16 Juni 2013
DUNIA kepenulisan karya fiksi Tanah Air tercoreng moreng dengan kasus dugaan plagiasi (pecontekkan) yang dilakukan penulis Arumi E untuk novel kesekiannya berjudul Amsterdam Ik Hou Van Je terbitan Grasindo. Sang penulis perempuan dan berhijab yang juga seorang cerpenis yang karyanya wara-wiri di berbagai majalah anak dan remaja ini dianggap men-copas dari berbagai sumber untuk keperluan deskripsi latar/setting novelnya.
Novel bergenre fiksi populer ini launching ada awal Juni 2013, dan melakukan launching di Gramedia Matraman pada 8 Juni dan promo via radio pada 1 Juni. Tapi beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 10 Juni, muncul blog 'jadi-jadian' yang membahas daftar kesamaan kalimat, frasa, paragraf dalam tulisan Arumi. Silakan baca sumber lebih lengkapnya di sini:
![]() |
| Salah satu kemiripan antara naskah dan sumber referensi wanasedaju.blogspot.com |
Jika Anda membaca dan menelisiknya, mungkin Anda akan tercengang dengan banyak kesamaan. Bahkan mungkin seperti saya, Anda akan tertawa kegelian lantaran 'lihainya' sang penulis 'comot begitu' saja tanpa merasa perlu merombak kata-kata. Dugaan plagiasi ini memang hanya berada di sekitar deskripsi latar. Artinya jika pakai persentase dan jika plagiasi ini dianggap sahih, mungkin novel ini punya plagiasi sekira 10 persen saja. Meski demikian, hal ini tidak boleh ditampik begitu saja, karena menerima kasus seperti ini sama saja seperti membiarkan kita 'diledek'.
Berikut beberapa artikel internet yang dijadikan referensi sang penulis berdasar artikel di atas:
- Artikel "Menelusuri Kanal-Kanal Leiden,” sumber: Radio Nederland Wereldomroep Indonesia
- Artikel “Bersepeda di Leiden,” sumber: Kompasiana
- Artikel “Toleransi di Kota Tua,” sumber: Suara Merdeka
- Artikel “Universitas Leiden: Pesona Lain Negeri Kincir Angin”, sumber: buahpena-hotnida.blogspot.com Blog Buah Pena Hotnida
- Artikel “Berburu Cenderamata di Bloemenmarkt,” sumber: Kompas
- Artikel “Menumpang Kereta Cepat Amsterdam-Paris”, sumber: Detik
- Artikel “Pesona Kincir Angin Belanda Nan Legendaris,” sumber: Kompas
- Artikel “Keukenhof: Secuil Taman Surga di Daratan Eropa”, sumber: Blog Rohman Albantani
- Artikel “Jalan-Jalan di Amsterdam,” sumber: javamilk
- Artikel “Menelusuri Kanal-Kanal Leiden,” sumber: Radio Nederland Wereldomroep Indonesia
Nah, karena barangkali yang terdeteksi dari hasil copyscape (software pendeteksi plagiasi) mungkin saja ada buku cetak yang dipergunakan sang penulis lain, yang MUNGKIN juga punya kemiripan bahasa.
Efek Plagiasi bagi Penulis, Pembaca, dan Penerbit
Ada beberapa efek yang dirasakan pembaca dan penulis ketika menemukan tulisan plagiasi yang diterbitkan. Apakah itu?
Pembaca
- Pembaca awam mungkin tak mempermasalahkan, atau tak mempermasalahkan karena tak tahu. Atau menganggap tak jadi soal toh mereka pikir jalan ceritanya orisinil dan menyenangkan. Tapi bagi pembaca kritis, terutama tipikal pembaca goodreads yang dikenal jutek-jutek itu :D, mereka mungkin akan merasa 'dihina' lantaran menerima tulisan hasil copasan. Meskipun itu hanya beberapa kalimat yang mirip. Beberapa pembaca yang benar-benar ingin merasakan nuansa Belanda misalkan, ketika tahu bahwa latar yang sudah dibacanya ternyata saduran asal 'jeplak', barangkali akan menelan ludah eneg. Tapi mau gimana lagi, seperti halnya kesenian sekali telan, buku itu telah dikonsumsi. Dan bagi pembaca yang kapok, bisa jadi penulis yang dikatakan plagiat itu akan kehilangan penggemarnya.
