- Home>
- Film Horor >
- Absurd, Gore, dan Comedic dalam The ABC's of Death
15 Maret 2013
Maksudnya ayolah, apa yang kamu harapkan dari film dengan durasi dua jam yang didalamnya berisi banyak film? Setidaknya kita akan menemukan banyak film dengan konsep dan teknik berlainan. Dan karena ketakutan tidak harus selalu dari sisi kisah, melainkan teknis film, permainan sinematografi, editing, yang menggiring penonton untuk klimaks dan antiklimaks. Berikut ini ulasan panjang Samandayu mengenai film tersebut.
Apocalypse (Wahyu)
Sutradara: Nacho Vigalondo
Nilai: 9/10
Seorang suami tengah sarapan di pembaringannya dalam keadaan sakit. Di sebuah kamar apartemen di lantai sekian itu muncul sang istri yang siap membunuh dengan pisau dapur. Dengan gaya amatiran sang istri mencoba menusuk pisau tersebut. Setelah kena jari tangan suami, pisau pun tertancap di bagian leher.
Sang suami sekarat, sang istri berbalik dan kembali dengan sebuah penggorengan berisi masakan panas. Wajah suaminya pun diguyur minyak panas tersebut sampai melepuh. Kala sang suami sekarat, sang istri pun mengatakan bahwa kematian itu lebih baik, tepat ketika cahaya di gorden menunjukkan warna merah.
Sebuah awal yang bagus, tata suara gemuruh membuat setting tempat ini berada di ketinggian. Efek slasher-nya pun sangat kental, ditambah akting dua aktornya yang cemerlang. Pembunuhan serba amatiran ini benar-benar mimpi buruk. Menurut tafsiran saya, si istri sudah stress berat karena suaminya tak kunjung sembuh dari sakit. Jadi untuk menyelesaikannya, ia kirim suaminya ke "surga" lebih cepat.
Sebuah awal yang bagus, tata suara gemuruh membuat setting tempat ini berada di ketinggian. Efek slasher-nya pun sangat kental, ditambah akting dua aktornya yang cemerlang. Pembunuhan serba amatiran ini benar-benar mimpi buruk. Menurut tafsiran saya, si istri sudah stress berat karena suaminya tak kunjung sembuh dari sakit. Jadi untuk menyelesaikannya, ia kirim suaminya ke "surga" lebih cepat.
Bigfoot (Manusia Salju)
Sutradara: Adrian Garcia Bogliano
Nilai: 8/10
Seorang anak perempuan belum bisa tidur malam, padahal ibunya hendak berselingkuh dengan keponakannya sendiri. Bukannya malah menenangkan, dua orangtua sialan itu malah menceritakan hal yang seram. Mengenai keberadaan Bigfoot di Meksiko. Sang anak percaya, tak lama di luar ada
pemungut sampah yang kemudian membunuh dua dewasa tersebut. Si tukang sampah masuk ke dalam kamar si anak perempuan, namun ia tak menemukan apa-apa. Anak perempuan tersebut terus berusaha untuk tertidur dengan menghitung domba.
Siapa bilang horor harus melulu darah dan adegan pembunuhan. Banyak yang bilang judulnya nggak nyambung sama jalan ceritanya. Tapi film ini mengisahkan paranoria yang selalu dikatakan orang dewasa pada anak kecil. Sebagai hukuman, orang dewasa itu pun mati karena kengerian yang mereka ciptakan sendiri. Bigfoot itu adalah si tukang sampah. Meskipun ending film ini amat multitafsir. Bisa jadi pembunuhan itu ada dalam bayangan si anak, bisa jadi sebuah kenyataan.
Cycle
Sutradara: Ernesto Diaz E
Nilai: 7.5/10
Siapa bilang horor harus melulu darah dan adegan pembunuhan. Banyak yang bilang judulnya nggak nyambung sama jalan ceritanya. Tapi film ini mengisahkan paranoria yang selalu dikatakan orang dewasa pada anak kecil. Sebagai hukuman, orang dewasa itu pun mati karena kengerian yang mereka ciptakan sendiri. Bigfoot itu adalah si tukang sampah. Meskipun ending film ini amat multitafsir. Bisa jadi pembunuhan itu ada dalam bayangan si anak, bisa jadi sebuah kenyataan.
Cycle
Sutradara: Ernesto Diaz E
Nilai: 7.5/10
Berkisah tentang seorang suami yang melihat adanya darah di halaman belakang. Ia pun mencari tahu tepat ketika ia curiga terhadap keberadaan lubang di tembok. Ternyata ia adalah "kloningan" dirinya sendiri. Ia menemukan dirinya tertidur bersama sang istri.
Keesokan paginya, ia menemukan "dirinya" melihat lubang di tembok, kemudian membunuhnya dari belakang dengan menggunakan selang keran air.
Mungkin bagi penonton awam, perlu beberapa kali untuk menyaksikan film ini sampai mengerti maksud cerita. Tapi film ini bercerita tentang keabsurd-an seseorang yang membunuh sisi lain dari dirinya. Bisa dibilang film ini psychology thriller. Ketika semuanya berputar di tempat yang sama.
Mungkin bagi penonton awam, perlu beberapa kali untuk menyaksikan film ini sampai mengerti maksud cerita. Tapi film ini bercerita tentang keabsurd-an seseorang yang membunuh sisi lain dari dirinya. Bisa dibilang film ini psychology thriller. Ketika semuanya berputar di tempat yang sama.
Dogfight (Perkelahian Anjing)
Sutradara: Marcel Sarmento
Nilai: 9.5/10
Seorang lelaki petinju dipertarungkan dengan seekor anjing di sebuah klub. Setelah berbaku hantam ria, kedua mata dua spesies ini bertatapan dan malah menyerang balik wasit. Ternyata anjing itu adalah peliharaan sang petinju yang sudah lama hilang. Untuk menuntut balas, keduanya menewaskan sang wasit yang mempertarungkan keduanya demi uang.
Adegan slowmotion malah membuat film ini tampak sangat menegangkan. Sangat salut kala sang sutradara berhasil merekam mimik wajah sang anjing. Sehingga kita tak perlu dialog sama sekali. Bahasa gambar lebih mengena tentu. Diiringi music score yang tragis, film pendek ini baik dari segi teknis dan penceritaan.
Exterminate (Pembasmian)
Sutradara: Angela Bettis
Nilai: 7/10
Seorang lelaki di apartemen mencoba membunuh seekor laba-laba di dinding. Tanpa disadarinya laba-laba itu menggigit tengkuknya. Hari-hari berlalu, perubahan fisik terjadi kepada dirinya. Sampai di hari kesekian, ia benar-benar berhasil membunuh binatang itu di toilet. Tapi nahas, tiba-tiba dari telinganya keluar banyak bayi laba-laba. Ia pun tewas sesaat kemudian.
Dengan gaya video amatir ala youtube, film ini mungkin mengejek jalan cerita spiderman. Bukannya jadi superhero, malah tewas dengan cara mengerikan.
Fart: Young Ladies and Poison Gas (Kentut: Seorang Gadis dan Gas Beracun)
Sutradara: Noboru Iguchi
Nilai: 7/10
Di Jepang, ada seorang gadis pelajar yang tak percaya Tuhan. Ia juga seorang lesbian dan tukang kentut. Dia menyukai gurunya Miss Yumi karena tidak takut akan bau busuk kentut. Suatu hari gempa terjadi. Gas hitam keluar dan mematikan orang-orang sekitar. Sebagai upaya penyelamatan, gadis itu meminta Miss Yumi kentut.Gas berwarna kuning pun keluar dari lubang pantat Miss Yumi. Gadis lesbian itu pun merasa hidup dan selamat dari bahaya. Ketika gas habis, gadis ini tersedot ke lubang pantat. Di sanalah mereka bertemu dan bahagia.
