• 9 September 2013


    FILM-FILM animasi Hollywood selalu menuturkan ide cerita yang sama. Yakni petualangan sosok dari zero ke hero. Dari seorang pecundang menjadi seorang pemenang. Kita akan kembali mendapati hal tersebut dalam animasi Disney terbaru yang berjudul Planes. Seperti yang telah tertera dalam poster maupun trailer-nya, animasi ini memiliki aroma Cars, atau film bertemakan balapan mobil -lengkap dengan mobil-mobil yang bisa bicara.


    Animasi juga dikatakan berhasil jika menjadikan sesuatu yang tak mungkin, untuk bisa menjadi mungkin. Sebenarnya ide mobil-mobil yang punya nyawa dan pemuja acara balapan, adalah ide yang cemerlang. Tidak heran Cars dibuat sampai dua 'jilid'. Meski demikian saya selalu bertanya-tanya, sebenarnya dikemanakan para manusianya. :D

    Ini tentu pertanyaan yang tak perlu. Sebagaimana naskah film animasi kebanyakan ala 'fabel', ide cerita dunia anak-anak selalu menjadi poin penting yang harus 'dieksekusi' menjadi deretan gambar dan hasil audio visual yang menyerupai realita.

    Yuk, kita simak review singkat ini. Setelah saya menyempatkan diri menonton berdua bersama keponakan kedua saya.


    Alur

    Dusty Cropphopper hanyalah sebuah pesawat (jantan) pembasmi hama yang terbang rendah sambil membubuhkan uap pestisida untuk pesawahan. Tapi peswawat oranye mempunya mimpi besar untuk ikut pertandingan pesawat terbang. Ia sangat mengagum Skipper Riley, pesawat veteran yang pernah bertugas di medan perang dan memiliki banyak misi. Namun karena hal tersebut, Skipper mengurung diri di rumah, tentu saja dengan asistennya.


    Dusty didukung dua temannya, pada akhirnya ikut pertandingan penyisihan, namun terhenti di posisi enam sehingga ia tak bisa maju ke pertandingan dunia. Tapi karena keunikannya, pesawat besar (jantan) berwarna abu ini diberi kesempatan kedua dan akhirnya bisa bertanding dengan pesawat lain dari beberapa negara.

    Tidak asik kan, kalau sebuah film tanpa tokoh antagonis? Yap,  ada Ripslinger, sang pesawat (jantan)  berwarha hijau yang arogan karena telah menjadi juara umum sampai tiga tahun berturut-turut. Dia juga dikenal curang dan seperti yang ditebak akan membuat tokoh utama sempat terkendala.

    Pada akhirnya kita bisa menebak apa yang terjadi. Dimana tokoh utama akan berhasil. Mungkin di mata orang dewasa ini akan menjadi tontonan yang amat lagu lama. Dan untuk sebuah alur cerita tentang pertandingan balapan, yang menjadi pembeda adalah bagaimana penonton mendapatkan 'view' baru. Inilah yang membuat kita tidak merasa bosan.

    Yang Berbeda dari Planes

    Selain Cars dan Cars dua, tahun ini ada animasi berjudu Turbo, tentang siput yang ingin adu balapan. Karena terkena suatu cairan/zar, ia diberi kelebihan untuk balapan. Dalam Planes, tak ada bantuan yang 'berupa keajaiban'. Semuanya dibuat 'manusiawi' dan relevan. Akan tetapi meski gampang tertebak, tapi aksi terbang-terbangan tokoh Dusty ini akan menjadi hal yang mungkin masih berkesan.

    Dalam pertandingan final, pesawat-pesawat ini harus melintasi udara dan transit di beberapa negara seperti India, Nepal, Cina, Meksiko, dan berakhir di New York. Lumayan bikin mata kita segar lantaran kita akan mendapatkan 'gambaran utuh' mengenai nuansa negara yang ada di sana.

    Jangan lupakan scene, Dusty melewati pegunungan Himalaya dan memilih masuk ke dalam terowongan kereta. Atau saat Dusty terserang ombak tinggi hingga dia tercebur dan nyaris tak selamat.

    Humor dan Romantisme yang Pas

    Sebuah film atau animasi tak lengkap tanpa bumbu romance dan komedi. Di sisi komedi, ada pesawat jantan dari Meksiko bernama El Chucabra. Jujur saja dialog dari pesawat ini cenderung garing. Tapi menuju ending, dia berhasil bernyanyi romantis untuk menggaet peswat betina dari Kanada.

    Foto: imdb.com

    Begitupun Dusty yang jatuh cinta pada Ishani, pesawat betina dari India (pengisi suaranya Priyanka Chopra lho). Hubungan mereka sempat tak mulus karena kesalahpahaman dan itu membuat kita berpikir kalau kisah cinta ini 'realistis'.

    Meskipun pada faktanya, tema Planes adalah semangat perjuangan. Otomatis yang menonjol dari itu semua adalah semangat dan kegigihan.

    Narsisme Amerika dan Latar Negara-Negara Lain

    Ya, iyalah. Yang bikin saja orang Amrik. Sah-sah saja, dong? Setidaknya Dusty telah digambarkan sebagai si pecundang menjadi si penendang, dengan sisi-sisi baik dia yang kentara. Tapi memang menuju ending, tokoh Dusty malah terkesan congak dan arogan. Seakan-akan berhak untuk berlaku sama sombongnya pada pesaing beratnya. Alhasil, bagian ini lumayan menyayangkan.

    Menurut saya pembikinnya juga cukup adil dalam menyinggung negara lain. Pasti membanggakan untuk warga yang negaranya menjadi latar animasi. Sayangnya Indonesia tidak ada. Kalau menjadi salah satu tempat transit, mungkin akan Wow.

    Pemilihan negara transit ini barangkali juga sebagai bagian dari taktik pasar. Siapa tahu lebih banyak warga yang menonton Planes hanya semata ingin melihat 'negaranya' dalam bentuk animasi.

    Planes bisa menjadi tontonan yang bagus semua kalangan. Jangan berharap banyak dari sebuah animasi. Duduk dan nikmati saja. Kebersamaan dengan sosok yang anda ajak, baik itu keponakan, atau anak istri, itu jauh lebih berkesan.

    *

    Score: 7/10

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan