• 7 April 2013

    PERNAHKAH kamu mengikuti lomba membuat cerpen yang diselenggarakan sebuah fanpage? Isu yang sangat lagu lama, bukan? Ketika seusai deadline, pengumuman yang dijanjikan tak kunjung diberitakan. Sang penyelenggara malah hilang. Kita dibuat bingung, kemudian mengikhlaskan. Dan mungkin bertanya, apa sih yang sedang penyelenggara itu lakukan.


    Menyalahgunakan karya yang sudah masuk, itu sepertinya mungkin. Siapa tahu karyamu diakui alias diambil untuk kepentingan mereka sendiri. Karya-karya itu akan mereka pilih, akan mereka terjemahkan ke dalam bahasa asing, kemudian dijual di luar kawasan teritorial kita. Bisa jadi ini semua cuma kerjaan seorang iseng.Katakanlah penulis yang sudah mati ide, sehingga membutuhkan bacaan segar. Yakni dengan cara membuka lomba menulis fiktif.

    Smooth criminal ini lebih sering disadari pelakunya. Dan lebih mungkin, karya-karya yang sudah masuk memang disalahgunakan. Ada pula kejahatan halus lain yang dibikin oleh 'pemilik' outsourching penulis lepas, yang bahasa kerennya penulis freelancer.  Katakanlah perusahaan kecil bernama A. Dalam A, ada beberapa staf saja yang bertugas untuk membikin tulisan-tulisan 'pesanan' dari penerbit ternama. Tulisan ini berjenis jual putus, dan nama si penulis tidak akan dicantumkan. Temanya bisa macam-macam, ada berupa tips, tata boga, dan sebagainya.

    A membuka kesempatan pada penulis lepas untuk menulis naskah buku tersebut. Tentu saja dengan fee yang 'sekadarnya'. Kerap pula memberikan penulis lepas untuk menulis artikel untuk sebuah media online. Per artikel dengan karakter kurang lebih sampai 1000, sang penulis dibayar sekira 20 ribu rupiah saja. Bayangkan kalau sang penulis ini disuruh bikin 20 artikel saja. Sudah lumayan, kan? Meskipun kita tahu, keuntungan A jauh lebih besar karena penulis freelancer ini toh cuma 'alat'.

    Hal tersebut bukanlah sesuatu yang perlu didramatisir. Bukankah kedua-duanya sama-sama simbiosis mutualisme? Tapi yang lucu cuma satu, ketika A membuka kesempatan atau lowongan bagi banyak penulis lain, untuk ikut bergabung. Syaratnya adalah, sang pelamar wajib menyertakan artikel contoh sebanyak sekian karakter. Di antara sekian banyak pelamar itu, hanya beberapa saja yang mendapatkan job. Itu pun hanya untuk pesanan tertentu saja. Setelah semuanya selesai, setelah media online tersebut sudah punya cukup banyak 'artikel', penulis lepas itu 'tak dibutuhkan lagi'.

    Para pelamar yang memang tidak lolos ini tidak disia-siakan A. Karya-karya mereka secara tanpa ijin dimasukkan, artinya para pelamar ini tidak dibayar. Toh mungkin cuma 20 ribu rupiah. Padahal harus klise saya bilang, menulis itu bukan pekerjaan mudah. Apalagi kalau dituntut. Itu seperti mengerahkan otak dan mengorbankan waktu luang barang beberapa menit bahkan sekian jam hanya untuk membuat satu artikel 1000 karakter. Dan perusahaan kecil-kecilan itu mengambilnya?

    Mereka juga punya grup sendiri. Lucunya, ketika proyek menulis artikel online itu sudah selesai, member di grup tersebut (yang awalnya kebanyakan datang dari pelamar yang disebutkan di atas), 'dilempar' alias di-kick dari grup. Penyempitan populasi ini bertujuan agar A lebih selektif dan konsentrasi dalam memilih penulis yang memang dinilai 'berpotensi'. Grup yang awalnya terbuka dan mampu dilihat siapa saja pun berubah menjadi  'tertutup', alias hanya bisa dilihat oleh anggota. :D Aduhai ...

    Mungkin pikiran saya saja yang koclak sampai mikir begitu. Mereka mungkin punya pertimbangan masuk akal demi kebaikan bersama. Sebab tidak mungkin menggunakan semua penulis, apalagi kalau dianggap ecek-ecek.

    Begitu banyak orang berbakat di negeri ini. Tapi hanya beberapa saja yang bisa 'jadi'. Realistislah. Begitu banyak orang yang bisa menyanyi bagus, apa semuanya perlu jadi penyanyi dan mengeluarkan album?

    *














    1 Komentar:

    Mita Oktavia mengatakan...

    temen saya pernah tuh kang, malahan karya dia masuk nominasi tapi.. tiba2 gak ada kabar sampe sekarang. kasian :')

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan