sementara menunggu, Lucie diserang monster ganas yang selalu mendatanginya. Anna pun datang dan mulai membantu membereskan empat korban ke dalam lubang di halaman belakang. Namun sial, si nyonya rumah masih hidup. Anna yang berjiwa welas asih itu hendak menolong sang nyonya. Namun sayang, Lucie keburu datang dan memukul kepala si nyonya bertubi-tubi dengan benda tumpul sampai tewas.
Lucie ngamuk. Monster kembali menyerang. Sampai akhirnya kita tahu kalau monster itu hanyalah halusisnasi Lucie doang. Yeah, saking mengalami penyiksaan sedemikian hebat di masa lalu, dia pun memunculkan setan perempuan di kepalanya sendiri yang mampu melukainya. Hal ini disebabkan ketika dia kabur dalam rumah penyiksaan, dia tak sempat menolong seorang perempuan yang disiksa. Hal ini membuatnya semakin merasa bersalah dan menganggap perempuan itu hidup dan mengganggunya.
Karena mengalami depresi yang cukup kuat, Lucie pun bunuh diri dengan cara menggorok lehernya dengan pisau. Dia pun mampus. Anna pun menangis gogoakan sampai akhirnya membawa kawannya ke dalam rumah. Siang harinya, sesuatu membuatnya memasuki ke sebuah ruang bawah tanah yang sedemikian modern. Di sanalah dia bertemu dengan seorang perempuan korban penyiksaan.
Anna pun menolong perempuan yang kepalanya ditutup besi itu. Namun si korban malah ngamuk sampai beberapa orang datang dan menembak si korban sampai tewas. Anna pun menjadi korban penyiksaan selanjutnya setelah seorang nenek memberitahukan hal mengenai dunia akhirat yang dilihat korban-korban penyiksaan. Kata si nenek, orang yang sedang disiksa itu mampu melihat alam akhirat.
Dia ditelanjangi, kulitnya dikelupas (kecuali di areal muka). Payudaranya hilang sehingga yang terlihat hanyalah daging dan otot-ototnya yang merah, berdarah, dan berlendir. Dia pun ditaruh dengan cahaya super panas yang menyinarinya.
Karena mata Anna selalu melotot melihat sinar, hal itu membuat para penyiksa terkejut. Kemudian si nenek pun dipanggil dan menemui Anna. Bertanyalah si nenek apa yang terjadi di hadapan Anna. Anna pun berbisik, dan kita tidak tahu apa yang dia katakan. Entahlah, mungkin berharap go international di akhirat.
Dan ternyata, kita akhirnya tahu kalau projek penyiksaan itu dilakukan sekelompok sekte yang kepingin tahu kehidupan lain setelah mati. Mereka berbondong-bondong masuk rumah untuk merayakannya. Seorang ajudan mendatangi si nenek di dalam kamar. Namun si nenek malah membunuh dirinya dengan pistol di dalam kamar. Pistol itu dipelatukkan ke mulutnya. DOOR! Film habis.
Martyrs: Penyiksaan Demi Seorang Saksi Mata
MUNGKIN kalau saya lihat ini film pas jamannya kuliah, maka kesan impresi akan lebih tercium nyinyir. Namun, setelah tahun kemarin tontonan saya kebanyaka yang berdarah-darah, Martyrs pun seperti tidak menawarkan apa-apa. Konsep film ini lebih mirip Saw dengan ideologi yang lebih 'spiritual' dan agamawi. Tidak pula dibandingkan dengan Hostel karena Martys sama sekali tidak memiliki konten seksual. Sesuatu yang harus diacungi jempol. Yeah, kecuali jendolan puting pemeran perempuan, atau adegan ciuman Anna pada Lucie. Jadi tontonan ini bukan film yang tepat untuk yang cunihin alias mesum. Karena Anna enggak akan pernah diperkosa oleh algoji yang menyiksanya.
Sementara ketegangan luar biasa dihadirkan dari awal menuju pertengahan film, ketika adegan penembakan dilancarkan sedemikian realistis. Lengkap dengan tampang gugup campur menyimpan dendam milik Lucie. Belum lagi dengan kemungkinan aroma setan akan kemunculan halusinasi Lucie, membuat penonton bertanya-tanya sekaligus bersiap-siap dikejutka oleh scene mengerikan.
Secara plot, seperti yang saya bilang, dinamis di awal, agak lambat di akhir. Tapi ramuan ini justru mengasyikan karena pada akhirnya saya sebagai penonton bisa diberi kesempatan 'bernapas'. Yeah, selagi bernapas teratur, agak mengerikan melihat Anna yang sudah dikuliti itu. Hiiiy ...
Mengenai bagian sinematografi, tata kamera dibuat sedemikian dinamis mirip penggunaan kamera tangan, terutama dalam scene baku hantam. Yah, kalau di kita mah tata kamera seperti ini suka dibuat sutradara sekelas Nayato atau Rudi Sudjarwo untuk menyamarkan kekurangan bujet film. Di scene lainnya, tata kamera dibuat normal. Sementara bagian scoring dan tata artistik, tak ada yang istimewa. Yang jelas, film ini lumayan menggambarkan secara jelas gambaran penyiksaan agar terlihat nyata tanpa stop motion terutama di adegan tampar-tamparan muka.
Martyrs diambil dari bahasa Yunani yang berarti saksi mata. Dalam KBBI, martir berarti orang yang rela menderita atau mati karena mempertahankan agama atau kepercayaan, arti lain: orang yang mati dalam memperjuangkan kebenaran agama. Barangkali lumayan banyak penonton yang kebingungan dengan arah dan ending film ini. Namun sekte dalam film itu (bukan Sekte Saman eaa), terlalu haus akan gambaran akhirat yang bisa mereka dapatkan dari korban 'terpilih'. Korban yang disiksa sedemikian hebat untuk mendapatkan 'efek penderitaan kuat' dan kemudian berada dalam kondisi koma. Tahu sendiri kalau orang koma itu konon bisa lihat akhirat.
Dan, saat Anna membisikkan sesuatu pada si nenek, itu adalah cara Anna membalas dendam. Saya pikir pas adegan si nenek lagi buka make upnya, itu adalah Lucie yang masih hidup dan pake topeng buat nyelametin Anna. Tapi enggak mungkin, dong, Prancis pake ending ala Amrik yang klise. Akhirnya, Anna pun berbisik kalau mungkin akhirat itu adalah tempat yang sangat indah layaknya surga. Si nenek pun mendapatkan jawaban, dia pun bunuh diri. Dan bukan enggak mungkin, para pengikutnya bunuh diri juga supaya bisa cepet-cepet sampai ke akhirat. Sayang, adegan itu enggak ada. Kalau ada, mungkin akan jadi ending yang keren melebih ending Perfume.
Itulah sebabnya ada korban yang gagal seperti sosok perempuan yang diselamatkan Anna. Korban yang gagal ini punya mata buta akibat kena panas sehingga kepalanya 'dihiasi' besi. Ketika orang-orang sekte itu menjadikan Anna korban, Anna-lah yang berhasil menjadi sang martir yang mereka inginkan.
Tapi tafsiran saya bisa aja salah. Namanya juga pandangan sendiri. Yah, kayak nonton Antichrist yang sumpah bikin pala atas ane puyeng. Namun Martys, merupakan tontonan wajib bagi para penyuka film slasher.
*
Sutradara/penulis: Pascal Laugier. Pemain: Morjana Alaoui, Mylene Jampanoi. Produksi: Cana Horizons, CineCinema. Durasi: 94 menit. Rilis: 3 September 2008. Bahasa: Prancis. Teknis: 7,5. Akting: 9 Cerita: 8,5 Score: 8/10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
4 Komentar
hiii....saman demen amat nonton film ginian....
dpt aja gtu...
aku nyari film thailand aja blm dpt2 (kecuali mau begadang donlot di warnet)
spoilernya bikin penasaran sie...bukan masalah endingnya,,,tpi soal cara2nya...
klo liat foto doank ga seru,jadi tetep harus nonton...
btw, kasie rating sie...biar bsa recomended ato trash...gtu...
klo boleh hehehe
ratingnya sudah terwakili dengan score, dian.. Dari skala 10, film ini dapat 8. heu
yah, nasib jd orang yg gak berani nonton film ginian. penasaran tapi takut kalo malah nanti bikin gak bisa lupa adegan sadisnya. pilih kartun aja deh biar aman, gak mual2 kalo pengen nonton. :D
ahzeeek bang wana tau aja saya suka film2 slasher. hehehe
Posting Komentar