Banyak lho, pembeli buku kita yang masuk dalam kategori setia. Mereka beli buku setiap bulan atau setiap minggu.
Penulis
Bagi penulis yang bersangkutan (yang melakukan plagiasi), hal ini akan membuat penerbit lain berpikir ulang untuk menerbitkan karya yang bersangkutan. Mereka/penerbit atau editor media massa, nggak mau ngambil risiko. Takutnya karya yang ada kembali punya unsur plagiat. Hal ini terjadi saat seorang penulis cerpen diketahui plagiat. Pemerhati sastra koran ramai mengkritisi, bahkan editor yang menerbitkan kena sasaran. Alhasil, sang penulis butuh waktu dua tahun agar karyanya kembali dimuat. Ya, dua tahun yang mungkin dilewatinya dengan berbagai penolakan.
Bagi penulis yang lain, mereka akan merasa bertanya-tanya. Barangkali berpikir "kok, tulisan plagiat gitu bisa lolos, sih?". Tapi sisi positifnya, penulis lain tidak akan mengulang apa yang dilakukan sang penulis yang diduga plagiat.
Penerbit
Tahukah, bahwa genre fiksi pop saat ini sedang booming-booming-nya ngambil latar luar negeri. Taruhlah Korea, Jepang, bahkan Gagas Media menerbitkan 'seri' Setiap Tempat Punya Cerita. Yakni novel-nocel cinta berlatar tempat di luar negeri. Penerbit yang tahu situasi ini pasti akan mencari naskah sejenis. Bahkan penerbit lain mengadakan lomba membuat novel bertema luar negeri. Di satu sisi, ini menyenangkan pembaca, di sisi lain penerbit dituntut untuk mampu memilih naskah yang nggak asal jadi. Butuh kejelian editor. Selain faktor pasar, kualitas juga harus dilihat. Jangan sampai yang terjadi malah, cerita kuat, tapi latar ternyata menggantung, seadanya, seperti di awang-awang.
Seperti pengakuan teman saya yang pembaca novel setia, yang berkata bahwa ia bahkan mampu mengetahui mana penulis yang malas dan mana yang tidak malas. Maksudnya, penulis malas adalah penulis komersil yang karyanya dituntut untuk harus cepat selesai, barangkali didesak penerbit. Taruhlah, saya lagi butuh naskah bertema luar negeri nih, situ bisa kan? Dan seseorang berkata, "bisa doong .. sebulan dah beres daah .." Ini hanya umpama. :D
Bagi pembaca jeli, terutama pembaca yang tahu situasi di luar negeri sesuai novel, barangkali pernah berada di kota tertentu, maka ia akan mampu mengkritisi/menilai. Sebab menurutnya, banyak novel yang ternyata punya deskripsi setting luar negeri yang jauh berbeda dengan yang ditaruh di novel. Idealnya, kalau berkonsep kota sebagai titik sentral, maka yang lebih diutamakan juga kekuatan deskripsi latar. Jadi pembaca bisa benar-benar ada di kota yang dimaksud.
Dia malah berkata, bahwa salah seorang penulis muda bergenre teenlit, malah lebih kena mendeskripsikan penjabaran setting di kota tertentu, ketimbang penulis 'yang lain'. Ini masalah pengetahuan saja barangkali. Teman saya kan bukan pelancong seluruh negeri :D Itu hanya gambaran.
Maksud saya, idealnya sih, penulis yang mau nulis ber-setting luar negeri itu harus sudah pernah ke kota yang bersangkutan. Jadi tidak hanya sekadar pustaka internet. Itu kan, praktis banget. Berasa anak kuliahan lagi bikin makalah buat mata kuliah :D. Kalau urusannya ke pembaca, itu nggak main-main lho, soalnya pembaca kan ada yang 'tahu' juga. Buktinya, blog Stop Plagiarisme itu mendadak muncul.