Film ini paling absurd dan jorok. Sinemas Jepang memang ada-ada saja. Tapi kalau kita pakai falsafah, film ini sebenarnya kritik terhadap sang pencipta, ledekan mengenai baik buruk yang diparadigmakan manusia. Gas hitam yang mematikan diasosiasikan sebagai kentutnya Tuhan, sementara gas kuning dari manusia adalah penyelamat. Sehingga tempat terbaik "manusia" adalah di lubang pantat. :D
Gravity (Massa)
Sutradara: Andrew Traucki
Nilai: 7/10
Seseorang, entah siapa, pergi dengan mobilnya seorang diri, membuka garasi mobil dan membawa peralatan selancar dan batu bata ke dalam tas. Kemudian pergi ke pantai dan berenang dengan selancar sampai ke tengah lautan. Sampai akhirnya dia tenggelam dan kita hanya menemukan alat selancar yang mengambang di atas permukaan air.
Banyak yang "caci maki" terhadap alur gaje film ini. Menurut tafsiran saya, film ini berkisah tentang seseorang yang melakukan bunuh diri.Terlihat dari cara ia memasukkan banyak batu bata ke dalam tasnya sebelum berselancar. Agar dia tenggelam mirip Virginia Woolf. Tapi mungkin saja dia meninggal karena monster laut, ikan hiu, atau efek gerhana bulan. Tapi tafsiran saya ya ke yang tadi: Bunuh diri.
Electric Diffusion (Difusi Listrik)
Sutradara: Thomas Cappelen Malling
Score: 7.5/10
Seorang manusia anjing (jadi ingat masa lalu :P) atau bulldog rehat di sebuah klub striptis. Dia menyaksikan pertunjukkan manusia kucing yang menari erotis. Siapa sangka kucing itu menjebaknya. Kucing ternyata seorang NAZI yang siap menyikas si anjing. Tapi keadaan malah berbalik, si kucinglah yang tewas dengan cara sadis.Ini setelah si anjing membaca kalungnya sendiri yang bertulsikan "Keep Calm and Carry On". Dengan gaya kartun sarkastik live action, film yang dibuat amatir ini malah terkesan mahal dan art. Gaya pembunuhannya pun mirip cara-cara klise di kartun anak-anak. Apakah ini sindiran untuk kartun sejenis Tom and Jerry yang sebenarnya sarkastik itu?
Ingrown (Kemunduran)
Sutradara: Jorge Michel Grau
Nilai: 7/10
Di toilet, seorang lelaki menyekap perempuan di bathtub yang kering dengan tangan terikat dan mulut tersumpal kain. Lelaki itu kemudian menyuntikkan cairan merah ke dalam tubuh sang perempuan. Perempuan itu pun gatal-gatal hebat hingga kulitnya berdarah. Tak lama ia meninggal di bak mandi.
Adegan garuk-garuk kulit itu menjadi adegan yang wow. Dengan gaya naratif dari pihak korban, film ini mengisahkan KDRT yang dilakukan sang suami apda sang istri.
Jidai-Geki (Samurai Movie)
Sutradara: Yudai Yamaguchi
Nilai: 9/10
Seorang lelaki Jepang yang baru saja melakukan harakiri, siap dipancung dengan pedang oleh seorang pesamurai yang berpakaian hitam. Namun si hitam ini berhalusinasi karena selalu melihat tampang aneh dari seseorang yang dipancungnya. Si hitam merasa sangat terganggu sampai kemudian ia berhasil menebas kepala.Di situlah ia bisa tertawa, manakala melihat ekspresi dari wajah yang sudah terpenggal. Film ini 100 persen bikin saya ketawa, di pertengahan cerita dan ending, kita semua tahu film ini akan dibawa kemana. Benar-benar kisah yang sangat anime dengan teknik live action dan sedikit claymation.
