24 April 2014
DALAM sebulan ke belakang saya merasa ada yang aneh dengan pemberitaan di media televisi dan media online ketika mereka mengabarkan RRC (Republik Rakyat China). Mereka menyebut Tiongkok, dan bukan RRC atau China. TV One misalnya, beberapa kali menyebut Tiongkok untuk menyebut negara Cina/China. Meskipun idealnya, bisa disebut Republik Rakyat Tiongkok.
Kata
Mengapa hal itu terjadi? Selidik punya selidik, ternyata dunia jurnalistik Indonesia sudah menerapkan keputusan Bapak Presiden SBY pada 14 Maret 2014. Keputusan mengubah nama RRC/Cina atau Tjina/China/Cina, diubah menjadi ‘tiongkok, melalui Keppres No 12/2014. Presiden SBY akhirnya mencabut dan menyatakan bahwa Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pred.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967 tidak berlaku lagi.
Mengapa kata Cina/China harus diubah menjadi ‘tiongkok’? Jawabannya sederhana. Selama ini sebutan Cina dianggap berbau rasialistis. Seseorang yang menyebut kata ‘cina’, dapat dianggap menuding, menunjuk, lebih memaparkan dikotomi ras ketimbang sosok ‘manusia utuh’. Sebutan ‘Cina’ bagi beberapa kalangan dianggap memiliki ‘potensi’ mengucurkan permusuhan, ketegangan, dan kebencian. Kesimpulannya, penyebutan itu dianggap berunsur politis.
Chinese, Oriental, Tionghoa, dan Tiongkok
Dalam percakapan sehari-hari, kerap kali obrolan lepas sangat mungkin terjadi. Tak ada tendensi memperolok dari segi suku atau ras. Misalnya seseorang bisa saja berguyon temannya dengan sebutan si cina. Sebagaimana dia berguyon orang yang berhidung mancung sebagai si arab. Tapi tentunya olah ucapan ini dianggap tidak elok didengar sebagian kalangan. Meskipun setiap dari diri kita yang dewasa, akan selalu adaptif (menyesuaikan diri, berempati, toleran), sehingga tahu mana diksi yang harus dikatakan dan tidak dikatakan dalam tindak tutur.
Dalam percakapan baik dalam keseharian maupun online, kita juga kerap kali memakai kata yang lebih halus untuk menyebut seseorang yang datang dari ras tertentu. Sebut saja sebutan “chinese”, atau “oriental”. Kata “chinese” taruhlah kerap kali dipakai dalam artikel feature majalah atau tabloid atau koran, misalkan ketika memberitakan tahun baru imlek. Sementara “oriental” sebutan untuk warga negara Indonesia yang memiliki wajah “tiongkok”. Sebab tentulah akan menjadi kasar dan tak elok jika seseorang menyebut satu orang lagi dengan sebutan ‘wajah cina’. Maka “oriental” pun digunakan.
Akan tetapi media mainstream lebih sering menggunakan kata “tionghoa”. Yang menarik, Tionghoa ternyata berasal dari nama sebuah gunung yang bernama Ting Hoan. Orang-orang sekitarnya menyebutnya dengan Tinghoa. Mengapa dalam bahasa Indonesia disebut Tionghoa? Ternyata cara pengucapan ragam bahasa Cina berbeda dengan cara kita (dari Indonesia) mengucapkan kata dari Cina itu sendiri. Maksudnya, apa yang kita tulis adalah apa yang kita dengar dari orang Cina asli yang melafalkan kata itu.
Penyebutan Tionghoa mulai berlaku sejak zaman orde baru. Saat itu di bawah pemerintahan Suharto, WNI keturunan Tionghoa dianjurkan untuk mengganti nama asli mereka dengan nama Indonesia. Peraturan ini tak ada dalam undang-undang namun dipatuhi. Hal ini terjadi pasca peristiwa G30S dimana ada ketegangan antara RRC/RRT dengan Indonesia.
Penyebutan yang berbeda-beda terhadap negara RRC, bisa jadi membuat masyarakat Indonesia kebingungan. mana yang benar? Cina, China, RRC, atau RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Dalam KBBI, Cina adalah kata yang benar. Tanpa ada fonem ‘h’ yang menyusup setelah ‘c’. Cina menurut KBBI adalah sebuah negeri di Asia atau bangsa yang tinggal di Tiongkok. Sementara kata ‘China’ tak ada dalam KBBI. Kata tersebut diakui sebagai nama negara.
Misalnya kontestan asal RRC disebut China di ajang Miss Universe. Sementara di ajang Miss World, disebut People’s Republic of China.
Sekarang di Indonesia, kita harus terbiasa menyebut negara RRC sebagai Tiongkok. Atau Republik Rakyat Tiongkok. Apakah masyarakat Indonesia sudah banyak mengetahui hal ini? Atau jangan-jangan kebingungan karena sosialisasi terhadap perubahan penyebutan nama ini belum sampai? Yang jelas kata “chinese” dan “oriental” masihlah akan dipakai sebab itu bagian dari “budaya pop”.
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Komentar
Posting Komentar