- Home>
- Review Film >
- Madame X: Standar Namun Kocak
8 Oktober 2010
| Hilarious Entertaining! |
BUKAN Aming yang membuat animo saya tinggi sekali untuk menonton film ini. Namun keberadaan Nia Dinata sebagai produser. Dan Nia kembali membuat film terobosan baru lengkap dengan ‘standar’ Indonesia. Namun kita singkirkan dulu penitikberatan pada titik kelemahan film ini, karena Madam X menyuguhkan cerita bodor (komedi), sedikit satir dan representasi sosial yang pernah/masih terjadi di tanah air.
Nah, ingin menyimak review Saman mengenai film yang baru saya tonton ini lengkap dengan sesi pembantaiannya? Yuk, kita simak!
Nah, ingin menyimak review Saman mengenai film yang baru saya tonton ini lengkap dengan sesi pembantaiannya? Yuk, kita simak!
Sinopsis
Madame X (MX) merupakan kisah Adam (Aming, Best Clown in Gara-gara Bola PS 2009), seorang waria pekerja salon kecantikan yang kemudian menjadi superhero dan menyelamatkan para perempuan korban trafficking selain dalam upaya balas dendam. Ia berulang tahun pada suatu hari lengkap dengan pemaparan keakrabannya dengan kawan-kawannya di salon. Kemudian seorang perempuan peramal (Sarah Sechan, Best New Actrees in Perempuan Punya Cerita PS 2008) telah lama mencari-cari salon untuk mendandani rambutnya. Namun tujuan sebenarnya bukan itu. Ia sedang mencari pesalon yang berulang pada hari itu juga. Bertemulah ia dengan Adam dan Adam pun diwanti-wanti si peramal agar tak keluar kota. Sayang, Adam melanggar pantangan itu sehingga pada suatu malam ketika ia merayakan ulang tahunnya di diskotik, ia beserta kawan-kawan warianya dihajar kelompok massa yang bernama Bogem. Selanjutnya, Adam kehilangan sahabatnya (diperankan Joko Anwar, Best Director in Pintu Terlarang PS 2009), sampai ia ‘dipungut’ oleh sepasang kekasih homoseksual (diperankan Ria Irawan, Best Supporting Actrees in Berbagi Suami PS 2006, dan Robby Tumewu). Di sanalah secara sadar dan tidak sadar, ia dididik menjadi Madam X dengan tarian lenggoknya. Alhasil, ia pun siap menumpas kelompok massa Bogem yang sebenarnya dibekingi Kanjeng Badai (Marcell Siahaan, Vina Bilang CInta) yang juga aktif dalam pencalonan presiden.
Review Madame X
Ketika saya melihat traillernya di youtube, saya nggak memasang spekulasi tinggi sebab saya akan tahu hasilnya akan seperti apa. Namun seperti yang saya bilang, film-film buatan Nia Dinata selalu bikin penasaran. Alhasil, ketika saya menonton MX, saya ketawa ngakak bersama teman. Sayang, penontonnya sangat sedikit. Mungkin kalau digabungkan hanya dua deret kursi yang penuh. Namun skenarionya sumpah kocak abis. Terlebih melihat kekocakan tiga aktris favorit saya: Shanty, Sarah Sechan dan Ria Irawan. Hmm, film ini memang layak tonton ketimbang film-film komedi yang (terlebih) menawarkan judul seksis bombastis namun isinya jelas-jelas sampah. Namun MX, adalah sindiran terhadap realitas sosial yang ada di negara kita.
Organisasi masa Bogem yang mengeroyok klub waria mengingatkan kita pada ormas terkenal dan yahud yang ada di negara kita. Saya nggak perlu sebut namanya. Kalian sendiri tahu. Dan citra waria (sering disebut banci) selama ini memang masih terpinggirkan dan tak diterima ‘nyaris’ semua kalangan. Namun dalam MX, karakter waria dibuat kuat, kocak, merupakan asosiasi dari ‘semenderita apapun kau, kau harus tetap tersenyum’. Lihat saat salah satu teman Adam (diperankan Joko Anwar) kena tangkap Bogem dan ia tetap berlelucon ria meski nyawanya terancam. Ingat juga saat Adam bilang bahwa tak ada pekerjaan yang dilakukan waria selain jadi penari atau pelacur. Lihat juga saat Luna Maya disindir keras di sini, yakni ketika sosok Kinky Amalia (Shanty) digambarkan sebagai selebritis penuh borok /skandal. Ngakak banget saat ia ‘copas’ kata-karanya Luna Maya yang mengatakan kalau wartawan itu lebih hina dari pelacur dan pembunuh. Dan dimanakah isu politiknya, kawan? Yap, di sini digambarkan salah satu parpol PBB (Partai Bangsa Bermoral, kalau nggak salah) dibekingi seorang calon pemimpin yang juga melakukan tindakan kotor. Lihat lagi saat pahlawan berjasa bagi negara seperti pasangan homoseks akhirnya ‘dibuang’. Wah, banyak, ya.. Pokoknya two thumbs up. Meski.. lagi-lagi.. saya harus membantai film yang sudah saya tonton. Namun tentus aja review saya sangat payah. Jadi jangan dijadikan tolak ukur, yah.
Aming hanya kocak di peran-peran banci (berawal dalam extravaganza yang membawa namanya), selebihnya, ia sangat tidak natural dalam kebanyakan film yang ‘memaksanya’ harus menjadi lelaki normal. Aming berpenampilan banci pada Gara-gara Bola dan itu berhasil. Dan di MX ia kembali mengulangi keberhasilannya. Shanty kebagian tokoh selebritis terkenal yang penuh skandal. Mengingatkan saya pada akting Cornelia Agatha sebagai penyanyi dangdut centil dalam Jatuh CInta Lagi. Joko Anwar yang lebih banyak menjadi cameo/figuran misalnya dalam Mereka Bilang, Saya Monyet! mendapat porsi yang cukup banyak. Yap! Kapan lagi lihat sutradara favorit saya itu berperan sebagai banci. Dan tebak? Dia sangat berhasil membawakan.
Ria Irawan kembali tampil brilian sebagai pelaku transgender. Logat Belandanya bercampur aduk dengan bahasa banci yang sumpah bikin ngakak. Ia juga mampu menggambarkan perjuangan dibalik penyakit yang diidapnya. Sama halnya dengan Sarah Sechan yang kembali bersundanees ria (setelah film Perempuan Punya Cerita dan Janda Kembang). Sarah tampil kocak dan bikin saya terpingkal-pingkal. Ada lagi si cantik Seira Jeuihan (Cin(T)a), si geulis ini punya suara lirih sehingga membuat lelaki normal yang mendengarnya akan menyangka dia sedang klimaks. I joke. Seira juga tampil cemerlang dan mampu mengimbangi pemain senior lainnya.
Pembantaian
Skenario MX sesungguhnya bagus dan kocak, sayang tidak diimbangi oleh kemasan teknis yang baik. Saya tidak suka dengan tata kamera MX yang tidak spektakuler. Setidakspektakuler visual effect-nya. Lihta bagaimana saat Harun jatuh dari ketinggian? Jangan pernah menyamakan scene ini dengan saat Sharon Stone (musuhnya Catwoman) jatuh dari ketinggian dan mayatnya tergeletak retak.Yap, keterbatasan visual effect ini mengingatkan saya pada efek biru pada salah satu scene film Ketika Cinta Bertasbih 1, atau scene terakhir super konyol dalam film Love is CInta. Yang jelas MX lebih baik, meski animasinya sangat terlihat. Lihat bagaimana aksi perang Adam dan Harun, mengingatkan saya pada latar video Kyle Minogue – Can’t Get U Out of My Head. Simak aksi baku hantam mereka, super cemen dan jauh dari film aksi berkualitas Merantau. Lihat juga kostum MX yang dikenakan Aming, mengingatkan kita pada salah satu video musik Madonna dan video Alejandro-nya Lady Gaga. Belum lagi penonton dibuat kecapaian dengan kemasan tidak rapi menuju ending (baku hantam Adam dan tiga istri Harun).
Soal cerita, jangan pernah ‘diseriuskan’, sebab film ini adalah parodi reaitas. Titikberatkan saja pada benang merahnya: bahwa film ini mengangkat eksistensi kaum minoritas waria. Jadi saya tidak perlu bingung jika tiba-tiba Harun yang semasa kecil begitu penyayang, ketika dewasa, ia tiba-tiba menjadi sangat keras. Dan lagi, kenapa ia tidak mengenal sosok Adam yang kemudian menjadi waria saat dewasa. Apakah Harun sudah dicuci otak oleh traumanya sendiri.
Soal casting, ada lagi. Adam kecil terlihat sangat cute dan innocent dengan suara ‘laki’. Namun jejreng! Ketika dewasa ia bermetamorfosa menjadi Aming. Hmm, saya sangat maklum. Ingat kan tentang begitu banyak film Indonesia yang sedikit ‘bercacat’ hanya karena persoalan casting?
Namun yang jelas, film ini layak tonton, sehat, sangat Indonesia dengan memaparkan tokoh-tokoh plural (berbeda suku), dan pastinya kocak. Pokoknya yang suka Sailormoon di masa kecil pasti ngakak saat perubahan menjasi superhero MX mirip saat Usagi berubah. Meski dengan ‘tagline’ yang berbeda: ‘Dengan Kekuatan Datang Bulan Akan menghukummu !’
Nah, selamat menonton, kawan..
Sutradara
Lucky Kuswandi
Produser
Nia Dinata
Penulis
Agasyah Karim
Khalid Khasogi
Lucky Kuswandi
Pemeran
Aming
Marcell Siahaan
Shanty
Sarah Sechan
Fitri Tropica
Titi Dwijayati
Joko Anwar
Ria Irawan
Robby Tumewu
Vincent Ryan Rompies
Saira Jihan
Musik
Aghi Narottama
Bemby Gusti
Ramondo Gascaro
Distributor
Kalyana Shira Films
Tanggal rilis
7 Oktober 2010
Share artikel boleh, men-copas artikel dilarang.


