• 19 Oktober 2014

    1412778124997889881

    BAGI yang hobi menulis novel, adalah impian besar jika novel sendiri diterbitkan. Apalagi jika diterbitkan oleh penerbit mayor.  Tapi jalan menuju ke sana tentu tidak mudah. Seringkali orang-orang menerima banyak kegagalan. Alasan klasiknya mungkin karena Anda malas dan ambegan. Karya ditolak satu penerbit, kemudian merasa tidak perlu lagi mengirim karena patah hati. Menyerahlah lantas. Tapi di sini saya tidak akan membicarakan hal-hal klise itu. Tentunya yang demikian itu sudah pernah kita baca dan kita tahu. Ini adalah sharing mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan jika serius ingin jadi penulis yang menerbitkan buku.

    Penulis Newbie Memang Tidak Diprioritaskan

    Dunia penerbitan buku tentulah dunia bisnis. Mereka memilih naskah potensial untuk diterbitkan. Meski kegiatan membaca bukan hobi utama masyarakat Indonesia, tapi cukup banyak orang-orang yang hobi membaca dan mengoleksi buku.

    Pada faktanya, banyak penerbit yang meminta naskah pada penulis yang sudah punya jam terbang tinggi. Alasannya karena kualitas dianggap lebih terjamin dan potensial. Pembaca juga lebih ingin membaca karya dari penulis yang sudah punya nama, penulis yang karyanya pernah ia baca. Apalagi jika penulis itu punya fanbase sendiri.

    Biasanya penerbit akan meminta naskah pada penulis untuk suatu seri atau konsep novel terbaru. Misalnya seri horor lokal ala Gosebumps. Penerbit akan memesan naskah pada penulis profesional. Biasanya kalau sudah 6 edisi terbit denga judul yang berbeda dan dari penulis pro yang juga berbeda, penerbit akan terbuka dengan penulis baru. Itu pun kalau naskah memang dianggap layak terbit.

    Branding Image

    Editor atau sosok yang menentukan 'nasib' karya kita, sebenarnya tidak serta merta memandang karya kita secara objektif. Mereka punya selera pribadi atau selera subjektif. Mereka akan melihat sosok penulis. DI era internet, hal itu sangat mudah dideteksi. Dia akan melihat aksi berjejaring sosialmu. Apakah Anda netizen melankolia atau blogger kritis yang setajam silet.

    Taruhlah Anda ketahuan blogger kritis dan rajin mem-posting ketidaksukaan pada sosok tertentu. Sosok yang diidolakan sang editor. Bahayanya, ini akan menjadi pertimbangan editor maka kesempatan Anda menjadi novelis pun terhenti gara-gara selera pribadi itu.

    Maka dari itu di dunia maya ini, cara menjaga 'reputasi' dan image/citra diri adalah dengan mengikuti standar sebagian besar orang. Bahwa citra dan kesan positif lebih sering didapat dari seseorang yang sebenarnya 'tidak jarang bicara' atau tidak macam-macam.

    Kalau Anda seorang blogger kritis, ada baiknya memberikan nama pena lain agar editor tidak mengetahui siapa Anda. Dia akan menilai naskah Anda secara utuh.

    Produktif dan Sabar

    Semakin banyak karya yang dibuat, semakin ada potensi karya kita nyangkut di salah satu penerbit bahkan semuanya. Tapi kalau tidak dibarengi dengan kesabaran, akan makan hati. Kirimkan lalu lupakan. Kirimkan lalu buat karya lain. Tentunya agar kita ingat, kita tulis naskah mana yang diterbitkan baik via surel ataupun pos.

    Yang perlu diperhatikan, banyak penerbit yang tidak mengirimkan kita konfirmasi penerimaan naskah karena kesibukan mereka. Pelajari cara penyeleksian naskah di penerbit tertentu. Biasanya kita harus menunggu 3-4 bulan. Jika lebih dari 3 bulan tidak mendapat jawaban, kirim surel lagi. Siapa tahu naskah Anda memang tidak terbaca, atau editor akuisisi lupa memberikan konfirmasi keputusan.