Klutz (Tolol)
Sutradara: Anders Morganthaler
Nilai: 9.5/10
Seorang perempuan dari kalangan jetset sedang buang air besar dengan susah di toilet. Akhirnya ia berhasil mengeluarkan fesesnya. Namun feses berwarna cokelat itu malah hidup dan berusaha menggapainya. Dengan segala cara, perempuan ini membuang tainya sendiri dalam lubang toilet. Tapi tak pernah berhasil,sampai akhirnya ketika si perempuan ini menungging, feses tersebut menempel di langit-langit.. lalu masuk secar aganas ke lubang pembuangan hingga perempuan ini tewas. Tewas karena kotorannya sendiri? Kenapa tidak? Dengan format kartun 2D, film ini sangat komedi satir. Bagaimana sesuatu yang biasa kita keluarkan, akhirnya hidup dan berharap "kembali ke tempat asal".
Libido (Birahi)
Sutradara: Timo Tjahjanto
Nilai: 9.5/10
Di Indonesia, ada sebuah permainan berbahaya dan jorok. Dua lelaki dikompetisikan onani dalam keadaan terikat di kursi. Siapa yang keluar duluan, dialah yang menang. Yang kalah akan dieksekusi mati dengan cara mengenaskan. Seorang lelaki melulu menang sampai stage ke-13. Ia menang karena sesungguhnya melihat perempuan cantik yang menjadi "wasit".Namun di stage 12, wasit cantik itu tewas karena kesalahannya sendiri. Di stage 13, lelaki ini kalah karena disuruh menyaksikan anak kecil yang disodomi. Sebagai hukuman, lelaki ini jadi obyek pertunjukkan. Saat seorang perempuan gila menyetubuhinya, lelaki ini ditebas-tebas dengan gergaji listrik.
Jarang-jarang ada film Indonesia yang menunjukkan perempuan telanjang (terakhir bisa kita temui di film Identitas ketika Leony VH tampil naked). Untuk konsumsi international, film juga lumayan berbahaya karena belum ada "satu pun" film slasher dengan tema seperti ini. Sperma dimana-mana, darah, adegan tewas, benar-benar durasi 5 menit yang berharga. Meskipun kalau kamu menontonnya berulang kali, kamu akan merasakan jijik.
Kita patut bangga karena Timo adalah sutradara Indonesia satu-satunya yang bekerjasama di film omnibus ini. Ia adalah salah satu "pelaku" Mo Brother yang sebelumnya sukses dengan film pendek Dara, film panjang Rumah Dara, dan yang selanjutanya akan dibuat, film panjang The Killer.
Miscarriage (keguguran)
Sutradara: Ti West
Nilai: 6/10
Seorang perempuan berkacamata heran dengan lubang toiletnya sendiri. Ia masuk ke lantai atas dan kembali dengan alat pengisap toilet. Tak lama kita melihat sesuatu yang merah disertai kotoran warna putih di lubang pembuangan tersebut. Apa yang bisa didapat dari sebuah film dengan durasi satu menit?Film ini mungkin dapat review jelek dari blogger movie review. Memang sangat apa-apaan, tapi kalau kita melek sama judulnya, kita tahu bahwa yang ada di lubang toilet itu adalah janin. Mengerikan, bukan?
Nuptials (Lamaran)
Sutradara: Banjong Psanthanakun
Nilai: 9/10
Seorang pria Thailand bernama Shane, membelikan burung beo untuk kekasihnya, Anne. Anne sedikit terkesan namun ia terlalu gengsi mengakui. Ternyata Shane menggunakan beo tersebut untuk mengajak Anne tunangan. Kotak cincin itu diberikan lewat perantara si beo yang ternyata sudah diajari berbicara itu. Anne pun luluh. Adegan so sweet itu berhasil.Tapi keduanya terkejut saat si beo menirukan dialog yang terjadi semalam. Dimana Shane berselingkuh dan bercinta dengan Joy. Karena merasa dikhianati, Anne pun membunuh Shane. Film ini bergenre komedi barangkali. Menyaksikan ini membuat yang dewasa terpingkal-pingkal dibuatnya. Inilah yang dinamakan tewasnya seorang manusia karena ulah seekor beo yang kelewat pintar.
Orgasm (Orgasme)
Sutradara: Bruno Forzani dan Helene Cattet
Nilai: 8/10
Seorang perempuan telah menikmati massochisme yang dilakukan pasangan lelakinya. Sampai kemudian ia tewas usai orgasme kesekian. Film berformat video klip ini memang sangat antimainstream. Maklum yang bikin orang Perancis yang suka "aneh-aneh" dengan dalih artistik. Tapi saya bisa berani bilang kalau gelembung balon adalah representasi dari orgasme.Balon-balon yang banyak itu adalah desah perempuan (mengingat perempuan dikenal multiorgasm). Sementara rokok dan sulutannya adalah representasi dari kekerasan. Adegan zoom scene plus slow motion beberapa kali lipat, lengkap dengan sound effect-nya,membuat Orgasm menjadi sebuah maha karya, meski tidak meninggalkan impresi apa-apa.
Pressure (Desakan)
Sutradara: Simon Rumley
Nilai: 8/10
Seorang pelacur perempuan dengan tiga orang anak ingin menghadiahkan sepeda untuk seorang puterinya yang akan berulang tahun. Ia pun kerja keras menjajakan diri namun tabungannya malah diambil sang pacar. Ia pun terus bekerja keras termasuk mau kembali tidur dengan penyewa rumah kontrakan agar sewa kontrakannya gratis.Suatu malam di pub, ada seorang lelaki yang menawarkan sebuah transaksi, tapi semua pelacur menolaknya, termasuk si pelacur 3 anak tadi. Namun dalam keadaan mendesak akhirnya si pelacur ini mau melakukan hal gila. Yaitu menginjak seekor kucing kecil dengan hak highheels. Aksi itu direkam lewat handycam oleh pria yang membayarnya. Akhirnya si pelacur mampu membelikan sepeda untuk anaknya hasil dari pekerjaan sampingannya membunuh meong.
Lengkap sudah, bagian ini benar-benar mewakili kesadisan manusia terhadap kucing meong. Tapi menuju ending, alur kisah ini mudah tertebak (pas adegan ada kucing meongnya yang imut dan lucu seperti akyu :p). Besar kemungkinan alur kisah ini terinspirasi dari kegilaan seorang perempuan di Cina yang merekam aksi menginjak kucing dengan sepatu hak tinggi. Untungnya dalam Pressure, adegan kepala kucing yang remuk ini tak diperlihatkan.
Quack (Kwek)
Sutradara: Adam Wingard
Nilai: 7/10
Adam sang sutradara dan Simon sang produser hendak membuat film pendek dengan huruf awalan Q. Namun mereka kehilangan ide kala proyek film terakhirnya dianggap gagal. Akhirnya dua peheroin ini memakai Quack/bunyi bebek untuk judul dan tema filmnya. Di tengah guun, keduanya dan seorang kameramen siap syuting.Seekor bebek dalam kandang pun siap ditembak dengan senjata api. Sebab begitulah alur pendek film tersebut. Namun nahas, karena amatir menggunakan pistol, keduanya tewas ala senjata makan tuan. Keduanya saling tembak tanpa disengaja. Sementara sang kameramen malah kabur.
Boleh dibilang ini adalah hukuman dari film sebelumnya. Ketika manusia kena hukuman sendiri karena berniat menyakiti binatang.
Removed (Penghapusan)
Sutradara: Srdjan Spasojevic
Nilai: 8/10
Seorang lelaki dengan luka bakar sangat serius dirawat di rumah sakit dengan seorang dokter dan seorang suster. Di punggung lelaki ini selalu terdapat potongan film 35 mm. Tak lama ia dihadapkan ke publik oleh ajudannya sehingga fans-fansnya datang dengan antusias bahkan mencimi kulit merahnya. Di lain hari, ia ingin bebas.Ia bunuh dokter dan dua ajudannya, kemudian kembali ke sebuah stasiun kereta tua dengan kantung darahnya. Namun kala darahnya habis, ia pun tewas. Langit pun hujan darah.
Tahu film A Serbian Film? Ya, film ini disutradarai oleh sutradara yang sama. Namun inilah film pendek yang paling absurd dan penuh metafora. Sepertinya kreatornya membiarkan para penonton tak mengerti. Yang kita mampu simak adalah adegan gore-nya yang lumayan bikin woow. Tapi menurut tafsiran saya Srdjan (buset namanya huruf kapital semua :D), sedang menyindir industri film di Serbia. Entahlah, mungkin seorang monster penyimpan kenangan masa lalu, digunakan untuk membuat film bioskop tentang sejarah.
Speed (Kecepatan)
Sutradara: Jake West
Nilai: 8/10
Seorang perempuan bernama Roxanne menculik perempuan bernama Lulu. Lulu dimasukan ke dalam bagasi mobil sementara Roxanne mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Sesosok manusia dengan wajah mengerikan mengejar mereka dengan mobil. Mereka pun menepi, sang melati menghampiri si monster.Roxanne menyerahkan Lulu, namun si monster mengatakan kalau ini adalah waktu Roxanne, bukan waktu Lulu. Roxanne jatuh ke tangan si monster dan pingsan. Dan scene selanjutnya beralih pada sebuah ruangan chaos dengan dua perempuan. Seorang perempuan tewas overdosis, dan seorang lagi terus memakai heroin. Dia pun melanjutkan halusinasinya.
Menurut saya film ini salah satu film yang baik dari segi konsep cerita. Tentang halusinasi dua orang cewek pemakai drugs. Salah satunya pun tewas karena over dosis. Karena semakin banyak dosis yang digunakan, semakin gila efek yang dihasilkan.
Toilet
Sutradara: Lee Hardcastle
Nilai: 9/10
Seorang anak lelaki fobia toilet. Dia pun bermimpi toilet berubah menjadi monster yang memakan kedua orangtuanya. Akhirnya ia bangun dari mimpi dan terpaksa ke toilet karena pispot yang selama ini ia gunakan dibuang oleh kedua orangtuanya. Namun kala sedang pup, ia terkejut karena wadah dari ubin yang tergantung di atas dinding hampir jatuh.Bocah ini ketakutan hingga kepalanya masuk ke dalam toilet. Sang ayah masuk dan tertawa melihat ketololan anaknya. Namun tawanya berganti teriakan histeris kala wadah dari atas anak itu jatuh. kepala si bocah pun pecah.
Film ini mendapat penghargaan film terbaik dari film-film The ABC's of Deah yang ternyata dikompetisikan. Di antara begitu banyak film yang digarap serius dan epic, sebuah film claymation dari lilin harus menang. Menurut saya idenya memang sederhana dan eksekusinya baik (karena stop motion animation), tapi di tengah alur, saya tahu ending film ini akan dibawa kemana. Tidak terlalu impresif bagi saya. Tapi penghargaan ini wajar mengingat Hardcastle ahlinya claymation. Di youtube seri claycat-nya keren dan lucu abis. :3
Unearthed (Penggalian)
Sutradara: Ben Wheathley
Nilai: 7/10
Seorang lelaki vampir diburu masyarakat desa di zaman pertengahan. Hal ini terjadi setelah peti mati yang telah lama dikubur, dibongkar. Sang vampir berharap lolos dari kejaran, tapi saat seseorang memanahnya dengan panah api, ia sekarat. Ia pun tertangkap. Kedua taringnya diambil paksa, tubuhnya dikampak, dan terakhir, lehernya digorok.
