- Home>
- Horror Threads >
- Berteman dengan Ruh Orang yang Bunuh Diri
16 Juli 2013
BAYU, teman kos saya percaya bahwa teknologi adalah sebuah sihir. Itu bisa saja sebuah kepingan compact disc atau pita kaset. Segalanya mampu dijelaskan lewat sains. Sebagaimana penjelasan mengapa sebuah kendaraan bisa berjalan terjelaskan. Predikat primitif sempat saya tamparkan kepadanya. Atau ini hanya sejenis selera humor? Ataukah dia hanya gila?
Sebab kerap kali saya melihat dia bengong. Terutama pada malam sehabis dia pulang kerja. Termenung di halaman depan sambil menengadahkan wajahnya ke langit.
Begitu banyak hal dramatis yang sempat numplek di kehidupan saya. Tapi tidak dengan seorang yang suka bergumam sendiri sehingga beberapa orang tampak segan kepadanya. Fakta bahwa saya pun pernah demikian adalah hal yang tidak bisa terbantahkan. Dan barangkali kemudian kami akhirnya sama-sama cocok karena kemiripan tersebut.
Suatu hari saya punya waktu banyak untuk mengenalnya. Setengah jam kemudian saya tahu kalau dia ternyata punya bakat menerawang. Saya tidak berminat menanyakan perkara kehidupan saya kepadanya sebagaimana orang-orang meminta hal serupa pada teman yang punya bakat indigo. Saya hanya menanyakan hal lain.
Takdir dan Nasib
"Saya pikir kamu punya bakat buat bunuh diri," katanya. Saya tidak tercekat. Biasa saja. Di lima belas menit pertama berbincang saja saya tahu kalau dia seakan tahu isi kepala saya. Mungkin juga tahu isi celana saya dan seberapa panjangnya. Benar-benar celaka.
"Saya nggak mau bahas yang itu. Saya cuma kepengen tahu segala hal tentang mereka-mereka yang udah mati karena bunuh diri," kata saya. Yang juga sama-sama bersila di balkon yang sama. Pada suatu malam. "Saya udah sempet baca di internet. Ini masih ngebingungin. Ada yang bilang itu takdir, ada yang bilang bukan. Sama halnya kayak seseorang itu dibunuh atau tewas kecelakaan. Apakah itu semua takdir?"
Setiap kali saya berdialog dengan seseorang, setiap kali itu pula saya tidak menelan bulat-bulat pernyataannya. Ketidaksetujuan cukup saya dan hati saya yang tahu -atau hati kucing kampung (siapa tahu ada kucing yang indigo juga). Saya hanya senang berbicara dengan orang lain, atau orang tertentu. Empat mata saja. Atau enam mata saja, yeah karena saya berkacamata. Atau malahan jadi lima mata, sebab katanya dia punya mata ketiga. Letaknya di antara sepasang mata kiri dan kanan. Di jidat. Apakah seperti mata dajjal kalau sepasang mata yang lainnya buta? Tanya saya pada awal. Dia menggeleng. Dia bilang semua orang punya mata ketiga. Saya mengangkat bahu. Saya cuma punya mata kaki.
"Takdir adalah apa yang Yang Kuasa berikan ketika kita lahir. Kita nggak bisa memilih akan jadi apa," jawabnya.
Saya sesungguhnya terheran. Yang Kuasa di sini maksudnya siapa. Sebab dia mengaku tak beragama. Padahal KTP-nya Islam. Dia sempat bilang di lain hari sebelumnya, kalau dia beragama semesta. Saya tanya apa itu. Dia bilang kalau semua agama itu menunjuk pada arah yang sama: Yang Kuasa. Setiap agama punya peribadahan masing-masing. Caranya saja yang berbeda. Dan sekaligus akan mendapatkan penghisaban sesuai dengan agama yang diyakininya.
"Jadi bunuh diri itu atas kehendak sendiri. Itu adalah nasib," jelasnya. "Nasib adalah hasil dari apa yang kita kehendaki, yang kita lakukan."
Dia kemudian menjelaskan. Seperti biasanya tak panjang lebar. Saya menyukai dia karena omongannya pendek-pendek tapi jelas. Tapi saya pernah dengar ini dan saya merasa bosan. Saya cuma ingin bagian yang mati bunuh diri.
"Di kamar kamu, tahun 70-an, juga pernah terjadi aksi bunuh diri," katanya lagi. "Tapi ruh mereka sudah pindah, kok. Sudah dibersihkan."
Baiklah, bagian itu lumayan menyeramkan. Tapi saya pun tahu setiap tempat pasti punya penunggunya. Saya belum dan tidak pernah mau melihat wujud sosok menyeramkan secara langsung. Termasuk apa yang dia sebutkan. Bukan itu hal yang ingin saya ketahui.
Berteman dengan Ruh Orang yang Bunuh Diri
"Apa benar ruh orang yang bunuh diri itu nggak diterima langit dan bumi?" tanya saya.
"Ya. Mereka menderita di alam jin. Mereka juga kerap mengulang aksi bunuh dirinya setiap hari. Begitu seterusnya sampai kiamat datang. Itu akan menjadi waktu yang sangat-sangat lama. Tapi jika waktu kematian dari yang sudah digariskan, ia jelang. Maka ia bisa diterima di bumi."
"Hmm .. Maksudnya gimana? Kematian yang sudah digariskan?"
"Taruhlah gini, ada manusia yang belum waktunya meninggal. Tapi dia dibunuh seseorang. Nah, ruhnya pun masih gentayangan sampai ia diterima di bumi. Begitupun sama orang yang bunuh diri. Yang jadi korban tumbal juga begitu. Ruh mereka akan digunakan di alam jin. Mereka disiksa, jadi pembantu, atau apalah itu namanya."
"Wow, menyeramkan ea .."
"Xixixi .."
Dan tiba-tiba kami berdua menjadi alay.
"Menurut sepengetahuan saya semua ruh itu udah di alam bumi deh. Dimintai pertanggungjawaban gitu ..," kata saya. "Jangan-jangan yang kamu bilang itu jin pendamping atau sejenisnya."
"Silakan mau percayai yang mana. Aku sih cuma bisa ngerasain. Nggak minta dibenarkan atau disalahkan. Delapan puluh persen kehidupan ini adalah misteri. Kita nggak pernah tahu. Kita nggak tahu apa-apa."
"Okey, jadi selama ini bakat kamu ada di mata ketiga kamu itu?"
"Ya. Banyak yang cuma dikasi bisikan, tapi aku kayak audio visual. Aku bisa melihatnya."
Saya terdiam .. sampai dia mengakui suatu hal.
"Sebenarnya saya juga sempat pengen bunuh diri. Tapi saya nggak jadi saat sosok itu mendatangi saya. Awalnya dia menggoda saya gitu. Mungkin supaya sosok kayak dia di alam itu banyak. Jadi ikut-ikutan menderita bareng. Tapi akhirnya saya ogah. Dia minta didoakan. Begitu katanya. Sebab orangtuanya di dunia nyata sudah meninggal. Saudara-saudaranya pun udah lupa. Sementara dia selalu ngikutin mereka. Termasuk orang yang udah bikin dia sakit hati. Orang itu bahkan lupa di sebulan setelah temanku ini tewas bunuh diri."
"Penyebabnya kenapa sampai bunuh diri?"
"Klise, putus cinta. Dia minum banyak obat tidur di kamar kosannya. Dia ditemukan tiga hari kemudian oleh orang-orang. Tubuhnya bengkak, wajahnya pun begitu. Pokoknya mengerikan."
"Wow ..."
"Yeah, dan dia tertarik sama kamu. Katanya kamu punya bakat buat ngelakuin bunuh diri."
"HAH?!"
"Huahahahaha!"
"EHEM!"
Semoga dia bercanda. Tapi saya selami dulu hati saya. Tapi apakah harus saya akui di sini? Sekarang?
Baiklah, kita masih berada di tengah orang-orang yang percaya kalau ngeblog itu ajang pencitraan diri dan narsis-narsisan. Jadi tidak saya lanjutkan dulu ceritanya.
* * *
Catatan sehabis sahur.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
5 Komentar
aah jadi pengen tau lanjutannya :p
kok ngeri ya, bunuh diri dibilang bakat ._.
ya ampun .-. ati-ati aja deh
asli sukaaaaaa banget, berasa baca cerpen .. keren deh ..
tapi ini seriusan ? jangan ahhh, bunuh diri itu keliatan mendamaikan, tapi Tuhan kan benci, masa kita mau mati dalam keadaan dibenci Tuhan.
critanya horror gini sih T,T *mending nungguin samandayu awards aje
Posting Komentar