Siapakah Blogger Pemilik Blog Stop Plagiarisme?
Penting nggak sih mengetahui pemilik blog dadakan ini? Tujuannya apa? Ngasih tahu atau 'menjatuhkan'. Sisi positifnya tentu saja lebih banyak, jadi hal ini bisa jadi pecutan buat penulis atau penerbit. Pembaca juga diajari kritis atau dikasih tahu. Itu pun kalau yang bersangkutan (yang disinggung) merespons ya. Kebanyakan kan, diam aja karena untuk mengambil keputusan dianggap jangan main gegabah. Sebab kecolongan kan, bisa terjadi sama siapapun.
![]() |
| wanasedaju.blogspot.com |
Pemilik blog Stop Plagiarisme itu bernama Gemblin Jules. Menurut saya sih (yang sotoy ini) ada beberapa kemungkinan siapakah dia 'sesungguhnya'.
1. Dia adalah orang 'kantor' yang tahu ada plagiasi kemudian membocorkan lewat sebuah anonim. Kalau memang demikian, bukankah sebaiknya dikasih tahu aja sebelum novel diterbitkan. Atau ada usaha pembiaran untuk melakukan 'sesuatu' hal? Ah, konspirasi kali :D Kenapa saya bilang orang dalem, karena besar kemungkinan dia punya soft copy atau teks via mc word, yang bisa dicopas semua dan dicek ke dalam program pengecek plagiasi. Misalnya copyscape atau sejenisnya.
2. Dia adalah pembaca setia. Ya, dia adalah pengamat sejati. Tipe pembaca kritis, pembaca yang muak barangkali dengan konten novel yang dianggapnya membodohi. Sampai-sampai ia tahu sumber-sumber pustaka internet mana saja yang dijadikan referensi penulis novel.
Rasanya tak penting siapa pembikin blog itu, tapi saya tertarik dengan komentarnya sebagai berikut di kolom komentar:
Banyak alasan membuat penulis
melakukan copas dan plagiat. Bisa saja karena greedy, ingin menulis
dengan cara gampang dan cepat. Mungkin juga karena malas mengolah data,
lebih mudah copy dan tempel. Mengolah data perlu waktu dan kemampuan
analisis, tidak semua penulis mampu melakukannya. Coba perhatikan
novel-novel pop semacam ini, banyak yang bersetting luar negeri tapi
deskripsi gamang dan hanya samar-samar
![]() |
| capture: www.wanasedaju.blogspot.com |
Nah, semoga ini bisa menjadi pembelajaran buat siapapun yang berada di industri perbukuan. Agar ke depannya lebih hati-hati dan tidak kecolongan lagi. Kabar terakhir menyebutkan bahwa Arumi E di akun facebooknya meminta maaf dan akan merevisi novelnya . Tapi kalau sudah terlanjur begini, alangkah baik jika sang penulis atau penerbit (itupun jika dugaan ini dianggap benar), bersedia dengan keikhlasan hati untuk meminta maaf pada penulis artikel di atas. Ada temen kompasianer juga, lho yang tulisannya jadi 'referensi' novel. :D
Atau bisa juga disiasati misalnya sebagai berikut (dari teman):
misalnya kita dapet bahan deskripsi:
kota tokyo di bulan april dihiasi sakura yang bermekaran,cuaca masih agak dingin.
itu bisa dirubah jadi:
aku tiba di tokyo pekan pertama di bulan april,menghirup pekatnya hawa dingin yang tersisa dari musim yang lalu,menikmati trotoar yang bertaburan bunga sakura....bla. bla...bla...
Nah, kita tunggu kabar selanjutnya. Terutama untuk anak-anak Goodreads nih. Apakah mereka sudah membeli atau berpikir dua kali sebelum membeli novel tersebut. Entahlah .. :)
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 Komentar
Posting Komentar