Dengan gaya kamera orang pertama, kita diajak bagaimana rasanya jadi vampir yang tengah diburu. Setidaknya kita akan merasakan nikmatnya 3 menit menjadi vampir yang diburu.
Vagiatus (The Cry of a Newborn Baby) (Vagiatus: Tangisan Bayi yang Terlahir)
Sutradara: Kaz Adrews
Nilai: 9/10
Sutradara: Kaz Adrews
Nilai: 9/10
Di tahun 2035, semua perempuan mengalami kemandulan. Pemerintah giat membasmi manusia-manusia yang terdeteksi setengah robot setengah manusia. Sebuah tempat pun didatangi seorang polisi perempuan bernama Lainey bersama robot raksasa. Rakyat sipil itu pun ditembak sadis. Namun kala menemukan seorang bayi lelaki, Lainey terenyuh.
Namun kala ia menyaksikan ibu dan ayah si bayi terdeteksi robot, robot raksasa pendamping Lainey pun membunuh mereka. Ternyata bayi tersebut masih hidup meski kepalanya terpenggal. Badan bayi menyerang pihak Lainey. Termasuk Dr White sang pemimpin. Kepala dokter ini meledak kala memegang kepala si bayi yang masih hidup. Belakangan diketahui bayi itu adalah "nabi baru" dan Lainey dipilih menjadi ibunya karena menjadi satu-satunya perempuan di tempat itu.
Inilah film yang paling epic dari biaya produksi. Setidaknya visual efek dan art direction membutuhkan biaya yang cukup besar.
WTF!
Sutradara: John Schenepp
Nilai: 6/10

Di sebuah rumah produksi film kecil-kecilan, seorang sutradara sedang bingung mau membuat film horor dengan awalan W. Segala draft sudah dibuat, mulai dari kartun pembunuhan sampai film lain. Tapi di ruang rapat, orang-orang sedang menyaksikan berita bahwa kota diserang badut zombie. Dan dalam beberapa detik, kekacauan pun menghentak. Antara dunia fiksi dan maya bercampur aduk dan memusingkan.
Namanya juga WTF alias What the fuck! yang kalau di-Indonesia-kan menjadi "apa-apaan". Editing film ini lebih memusingkan dari editingnya Nayato di film-film horor kacrutnya. Efek sadisnya pun dibuat sengaja amatir. Tapi menurut saya disitulah letak artistiknya. Benar-benar edan! :D
XXL (Jumbo)
Sutradara: Xavier Gens
Nilai: 9.6/10

Seorang perempuan gemuk selalu dijadikan bulan-bulanan karena kondisi fisiknya. Sepulang kerja pada sore, dia beradu tempat dengan seorang lelaki tua yang mengatainya gendut. Pun saat ia berjalan pulang, sekira enam pemuda mengatainya gelatin, brontosaurus, atau cewek yang seharusnya diem di rumah.
Perempuan ini juga sangat tergila-gila pada iklan makanan bervitamin dengan sosok perempuan kurus yang menjadi brand ambasaddor. Sepulang kerja, dia memakan apa saja, seakan inilah terakhir kali dia makan hebat. Seusai itu ia masuk ke dalam toilet dan memutilasi dirinya agar menjadi langsing. Mulai dari dengan pisau dapur hingga gergaji listrik. Akhirnya ia menjadi langsing meski dengan kondisi yang amat mengerikan! Inilah film yang benar-benar dinanti-nanti. Benar-benar banjir darah, sadis, dan depresif!
Youngbuck (Anak-anak)
Sutradara: Jason Esener
Nilai: 8/10
Lelaki tua itu adalah tukang bebersih di sebuah SD. Diam-diam ia gemar memperhatikan anak lelaki karena ia adalah pedofilia. Kala anak-anak bermain basket dan salah satunya berkeringat, ia datang ketika ruangan basket sepi. Lalu menjilati keringat yang ada di kursi penonton. Tak lama seseorang berkepala rusa datang, menancapkan mata si pedofil dengan tanduk rusa,lalu memotong kepalanya. Ternyata sang pembunuh adalah anak yang telah dikerjai si kakek. Sebelumnya anak ini diajari memanah rusa. Dan si kakek membunuh rusa tersebut sebelum mengerjai anak tersebut. Dengan format video musik, video ini menawarkan kengerian klasik. Mirip horor di era 80-an lengkap dengan scoring old school.
Zutsumetsu: Extintion (Kepunahan)
Sutradara: Yoshihiro Nishimura
Nilai: 7/10
Seorang "perempuan beras" dengan fisik bule dan bugil, sedang memperagakan makanan yang dibuat tiga orang lelaki Jepang. Terlihat pula seorang Jepang yang sedang memperhatikan dan narator. Pertunjukkan mengerikan pun dipampang, ketika seorang perempuan jepang berteater seorang diri namun si perempuan beras menusuk kelamin gadis Jepang ini dengan pedang hingga berdarah.Diam-diam seorang detektif, perempuan Jepang, muncul dan menemukan bangkai koki yang telah mati. Secara tiba-tiba ia menjadi mutant dan siap melawan perempuan besar. Peperangan aneh itu menciptakan makanan yang terbuat dari kepala penis raksasa. Film ditutup kala sang presiden berkata bahwa Jepang telah menguasai dunia.
Film ini sangat absurd dan penuh dengan eksplorasi pornografi. Para aktornya bermain tanpa mengenal malu ketika payudara, bokong, serta vagina dipertontonkan demi sebuah skenario. Barangkali film ini menyindir perang dunia kedua, atau perang dunia kelak (jika ada) atau jangan lupakan simbol-simbol NAZI yang berubah menjadi simbol Jepang, payudara dengan tato gambar penyerangan 11 September, atau peta Jepang di pantat. Benar-benar absurd -_-
Samandayu Awards for The ABC's of Death
Best Picture: XXL
Best Director: Timo Tjahjanto - Libido
Best Actor: Steve Berrens - Dogfight
Best Actrees: Sissi Duparc - XXL
Best Supporting Actor: Rylan Logan - Youngbuck
Best Supporting Actress: Yui Murata - Fart
Best Screenplay: Banjong Pisanthanakun - Nuptials
Best Art Direction: Sanella Spajic - Removed
Best Cinematograohy: Harris Charalambous - Dogfights
Best Editing: Zohar Michel - XXL
Best Score: Phillip Blackford - Dogfight
Best Sound: Benito Saddi - Pressure
Best Sound Mixing: Jeff Davis dan Mark Dupal - Vagitus
Best Visual Effect: Brant Mcilroy - Vagitus
Best Animated: Toilet (Lee Hardcastle)
Best Costume: Mitsuyo Takahashi - Jidai Geki
Best Make Up: Sabine Fevre - XXL
Kesimpulan
Secara garis besar, risiko menonton tayangan beruntun ini adalah, kamu akan membandingkan film yang satu dengan yang lainnya. Film yang kesekian bagus, tapi yang selanjutnya tidak. Beda halnya jika kamu menonton film ini secara satu per satu. Di antara kesekian banyak film itu, XXL menjadi favorit saya, sementara WTF! benar-benar what the fuck. Apapun, The ABC's of Death sangat mengenyangkan pecinta film horor kayaks aya.
SCORE: 9/10
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
3 Komentar
Dapat filmnya dari mana, Bang? Pengen nonton deh, kayaknya seru :|
penasaran, itu yang XXL gmana memutilasi dirinya? -.-a
di youtube ada ga ni pilm? hhaha
makasih bang penjelasannya, jadi tertarik nonton :3
Posting Komentar