    Pedekate

    Ini era digital. Kita bisa berteman dengan para editor. Tapi mereka lebih sering berjarak karena kita dianggapnya sebagai 'pengganggu'. Memang tidak mudah membentangkan pertemanan. Tapi paling tidak berikan dia apresiasi lebih dulu dan berinteraksilah yang wajar. Namun pertemanan dengan editor tidak sertamerta membuat kita sukses. Tapi setidaknya kita bisa belajar banyak dari dia mengenainaskah apa yang sedang dibutuhkan di penerbitan.

    Ikuti Lomba

    Cara 'instan' menjadi novelis adalah dengan mengikuti lomba. Sebab naskah pemenang biasanya akan langsung diterbitkan. Pemenang 1 hingga tiga, atau naskah pilihan editor. Tentunya kita akan bersaing ketat dengan penulis lain. Dan di antaranya punya jam terbang yang tinggi.

    Kenali Musim

    Dunia penerbitan mengenal tiga kuartal. Kuartal pertama yakni tahun baru, biasanya akan banyak book fair dan buku baru. Kuartal kedua pada masa 'musim panas' atau masa liburan sekolah. Dan kuartal ketiga menjelang akhir tahun. Biasanya pada September - November.  Jika kita apik, maka jauh-jauh hari kita akan membuat naskah dengan tema-tema tertentu. Misalnya tema horor untuk menyambut Halloween atau tema cinta untuk momen Valentine.

    Pilih-pilih Penerbit

    Ada begitu banyak penerbit di Indonesia. Penerbit mayor biasanya sangat selektif. Mereka bisa jadi hanya menilai naskah Anda dari judul. Lebih sering dari sinopsis. Bayangkan, kita menulis novel berbulan-bulan, menunggu berbulan-bulan, namun sebenarnya naskah kita hanya dilihat dari judul dan sinopsis. Kalau editor tertarik, mereka akan membaca 15 halaman pertama dan lima halaman terakhir, namun ada juga yang menyerahkan naskah lolos akuisisi ke first reader.

    Ada pula penerbit yang baru. Biasanya lini atau cabang dari penerbit mayor/besar. Ada pula penerbit independen, yang biasanya akan membeli naskah dengan sistem jual putus tanpa royalti.

    Self Publishing?

    Begitu banyaknya novelis yang ingin menerbitkan karya, membuat banyak jasa penerbitan buku sendiri. Sisi baiknya, segalanya serba praktis. Keinginan kita terlaksana dan hasrat pun tersalurkan. Kita mengeluarkan dana, naskah sampai ke pembaca, tentu dengan risiko gagal dan menanggung kerugian.

    Menerbitkan naskah secara self publishing sebenarnya menguntungkan percetakan. Naskah kita memang diberikan cover bagus atau diediting, itu pun sebatas editing tata bahasa dan EYD. Adalah hal yang menggembirakan jika naskah diterbitkan karena campur tangan sang editor. Sebab itu sudah melalui penilaian orang profesional. Dimana naskah kita dianggap layak dan berpotensi.

    *

    Rajinlah menulis, selesaikan naskah, lalu kirimkan. Apalagi jika sedang punya waktu senggang. Kita mungkin tidak akan pernah kaya dengan menjadi novelis terutama di Indonesia ini. Tapi setidaknya ada perasaan bahagia jika kita sudah gol. Dan ketika kita naskah diterbitkan, jangan lega dulu. Kita akan dihadapkan dengan 'masalah' pembagian royalti yang mungkin tersendat. Dan kita harus memastikan debut novel kita sukses. Jika novel pertama kita sukses, bisa dipastikan kita akan diinginkan dan 'diserbu' para penerbit. Yeah, mereka akan meminta naskah pada kita. :)

    0 Komentar

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan